
Balas Dendam Seorang Ibu
Bab 3
Matahari pagi di Jakarta menyinari gedung-gedung pencakar langit, memantulkan cahaya keemasan yang seolah menertawakan gejolak di hati Alana. Sudah seminggu sejak Pak Danu mengkonfirmasi bukti penggelapan aset yang dilakukan Kenzo. Bukti-bukti yang kini menumpuk di meja kerja Alana, tersimpan rapi dalam folder-folder berlabel kode, adalah senjata andalannya. Topeng istri yang bahagia masih harus ia kenakan, namun kini, ada aura dingin yang menyelubungi dirinya. Ia seperti ratu catur yang siap mengorbankan pion untuk memenangkan pertandingan.
Pagi itu, Kenzo bersiap-siap untuk pergi ke kantor. "Aku ada pertemuan penting hari ini, Sayang. Mungkin pulang sedikit terlambat," ujarnya sambil melonggarkan dasinya.
Alana hanya tersenyum tipis. "Hati-hati di jalan, Mas."
Di benaknya, Alana berpikir, Pertemuan penting? Atau pertemuan rahasia dengan Risa di apartemen itu? Rasa muak itu kembali, namun ia menelannya mentah-mentah. Sebentar lagi, Kenzo akan tahu arti sebenarnya dari "pertemuan penting."
Setelah Kenzo berangkat, Alana segera menghubungi Bima. "Bim, aku siap. Kita mulai langkah hukum hari ini."
Bima mengkonfirmasi pertemuan mereka di kantornya pada siang hari. Alana datang dengan semua bukti, sebuah flash drive yang berisi foto dan video, serta laporan keuangan dari Pak Danu. Meja kerja Bima dipenuhi tumpukan berkas.
"Baik, Alana. Kita akan memulai dengan mengajukan gugatan cerai secara resmi dengan dasar perselingkuhan dan penggelapan aset," jelas Bima, suaranya tenang namun tegas. "Kita juga akan mengajukan permohonan sita jaminan atas beberapa aset Kenzo, terutama properti yang terkait dengan Risa, dan mengajukan pemblokiran rekening. Ini untuk mencegah Kenzo mengalihkan aset-asetnya sebelum putusan pengadilan."
Alana mengangguk. "Itu yang aku inginkan. Aku tidak mau dia bisa lepas tangan dengan mudah."
"Proses ini akan memerlukan waktu, Alana. Mungkin akan menjadi kasus yang panjang dan melelahkan, terutama karena Kenzo pasti akan melawan," kata Bima mengingatkan. "Tapi kita punya bukti yang kuat. Dan untuk hak asuh anak, dengan bukti penggelapan aset dan perselingkuhan, posisimu sangat diuntungkan. Kita akan berargumen bahwa Kenzo tidak layak menjadi contoh bagi Arya dan Luna."
Hati Alana berdesir mendengar nama anak-anaknya. Demi mereka, ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan.
Langkah pertama yang mereka lakukan adalah mengajukan permohonan sita jaminan secara rahasia ke pengadilan. Bima bekerja sama dengan beberapa rekanannya untuk memastikan proses ini berjalan cepat dan tanpa tercium oleh pihak Kenzo. Jika berhasil, aset-aset Kenzo akan dibekukan, termasuk apartemen yang menjadi "sarang" mereka dan rekening-rekening yang mencurigakan. Ini akan menjadi pukulan telak bagi Kenzo, terutama secara finansial.
"Kita akan menyerahkan surat panggilan dan gugatan cerai ke Kenzo besok pagi," kata Bima. "Itu akan menjadi kejutan besar baginya."
Alana tersenyum kecut. "Bagus. Biarkan dia merasakan kejutan yang setimpal."
Sementara proses hukum berjalan di balik layar, Alana juga mulai memikirkan Fase 3: Keruntuhan Reputasi. Ia ingin Kenzo tidak hanya menderita secara finansial dan hukum, tetapi juga secara sosial. Reputasi adalah segalanya bagi Kenzo, seorang arsitek ternama dengan citra profesional yang sangat dijaga.
"Bim, bagaimana cara membocorkan informasi ini tanpa terlihat seperti aku yang melakukannya?" tanya Alana. "Aku ingin reputasinya hancur, tapi aku tidak mau terlihat seperti wanita gila yang balas dendam."
