Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Balas Dendam Dalam Cinta

Balas Dendam Dalam Cinta

Alexander menjadikan Kimbeerly Libason sebagai alat balas dendam, namun ia justru jatuh cinta. Demi menyembuhkan luka batin, Alexander pergi meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Bertahun-tahun kemudian, mereka bertemu lagi. Kimbeerly hancur melihat Alexander bersama wanita dan anak lain, sementara buah hati mereka terus menanyakan sang ayah. Akankah mereka bersatu kembali atau tetap berpisah demi mengakhiri rasa sakit yang mendalam?
Bab
Bagikan

Bab 3

Seminggu sudah sejak Alexander memimpin perusahaan El group’s yang merupakan perusahaan milik keluarga Libason. Sejak saat itu pula ia terus menelusuri tentang orang-orang yang sudah masuk dalam rencananya sembari meneruskan lakunya sebagai pengganti presdir. Waktu yang ia rencanakan memakan waktu sangat lama, maka ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya hanya untuk bersantai dan menikmati. Ini belum seberapa dengan semua rencana yang ia susun. Perjalanan masih lumayan panjang dan Alexander berusaha keras agar tidak memakan banyak waktu untuk mendapatkan hasil yang ia inginkan.

Tepat pukul satu siang, saat waktu istirahat. Alexander pergi dari ruangannya untuk makan siang, dan juga melihat salah satu orang dalam rencananya. Dia … salah satu anak buah kepercayaan Jeremy yang juga bekerja di perusahaan, tetapi khusus dibagian produksi dan hanya keluar ruangan saat jam makan. Alexander sudah memperhitungkan semuanya sejak awal, dan benar saja. Orang yang ingin ia temui baru saja keluar ruangan untuk pergi ke kafe perusahaan yang memang disediakan.

Alexander berjalan mendekat. Memperhatikan sosok itu dari belekang sebelum akhirnya ia menyapa lebih dulu.

“Selamat siang, Tuan John.”

Pria itu menoleh begitu namanya dipanggil seseorang. Ia menampakkan senyumnya setelah tahu bahwa itu adalah pemimpinnya dan sekaligus menantu dari Jeremy selaku boss-nya. “Ah, selamat siang juga, Tuan Lemos.”

“Apa anda akan makan siang? Jika benar ku pikir tidak ada salahnya kita makan bersama.”

John mengangguk menyetujui dengan senyuman lebar. “Ide yang bagus. Aku tak menyangka kau adalah pria yang begitu sopan dan baik hati. Aku kurang memperhatikan sekitar.”

Alexander hanya menanggapi dengan senyuman. Mereka terus berjalan menuju kafe perusahaan dan sesekali berbincang tentang pekerjaan. Sampai pada saat mereka akan memulai makan, Alexander berdehem yang membuat John menatap ke arahnya.

“Aku ingin bercerita disamping kita makan. Bisakah aku?” tanya Alexander meminta persetujuan John yang lantas mengangguk menyetujui.

Alexander tersenyum dan mulai menyendok makanannya. “Ku pikir ini cerita yang basi karena aku mendengarnya juga sudah sangat lama tetapi karena tidak ada yang pembahasan diantara kita, ku pikir tidak ada salahnya aku bercerita.”

Alexander masih saja merasa sungkan dengan apa yang akan ia ceritakan kepada John, sementara pria yang usianya jauh lebih tua dari Alexander itu melambaikan tangan. Bermaksud agar Alexander tidak perlu merasa sungkan dan santai saja.

“Ceritakan saja. Tidak perlu merasa sungkan. Lagipula kita perlu mendekatkan diri sebagai atasan dan bawahan. Bukankah begitu?”

Alexander mengangguk menyetujui. Ia lantas menyendok makanannya dan mulai makan pelan-pelan. Dilihatnya John yang juga mulai makan.

“Kejadian ini sudah sangat lama saat aku bertemu dengan temanku. Aku bertemu dengannya saat usiaku sepuluh tahun dan kami bertemu di sebuah taman.”

Alexander memulai ceritanya dengan sesekali kembali makan, dan John yang mendengarkan dengan suka rela.

“Dia bercerita padaku bahwa ia sudah tidak lagi memiliki orang tua karena sebuah kejadian. Di situ aku hanya diam dan mendengarkan saja. Dia bercerita bahwa kedua orang tuanya dibunuh oleh sekelompok orang di dalam rumah saat ia sedang bermain dengan teman-temannya dan menemukan kedua orang tuanya sudah tergeletak di lantai dengan banyak darah yang menggenang.”

