
Asmara Setelah Pernikahan Paksa
Bab 2
"Ibu ngomong apa?" Fei Livi masih berharap, jika semua itu hanyalah mimpi belaka.
Ya! Fei Livi memang masih berharap jika perjodohan itu hanyalah mimpi buruknya saja. Tapi, itu u bukanlah bunga tidur. Melainkan kenyataan pahit yang harus Fei Livi jalani dengan terpaksa menikahi pria yang belum pernah ia temui.
Sebagai gadis yang baru saja lulus sekolah, Fei Livi sangat ingin menjadi gadis bebas yang melakukan apapun. Semenjak dirinya sekolah di sekolah menengah atas, sudah banyak sekali pekerjaan paruh waktu yang ia lakukan.
Fei Livi memiliki beberapa tabungan juga untuk dirinya hidup mandiri di luaran sana. Sayangnya, sebagi gadis pinggiran kota Busan, yang memang jauh dari kota besar, sangat sulit baginya untuk bergerak.
"Aku tetap akan menikah, Bu. Setelah ini, mari kita ke kantor urusan agama untuk mengurus semuanya." ajak Fei Livi meski hatinya terluka.
Fei Livi menarik nafas dalam-dalam. Lalu, mengatakan bahwa dirinya siap menikah dengan putra nyonya Lee.
"Kamu yakin?" tanya Cha Yeon Jae kembali. "Ibu hanya tidak mau jika kamu berubah pikiran ketika acaranya sudah dekat!" tegasnya.
Fei Livi kembali menghela nafas panjang. "Huh, aku yakinkan diriku sendiri, Ibu. Tapi sebelumnya … bisakah Ibu mempertemukan aku atau memberikan kontak dari putra nyonya Lee itu kepadaku? Aku hanya ingin mengenalnya sebelum pernikahan itu terjadi, Bu." Fei Livi meminta.
Cha Yeon Jae mengatakan bahwa dirinya dilarang menceritakan apapun tentang siapa putra dari nyonya Lee. Wanita berusia 36 tahun itu hanya bisa menyebutkan namanya saja. Tidak mungkin menyebut statusnya, atau Fei Livi nantinya tidak mau menikah dengan pria itu, karena statusnya yang sudah menduda. Cha Yeon Jae sangat tahu sikap dari putrinya itu yang selalu mempertanyakan apapun yang ingin Iya ketahui.
"Kamu akan bertemu dengan putra nyonya Lee di saat hari pernikahan nanti, Fei," terang Cha Yeon Jae.
"Mengapa seperti itu? Bukankah syarat menikah yang sebenarnya itu adalah__" ucapan Fei Livi terpotong.
"Itu yang mereka katakan. Anak dari nyonya Lee sedang berada di luar negri saat ini. Jadi, kamu tidak bisa bertemu maupun menghubunginya, Fei!" tegas Cha Yeon Jae terkesan takut jika putrinya berubah pikiran.
"Setelah menikah nanti, kamu akan di bawa olehnya ke Seoul. Jadi, biasakan dirimu. Jangan pernah memalukan Ibu, sebagaimana aku yang telah merawatmu dan mendidikmu dengan baik selama ini, paham!" lanjut Cha Yeon Jae.
Tapi dirinya sendiri saja belum pernah bertemu dengan anak dari nyonya Lee. Bagaimana mungkin Cha Yeon Jae bisa mendeskripsikan bagaimana wajah dan juga kriteria dari putranya nyonya Lee itu.
Tak ada yang perlu di bahas lagi. Fei Livi hanya bisa diam menanti hari pernikahan itu datang.
***
Setelah selesai sarapan, Cha Yeon Jae bersama dengan Fei Livi segera datang ke kantor urusan catatan sipil untuk mengurus berkas miliknya. Sebagai gadis yang memiliki kewarganegaraan ganda, Fei Livi harus memilih salah satu dari kewarganegaraan tersebut. Diketahui, memang ayahnya Fei Livi adalah orang China, sedangkan Ibunya asli orang Korea. Tapi, kedua orang tua Fei Livi belum pernah ditemukan sama sekali oleh Cha Yeon Jae.
Sekitar 15 menit selesai, masih dengan wajahnya yang murung, Fei Livi pamitan kepada ibunya untuk berangkat bekerja di cafe milik temannya yang bernama Yoona Min Young (21). Gadis berwatak keras dan selalu menyangka jika Fei Livi adalah adik kandungnya yang dibuang oleh Ibunya.
"Iya, kamu hati-hati di jalan," ucap Cha Yeon Jae memberi ijin.
"Baik, Bu."
Setelah Fei Livi pergi~
"Fei, ini semua Ibu lakukan juga demi kebaikan kita. Ibu sudah lelah terus-terusan merawat kamu. Ibu tidak sabar lagi untuk bisa menemukan pasangan yang Ibu inginkan. Maafkan Ibu, Fei," gumam Cha Yeon Jae.
"Jadi, kamu harus mengalah untuk saat ini. Kamu menikah lebih dulu, agar Ibu juga bisa menikah." imbuhnya berlalu pergi.
***
Fei berjalan dengan pelan mengayuh sepedanya. Harapannya pupus untuk menjadi seorang dokter karena dipaksa menikahi pria yang sama sekali belum ia jumpai itu, sekali lagi. Sepanjang perjalanan, Fei Livi terus saja memikirkan seperti apa orang yang hendak dinikahkan dengannya itu.
"Semoga saja … pria itu tidak jahat. Aku takut sekali jika pria itu tidak mudah aku senangi." Fei Livi bergumam.