Bima mengangguk, memahami kekhawatiran Alana. "Kita tidak akan melakukannya secara langsung, Alana. Ada banyak cara untuk menyampaikan informasi ke media tanpa nama kita tercantum di sana. Kita bisa memanfaatkan akun-akun anonim di media sosial, atau mengirimkan tip kepada wartawan-wartawan gosip yang sering mencari berita sensasional."
Alana memikirkan Risa. "Dan Risa. Aku ingin dia juga ikut merasakannya."
"Tentu saja. Peran Risa sebagai orang ketiga, ditambah dengan keterlibatannya dalam penggelapan aset, akan menjadi bahan bakar yang sempurna untuk media," kata Bima. "Kita akan menyoroti bagaimana seorang adik tiri bisa begitu tega merusak rumah tangga kakaknya sendiri."
Alana pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ada ketegangan yang mencekam, namun juga secercah kepuasan. Roda telah berputar. Pertempuran sudah di ambang pintu.
Keesokan paginya, ketika Kenzo sedang sarapan, ia mendengar suara ketukan di pintu. Alana sengaja meminta asisten rumah tangga untuk membuka pintu. Dua orang pria berjas rapi berdiri di ambang pintu, membawa sebuah amplop besar.
"Selamat pagi, Bapak Kenzo Adiputra?" tanya salah satu pria.
Kenzo mengernyitkan dahi. "Ya, saya sendiri."
"Kami dari Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Ini surat panggilan dan gugatan cerai dari istri Anda, Ibu Alana Putri."
Kenzo terdiam, wajahnya mendadak pucat pasi. Tangannya gemetar saat menerima amplop itu. Ia melirik Alana, matanya dipenuhi keterkejutan, kebingungan, dan kemudian kemarahan.
Alana menatapnya dengan tatapan datar, tanpa ekspresi. Ia tidak memberikan reaksi apa pun. Ia hanya menyesap kopinya, seolah tidak ada yang terjadi.
"Apa-apaan ini, Alana?!" Kenzo berteriak, suaranya menggelegar di ruang makan. Ia melemparkan amplop itu ke meja. "Apa maksud semua ini?"
Arya dan Luna yang sedang asyik bermain di ruang keluarga terdiam, menatap bingung ke arah orang tua mereka.
"Mas, jaga volume suaramu. Ada anak-anak," kata Alana dingin.
"Anak-anak?! Kamu pikirkan anak-anak saat melakukan ini?!" Kenzo menunjuk ke arah amplop gugatan cerai. "Apa yang kamu lakukan?"
"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, Mas," jawab Alana, suaranya tenang namun menusuk. "Setelah semua pengkhianatanmu, apa lagi yang Mas harapkan dariku?"
Wajah Kenzo memerah. "Pengkhianatan apa?! Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan!"
Alana tersenyum sinis. "Oh ya? Jadi, foto-foto dan video Mas dengan Risa itu apa? Transferan uang puluhan juta ke rekeningnya, pembelian vila di Bali atas nama yayasan fiktif yang dikelola keluarganya, itu semua apa, Mas?"
Kenzo terdiam, rahangnya mengeras. Matanya membelalak, menyadari bahwa Alana sudah tahu semuanya. Rasa terkejut bercampur rasa takut kini jelas terlihat di wajahnya.
"Bagaimana kamu-"
"Bagaimana aku tahu? Mas pikir aku bodoh? Aku buta? Aku selama ini percaya pada Mas, menutupi semua kebohongan Mas, tapi ternyata Mas dan adik tiriku sendiri menertawakanku di belakang punggungku!" suara Alana sedikit meninggi, namun ia segera menurunkannya lagi, teringat anak-anak.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Alana!" Kenzo mencoba membela diri, namun suaranya terdengar goyah. "Ada salah paham!"
"Salah paham? Villa di Bali itu juga salah paham? Rencana kalian meninggalkan aku dan anak-anak juga salah paham?" Alana menatapnya tajam. "Jangan menghina kecerdasanku, Mas. Aku punya semua buktinya."
Kenzo terdiam, tak bisa berkata-kata. Ia tahu Alana tidak main-main. Matanya memancarkan kemarahan, namun juga rasa putus asa.
