
Baby Twins Billionaire
Bab 3
Cuaca terik menyambut perjalanan awal mereka. Di dalam mobil merah milik Maret, Freya dan si kembar duduk rapi sambil menikmati pemandangan sepanjang jalan menuju ibu kota. Kota baru yang kelak akan menjadi tempat mereka memulai hidup dari lembaran yang berbeda.
Fiona, si gadis kecil yang cerewet itu, tak henti-hentinya berceloteh sejak mobil meninggalkan halaman rumah. Sesekali ia bernyanyi dengan suara cadelnya yang khas.
"Naik keteta api, tut... tut... tut... siapa hendak tulun... ke Bandung, Surabaya... ayo kawanku lekas naik... keteta ku tak bethenti lama... hore!"
Tepuk tangan meriah pun terdengar dari Fiona dan Freya, yang kompak mengikuti irama lagu. Maret ikut tertawa dari kursi kemudi, sementara Fillio hanya menatap keluar jendela, mengamati gedung-gedung tinggi yang mulai menjulang dari kejauhan.
"Mommy, Fiona lapar..." keluhnya sambil memegangi perut.
"Sabar ya Sayang, sebentar lagi kita sampai di restoran," jawab Maret, melirik dari spion tengah dengan senyum lembut.
"Restoran? Apa itu... retoran?" tanya Fiona sambil memiringkan kepala, penasaran.
"Restoran, Sayang. Itu tempat orang-orang makan. Banyak makanan enak di sana," jawab Freya, sambil mengusap rambut anak perempuannya yang sudah mulai terlihat lelah.
"Ohh... jadi banyak makanan ya di sana? Banyak orang juga?"
"Iya, banyak yang datang buat makan atau sekadar minum. Tapi tenang saja, Mommy dan Mami ada di samping Fiona, nggak usah takut," kata Freya menenangkan.
Beberapa saat kemudian, mobil Maret memasuki pelataran parkir sebuah restoran mewah di jantung kota. Restoran itu luas, dengan interior berkelas yang membuat mata Fiona dan Fillio membulat kagum.
"Mommy... tempat ini cantik sekali! Tapi pasti mahal, ya?" tanya Fillio polos, sambil membuka maskernya.
"Iya Ret, harusnya kita cari tempat makan yang lebih sederhana," ujar Freya lirih, merasa tak enak hati.
Maret terkekeh pelan. "Tenang saja. Uangnya masih cukup, kok. Hari ini kalian bebas pesan apa saja. Anggap saja ini pesta kecil untuk menyambut rumah baru kita."
Senyum Maret yang tulus dan hangat itu tanpa disadari menarik perhatian seorang pria muda yang duduk di meja seberang. Ia menghentikan aktivitas makannya, menatap ke arah Maret dengan penuh takjub. Tangannya bahkan menjatuhkan sendok secara tak sengaja.
"I love her smile... she is beautiful," gumamnya lirih.
Sahabatnya yang duduk berhadapan mengangkat alis, lalu menoleh ke arah yang sama.
"Bro, sadar. Itu wanita punya anak, lho. Bahkan dua. Fokus!"
"Aku hanya bilang aku suka senyumnya. Bukan berarti aku mau memilik-"
"Terserah deh!"
Percakapan mereka terpotong karena mereka harus segera menuju proyek pembangunan mall yang mereka kelola.
Sementara itu di meja keluarga kecil Freya...
"Mommy, makanannya enak banget! Fiona kenyang." Fiona mengusap mulut mungilnya dengan tisu.
"Syukurlah Sayang. Kapan-kapan kita makan di sini lagi, ya," kata Maret sambil membelai lembut rambut Fiona.
"Fillio juga suka udangnya. Rasanya hampir mirip kayak buatan Mommy," sahut Fillio dengan polos. Freya tersenyum, hatinya menghangat. Dibandingkan dengan koki restoran mewah, rasa masakannya masih mendapat tempat di hati anak-anaknya.
Setelah selesai makan, mereka pun bersiap pergi.
"Ayo, kita ke rumah baru," kata Maret sambil menggendong Fiona yang mulai mengantuk.
Sesampainya di kasir, Maret menyerahkan uang sambil menyebutkan nomor mejanya.
"Meja tiga, Mbak."
Namun kasir menjawab dengan senyum sopan, "Sudah dibayar, Mbak. Tadi pria dari meja dua yang melunasinya."
Maret mengernyit. "Apa nggak salah? Saya nggak kenal siapa-siapa di sini."
"Ini bill-nya, Mbak bisa lihat sendiri."
Maret memandangi kertas tagihan itu dengan kening berkerut. Jumlahnya tidak kecil. Siapa pria itu? Kenapa ia membayarkan makanan mereka? Belum sempat bertanya lebih lanjut, pria itu sudah menghilang.
'Siapa pun dia... semoga suatu hari aku bisa mengucapkan terima kasih.'
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah baru.
Di sisi lain kota...
"Huhh... Max, sudah ada kabar tentang gadis malam itu?" tanya Vero dengan suara lelah. Di dalam mobil mewah yang tengah membelah jalan menuju mansion miliknya, ia duduk bersandar, menatap langit-langit mobil.
Max, asistennya, hanya menggeleng pelan. "Belum ada perkembangan, Ver."
Vero mendesah keras. Ia menyatukan jemari lalu menekan keningnya, frustasi. "Sudah bertahun-tahun. Tidak ada satu petunjuk pun..."
Bayangan gadis itu masih membekas kuat. Aroma tubuhnya, suara pelan di telinga, dan terutama-cahaya samar yang menyembunyikan wajahnya di malam itu. Malam kelam yang ia sesali sepanjang hidupnya.
"Gadis itu... darah... dia perawan. Dan aku... bodoh!"
Hatinya menyesal, pikirannya penuh penyesalan. Bukannya bangga, ia justru dihantui rasa bersalah. Bahkan aromanya-vanilla lembut yang memabukkan-masih lekat dalam ingatannya. Aroma yang kini selalu ia kejar di setiap wanita yang lewat, tapi tak satu pun yang menyamai.
"Gila... aku bahkan menyuruh Max mengendus parfum wanita!" batinnya pilu.
"Aku harus menebus kesalahan itu. Dia bisa saja hancur karena aku. Tapi ke mana aku harus mencari? Kota ini terlalu luas..."
Max hanya menatap sahabatnya dalam diam. Vero memang terlihat seperti pria mapan tak tersentuh, tapi malam itu mengubah semuanya.
Dan ia tahu, pencarian ini belum akan berakhir.
Anda Mungkin Juga Suka





