
Asisten Pribadi CEO Dingin
Bab 2
Ruang rapat utama InnoTech dipenuhi aroma kopi dan sedikit kegugupan yang menguar dari udara. Di salah satu sisi meja panjang yang terbuat dari kayu gelap, duduk Arion Aditama, tenang seperti biasa, dengan Elena di sisi kanannya, siap sedia dengan tablet dan pulpen. Di seberang mereka, delegasi dari Nishi Corporation, perusahaan teknologi raksasa Jepang, sudah bersiap. Direktur utama mereka, Tuan Kenji Tanaka, seorang pria paruh baya dengan kacamata berbingkai tipis dan senyum tipis yang sulit diartikan, duduk di tengah.
Elena memeriksa kembali layar tabletnya, memastikan semua poin penting dalam presentasi Arion sudah ia garis bawahi. Ia juga sudah menyiapkan terjemahan ringkas beberapa istilah teknis yang mungkin kurang familiar bagi investor Jepang, meskipun ia tahu Arion sangat mahir berbahasa Inggris. Ini adalah bagian dari tugasnya: mengantisipasi setiap kemungkinan dan memastikan semuanya berjalan mulus.
Arion memulai presentasinya dengan perkenalan singkat tentang InnoTech dan visi mereka. Suaranya terdengar lugas dan penuh keyakinan. Ia memaparkan data pertumbuhan perusahaan, potensi aplikasi "Zenith" yang mereka kembangkan, dan proyeksi keuntungan di masa depan dengan grafik yang jelas dan infografis yang menarik. Elena mengamati bagaimana mata Tuan Tanaka sesekali meliriknya, lalu kembali ke Arion, seolah mengukur kredibilitas tim ini.
Selama sesi tanya jawab, beberapa pertanyaan dari pihak Nishi Corp cukup menantang. Mereka ingin tahu tentang struktur keamanan data, rencana ekspansi pasar ke Asia Tenggara, dan bagaimana InnoTech menghadapi persaingan dengan aplikasi serupa yang sudah lebih dulu ada. Arion menjawab setiap pertanyaan dengan tenang, memberikan detail teknis yang meyakinkan tanpa terdengar arogan. Sesekali, ia melirik Elena, memberi isyarat agar mencatat pertanyaan-pertanyaan krusial atau untuk mencari data tambahan di tabletnya.
Ada satu momen ketika Tuan Tanaka menanyakan tentang tim pengembangan inti InnoTech. "Siapa otak di balik fitur-fitur inovatif ini, selain Anda, Tuan Arion?" tanyanya melalui penerjemah.
Arion tersenyum tipis-sebuah pemandangan langka. "Kami memiliki tim yang sangat berbakat, Tuan Tanaka. Dan tentu saja, peran mereka sangat krusial. Namun, untuk menjaga fokus, saya adalah representasi utama dari visi teknis kami," jawab Arion, nadanya tenang namun tegas. Elena menyadari bahwa Arion tidak ingin membocorkan terlalu banyak informasi tentang tim intinya, mungkin untuk alasan strategis.
Pertemuan berlangsung selama dua jam lebih. Ketika akhirnya berakhir dengan jabat tangan formal dan janji untuk tindak lanjut, Elena bisa merasakan bahunya sedikit mengendur dari ketegangan. Ia segera merapikan berkas-berkas, sementara Arion berbicara sebentar dengan Tuan Tanaka dan penerjemahnya.
"Kerja bagus, Elena," ucap Arion singkat ketika mereka berjalan keluar dari ruang rapat menuju koridor. Ini adalah pujian pertama yang Elena dengar dari Arion sejak ia bekerja di sana, dan entah kenapa, rasanya cukup memuaskan. "Siapkan laporan ringkasan pertemuan ini, fokus pada poin-poin penting yang disoroti oleh Nishi Corp, terutama soal keamanan data dan ekspansi pasar."
"Baik, Pak," jawab Elena, berusaha menyembunyikan senyum tipisnya.
Makan siang di kantor selalu menjadi ritual singkat bagi Arion. Elena akan memesankan makanan dari kafe langganan Arion, biasanya semangkuk salad ayam atau wrap sayuran dengan jus buah tanpa gula. Arion makan dengan cepat, matanya tetap terpaku pada layar laptopnya, membalas email atau meninjau laporan. Elena sering bertanya-tanya, apakah Arion pernah benar-benar menikmati makanannya, atau apakah itu hanya ritual pengisi tenaga semata.
Siang itu, saat Elena membawa nampan makan siang Arion, ia melihat Arion sedang mengangkat telepon. Wajah Arion, yang biasanya datar, menunjukkan sedikit kerutan di dahi. Suaranya sedikit lebih berat dari biasanya.
"Ya, saya sudah tahu," Arion berkata ke telepon. "Tidak perlu dilebih-lebihkan. Saya akan mengurusnya."