Setelah pertengkaran singkat itu, Kenzo segera menelepon Bima, lalu pengacaranya sendiri. Suasana di rumah menjadi sangat tegang. Kenzo mengurung diri di ruang kerjanya, menelepon sana-sini dengan suara marah. Alana hanya fokus pada anak-anak, mengalihkan perhatian mereka dari ketegangan yang terjadi.
Dalam beberapa hari berikutnya, berita tentang gugatan cerai Alana terhadap Kenzo mulai menyebar di lingkungan mereka. Beberapa teman dan kerabat mulai menelepon Alana, menyatakan simpati, namun juga penasaran. Alana hanya menjawab singkat, "Biarkan proses hukum berjalan."
Sementara itu, Bima dan timnya bergerak cepat. Permohonan sita jaminan atas aset-aset Kenzo yang mencurigakan diajukan dan berhasil dikabulkan oleh pengadilan. Rekening-rekening yang terkait dengan Risa dibekukan, termasuk aset vila di Bali yang Kenzo coba samarkan. Ini adalah pukulan finansial pertama yang telak bagi Kenzo.
Kenzo tentu saja panik. Ia menghubungi Alana, memohon-mohon, mencoba merayu, bahkan mengancam.
"Alana, apa yang kamu lakukan?! Hidupku hancur jika ini terus berlanjut! Bisnisku akan runtuh!" teriak Kenzo di telepon.
"Itu yang pantas Mas dapatkan," jawab Alana dingin. "Mas menghancurkan hidupku, jadi wajar jika hidup Mas juga ikut hancur."
"Pikirkan anak-anak! Apa yang akan mereka katakan jika tahu ayah mereka bangkrut?!"
"Mereka akan bangga karena ibunya tidak membiarkan dirinya diinjak-injak," balas Alana tegas. "Dan Mas, percayalah, aku akan pastikan mereka tidak kekurangan apa pun. Termasuk biaya hidup setelah perceraian ini."
Kenzo semakin marah, namun Alana sudah tidak peduli. Hatinya sudah kebal.
Setelah sita jaminan berhasil, Alana dan Bima memulai fase selanjutnya: menyebarkan informasi ke publik secara strategis. Alana mengirimkan beberapa bukti kunci – foto dan video perselingkuhan Kenzo dan Risa, serta sebagian laporan keuangan yang menunjukkan penggelapan aset – ke beberapa akun gosip selebriti anonim di Instagram dan Twitter. Ia juga mengirimkan tip anonim ke beberapa wartawan gosip yang memang dikenal sering meliput skandal keluarga kaya.
"Jangan sebut namaku atau nama Alana," pesan Bima kepada salah satu wartawan yang dihubunginya. "Cukup beritakan fakta-fakta yang ada, dan biarkan publik menilai sendiri."
Dalam waktu singkat, berita itu meledak.
"Skandal Perselingkuhan Arsitek Ternama Kenzo Adiputra dengan Adik Iparnya Sendiri Terbongkar!"
"Penggelapan Aset Senilai Milyaran Rupiah Terindikasi dalam Kasus Perceraian Arsitek Kenzo Adiputra!"
Judul-judul berita sensasional memenuhi lini masa media sosial dan halaman-halaman utama portal berita online. Foto-foto Kenzo dan Risa yang sedang berlibur, atau sedang mesra di apartemen, tersebar luas. Laporan singkat tentang transfer uang dan pembelian vila fiktif juga menjadi sorotan.
Netizen riuh rendah. Ada yang mengecam Kenzo, ada yang menghujat Risa, ada juga yang bersimpati pada Alana. Citra Kenzo sebagai arsitek berintegritas dan profesional hancur dalam semalam. Proyek-proyek besar yang sedang ditangani Kenzo mulai dibatalkan. Klien-kliennya menarik diri, tidak ingin terlibat dalam skandal yang bisa merusak reputasi mereka juga. Saham perusahaannya anjlok.
Risa juga tidak luput. Nama dan wajahnya tersebar luas, dicap sebagai pelakor, perusak rumah tangga kakaknya sendiri. Reputasinya sebagai desainer interior junior juga hancur. Firma tempatnya bekerja segera memecatnya untuk menghindari dampak buruk dari skandal tersebut. Risa yang biasanya aktif di media sosial, kini menghilang total.