John menghentikan aktifitasnya. Memperhatikan Alexander yang terlihat tenang menceritakan hal seperti ini dan juga John yang mengingat sesuatu tentang dirinya dan beberapa orang saat itu.

“Dia terlihat begitu sedih bahkan saat aku menawarinya sebuah roti dia hanya melihat tanpa berniat mengambilnya, padahal saat itu dia terlihat kelaparan dan tidak terawat. Dia juga bercerita bahwa sejak kejadian itu dirinya menjadi gelandangan dan hidup sesukanya. Tidak memiliki seorang pun untuk mendengarkan keluh kesahnya sebab ia tidak memiliki keluarga lain. Nenek dan kakeknya telah lama meninggal dan kedua orang tuanya juga dibunuh oleh sekelompok orang.”

John menundukkan kepalanya. Merasa bersalah meski ia tidak yakin apakah Alexander benar-benar memiliki teman seperti ini atau Alexander hanya mengada-ngada. Hanya saja, John merasa tidak asing dengan cerita ini dan apa yang ia lakukan di masa lalu. Jika cerita yang Alexander katakan ini adalah cerita dari anak dua orang itu, John sungguh merasa bersalah. Bagaimanapun juga ia masih memiliki perasaan kepada anak malang itu.

Alexander melihat sebentar ke arah John dan pria itu yang terus menundukkan wajahnya. Senyuman miring Alexander sunggingkan dan kembali melanjutkan ceritanya.

“Aku memintanya ikut bersamaku agar orang tuaku juga merawatnya, tetapi ia menolak dengan alasan ia tidak bisa berhenti memikirkan alasan dibalik dibunuhnya kedua orang tuanya. Ia hanya memiliki rumah peninggalan kedua orang tuanya dan tidak ingin pergi dari sana hanya demi mengingat kenangan tentang kedua orang tuanya. Setelah itu, dia izin pergi dan aku memintanya membawa roti yang sempat ia lihat. Kasihan sekali, tetapi aku tidak bisa berbuat banyak sebab aku sendiri tidak pernah merasakan hal itu.”

“Siapa nama temanmu itu? Bagaimana keadaannya?” tanya John mencoba menyembunyikan rasa penasarannya karena kasihan mendengar cerita Alexander.

Alexander menggeleng. “Aku tidak tahu siapa dia dan dimana dia saat ini. Aku hanya sekali bertemu dengannya saat berada di sebuah taman bermain. Dia begitu sedih dan aku tidak tahu harus berbuat apa karena aku sendiri tidak mengalami hal seperti itu. Hanya saja, aku merasa jika aku menjadi temanku maka aku akan membalas perbuatan orang-orang itu kepada keluarganya meski banyak resiko yang harus ia lalui.”

John melihat ke arah Alexander tidak percaya. Raut wajahnya tampak sekali ketakutan, tetapi juga berusaha menyembunyikan kebenaran. Ia tidak bisa membayangkan bahwa pemikiran Alexander bisa saja sama dengan pemikiran anak itu. Bisa saja anak itu kembali menampakkan diri dan membalas perbuatan mereka saat itu. John … ia harus berhati-hati mulai saat ini meski belum tentu anak yang Alexander ceritakan ini adalah korban dari kejadian masa lalunya.

Alexander mengedikkan bahunya dan ikut menatap John. Melihat pria itu yang terlihat sekali takut akan sesuatu tetapi Alexander tidak peduli. Ia mengalihkan pandangannya.

“Ku rasa dia hidup dengan baik sekarang. Aku juga tidak tahu pasti setelah pertemuan singkat kami waktu itu,” ujar Alexander dan kembali menata John.

John berdehem dan meminum kembali minumannya. Meneguknya kasar lalu meminta izin Alexander untuk pergi ke toilet. Sedangkan Alexander hanya diam dan memperhatikan kepergian John yang tiba-tiba. Senyumnya tersungging sinis dengan sorot mata elangnya yang terus menatap ke depan sana. Otaknya mulai berselancar dengan rencana-rencana yang akan ia lakukan setelah ini.

