
Baby Twins Billionaire
Bab 2
"Hai... hai... hai!" Seorang wanita cantik berambut panjang masuk ke rumah sambil menenteng dua kantong kresek besar. Senyumnya lebar, matanya bersinar hangat, seolah membawa matahari masuk ke dalam rumah.
Fillo dan Fiona langsung melompat dari sofa begitu mendengar suara itu. Bahkan kartun kesukaan mereka yang sedang tayang pun terlupakan seketika.
"Mami Maret!" teriak Fiona penuh semangat.
Margaret William, perempuan keturunan Inggris berusia 26 tahun, adalah sosok yang tak tergantikan bagi mereka. Maret - begitu si kembar memanggilnya - adalah mama baptis mereka, sahabat sejati Freya, dan tempat mereka menggantungkan banyak cinta.
Margaret bukan hanya seorang sahabat, tapi keluarga. Sejak Freya menemukan Margaret dalam keadaan terluka di jalanan beberapa tahun lalu, mereka hidup bersama, saling mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh orang-orang terkasih.
"Mami kangen kalian," ucap Maret, membungkuk agar sejajar dengan si kembar lalu memeluk keduanya erat-erat.
"Fiona juga kangen Mami Maret!" sahut Fiona riang.
"Fillo juga!" timpal Fillio dengan suara tak kalah antusias.
Maret tersenyum, gemas melihat mereka bergelayut manja padanya. Freya yang menyaksikan momen itu dari kejauhan ikut tersenyum, hatinya hangat.
"Taraaa..." Maret mengangkat kantong kresek yang dibawanya.
"Itu apa, Mi?" tanya Fiona penuh rasa ingin tahu.
"Mainan untuk Fiona dan Fillio," jawab Maret sambil menyerahkan masing-masing satu kantong kepada mereka.
Teriakan gembira pun pecah saat isi kantong dibuka.
"Yeah! Barbie!" Fiona melompat kegirangan, memeluk boneka barunya. "Makasih Mami Maret! Fiona suka banget!"
"Sama-sama, sayang." Maret membelai rambut Fiona dengan lembut.
"Makasih, Mami. Fillio juga suka pesawatnya," kata Fillio tak mau kalah. Maret kembali membalas dengan pelukan hangat.
"Sekarang kalian main dulu, ya. Mami mau bicara sama Mommy Freya," pintanya.
"Ok, Mi!" jawab mereka kompak.
Begitu anak-anak sibuk dengan mainannya, Maret duduk di samping Freya.
"Kamu itu enggak pernah kapok beliin mainan buat mereka," tegur Freya lembut sambil menahan tawa.
"Yang penting mereka bahagia," jawab Maret santai sambil mengambil camilan di meja. Freya hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan sahabatnya itu.
Lalu Maret menatap Freya, serius. "Fre... sepertinya kita harus pindah."
Freya menoleh. "Pindah?"
"Aku diterima kerja di perusahaan besar, di pusat kota. Maaf, Fre... kita harus pindah ke sana."
Senyum kecil muncul di wajah Freya. "Selamat, Ret. Akhirnya impianmu tercapai."
"Tapi... kamu enggak apa-apa kan kalau kita pindah ke kota?" Maret menatap Freya dengan cemas.
Freya tak langsung menjawab. Pandangannya mengarah ke si kembar. Wajahnya berubah murung. Ada luka lama yang belum sembuh, dan kota menyimpan banyak kenangan pahit baginya.
"Aku trauma dengan kota itu. Tapi... aku tak bisa menjadi penghalang impian Maret. Dia pasti tak akan tega meninggalkan kami. Aku tak ingin menjadi beban."
"Fre?" panggil Maret pelan.
Freya terperanjat dari lamunannya. "Iya, aku dengar."
"Setelah pindah, si kembar bisa langsung aku daftarin ke preschool dekat kantor. Gimana?"
Butuh waktu bagi Freya untuk menenangkan pikirannya. Ia tahu Maret tahu luka yang selama ini ia simpan. Tapi pada akhirnya, ia mengangguk.
Maret tersenyum lega dan langsung memeluk Freya erat. "Terima kasih..."
"Semoga ini keputusan yang terbaik," batin Freya.
"Aku akan membantumu menemukan Daddy si kembar. Aku tahu kau membencinya... tapi aku percaya, suatu hari kalian akan butuh dia. Aku akan mencari kebenaran, meski semuanya masih abu-abu," batin Maret.
Malamnya, setelah mengganti pakaian tidur si kembar, Freya membaringkan mereka di tempat tidur. Tangan lembutnya menepuk-nepuk bokong Fiona seperti kebiasaannya tiap malam.
"Fillio, Fiona... lusa kita akan pindah ke kota, ya, Sayang."
"Kenapa kita pindah, Mom?" tanya Fillio yang masih belum mengantuk.
"Karena Mami Maret dapat pekerjaan baru, dan Mommy ingin kita selalu bersama."
"Terus, kita enggak bakal balik ke sini lagi?" tanya Fillio lagi. Fiona hanya mendengar lirih, matanya sudah sayu, nyaris terpejam.
"Entahlah, Sayang. Mungkin sesekali kita akan datang kalau merindukan rumah ini."
Freya menatap langit-langit. Ada kesedihan yang sulit dijelaskan. Rumah ini bukan sekadar tempat tinggal. Ini tempat perlindungannya, tempat ia membesarkan anak-anaknya, tempat ia jatuh berkali-kali lalu bangkit sendiri.
Rumah yang menjadi saksi bisu luka yang mendalam. Rumah yang menyelamatkannya saat dunia mengusirnya karena kehamilannya yang tak diketahui asalnya. Rumah tempat ia merintih, menangis, berdoa, dan membangun keberanian baru dari serpihan hidup yang hancur.
"Apakah aku akan bertemu pria itu lagi? Tapi... bagaimana bisa? Aku bahkan tak tahu siapa dia. Aku bahkan tak tahu wajahnya."
Freya menggeleng frustasi, menolak harapan yang perlahan tumbuh di hatinya. Ia benci perasaan itu.
"Tidak! Aku tak boleh berharap dia akan muncul. Aku tidak selemah itu."
Kenangan pahit menyergapnya. Malam-malam panjang saat ia mengandung, sendiri, bertarung dengan rasa sakit dan kerinduan pada aroma tubuh asing yang tertinggal di kepalanya. Betapa ia pernah mencari aroma itu di antara rak-rak supermarket, berharap menemukan sesuatu yang bisa menghapus dahaganya akan pelukan.
Ia begitu tersiksa. Sendiri. Tanpa orang tua. Tanpa kekasih. Tanpa dukungan. Bahkan, terkadang ia pernah memukul perutnya sendiri karena terlalu marah dan kecewa.
Tapi semua penderitaan itu perlahan memudar saat ia mendengar tangis pertama bayi kembarnya. Dua makhluk mungil yang kini menjadi nyawanya. Mereka adalah alasannya bertahan. Mereka adalah penyembuh.
Freya menatap kedua anaknya yang telah terlelap, lalu meraih kalung yang tergantung di lehernya. Ia menggenggam erat liontin kecil di sana - sebuah cincin perak dengan inisial "V" terukir di bagian dalamnya.
Satu-satunya benda yang ia temukan di tempat kejadian itu.
Matanya kembali berkaca-kaca.
Anda Mungkin Juga Suka





