
AYO, Kawin Kontrak!
Bab 2
BAB. 2
“Akuu tidak melarangmu pergi, pergilah! Lepaskan aku. Maka aku pun akan melepaskanmu,” tutur Chilla lirih tapi terkesan tegas di hadapan pria paling dia cintai saat ini. Tapi sayangnya pria itu tidak.
Lima tahun hubungan percintaan mereka lenyap tidak berarti apa-apa setelah pria itu hadir di hadapannya membicarakan soal perpisahan.
Andhika Gading Pratama, pria tampan dan maskulin di hadapannya menatap Chilla dengan sorot sendu.
“Maafkan aku Chilla,”
“Kamu boleh pergi, Dhika. Tapi ingat satu hal. Sekalinya kamu pergi maka tidak akan ada lagi tempat untukmu dengan alasan apa pun itu,”
Andika menunduk, ini berat untuknya. Chilla adalah gadis yang amat dia cintai. Gadis yang sangat dia inginkan tapi kehidupannya yang rumit memaksanya untuk pergi dari kehidupan gadis itu.
Mata Andika berkaca-kaca, ia amat terpukul oleh keputusan yang harus ia ambil.
Chilla menatap wajah Andika seksama. “Kamu benar-benar tidak mau menceritakan apa masalahmu. Apa alasanmu? Kenapa kamu ingin berpisah dariku?”
“Maafkan aku Chilla,”
Lagi-lagi hanya kata itu yang bisa Andika lontarkan.
“Aku hanya berharap suatu saat nanti jika kau masih sendiri, masih ada kesempatan ke-dua untukku. Aku hanya bisa mengharapkan itu,”
Chilla tersenyum sinis, kata-kata yang memuakkan. Bisa-bisa pria itu mengungkapkan hal semacam itu. Seolah mengharapkan Chilla menunggunya.
“Itu tidak akan pernah terjadi, sekalinya aku lepaskan maka aku tidak akan pernah memungut lagi sesuatu yang aku campakkan,”
“Chilla, aku berharap kau mempercayai aku, kau pasti akan mengerti bila suatu saat kebenaran dan alasan aku pergi. Kau gadis yang sangat lembut Chilla dan sangat mencintaiku. Aku memercayai itu, maka itu aku mau mengambil keputusan ini.”
Andika meraih jemari Chilla dan menggenggamnya. Chilla membiarkan saat punggung tangannya di kecup oleh Dhika.
“Apa pun yang terjadi Chilla, satu hal yang harus kau tahu. Aku sangat mencintaimu. Sangat... sangat dan sangat mencintaimu,” ucap Dhika.
Chilla hanya diam.
“Aku sangat mencintaimu Chilla. Suatu saat aku menceritakan semuanya. Dan kau pasti akan memahami ku, aku akan kembali kepadamu...aku janji Chilla. Aku sangat mencintaimu,”
Itu adalah kata-kata terakhir sebelum hubungan Chilli dan Dhika berakhir.
Sejak itu Chilla seolah menarik diri dari hubungan percintaan, bukan ia menunggu Dhika melainkan ia sudah lelah.
Chilla duduk bersila di atas ranjangnya. Malam hari setelah selesai dengan lelahnya kegiatan di siang hari dan selesai bebersih ia duduk santai di hadapannya ada beberapa foto pria yang di tunjukkan oleh sahabatnya.
Ada lima foto pria tampan dan manis di sodorkan padanya. Berserta beberapa berkas CV masing-masing. Ini konyol sekali. Memilih pria untuk di nikahi seperti memesan sesuatu.
Chilla memperhatikan dengan seksama lalu ia tersenyum memiliki ide gila dirinya dalam mencari suami.
Melihat dari wajah dan senyuman ke lima pria dalam foto itu tidak ada satu pun yang bisa membuat Chilli tertarik.
Lelah dan bosan mengamati tapi tidak membuahkan hasil. Chilla menyingkirkan foto-foto tersebut dan merebahkan tubuhnya dan menarik selimut menutupi hingga seluruh tubuhnya bahkan wajahnya tenggelam dalam selimut tebalnya. Memikirkan dirinya akan berbagi tempat tidur kepada orang lain serasa mustahil bagi Chilla. Menikah lalu saling berbagi banyak hal bagi orang asing yang berwujud pria. Itu amat rancu.
Bagaimana ini?
