
Asisten Pribadi CEO Dingin
Bab 3
Akhir pekan tiba, membawa serta janji istirahat yang sangat dibutuhkan Elena. Namun, alih-alih bersantai, pikirannya justru dipenuhi oleh dua hal: sketsa desain logo "Kreativa Studio" yang masih teronggok di meja makannya, dan bayangan Arion Aditama dengan kerutan samar di dahinya saat menerima telepon. Siapa yang bisa membuat CEO sedingin es itu sedikit terganggu? Pertanyaan itu terus mengusik.
Elena menghabiskan Sabtu pagi dengan membersihkan apartemennya, mencoba menyingkirkan debu dan juga kekalutan di pikirannya. Aromaterapi lavender menyebar di udara, menciptakan suasana yang lebih tenang. Ia lalu mengambil tablet grafisnya, mencoba menyelami kembali dunia yang ia rindukan. Garis-garis digital mulai menari di layarnya, membentuk pola abstrak yang perlahan berubah menjadi tipografi modern untuk nama studio impiannya. Ada kepuasan tersendiri saat jemarinya bergerak bebas, tanpa batasan aturan korporat atau tuntutan seorang bos perfeksionis.
Namun, di tengah asyiknya berkreasi, sebuah notifikasi email masuk. Pengirimnya: Arion Aditama.
Elena mengerutkan kening. Arion mengirim email di akhir pekan? Itu sangat tidak biasa. Biasanya, ia akan memastikan semua pekerjaan selesai sebelum Jumat sore. Dengan sedikit rasa penasaran bercampur cemas, Elena membuka email itu.
Subjek: Permintaan Urgent - Sabtu Siang
Isi: Elena, bisakah Anda datang ke kantor? Ada beberapa data yang perlu segera saya olah untuk presentasi tambahan dengan Nishi Corp. Ada perubahan jadwal yang mendadak. Saya butuh Anda membantu menyusunnya. Maaf mengganggu akhir pekan Anda.
Arion Aditama
Elena menatap email itu, antara kesal dan sedikit terkejut. "Permintaan urgent"? "Perubahan jadwal mendadak"? Arion bahkan menulis kata "Maaf". Itu adalah sebuah anomali. Jarang sekali Arion mengucapkan kata itu, apalagi menulisnya dalam email resmi.
Ia menghela napas panjang. Impian tentang akhir pekan yang tenang, dihabiskan dengan desain dan relaksasi, kini menguap begitu saja. Ada rasa frustrasi, namun juga rasa tanggung jawab yang tak bisa ia hindari. Pekerjaan adalah pekerjaan, dan ia membutuhkan gaji itu. Lagipula, ini adalah kesempatan langka untuk melihat Arion bekerja di luar jam kantor formal, mungkin ada sisi lain dari dirinya yang bisa ia amati.
Dengan berat hati, Elena mematikan tabletnya. Ia mengganti pakaian kasualnya dengan blus sederhana dan celana panjang rapi. Perjalanan ke kantor terasa lebih panjang dari biasanya, diwarnai kemacetan khas Jakarta meskipun ini akhir pekan. Dalam benaknya, ia sudah membayangkan Arion duduk tegang di mejanya, mungkin dengan kemeja yang sedikit kusut, tapi tetap dengan ekspresi serius.
Ketika Elena tiba di kantor InnoTech yang lengang, hanya ada beberapa petugas keamanan dan staf kebersihan yang terlihat. Lampu-lampu di sebagian besar lantai dimatikan, menciptakan suasana remang-remang yang kontras dengan hiruk pikuk di hari kerja. Elena berjalan menuju lantai tempat departemen mereka berada.
Pintu kaca ruangan Arion sudah terbuka sedikit. Dari celah itu, Elena bisa melihat Arion berdiri di depan papan tulis interaktif, memegang pena digital, dikelilingi oleh tumpukan berkas dan layar laptop yang menyala. Ia mengenakan kaus polo berwarna gelap dan celana chino, penampilan yang jauh lebih santai dari biasanya, namun ketegasan di wajahnya tetap tak berubah. Rambutnya sedikit acak-acakan, seolah ia sudah menghabiskan berjam-jam di sana.
"Selamat siang, Pak Arion," sapa Elena pelan, mengetuk ambang pintu.
Arion menoleh, ekspresinya sedikit terkejut melihat kedatangan Elena. Seolah ia lupa bahwa ia yang memanggilnya. "Ah, Elena. Terima kasih sudah datang," ujarnya, nadanya sedikit lebih lembut dari biasanya. "Duduklah."
Elena duduk di mejanya, menyalakan komputernya. "Ada apa, Pak? Apakah ada masalah dengan Nishi Corp?"
