Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Balas Dendam Seorang Ibu

Balas Dendam Seorang Ibu

Dunia Alana runtuh saat mengetahui Kenzo, suami yang ia puja, berselingkuh dengan adik tirinya, Risa. Meski amarah memuncak, Alana menahan diri demi melindungi masa depan kedua buah hatinya, Arya dan Luna. Ia menolak hancur begitu saja dan mulai menyusun rencana balas dendam yang dingin serta terstruktur. Alana bertekad membuat para pengkhianat itu membayar rasa sakitnya. Ikuti perjuangan Alana menuntut keadilan demi martabatnya sebagai seorang ibu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi menyapa Jakarta dengan kemacetan khasnya, namun bagi Alana, kebisingan jalanan terasa seperti melodi pengiring bagi badai di dalam dirinya. Sudah tiga hari sejak ia menyusun garis besar rencananya, dan setiap detik terasa seperti jarum jam yang berdetak di atas bom waktu. Aktingnya di hadapan Kenzo harus sempurna. Senyuman tipis, anggukan kepala yang seolah mengiyakan setiap perkataan Kenzo, bahkan sentuhan yang terasa hampa, semua itu adalah bagian dari topeng yang ia kenakan. Kenzo, di sisi lain, tampak seperti biasa: riang, sedikit melankolis saat ia harus pergi ke kantor, dan selalu menyempatkan diri untuk mencium kening Alana dan anak-anak sebelum berangkat. Sungguh ironis, batin Alana getir. Pria yang menghancurkan hatinya kini begitu piawai memainkan peran suami dan ayah yang sempurna.

"Mama, Kenzo janji mau ajak Arya ke taman bermain sepulang kerja nanti!" seru Arya suatu pagi, matanya berbinar penuh harap.

Alana memaksakan senyum. "Benarkah? Wah, asyik sekali itu." Ia melirik Kenzo, yang mengangguk sambil tersenyum.

"Tentu saja, Sayang. Janji Kenzo tidak pernah ingkar, kan?" Kenzo mengusap kepala Arya penuh kasih.

Kata-kata "janji tidak pernah ingkar" itu menusuk ulu hati Alana. Janji pernikahan mereka? Janji setia? Semua itu kini hanya bualan belaka.

Tantangan terbesar Alana di fase awal ini adalah mendapatkan bukti tanpa menimbulkan kecurigaan. Ia tidak bisa terang-terangan menggeledah ponsel Kenzo, atau memasang alat sadap sembarangan. Kenzo bukan pria bodoh; ia cerdik dan sangat teliti. Alana tahu ia harus lebih cerdik lagi.

Malam itu, setelah anak-anak terlelap dan Kenzo sibuk di ruang kerjanya, Alana mulai aksinya. Ia ingat Kenzo sering meninggalkan laptopnya tidak terkunci saat pergi sebentar ke kamar mandi atau dapur. Itu adalah celah yang harus ia manfaatkan. Dengan jantung berdebar, ia mendekati meja kerja Kenzo. Lampu ruangan yang redup seolah menambah ketegangan. Nafasnya tertahan, setiap gerakan harus tanpa suara.

Kenzo sedang menelepon seseorang, suaranya samar-samar terdengar dari dapur. Ini kesempatannya. Alana dengan cepat membuka laptop Kenzo. Matanya dengan cekatan mencari folder-folder tersembunyi, riwayat penelusuran, bahkan kotak masuk email. Kenzo memang sangat rapi, hampir tidak ada jejak mencurigakan di permukaan. Namun, Alana tahu Kenzo punya kebiasaan menyimpan file-file penting di folder tersembunyi yang ia namai dengan kode-kode aneh. Ia pernah tak sengaja melihat Kenzo melakukannya sekali.

Alana mencoba beberapa kombinasi nama proyek atau nama-nama kode yang Kenzo sering gunakan. Tangannya gemetar saat ia mengetikkan "Project Echo" – nama proyek fiktif yang pernah Kenzo gunakan untuk latihan desain. Bingo! Sebuah folder terbuka, namun isinya bukan file desain. Ada beberapa foto dan video. Jantung Alana seolah berhenti berdetak. Ia melihat foto-foto Kenzo dan Risa, berlibur di sebuah vila di puncak, tertawa, saling merangkul. Ada juga video singkat Kenzo mencium Risa di bibir, diiringi tawa renyah Risa.