Elena meletakkan nampan di meja Arion dengan hati-hati. Arion hanya mengangguk padanya, pandangannya kembali ke layar. Telepon terputus.
"Ada masalah, Pak?" tanya Elena, tidak bermaksud ikut campur, tetapi nada suara Arion membuatnya sedikit khawatir.
Arion menghela napas pendek. "Bukan masalah besar. Hanya... sedikit gangguan," jawabnya, kemudian mengalihkan topik. "Untuk rapat pengembangan produk nanti, pastikan tim sudah menyiapkan demonstrasi fitur Augmented Reality terbaru. Saya ingin mereka menunjukkan progres nyata, bukan hanya presentasi slide."
Elena mengangguk, mencatat. Ia tahu Arion tidak akan menceritakan detail dari "gangguan" itu. Ia sudah belajar bahwa ada batasan yang tak terlihat antara urusan pekerjaan dan urusan pribadi Arion. Dan sebagai asisten, tugasnya adalah menghormati batasan itu.
Namun, di benak Elena, ada sedikit rasa penasaran. Siapa yang bisa membuat Arion Aditama, sang CEO dingin yang selalu terlihat tak tergoyahkan, menunjukkan sedikit ekspresi terganggu seperti tadi? Apakah itu terkait dengan bisnis, atau ada sesuatu yang lebih personal? Pertanyaan itu berputar di kepalanya, meskipun ia tahu ia tidak akan mendapatkan jawabannya.
Sore harinya, wawancara kandidat manajer pemasaran dimulai. Karina Wijaya, sang kandidat, adalah seorang wanita karismatik dengan pengalaman luas di bidang pemasaran digital. Ia mempresentasikan ide-ide kampanye yang segar dan strategi yang inovatif. Elena mencatat setiap poin penting yang disampaikan Karina, mengamati ekspresi Arion yang, untuk sesaat, terlihat cukup terkesan.
Karina bahkan mencoba sedikit humor di akhir wawancara, "Saya rasa, tantangan terbesar di posisi ini adalah bagaimana membuat aplikasi teknologi yang serius ini menjadi sesuatu yang 'menyenangkan' bagi pasar," katanya sambil tersenyum ke arah Arion.
Arion tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk pelan. "Tugas manajer pemasaran adalah mengemasnya dengan baik, Nona Karina. Aplikasi kami memang serius, karena kami membangun solusi, bukan sekadar hiburan."
Elena nyaris terkekeh. Arion memang tidak pernah basa-basi. Karina, dengan profesionalisme yang patut diacungi jempol, tidak terlihat terintimidasi. Ia mengangguk mengerti.
Setelah wawancara selesai, Arion langsung kembali ke ruangannya. "Menurutmu, bagaimana Karina?" tanya Arion pada Elena, tanpa menoleh.
"Ia sangat profesional, Pak. Ide-idenya segar, dan pengalamannya cukup relevan," jawab Elena jujur. "Ia juga terlihat berani dan tidak mudah gentar."
Arion terdiam sejenak. "Berani, ya," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri. "Kirimkan email ke HRD, minta mereka memproses Karina Wijaya sebagai kandidat terpilih. Jadwalkan pertemuan orientasi untuk minggu depan."
Elena sedikit terkejut. Arion biasanya memerlukan waktu untuk mempertimbangkan keputusan perekrutan yang penting. Namun, ia tidak berkomentar. "Baik, Pak."
Ketika jam kerja berakhir dan karyawan mulai meninggalkan kantor, Arion masih terpaku di mejanya, dengan layar komputer yang memancarkan cahaya biru di wajahnya. Elena, setelah memastikan semua tugasnya selesai, memberanikan diri untuk bertanya.
"Pak Arion, apakah Anda butuh sesuatu sebelum saya pulang?"
Arion mendongak, seolah baru sadar Elena masih ada. "Tidak, Elena. Terima kasih. Anda bisa pulang."
Elena mengangguk. "Kalau begitu, saya permisi, Pak. Selamat malam."
Ia berjalan menuju lift, namun sebelum masuk, ia sempat melirik kembali ke arah ruangan Arion. Pria itu sudah kembali sibuk, kembali pada dunianya yang penuh angka dan kode. Elena bertanya-tanya, apakah Arion pernah merasa kesepian, dikelilingi oleh kesuksesan yang ia bangun sendiri, tanpa ada seorang pun yang bisa ia ajak berbagi beban "gangguan" yang sempat ia sebutkan tadi? Entahlah. Itu bukan urusannya. Tugasnya adalah menjadi asisten terbaik, bukan menganalisis kehidupan pribadi sang CEO.
Namun, di lubuk hatinya, ada benih rasa ingin tahu yang tak bisa sepenuhnya ia abaikan. Arion Aditama, dengan segala dingin dan ketegasannya, ternyata bukan hanya sekadar bos, melainkan juga sebuah teka-teki yang benar.
Anda Mungkin Juga Suka