Arion menghela napas, mengusap wajahnya. "Bukan masalah, lebih ke... tekanan. Nishi Corp menginginkan data yang lebih rinci tentang penetrasi pasar kami di segmen tertentu. Mereka baru saja mengubah parameter penilaian mereka, dan saya butuh data historis yang spesifik yang tidak ada dalam presentasi awal kita."
"Data historis apa, Pak?" tanya Elena, sudah siap dengan laptopnya.
"Data pengguna aktif bulanan dari aplikasi 'Zenith' di daerah pinggiran kota besar, serta pola penggunaan fitur notifikasi secara spesifik. Mereka ingin melihat tren dalam tiga tahun terakhir."
Elena mengernyit. "Itu data yang cukup mendalam, Pak. Apakah ada di server internal kita?"
"Seharusnya ada. Tapi database kita cukup kompleks. Saya sudah mencoba mencarinya, tapi butuh waktu." Arion menghela napas lagi. "Saya bisa mengambilnya sendiri, tapi saya juga harus menyiapkan poin-poin presentasi baru untuk menyoroti data itu."
Elena memahami. Tugasnya adalah mempercepat proses ini. "Baik, Pak. Berikan saya akses ke database yang Anda maksud. Saya akan coba ekstrak datanya."
Selama beberapa jam berikutnya, suasana di lantai itu hanya diisi oleh suara ketikan keyboard Elena dan Arion yang sesekali bergumam sambil menulis di papan tulis interaktif. Elena dengan cekatan menelusuri database yang kompleks, menggunakan keahliannya dalam mengolah data yang ia pelajari dari kursus online yang pernah ia ikuti dulu. Ia harus menggabungkan beberapa tabel, menyaring informasi yang tidak relevan, dan memvisualisasikannya dalam bentuk grafik yang mudah dipahami.
Arion, di sisi lain, fokus pada penyusunan narasi baru presentasi, sesekali melirik layar Elena, seolah mengukur progresnya. Keheningan yang tercipta bukan karena canggung, melainkan karena konsentrasi tinggi dari keduanya. Mereka bekerja bersama dalam harmoni yang tak terucap, seolah sudah terbiasa dengan ritme ini.
Ketika Elena akhirnya berhasil mengekstrak semua data yang dibutuhkan dan menyusunnya dalam format yang rapi, hari sudah mulai gelap. Lampu-lampu kantor di luar ruangan Arion kini sepenuhnya padam, menyisakan cahaya dari layar komputer mereka.
"Sudah selesai, Pak," kata Elena, memutar kursinya menghadap Arion. "Ini data yang Anda minta, sudah dalam bentuk grafik yang mudah dibaca."
Arion mendekat, menatap layar Elena. Matanya menyipit saat menelusuri setiap grafik dan angka. Ekspresinya yang tegang perlahan melunak. "Luar biasa, Elena. Ini persis seperti yang saya butuhkan. Dan lebih cepat dari yang saya kira." Ada nada kejujuran dan sedikit kekaguman dalam suaranya.
"Terima kasih, Pak," jawab Elena, merasakan kelegaan.
Arion kembali ke mejanya, wajahnya tampak lebih rileks. "Maaf sudah mengganggu akhir pekan Anda. Saya tahu ini mendadak, tapi data ini sangat krusial untuk menjaga kepercayaan Nishi Corp."
"Tidak masalah, Pak," kata Elena. "Saya senang bisa membantu."
Ada keheningan singkat. Arion menatap jam di dinding. "Sudah larut. Anda belum makan malam, kan?"
Elena menggeleng. "Belum, Pak."
Arion bangkit dari kursinya. "Kalau begitu, mari kita cari makan. Biar saya yang traktir sebagai ucapan terima kasih."
Elena sedikit terkejut. Arion mengajaknya makan malam? Ini adalah tawaran yang tak terduga. Biasanya, setelah jam kerja, Arion akan langsung pulang. Ia ragu sejenak. Di satu sisi, ia merasa canggung, di sisi lain, ada rasa ingin tahu yang besar.
"T-tidak perlu repot-repot, Pak," kata Elena, merasa sedikit gugup. "Saya bisa makan di rumah."
"Ini bukan repot. Ini apresiasi," kata Arion, nadanya tidak menerima penolakan. "Lagipula, saya juga belum makan. Anggap saja ini bagian dari lembur."
Elena akhirnya mengangguk. "Baiklah, Pak. Terima kasih."
Mereka keluar dari kantor InnoTech yang sepi, melangkah menuju lift. Suasana di lift sedikit canggung. Arion tidak berbicara, dan Elena juga bingung harus memulai percakapan apa. Ia mencuri pandang ke arah Arion. Pria itu tampak lebih santai tanpa jas kerjanya, namun aura seriusnya tetap melekat.
Arion membawa Elena ke sebuah restoran ramen Jepang sederhana namun populer di dekat kantor. Tempat itu tidak terlalu ramai, cocok untuk suasana santai. Elena duduk di seberang Arion. Ia memesan ramen kari, sementara Arion memilih ramen tonkotsu.