Melihatnya secara langsung seperti ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada sekadar pesan atau firasat. Rasanya seperti seluruh udara di paru-parunya ditarik keluar. Rasa mual kembali menyeruak. Tapi Alana memaksakan dirinya untuk tetap tenang. Ini adalah emas. Ini adalah bukti yang ia butuhkan.

Ia segera memindahkan semua file itu ke flash drive kecil yang sudah ia siapkan. Tak hanya itu, ia juga menemukan beberapa dokumen keuangan yang sangat mencurigakan: transfer sejumlah besar uang ke rekening atas nama Risa, dan beberapa pembelian barang mewah atas nama Risa yang tersembunyi dalam laporan keuangan perusahaan Kenzo sebagai "biaya operasional proyek." Kenzo bahkan mengatur agar gaji Risa di firma tempatnya bekerja sedikit lebih tinggi daripada desainer interior junior lainnya, dengan alasan "kontribusi ekstra." Kenzo seolah membangun sebuah sarang rahasia dengan Risa, menggunakan aset dan nama perusahaan.

Alana memotret setiap dokumen, setiap transaksi, setiap detail yang bisa ia tangkap. Waktu Kenzo kembali dari dapur, ia sudah menutup semua tab dan kembali ke posisinya semula, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Sudah selesai makan malam, Sayang?" tanya Kenzo, tersenyum padanya.

Alana mengangguk. "Sudah, Mas. Maaf, aku tadi sambil membereskan kamar anak-anak."

Kenzo hanya mengangguk, lalu kembali fokus pada laptopnya. Alana merasa mual. Pria di depannya ini adalah seorang penipu ulung.

Esok harinya, Alana kembali menghubungi Bima.

"Bim, aku dapat banyak sekali. Foto, video, bahkan bukti transfer dan pembelian barang mewah atas nama Risa, disamarkan sebagai biaya perusahaan," lapor Alana, suaranya bergetar menahan amarah yang meluap.

"Bagus sekali, Alana! Ini lebih dari yang kita harapkan di awal," Bima terdengar antusias. "Dengan bukti ini, posisi tawarmu sangat kuat. Terutama soal pembagian harta gono-gini dan hak asuh anak."

Bima menyarankan Alana untuk segera membuat salinan digital dari semua bukti itu dan menyimpannya di tempat yang aman, di luar rumah. "Skenario terburuk, jika Kenzo curiga dan menghapus semuanya, kamu sudah punya cadangan," kata Bima. "Dan pastikan tidak ada jejak di laptop atau ponselmu yang bisa mengarah padanya."

Alana segera melaksanakan saran Bima. Ia menyalin semua bukti ke cloud storage pribadi yang baru ia buat, juga ke hard drive eksternal yang ia titipkan pada ibunya. Ibunya, yang tinggal di kota lain, tidak akan tahu apa isinya, tapi setidaknya aman.

Namun, pengumpulan bukti tidak hanya berhenti di sana. Alana tahu ia harus mencari tahu seberapa dalam dan serius hubungan Kenzo dan Risa. Apakah ini hanya nafsu sesaat, atau mereka memang punya rencana untuk masa depan?

Ia mulai memperhatikan pola komunikasi Kenzo. Ia menyadari Kenzo sering menerima panggilan di jam-jam tertentu, selalu di luar ruangan atau di tempat sepi. Dan Risa juga seringkali "menghilang" dari lingkaran pertemanan mereka di media sosial, atau tiba-tiba memposting foto di tempat-tempat yang Alana tidak familiar.

Alana mencoba cara lain. Ia membeli kartu SIM prabayar baru dan ponsel murah. Dengan nomor baru ini, ia mulai mengirim pesan singkat ke Kenzo dan Risa, menyamar sebagai seseorang yang "melihat mereka bersama." Tujuannya bukan untuk memprovokasi, melainkan untuk melihat reaksi mereka.

Pesan pertama ia kirim ke Kenzo: "Senang melihatmu bahagia dengan Risa kemarin."