Chilla merasa tubuhnya melemah dan tertindih sesuatu, tapi ia tidak merasa cukup keberatan. Seperti ada yang berada di atas tubuhnya. Ia gelisah dan merasa kesusahan, hawa panas menghinggapi dirinya. Dengan mata berat Chilla kesusahan membuka matanya. Dalam pencahayaan temaram ia merasakan dan melihat seseorang berada begitu dekat dengannya, persis di atas tubuhnya.
Wajahnya yang samar tapi perawakannya seorang pria yang tersenyum padanya. Wajah asing tapi sangat nyaman dalam kungkungan pria itu. Serasa nyaman dan aman.
Chilla merasakan hawa angin tipis menerpa kulitnya yang terbuka.
Apa? Terbuka? Perlahan Chilli memikirkan itu, tanpa perlu melihat tapi ia bisa merasakan bahwa ia tidak memakai pakaiannya. Piyamanya terlepas dari tubuhnya. Satu-satunya yang Chilli rasakan adalah tubuh kekar, keras dan hangat di atasnya.
Mata Chilla melotot. Mereka berdua tanpa pakaian. Chilla merintih lirih saat merasakan ada tekanan pria itu pada tubuhnya. Mereka di tutupi selimut berdua.
Tapi, tanpa perlu melihat secara langsung apa yang terjadi. Chilla merintih dan merintih dalam erangan kesakitan karena pria yang terus di atasnya sedang menguasai tubuhnya yang sensitif.
‘Jangan...’ pekik batin Chilla.
‘Sakit...’ rintih Chilla. Tidak ada kata pria itu berikan hanya belaian dan elusan halus dari jemari pria ke seluruh tubuh Chilla.
Mata Chilla melotot saat tahu apa yang di lakukan pria itu. Ia merasakan intim tubuhnya sedang di masukin sesuatu yang menyakitkan. Gelengan kepala Chilla mengutarakan kata-kata yang terhenti di tenggorokan.
‘Apa yang kau lakukan? Siapa kamu? Berhenti! Itu sakit, stop! Jangan!’ tapi semua kata-kata itu tertahan.
Desahan-desahan kenikmatan pria itu menggema di seluruh penjuru ruangan redup itu.
Chilla merasakan kelelahan. Hentakan demi hentakan Chilla rasakan memasuki rongga intimnya.
Chilla pasrah akan kelelahannya melayani pria itu. Pria asing dengan senyuman khas dengan mata menyipit bila tersenyum.
Wajah pria itu menunduk, ia mengemut sebelah dada Chilla dan sebelah lagi di remas oleh satu tangan pria itu dan tangan satunya lagi meraba paha dalam Chilla yang bisa raba oleh Indranya. Pria itu memainkan klitorisnya. Chilla menggeleng cepat, ini menyiksanya. Tidak!
Arrrgggghhh...rasa yang memabukkan dan Chilla merintih keenakan juga kesakitan karena bokong pria itu secara brutal mengentak hentak untuk bisa memastikan penyatuan mereka kian dalam ke intim Chilla.
Dalam desahan-desahan kenikmatan dan kesakitan wajah pria itu muncul di atas wajah Chilla. Bibir Chilla di raup rakus oleh pria itu.
Gerakan keras menenggelamkan seluruh inti tubuh pria ke dalam tubuh Chilla lalu kehangatan menjalar masuk kedalam perut bawah Chilla.
Air mata Chilla berjatuhan, kesakitannya serasa tubuhnya terbelah dan sangat perih oleh kehangatan menjalar ke dalam rahimnya.
Ia benar-benar lelah dan mengantuk. Pria itu di atas tubuhnya luruh dengan tubuh mereka yang masih menyatu begitu juga dengan bibir mereka yang masih saling berpagutan. Chilla telah lelah hanya pria itu hanya masih bergerak.
Air mata Chilla meleleh berjatuhan di pipinya yang mana wajah Chilla menghadap menyamping.
Beberapa detik dan menit yang melambat hanya deruhan nafas menghiasi mereka.
Tapi...
Kepanikan menghinggapi Chilla kembali, saat pria itu mulai bergerak lagi untuk menghentak. Kedua tangan dengan Jari jemari pria itu menggenggam dan meremas jemari tangan Chilla di kedua sisi kepala Chilla. Pria itu lalu bergerak dengan rasa kepenuhan yang kembali di rongga intim Chilla.
Dia belum selesai?
Tidak! Aku tidak mau lagi, ini sakit, aku lelah, tidak... Jangan!!!
TIDAK!!!
Arrrgggghhh...
Chilla tersentak ke alam sadarnya.
Ia bermandikan keringat.
Anda Mungkin Juga Suka