Apesnya, sebelum sampai ke cafe, ban sepeda Fei Livi mengalami kebocoran. Hingga dia harus mendorong jauh sampai menemukan bengkel terdekat. Fei Livi tidak tahu kenapa dengan sepedanya hari itu. Padahal, tempat bengkel tersebut lumayan sangat jauh. Dan hanya ada satu di Kota Busan.
"Ya Tuhan, segala bocor ban sepedaku. Sudah jam berapa ini? Aku janji dengan Min Young mau datang lebih awal pula!"
Tak lama kemudian, Fei pun menemukan bengkel tak jauh dari tempat dirinya mengalami bocor di ban sepedanya. Bengkel yang amat tua dan sudah tidak memungkinkan. Tapi, harus Fei Livi jamah supaya ban sepedanya bisa cepat teratasi.
Usai menambal ban sepedanya, Fei Livi segera pergi ke cafe sahabatnya. Dahulu, Fei Livi pernah menyelamatkan si pemilik cafe dengan mendonorkan darahnya. Maka dari itu, si pemilik cafe menawarkan pekerjaan kepadanya memang saat itu Fei Livi sedang membutuhkan pekerjaan.
"Huh, akhirnya sampai juga," batin Fei Livi.
Setelah sampai di cafe, Fei Livi langsung mencari Min Young dan mengatakan, "Hai, selamat siang manager, sorry aku terlambat!" teriak Fei Livi padahal belum dekat dengan Min Young berada.
"Astaga, kau kemana saja? Ini jam berapa, Fei? Jika saja aku ini adalah managerny yang galak, aku mungkin sudah memecatmu!" Canda Min Young.
"Iya, tadi sepedaku bocor. Ban yang bocor, hehe. Jadi harus mencari tukang tambal dulu. Itu aja masih pakai antri segala. I'm sorry I was late. No next time, I promise!" lanjut Fei Livi.
"Santai saja, Fei. Kau minum saja dulu sana. Setelah itu, kau istirahat sebentar dan baru mulai kerja jika lelahmu sudah hilang. Aku ingin keluar sebentar. Bisakah kau menjaga my cafe has the best coffee and desserts in town?"
Min Young sangat baik kepada Fei Livi karena sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Selama bekerja di cafe, Fei Livi selalu menerima perlakuan khusus dari Min Young. Apapun yang ada dalam pikirannya hanya kebaikan untuk sahabatnya itu. Sampai di mana, Min Young kembali dari urusannya dan mulai berbincang dengan Fei Livi kembali.
"Fei, masuk ke kantor. Aku mau mengatakan sesuatu kepadamu." panggil Min Young.
Segera mungkin Fei Livi segera memenuhi panggilan dari managernya, atasannya. Tak ingin membuat seorang yang telah berbaik hati kepadanya menjadi kecewa, Fei Livi sampai berlari ke kantor untuk tidak membuat Min Young menunggu.
"Ada apa lagi, Bos? Kenapa kau memanggilku?" tanya Fei Livi dengan nafas ngos-ngosan karena berlari.
"Duduk dulu." Perintah Min Young dengan cuek. Memang orangnya seperti itu. Gadis berusia 21 tahun itu tiba-tiba sangat cuek kepada siapapun. Bahkan dengan pria saja selalu dingin sikapnya.
"Aku dengar dari beberapa karyawan kau lulus dengan nilai yang hampir sempurna. Jadi, terima ini sebagai hadiah karena kamu berhasil lolos dengan nikah yang baik," ucap Min Young sembari menyodorkan sebuah kertas.
"Ah, kenapa harus repot-repot? Aku sangat berterima kasih kamu menerimaku sebagai karyawan paruh waktu. Masa iya masih menerima hadiah? Aku tidak enak hati dengan karyawan lain," kata Fei Livi memang tidak enak hati.
"Kenapa harus merasa tidak enak? Semua karyawan kan tau benar kalau kamu ini adikku, bukan karyawanku. Tidak ada salahnya dong jika aku memberikan kamu hadiah kelulusan? Ayo buka!" jawaban Min Young membuat Fei Livi terharu saja.
Betapa mengejutkannya hadiah dari Min Young untuk Fei Livi. Beasiswa kuliah jurusan desainer untuk 2 semester itu seperti yang dia inginkan ada di depan matanya dan dipegang dengan tangannya sendiri. Merasa menyesal karena harus menolak, Fei Livi hanya bisa menangis dan terus menangis.
"Loh, kok, kamu nangis gini? Ini bukan tangisan bahagia. Kamu kenapa, Fei?" tanya Min Young heran.
"Huaa … Aku tidak bisa menerima beasiswa ini, Min Young. Kenapa kamu selalu baik kepadaku? Aku tidak enak hati menolaknya__" Fei Livi semakin tidak terkendali.
"Iya, kenapa? Bukankah kamu ingin sekali kuliah di kejuruan ini? Kenapa kamu tidak bisa menerimanya? Apa karena Ibumu lagi?" Yoona Min Young masih berusaha menanyakan alasannya sahabatnya itu menolak.
Belum bisa mengungkapkan, Fei Livi masih menangis saking bingungnya. Bibirnya sulit untuk mengatakan bahwa dirinya dipaksa menikah karena hutang Ibunya. Dan keterpaksaan itu berlandaskan bayar hutang.
"Fei, kamu kenapa?" tanya Min Young masih lembut. Tapi tangisan Fei Livi malah benar-benar membuat gadis berambut panjang lurus itu menjadi kesal karena tidak berterus terang kenapa dirinya menangis.
Anda Mungkin Juga Suka