Tak lama, ponsel Kenzo bergetar. Alana mengintip. Kenzo tampak terkejut, lalu segera membalas pesan itu dengan marah: "Siapa ini? Jangan ikut campur urusan orang!" Ia kemudian menelepon nomor itu, tapi tentu saja, Alana tidak mengangkatnya.

Reaksi Kenzo sudah cukup. Ia marah karena ketahuan.

Kemudian, ia mengirim pesan ke Risa: "Cantik sekali kamu kemarin di apartemen itu. Pantas Kenzo tergila-gila."

Ponsel Risa berdering tak lama kemudian. Risa mengangkatnya, suaranya sedikit panik. "Halo? Ini siapa?" Tak ada jawaban, dan Risa menutup teleponnya. Tak lama kemudian, ia melihat Risa mengirim pesan ke Kenzo. Alana tidak bisa membaca isinya, tapi ia tahu mereka sedang berkomunikasi.

Ini membuktikan bahwa mereka berdua terlibat, dan mereka panik ketika rahasia mereka terancam terungkap.

Alana memutuskan untuk mengambil langkah yang lebih berani. Ia menghubungi seorang kenalannya yang bekerja sebagai teknisi IT swasta, seorang pria yang dulunya adalah teman kuliahnya yang dikenal sangat tertutup dan handal. Alana menjelaskan situasinya secara garis besar, tanpa menyebutkan nama Kenzo dan Risa, hanya sebagai "klien yang ingin melacak aktivitas pasangannya."

"Bisakah kamu bantu aku melacak ponsel seseorang? Aku butuh riwayat percakapan, lokasi, dan email," pinta Alana.

Teknisi itu, Rizal, mengernyitkan dahi. "Itu ilegal, Mbak. Tapi jika Mbak punya akses fisik ke ponselnya, ada beberapa perangkat lunak yang bisa digunakan untuk mem-backup data. Atau, jika Mbak punya password akun cloud-nya, kita bisa mencoba melacaknya dari sana."

Alana memikirkan Kenzo yang seringkali meninggalkan ponselnya tanpa kunci di rumah. Dan ia juga tahu kata sandi cloud storage Kenzo, karena Kenzo pernah memintanya untuk mengunggah beberapa dokumen penting.

"Aku bisa dapatkan akses fisiknya dan password akun cloudnya," jawab Alana tegas.

"Baiklah. Aku akan berikan beberapa alat dan panduan. Tapi ingat, risiko ditanggung sendiri," kata Rizal.

Rizal kemudian memberikan Alana sebuah alat kecil yang disebut data extractor dan beberapa panduan teknis untuk mengunduh riwayat percakapan dari aplikasi pesan instan, riwayat lokasi, dan data email. Prosesnya rumit, membutuhkan ketelitian dan waktu.

Selama seminggu berikutnya, Alana memanfaatkan setiap kesempatan Kenzo lengah. Saat Kenzo mandi, saat ia tertidur pulas, Alana diam-diam menghubungkan data extractor ke ponsel Kenzo. Ia harus bekerja cepat, memindahkan data sebanyak mungkin sebelum Kenzo terbangun atau menyadarinya.

Malam-malam Alana dihabiskan untuk menganalisis data yang ia dapatkan. Ribuan pesan teks, ratusan email, rekaman panggilan singkat, dan riwayat lokasi yang menunjukkan Kenzo dan Risa seringkali berada di tempat yang sama, pada waktu yang bersamaan, di luar jam kerja.

Ada pesan-pesan mesra yang jelas menunjukkan mereka adalah sepasang kekasih. Risa mengeluh tentang "wanita itu" (merujuk pada Alana) dan berharap Kenzo segera "menyelesaikan masalahnya." Kenzo membalas dengan janji-janji manis, "bersabarlah, Sayang, sebentar lagi."

Yang paling mengejutkan Alana adalah sebuah pesan dari Risa: "Bagaimana dengan rencana kita untuk membeli vila di Bali itu? Aku sudah tidak sabar." Dan Kenzo membalas: "Tunggu saja, Sayang. Proyek besar itu sebentar lagi cair, setelah itu kita bisa beli vila impian kita. Dan kita akan meninggalkan semuanya."