Alexander menghela napas pelan sebelum akhirnya beranjak. Meninggalkan area kafe dan berjalan menuju ruangan kerjanya karena waktu istirahat hampir habis. Mengabaikan John yang mungkin saja sedang berpikir tentang anak yang ia ceritakan itu dengan segala perasaan bersalahnya. Bisa Alexander lihat sendiri bahwa pria itu terlihat takut dan menyesali perbuatannya, tetapi memang nasi sudah menjadi bubur. Semua rencana Alexander tetap harus dijalankan apapun keadaannya.

Alexander memasuki ruangannya kembali. Mendudukkan diri di kursi dan membuka sebuah kotak yang selalu tersimpan rapi. Senyuman yang terus ia perlihatkan memudar dengan sorot mata elangnya menatap pada sebuah kertas yang ada ditangannya.

“Aku menemukan mereka.”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Istri Rahasia Suamiku
8.0
Syifa harus merelakan masa mudanya setelah hamil akibat hubungan terlarang dengan Rudi. Demi menutupi aib, ia mengisolasi diri dari lingkungan sekitar. Meski mendambakan rumah tangga harmonis, kenyataan pahit justru menghantamnya. Rudi menolak mengakui Syifa sebagai istri di depan keluarga dan malah menikahi kekasih lamanya, Anita. Kini, setelah tujuh tahun menderita dalam pernikahan rahasia yang penuh luka, Syifa terjebak dilema antara bertahan atau melepaskan.
Sampul Novel Cintaku Tersesat di CEO Gila
9.5
Ziana Hauwel terjebak dalam obsesi mendalam Andreas Johnson, seorang CEO yang bersumpah tidak akan pernah melepaskannya. Meski merasa tertekan oleh cinta yang posesif, Zia tak mampu membohongi tubuh dan hatinya yang haus akan sentuhan pria itu. Di tengah kegilaan sang miliarder, Zia bergelut dengan batinnya yang perlahan mulai luluh. Akankah hubungan penuh gairah ini berakhir dengan kebahagiaan sejati atau justru kehancuran? Simak kisah romansa dewasa yang intens ini.
Sampul Novel IPAR ADALAH BIRAHI
9.4
Kisah ini merupakan sebuah narasi dewasa yang dirancang khusus bagi para pembaca dengan ketahanan mental yang kuat. Alur ceritanya mengeksplorasi dinamika hubungan yang kompleks dan provokatif dalam konteks modern. Dengan tema yang sangat sensitif, pembaca akan dihadapkan pada situasi emosional yang intens dan menantang. Pastikan Anda sudah cukup dewasa dan siap secara psikologis sebelum menyelami lika-liku kehidupan yang penuh gejolak di dalam novel ini.
Sampul Novel Istri Lusuhku Jadi CEO, Setelah Aku Ceraikan
9.4
Pasca perceraian pahit, Surya tega mengusir Anaya dan memutus hubungan dengan darah dagingnya sendiri. Selama belasan tahun, ia tidak pernah memberi nafkah atau mencari tahu keberadaan mereka. Namun, desakan kebutuhan mendesak memaksa Surya melacak anak-anaknya setelah tiga belas tahun berlalu. Saat pencarian itu membuahkan hasil, Surya harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kehidupan mantan istri dan anak-anaknya telah berubah total di luar dugaannya.
Sampul Novel Kopi Es Tanpa Kafein
7.8
Kathy meminta suaminya, Jared, seorang profesor, membelikan kopi saat menjemputnya. Namun, Jared justru memberikan kopi tanpa kafein yang tidak diinginkannya. Kathy langsung membuang minuman itu dan menuntut cerai di hadapan asisten baru Jared, Diana Riley. Meski Diana menganggapnya masalah sepele dan Jared merasa Kathy berlebihan, keputusan Kathy sudah bulat. Ia bertekad mengakhiri pernikahan mereka dan membawa surat perceraian keesokan harinya.
Sampul Novel Little Wife
9.0
Elsa Putri terikat dalam pernikahan dini pada umur 18 tahun dengan pria yang terpaut usia sembilan tahun lebih tua. Meski belum memahami arti cinta yang sesungguhnya, Elsa merasakan gejolak kecemburuan saat menyadari suaminya seolah telah dimiliki oleh wanita lain. Di tengah kerumitan perasaan dan konflik batin yang belum usai, sebuah kenyataan baru muncul mengubah segalanya. Elsa harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tengah mengandung di usia yang sangat muda.