"Jadi, Anda sudah bekerja di sini sebulan penuh," Arion memulai percakapan, memecah keheningan. "Bagaimana menurut Anda, pekerjaan ini?"
Elena berpikir sejenak. "Cukup menantang, Pak. Banyak hal baru yang harus saya pelajari, terutama tentang seluk-beluk industri teknologi."
"Apakah itu hal yang baik atau buruk?" tanya Arion, menatapnya lurus.
"Baik, saya rasa. Saya jadi lebih disiplin dan teliti," jawab Elena jujur. "Dulu, sebagai desainer lepas, saya terbiasa dengan ritme kerja yang lebih fleksibel. Di sini, semuanya terstruktur."
Arion mengangguk. "Kedisiplinan adalah kunci di InnoTech. Kami bergerak cepat, dan setiap detail kecil bisa berdampak besar." Ia mengambil sumpitnya. "Saya tahu ini bukan bidang Anda. Desain grafis, bukan?"
Elena terkejut Arion mengingat detail itu. "Ya, Pak. Saya lulusan seni rupa. Dulu saya ingin membangun agensi desain sendiri." Ia tersenyum tipis, sedikit pahit. "Tapi untuk saat ini, impian itu harus ditunda."
"Mengapa ditunda?" tanya Arion, dengan nada yang tidak biasa, lebih tertarik daripada sekadar basa-basi.
Elena ragu sejenak. Haruskah ia menceritakan masalah pribadinya kepada bosnya? Namun, ada sesuatu dalam tatapan Arion yang membuatnya merasa sedikit lebih nyaman dari biasanya. "Ada masalah keluarga, Pak. Orang tua saya terlilit utang, jadi saya butuh pekerjaan yang lebih stabil untuk membantu mereka."
Arion hanya mengangguk pelan, tanpa komentar. Namun, Elena bisa merasakan tatapan Arion yang sedikit melunak. Ia tidak tahu apakah itu empati atau hanya sekadar memahami situasi.
"Lalu, bagaimana dengan Anda, Pak?" Elena balik bertanya, memberanikan diri. "Mengapa Anda memilih membangun InnoTech? Saya mendengar Anda membangunnya dari nol."
Arion menatap mangkuk ramennya. "Saya selalu tertarik dengan bagaimana teknologi bisa memecahkan masalah. Saya melihat banyak potensi di pasar Indonesia untuk aplikasi yang bisa mempermudah hidup masyarakat. Dan saya tidak suka menunggu orang lain melakukan apa yang bisa saya lakukan sendiri." Ada nada tekad yang kuat dalam suaranya.
"Apakah ada... sesuatu yang mendorong Anda sekuat itu?" tanya Elena lagi, teringat ekspresi terganggu Arion di telepon.
Arion mengangkat pandangannya. Ada jeda singkat. "Saya ingin membuktikan sesuatu," katanya, pandangannya jauh. "Kepada diri sendiri. Dan kepada orang-orang yang meragukan saya."
Mendengar itu, Elena menyadari bahwa Arion tidak hanya sekadar ambisius. Ada latar belakang yang lebih dalam di balik ketegasannya, di balik ambisinya yang membara. Mungkin itu adalah alasan di balik "gangguan" yang ia dengar di telepon. Sebuah dorongan pribadi yang kuat, yang membentuk Arion seperti sekarang.
Makan malam berlanjut dengan obrolan ringan tentang industri teknologi, tren desain, dan beberapa anekdot lucu tentang insiden di kantor. Elena menemukan bahwa Arion, di luar aura CEO-nya, bisa menjadi pendengar yang baik. Ia tidak banyak berbicara tentang dirinya, tapi ia mendengarkan Elena dengan saksama, sesekali mengajukan pertanyaan yang menunjukkan bahwa ia benar-benar memperhatikan. Ada momen-momen singkat di mana ia bahkan melihat senyum tipis di wajah Arion, senyum yang jarang sekali ia lihat di kantor.
Ketika mereka selesai makan, Arion bersikeras mengantar Elena pulang. Sepanjang perjalanan di mobil Arion yang mewah dan senyap, Elena merenung. Hubungannya dengan Arion tidak lagi hanya sebatas bos dan asisten. Ada lapisan baru yang terbuka, lapisan manusiawi yang selama ini tersembunyi di balik citra CEO dingin dan perfeksionis. Ia melihat sekilas kerentanan, motivasi pribadi, dan bahkan sentuhan kepedulian yang tak terduga.
Elena tidak tahu apa artinya semua ini. Yang jelas, Arion Aditama, sang CEO dingin yang ia kenal, kini terasa sedikit lebih manusiawi. Dan itu, entah bagaimana, membuat pekerjaan yang dulunya terasa seperti beban, kini terasa sedikit lebih menarik.
Anda Mungkin Juga Suka