Membaca pesan itu membuat Alana merasakan gelombang dingin menusuk tulang. Mereka tidak hanya berselingkuh, mereka memiliki rencana untuk masa depan. Mereka berencana membangun hidup baru bersama, meninggalkan Alana dan anak-anak. Rasa sakit itu kini bercampur dengan kemarahan yang membakar. Kenzo tidak hanya mengkhianatinya, ia berencana membuangnya.

Rasa jijik pada Risa juga semakin menjadi. Risa adalah seorang manipulator ulung. Selama ini, Alana melihat Risa sebagai adik yang sedikit manja, yang butuh perlindungan. Tapi sekarang ia melihat Risa sebagai serigala berbulu domba, yang dengan licik merebut apa yang bukan miliknya.

Bukti-bukti ini, Alana tahu, sudah lebih dari cukup. Bima akan sangat senang melihatnya. Namun, ia merasa masih ada yang kurang. Ia ingin menemukan bukti yang secara langsung mengaitkan Kenzo dan Risa dengan sebuah rencana finansial yang licik, yang menunjukkan bahwa mereka secara aktif menyedot kekayaan Kenzo untuk kepentingan pribadi Risa, atau untuk modal hidup baru mereka.

Ia kembali fokus pada dokumen keuangan yang ia temukan di laptop Kenzo. Ada beberapa transfer besar ke rekening bank asing, dengan keterangan yang sangat umum dan samar. Alana curiga ini ada hubungannya dengan vila di Bali yang disebut Risa.

Alana tahu ia tidak bisa melacak rekening bank asing sendiri. Ia butuh bantuan profesional. Ia kembali menghubungi Bima.

"Bim, aku butuh jasa forensic accountant," kata Alana tanpa basa-basi. "Ada transfer mencurigakan ke rekening asing, aku yakin ini ada hubungannya dengan rencana mereka."

Bima terdiam sejenak. "Itu akan memakan biaya besar, Alana. Dan juga berisiko."

"Aku tidak peduli biayanya, Bim. Aku ingin tahu segalanya," desak Alana. "Aku ingin mereka membayar mahal."

Bima menghela napas. "Baiklah. Aku punya kenalan yang sangat handal di bidang ini. Tapi ini akan menjadi langkah yang lebih jauh, Alana. Kamu sudah yakin dengan ini?"

"Lebih dari yakin, Bim. Mereka berencana membuangku dan anak-anak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Bima kemudian memperkenalkan Alana kepada Pak Danu, seorang akuntan forensik berpengalaman yang sering bekerja sama dengan Bima dalam kasus-kasus perceraian rumit. Pak Danu adalah seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan tatapan tajam, seolah bisa melihat setiap angka yang disembunyikan.

Alana menyerahkan semua bukti transaksi yang ia miliki kepada Pak Danu. Pak Danu dengan teliti memeriksa setiap detail, bertanya tentang pola pengeluaran Kenzo dan Risa, dan bagaimana Kenzo mengelola keuangannya.

"Ini memang pola yang mencurigakan, Bu Alana," kata Pak Danu setelah beberapa hari menganalisis data. "Transfer ini mengarah ke sebuah perusahaan fiktif di luar negeri yang terhubung dengan sebuah agen properti di Bali. Ada kemungkinan besar uang ini digunakan untuk membeli properti atas nama pihak ketiga, untuk menyamarkan kepemilikan Kenzo."

Alana mengepalkan tangannya. "Aku tahu itu! Mereka berencana melarikan diri dengan uangku dan anak-anakku."

Pak Danu menatapnya dengan simpati. "Kita akan buktikan itu, Bu Alana. Ini akan membutuhkan waktu, dan saya harus menyelidiki lebih jauh, mungkin dengan bantuan pihak ketiga di luar negeri. Tapi jika terbukti, ini bisa menjadi bukti yang sangat kuat di pengadilan. Tidak hanya perselingkuhan, tapi juga penggelapan aset."

Mendengar kata "penggelapan aset" membuat Alana merasakan secercah harapan. Ini bukan hanya tentang membalas dendam secara emosional, tetapi juga tentang melindungi masa depan finansialnya dan anak-anaknya.

