
Asisten Terkekang Oleh Majikan
Bab 3
Hari-hari setelah pertemuan itu semakin terasa berat. Setiap kali Dian menghadap Niko, hatinya berdegup kencang, tubuhnya seakan membeku. Ia tahu, Niko bukanlah pria biasa. Ada sesuatu yang gelap dan berbahaya dalam tatapannya, sesuatu yang menarik dan menjerat. Setiap langkah Niko di rumah itu terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Dian berusaha menghindari Niko sebanyak mungkin, tetapi seolah tak ada tempat di rumah itu yang aman. Bahkan ketika ia sedang membersihkan ruang keluarga, Niko selalu muncul entah dari mana, seolah-olah mengetahui ke mana ia pergi. Dan setiap kali itu terjadi, Niko akan mengawasi dengan tatapan yang sulit dipahami-antusias, penuh minat, dan sedikit terancam.
Pada suatu malam yang tenang, Dian sedang di dapur, membersihkan piring, pikirannya melayang jauh. Ia ingin melarikan diri, tetapi tidak tahu ke mana. Kehidupan yang sudah dia jalani selama tiga tahun tiba-tiba terasa seperti penjara yang tak bisa ia tinggalkan.
Tiba-tiba, pintu dapur terbuka dengan suara pelan, dan Niko masuk, mengenakan pakaian kasual. Dian terkejut, menoleh cepat ke arahnya. "Tuan Niko," katanya dengan suara gemetar. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Jangan takut," jawab Niko, suaranya lembut namun mengandung kekuatan. "Aku hanya ingin berbicara sebentar."
Dian merasa seluruh tubuhnya tegang. Ia tidak tahu apa yang diinginkan Niko kali ini, tapi ia bisa merasakan ketegangan yang semakin meningkat di udara.
Niko melangkah mendekat, duduk di kursi sebelahnya, meskipun tidak ada alasan jelas mengapa ia harus duduk begitu dekat. "Aku tahu kamu ingin menjauhkan dirimu dariku, Dian," kata Niko, nadanya mengandung kepercayaan diri yang membuat Dian merasa cemas. "Tapi aku juga tahu kamu tidak bisa. Kita terikat, meskipun kamu tidak ingin mengakui itu."
Dian merasa darahnya mendidih. "Tuan Niko, ini salah. Anda sudah menikah, dan saya... saya hanya seorang asisten rumah tangga. Tidak ada yang harus terjadi di antara kita."
Niko tertawa pelan, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Kamu tahu, Dian, kadang hidup tidak sesederhana itu. Kamu dan aku, kita lebih dari sekadar status atau posisi. Aku tahu kamu ingin lebih, bahkan jika kamu tidak mengakuinya."
Dian merasa perutnya mual, namun ia berusaha menahan diri. "Jangan begitu, Tuan Niko. Ini tidak benar. Saya tidak bisa terjebak dalam permainan ini."
Niko mendekat, jaraknya kini hanya beberapa inci. Dian bisa merasakan panas tubuhnya, aroma cologne yang memabukkan. "Kamu bisa, Dian. Dan kamu akan melakukannya. Aku tahu kamu ingin melawan, tetapi semakin kamu menentang, semakin kamu akan terjatuh ke dalamnya."
Dian berusaha berdiri, ingin melarikan diri, tetapi Niko menahannya dengan tangan yang kuat, memegang pergelangan tangannya. "Jangan lari dariku. Aku bisa memberimu semua yang kamu inginkan. Cobalah untuk mempercayai aku," kata Niko dengan suara serak.
Tubuh Dian gemetar, perasaan cemas dan bingung bercampur aduk. Ia ingin melawan, tetapi hatinya mulai ragu. Ada tarikan yang kuat di dalam dirinya, sebuah perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Tatapan Niko itu, sentuhannya, seakan menghipnotisnya, membuatnya terperangkap dalam godaan yang berbahaya.
"Apa yang harus saya lakukan, Tuan Niko?" kata Dian, suaranya hampir tidak terdengar.
Niko tersenyum puas, seolah-olah ia sudah meraih kemenangan. "Kamu sudah melakukannya, Dian. Kamu sudah memilih."
Namun, meskipun ia berbicara dengan percaya diri, Dian merasa sebuah kekosongan yang mendalam. Ada sesuatu yang sangat salah dalam situasi ini, namun ia tidak bisa mengabaikan perasaan yang semakin menguasai dirinya. Perasaan yang membingungkan, yang merobek hatinya-perasaan terjebak antara ketertarikan dan moralitas.
Keesokan harinya, saat Dian terbangun, matanya masih terasa berat, dan kepalanya penuh dengan bayangan Niko. Ia tahu bahwa jalan yang dipilihnya semakin sempit. Hanya ada dua pilihan di hadapannya: melawan Niko dan terus terjebak dalam rasa sakit, atau menyerah dan membiarkan dirinya hanyut dalam permainan gelap yang ditawarkan oleh pria itu.
Namun, seiring berjalannya waktu, semakin sulit bagi Dian untuk menahan diri. Niko, dengan cara yang tak terduga, berhasil merobohkan benteng yang ia bangun bertahun-tahun. Kini, ia hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri-berapa lama lagi ia bisa menahan godaan ini? Dan jika akhirnya ia terjatuh, apakah ia akan mampu kembali?
Anda Mungkin Juga Suka