Alana menyaksikan semua itu dari balik layar ponselnya, dengan perasaan yang aneh. Tidak ada euforia kemenangan, hanya kepuasan yang dingin. Ia melihat bagaimana Kenzo dan Risa, yang dulunya begitu percaya diri dan sombong, kini terpojok, dikecam oleh publik. Itu adalah balasan yang setimpal.
Kenzo semakin panik. Ia mencoba menghubungi Alana berkali-kali, namun Alana menolak mengangkat panggilannya. Ia bahkan datang ke rumah Alana, mencoba menerobos masuk, namun Alana sudah menyuruh satpam untuk melarang Kenzo masuk tanpa izin.
"Alana, kumohon! Berhenti! Kamu menghancurkan hidupku!" teriak Kenzo dari luar gerbang rumah, suaranya serak.
Alana hanya diam di balik jendela, membiarkan Kenzo berteriak sampai lelah.
Risa juga mencoba menghubungi Alana, bahkan datang ke rumah orang tua Alana, memohon maaf dan meminta belas kasihan.
"Kak Alana, aku minta maaf! Aku menyesal! Aku tidak tahu harus ke mana lagi," Risa terisak-isak di telepon.
"Penyesalanmu tidak akan mengembalikan kepercayaanku, Risa," jawab Alana dingin. "Apa yang kamu tanam, itu yang kamu tuai. Nikmati saja hasilnya."
Risa terus memohon, mengatakan bahwa ia dipecat, tidak punya uang, dan tidak ada yang mau membantunya. Alana hanya tersenyum getir. Itu adalah bagian dari rencananya. Ia ingin Risa merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya, persis seperti ia kehilangan kepercayaan dan kebahagiaannya.
Meskipun Kenzo dan Risa kini terpojok, Alana tahu ia tidak boleh lengah. Bima mengingatkannya bahwa proses hukum masih panjang. Kenzo pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk melawan, mencoba menyelamatkan apa pun yang tersisa.
Sidang perdana gugatan cerai mereka dijadwalkan sebulan kemudian. Selama masa tunggu itu, Alana mulai mempersiapkan dirinya secara mental. Ia juga mulai mengamankan masa depannya sendiri. Ia menghubungi seorang penasihat keuangan untuk mengatur ulang investasinya, dan mencari tahu cara terbaik untuk mengelola aset-aset yang kelak akan menjadi haknya.
Alana juga mulai kembali fokus pada dirinya sendiri. Ia kembali menekuni hobinya yang sempat terbengkalai, melukis. Melalui sapuan kuas di atas kanvas, ia melampiaskan segala emosi yang tertahan. Warna-warna gelap mendominasi, mencerminkan gejolak di hatinya, namun perlahan, warna-warna cerah mulai muncul, melambangkan harapan dan kekuatan yang baru.
Arya dan Luna adalah sumber kekuatannya yang tak terbatas. Alana menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka, membaca buku cerita, bermain bersama, dan memastikan mereka tetap bahagia di tengah badai yang melanda keluarga mereka. Ia tidak ingin mereka terpengaruh oleh drama orang dewasa.
Suatu malam, Alana sedang mengamati Arya yang tertidur pulas, memeluk erat boneka astronotnya. Wajah polos itu mengingatkannya pada janji yang ia buat. Janji untuk melindungi mereka, untuk memastikan mereka tidak menderita.
"Mama akan lakukan apa pun, Nak," bisiknya. "Apa pun."
Kenzo akhirnya mengajukan perlawanan di pengadilan, menyewa pengacara terbaik untuk membela dirinya. Ia mencoba menyangkal semua bukti, mengklaim bahwa foto dan video itu diedit, dan transfer uang itu adalah "pinjaman bisnis" untuk Risa. Ia bahkan mencoba memutarbalikkan fakta, menuduh Alana gila dan cemburu berlebihan.
Namun, Bima dan Pak Danu sudah siap dengan semua argumen balasan. Laporan forensik keuangan yang detail, kesaksian dari beberapa pihak yang mengetahui hubungan Kenzo dan Risa, dan analisis pakar tentang keaslian foto dan video, semua disiapkan untuk membungkam Kenzo.
Berita tentang persidangan mereka terus menjadi sorotan media. Setiap detail kecil tentang perselingkuhan dan penggelapan aset Kenzo diulas habis-habisan. Tekanan publik semakin menekan Kenzo. Klien-kliennya semakin menjauh, dan ia kehilangan sebagian besar kekayaan yang telah ia kumpulkan.