Selama proses investigasi finansial ini, Alana masih harus menjaga sandiwaranya di rumah. Ia bahkan harus menemani Kenzo ke beberapa acara sosial, tersenyum manis di depan kolega dan teman-teman mereka. Setiap kali Kenzo merangkul pinggangnya, atau membisikkan kata-kata romantis di telinganya, Alana merasa seperti aktris terbaik di dunia. Ia tersenyum, mengangguk, dan berpura-pura bahagia. Namun, di dalam hatinya, ia sedang merencanakan kehancuran pria itu.

Pertemuan tak terduga dengan Risa di sebuah kafe semakin menguatkan tekad Alana. Risa sedang duduk di sudut, tertawa lepas dengan teman-temannya. Ia tampak begitu bahagia, seolah tidak ada beban di pundaknya. Alana mengamatinya dari jauh. Risa yang dulu adalah adik yang ia sayangi, kini terlihat seperti orang asing yang menjijikkan.

"Alana, apa yang kamu lihat?" tanya seorang teman yang menemaninya.

"Tidak ada, hanya melihat-lihat," jawab Alana, segera mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin Risa melihatnya, apalagi curiga.

Terkadang, rasa lelah melandanya. Lelah karena harus berpura-pura, lelah karena harus menahan amarah, lelah karena harus hidup dalam kebohongan. Ada saat-saat ia ingin menyerah, ingin saja berteriak dan mengakhiri semuanya. Namun, tatapan polos Arya dan Luna selalu menjadi pengingat. Mereka adalah sumber kekuatannya, dan mereka berhak mendapatkan yang terbaik.

"Mama sayang kalian," bisiknya setiap malam, memeluk erat kedua anaknya saat mereka terlelap. "Mama akan pastikan kalian bahagia."

Satu bulan berlalu. Pak Danu akhirnya datang dengan kabar penting.

"Bu Alana, saya sudah menemukan buktinya," kata Pak Danu, meletakkan beberapa lembar dokumen di meja. "Uang itu memang digunakan untuk membeli sebuah vila mewah di Bali, atas nama sebuah yayasan amal fiktif yang dikelola oleh kerabat jauh Risa. Kami juga menemukan beberapa transfer lain yang menunjukkan Kenzo membiayai gaya hidup Risa secara signifikan, jauh di atas kemampuan Risa sendiri."

Jantung Alana berdegup kencang. "Yayasan amal fiktif?"

"Ya. Ini adalah skema yang cukup rumit untuk menyamarkan aset. Kenzo jelas berhati-hati agar tidak meninggalkan jejak langsung atas namanya atau nama Risa. Tapi kami berhasil melacaknya," jelas Pak Danu. "Ini adalah bukti penggelapan aset yang kuat, Bu Alana. Kita bisa mengajukan tuntutan pidana selain gugatan cerai."

Mendengar kata "pidana" membuat Alana terkesiap. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Namun, rasa sakit yang Kenzo dan Risa torehkan kembali melandanya. Penggelapan aset, di saat ia dan anak-anaknya berhak atas bagian dari kekayaan itu. Ini bukan hanya perselingkuhan, ini adalah kejahatan.

"Baik, Pak Danu. Saya akan menyerahkan sepenuhnya pada Anda dan Bima," kata Alana, suaranya mantap. "Lanjutkan semua ini."

Fase pertama, pengumpulan bukti intensif, telah selesai. Alana kini memiliki tumpukan bukti yang tak terbantahkan: foto dan video perselingkuhan, riwayat komunikasi mesra, bukti transfer uang besar dan pembelian aset atas nama Risa yang disamarkan, serta skema penggelapan aset yang melibatkan vila di Bali. Ia bahkan memiliki bukti bahwa Kenzo berencana "meninggalkan semuanya" bersamanya dan Risa.

Alana melihat tumpukan dokumen dan flash drive di mejanya. Di luar, Kenzo baru saja pulang, suaranya terdengar ceria menyapa Arya dan Luna. Kontras yang menyakitkan.

Ia tahu, pertempuran sebenarnya baru akan dimulai. Fase berikutnya, Pengamanan Aset dan Keruntuhan Reputasi, akan menjadi langkah yang lebih berisiko dan lebih terbuka. Ia harus siap menghadapi reaksi Kenzo yang mungkin akan sangat agresif. Namun, Alana tidak takut.

Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Kenzo dan Risa saat kebenaran terungkap. Rasa sakit yang pernah ia rasakan, kini perlahan berubah menjadi kekuatan. Kekuatan untuk melawan, untuk memperjuangkan haknya dan hak anak-anaknya.

"Kalian pikir bisa lolos begitu saja?" bisik Alana pada kehampaan ruangan. "Kalian salah besar. Simfoni pengkhianatan ini akan berakhir dengan lagu kehancuran kalian."

Alana membuka matanya. Ada kilatan dingin di sana. Persiapannya sudah matang. Kini saatnya ia melepaskan harimau yang selama ini tersembunyi di balik topeng istri yang patuh. Permainan yang sesungguhnya baru akan dimulai.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas dendam
9.2
Dahulu Jenni hanyalah wanita lemah yang menjadi korban perundungan serta dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya sendiri. Kini, ia telah bertransformasi menjadi sosok yang tangguh dan tak tergoyahkan. Didorong dukungan penuh sahabat setianya, Jenni bertekad membuktikan kekuatannya melalui rencana balas dendam yang matang. Sambil mencoret foto para pengkhianat, ia bersumpah akan membuat mereka merasakan penderitaan yang sama. Simaklah perjalanan Jenni menuntut keadilan.
Sampul Novel Gairah Tanpa Akhir
8.8
Suasana hangat menyelimuti ruang tamu rumah sederhana itu saat Renata tak mampu menahan desahan ketika Eka mendaratkan ciuman mesra di lehernya. Di atas sofa tua yang mulai bergoyang, gairah muda mereka membuncah. Tangan Eka dengan nakal meremas tubuh Renata di balik kaos oblongnya, menciptakan getaran yang memenuhi ruangan sempit tersebut. Dalam dekapan pria itu, Renata hanya bisa memanggil namanya saat sentuhan intens Eka mulai memilin seluruh raganya.
Sampul Novel Istri yang Dianggap Sempurna
9.6
Keyyan Munir dua kali gagal berumah tangga karena masalah finansial, meski ia memiliki fisik menawan. Pengalaman pahit itu menyadarkannya bahwa ketampanan tak cukup untuk mempertahankan cinta. Di sisi lain, Shabilal Haq atau Shabby lahir dengan organ ganda dan memilih hidup sebagai wanita cantik meski memiliki rahasia biologis yang unik. Saat Keyyan jatuh cinta dan menikahi Shabby, ia tak tahu jati diri istrinya. Akankah cinta Keyyan bertahan saat rahasia Shabby terungkap?
Sampul Novel Istri yang Direndahkan Berubah Cantik
8.2
Hana sering kali menjadi sasaran hinaan oleh keluarga suaminya hanya karena latar belakangnya yang berasal dari kalangan ekonomi rendah. Statusnya sebagai menantu miskin membuatnya terus direndahkan tanpa henti. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, Hana menyimpan rahasia besar mengenai profesi aslinya. Ia memiliki bakat luar biasa dan pekerjaan hebat yang jauh melampaui dugaan siapa pun, siap membuktikan bahwa mereka telah salah menilainya.
Sampul Novel Luka & Keegoisan
9.1
Sembilan tahun lamanya Lina Damaris Adelia berjuang menghapus jejak Elian Zayn Anderson dari hatinya. Namun, takdir justru menyeretnya kembali ke hadapan pria yang pernah memberi luka batin tersebut. Kini, Lina terjebak bekerja di perusahaan milik Elian yang angkuh dan egois. Di tengah gejolak emosi dan kesabaran yang kian menipis, mampukah mereka memperbaiki hubungan yang telah hancur, ataukah perasaan lama itu hanya akan menjadi ujian yang menyakitkan?
Sampul Novel Pelabuhan Akhir Sang Pewaris
7.8
Sean Axel William merupakan pewaris tunggal Grup William yang disegani karena ketegasannya di dunia bisnis. Meski dikelilingi banyak wanita dari kalangan selebriti yang haus akan kekayaannya, Sean merasa jenuh dengan segala kepalsuan tersebut. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu sosok perempuan unik yang memikat hatinya. Kini sang miliarder justru berbalik mengejar cintanya demi menjadikan wanita itu sebagai pelabuhan terakhir dalam hidupnya.