
Asisten Terkekang Oleh Majikan
Bab 2
Hari-hari berikutnya semakin menambah ketegangan dalam diri Dian. Niko yang seolah tak mengenal batas, selalu berada di sekitarnya. Setiap kali mereka bertemu, ada semacam tarikan yang sulit dijelaskan, sebuah ikatan yang semakin kuat meski Dian berusaha sekuat tenaga untuk menjauh.
Suatu malam, Dian sedang membersihkan dapur setelah makan malam. Suasana rumah yang sepi membuatnya sedikit lega, namun ketenangannya tak berlangsung lama. Langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Ia tahu itu suara langkah Niko.
Tanpa memberi salam atau bertanya, Niko sudah berdiri di pintu dapur, matanya menatap Dian dengan tatapan yang penuh arti. Dian berusaha mengabaikannya, berbalik melanjutkan pekerjaannya, namun tidak bisa menghindari sensasi aneh yang menjalar di tubuhnya.
"Apa kamu selalu merasa canggung di dekatku, Dian?" suara Niko menggema rendah di ruang dapur yang sunyi.
Dian menahan napasnya, tidak tahu harus menjawab apa. "T... Tuan Niko, saya hanya-"
"Jangan pura-pura," potong Niko, suaranya tegas namun lembut. "Kita sudah cukup dekat, bukan? Kamu tahu, aku sudah melihatmu sejak pertama kali datang ke rumah ini."
Dian merasa tubuhnya kaku, seolah ada sesuatu yang membekukan setiap gerakannya. Tatapan Niko semakin tajam, dan ia tahu, ia terjebak dalam mata yang penuh godaan itu.
"Tuan Niko, saya tidak mengerti maksud Anda," jawab Dian, berusaha menjaga jarak emosionalnya.
Niko mendekat, langkahnya lambat namun penuh tekanan. Dian bisa merasakan hawa panas yang menyelimuti sekelilingnya, membuatnya semakin tidak nyaman. "Aku tahu kamu menghindariku. Tapi kamu tak bisa terus begitu. Ini bukan hanya soal aku yang menginginkanmu, Dian. Ini tentang apa yang ada di antara kita. Kamu merasa itu juga, bukan?"
Dian menggeleng, berusaha keras untuk menepis perasaan yang mulai tumbuh di dalam dadanya. "Tidak ada yang seperti itu, Tuan Niko. Saya hanya seorang asisten rumah tangga. Tidak ada yang lebih dari itu."
Niko tertawa pelan, namun tawa itu terasa dingin di telinga Dian. "Jangan berpura-pura. Aku tahu kamu merasa terikat pada tempat ini. Tapi aku juga tahu, kamu akan selalu merasa terperangkap di antara aku dan Izabella. Kamu tidak akan pernah bisa lari dari itu."
Dian merasa perasaan itu menyesakkan dadanya. Ada kebenaran yang pahit dalam kata-kata Niko, sesuatu yang tidak ingin ia akui. Namun, semakin Niko mendekat, semakin besar godaan itu. Dia bisa merasakan pesona Niko yang begitu kuat, yang membuatnya ingin melarikan diri, namun juga merasa terjebak di dalamnya.
"Aku bisa memberimu lebih dari ini, Dian," Niko melanjutkan, suaranya berbisik. "Lebih dari sekadar pekerjaan ini. Aku bisa memberi kamu kebebasan. Tapi kau harus memilih, Dian. Aku atau hidup yang tak pernah bisa memberi lebih dari ini."
Dian terpaku, tubuhnya gemetar. Ia ingin berteriak, menolak, tetapi kata-kata itu terus berputar di dalam kepalanya. Bagaimana bisa seorang pria yang sudah menikah berbicara seperti ini? Apa yang sebenarnya diinginkan Niko darinya?
Dia menatap Niko dengan mata yang mulai memerah, bingung antara perasaan yang mulai menguasai dirinya dan akal sehat yang berusaha menahan semuanya. "Tuan Niko, saya... tidak bisa. Saya tidak bisa seperti itu."
"Tunggu saja," kata Niko dengan senyuman penuh misteri. "Kamu akan mengerti suatu saat nanti. Aku tahu, Dian. Kamu tidak akan bisa menghindar selamanya."
Saat Niko berbalik dan pergi, Dian merasa tubuhnya lemas. Dia terjatuh di atas kursi dapur, hatinya berdebar keras, dan pikirannya terpecah antara kebingungan, ketakutan, dan ketertarikan yang tak bisa ia hapuskan.
Apakah ini akhirnya? Apakah dia akan terjebak dalam permainan berbahaya yang dimainkan Niko? Atau, akankah dia berhasil menjaga jarak dan hidup dengan tenang seperti dulu?
Namun, satu hal yang pasti-kehidupannya sudah berubah. Keputusan yang akan diambilnya sekarang akan menentukan segalanya.
Anda Mungkin Juga Suka