Suatu hari, Risa mencoba menemui Alana lagi. Kali ini ia datang dengan penampilan yang berantakan, wajahnya pucat dan matanya bengkak. Ia tidak lagi terlihat seperti Risa yang modis dan penuh percaya diri. Ia terlihat seperti seseorang yang telah kehilangan segalanya.
"Kak Alana, tolong aku," isak Risa. "Aku tidak punya apa-apa lagi. Kenzo tidak mau membantuku. Dia marah padaku. Aku diusir dari apartemen."
Alana menatap Risa dengan tatapan dingin. "Sekarang kamu tahu rasanya kehilangan segalanya, Risa?"
Risa mengangguk, terisak-isak. "Aku sangat menyesal, Kak. Aku tidak tahu setan apa yang merasukiku."
"Penyesalanmu terlambat, Risa," kata Alana. "Aku sudah melewati batas kesabaranku. Sekarang, kamu harus menghadapi konsekuensinya."
Alana kemudian menutup pintu, meninggalkan Risa yang masih terisak di luar. Ia tidak merasakan sedikit pun belas kasihan. Hatinya sudah mengeras.
Beberapa minggu kemudian, tibalah hari putusan pengadilan. Ruang sidang dipenuhi oleh awak media dan beberapa kenalan. Alana datang dengan Bima, tampil tenang dan anggun. Kenzo datang dengan pengacaranya, wajahnya terlihat lelah dan penuh tekanan. Risa tidak hadir.
Hakim membacakan putusan.
"Berdasarkan bukti-bukti yang diajukan oleh penggugat, Pengadilan Agama Jakarta Selatan memutuskan: Mengabulkan gugatan cerai penggugat, Ibu Alana Putri, terhadap tergugat, Bapak Kenzo Adiputra. Hak asuh anak, Arya Adiputra dan Luna Adiputra, sepenuhnya jatuh kepada Ibu Alana Putri. Tergugat wajib memberikan nafkah iddah dan nafkah anak setiap bulannya, serta pembagian harta gono-gini dengan persentase 70% untuk penggugat dan 30% untuk tergugat, mengingat adanya bukti penggelapan aset yang dilakukan tergugat."
Guguran palu hakim terdengar keras, mengakhiri babak ini. Alana merasakan beban berat terangkat dari pundaknya. Ia tidak berteriak kegirangan, tidak pula menangis bahagia. Hanya ada rasa lega yang mendalam. Ia telah memenangkan pertempuran.
Kenzo tampak terpukul. Wajahnya semakin pucat, seolah baru saja dihantam palu godam. Ia menatap Alana dengan tatapan tidak percaya, dan juga kebencian. Namun, Alana tidak peduli. Kebenciannya tidak akan lagi menyentuhnya.
Di luar gedung pengadilan, wartawan segera menyerbu Alana.
"Bagaimana perasaan Anda, Ibu Alana?"
"Apakah Anda puas dengan putusan ini?"
Alana menatap kamera dengan tatapan tenang. "Saya bersyukur proses hukum berjalan adil. Ini adalah pelajaran bagi siapa pun yang berani mengkhianati kepercayaan dan menghancurkan rumah tangga."
Alana kemudian berjalan pergi, meninggalkan kerumunan wartawan yang masih sibuk mewawancarai Bima dan pengacara Kenzo. Ia tidak lagi melihat ke belakang. Ia telah menutup satu babak dalam hidupnya.
Hidup Alana memang tidak akan pernah sama lagi. Bekas luka pengkhianatan itu akan selalu ada. Namun, ia telah membuktikan pada dirinya sendiri, dan pada dunia, bahwa ia adalah wanita yang kuat. Ia tidak menyerah pada penderitaan, melainkan bangkit dan berjuang.
Kini, fokus Alana sepenuhnya adalah Arya dan Luna. Ia akan membangun kembali kehidupannya bersama mereka, menciptakan masa depan yang lebih baik, jauh dari bayang-bayang pengkhianatan dan kehancuran. Ia akan memastikan bahwa dari retakan cermin kehidupannya, akan tumbuh kembali taman bunga yang lebih indah dan kuat dari sebelumnya.
Anda Mungkin Juga Suka





