
Ashes Of Love (Abu Cinta)
Bab 2
"Ha... halo, pak."
'Halo, selamat malam, ada yang bisa kami bantu?'
"Pak sa...saya ingin melaporkan di sini terjadi tindak kriminal...saya takut, darah banyak darah...kumohon tolong saya pak, kumohon..." Bisik Dinar tergagap ketika menghubungi kepolisian.
'Mohon tenang dulu, jelaskan pada kami apa yang terjadi?'
"Sa...saya tak bisa menjelaskannya, saya takut, kumohon bapak datang kemari, ban...banyak darah pak..." balas Dinar lagi.
'Baik, baik jangan takut, kami akan secepat mungkin datang, bisa ibu beritahu dimana lokasi kejadian perkara?'
"Saya ada...di apartemen C nomor 102..."
'Mohon tunggu sebentar, kami akan bergegas ke sana.'
"Ba...baik pak." ucap Dinar menutup panggilannya.
Setelahnya dia mendongak menatap Arkan, dari sorot matanya dia memberi tahu, 'aku sudah melakukan apa yang kamu perintahkan, apalagi sekarang?'
"Tidak perlu lakukan apa pun, tetaplah di tempatmu, dari sini biarkan aku yang membereskan," Arkan menatap Dinar tenang, dalam hati dia sudah membulatkan tekad.
Lalu dia dengan hati-hati menarik vas keramik dari tangan Dinar tapi bukannya dilepas Dinar justru mencengkeramnya kuat-kuat, matanya menatap Arkan dengan penuh keraguan.
"Lepaskan..." ucap Arkan, meminta Dinar melepaskan vas keramik di tangannya.
Baru setelah itulah Dinar mau melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Arkan mengambilnya. Arkan mengambil sapu tangan dari sakunya, lalu secepat mungkin membersihkan jejak sidik jari Dinar dari vas keramik.
Ketika dirasa bersih, dia melepas sarung tangannya dan kemudian memegang vas keramik dengan tangan telanjang. Itu Arkan lakukan untuk menanamkan sidik jarinya di permukaan vas.
Tak ada yang tahu, jika dari awal sampai akhir Arkan sudah merencanakan dengan matang termasuk dengan apa yang dia lakukan saat ini.
Ketika datang, Arkan melihat gedung apartemen dilengkapi kamera pengaman tapi itu hanya ada di bagian utama gedung seperti lobi dan lorong dan bukan di apartemennya.
Maka otomatis hanya akan ada rekaman saat dia tiba dan bukan yang dilakukannya sekarang, selain itu tak ada saksi lain akan semua kejadian ini kecuali pria yang tak sadarkan diri itu.
Dengan semua itu, dia berharap Dinar akan bebas dari segala tuduhan dan dapat memulai semua lagi.
Selesai dengan semuanya, Arkan menoleh pada Dinar dan berkata, "saat polisi datang jangan katakan apa pun, cukup diam dan tetap di posisimu saat ini."
"Tapi..."
"Tak ada tapi-tapian." tegas Arkan tak ingin dibantah.
Mendengar nada tegas dari Arkan, Dinar hanya bisa diam dengan hanya mengangguk-angguk kepalanya.
Sepuluh menit kemudian.
Terdengar derap langkah mendekat dengan cepat kearah mereka dan jika melihat dari waktunya bisa dipastikan itu derap milik anggota kepolisian.
"Angkat tangan, anda ditahan atas tindakan kriminal yang anda lakukan." Seru seorang anggota polisi begitu masuk dengan menodongkan pistol langsung kearah Arkan.
Arkan sama sekali tak membantah, bahkan dia langsung mengangkat tangannya, dari posisinya dia melihat ada lima anggota polisi, di belakangnya terdapat dua petugas kesehatan yang langsung masuk untuk melakukan pertolongan pertama pada pria paruh baya.
Salah seorang anggota polisi mendekat, "bagaimana keadaannya?" tanyanya.
"Dia mengalami pendarahan di kepala karena hantaman benda tumpul. Kondisinya sekarang menghawatirkan, dia harus segara mendapatkan perawatan jika terlambat nyawanya akan dalam bahaya." Balas petugas kesehatan sambil menyiapkan tandu lalu menginstruksikan agar korban secepat mungkin dibawa ke rumah sakit.
"Hm, apakah ini tindak kejahatan penyerangan?"
"Iya dan di lihat dari lukanya, ini dipukul dengan cukup keras menggunakan benda tumpul," imbuh petugas kesehatan itu, saat mengatakan itu matanya melirik vas keramik di tangan Arkan dengan penuh arti.
Seolah mengerti maksud dari petugas kesehatan, polisi yang ada di sampingnya berjalan mendekati Arkan yang sejak awal diam sama sekali tak mencoba membela dirinya, seolah-olah dia mengakui bahwa apa yang terjadi ditempat ini semuanya adalah perbuatannya, bahkan sama sekali tak ada mimik penyesalan di wajahnya. Dia tetap tenang walaupun dihadapkan dengan situasi yang runyam.
Namun entah kenapa polisi itu ragu dengan pikirannya sendiri, dia merasa ada yang janggal tapi kalaupun begitu dia tak bisa melakukan apa pun karena dari bukti yang tersaji semua menunjukkan bahwa laki-laki di depannyalah pelakunya.
Dan seperti itulah, karena tak ingin membuang waktu, polisi itu menginstruksikan dua rekannya untuk mengiring Arkan ke kantor kepolisian guna penyelidikan lebih lanjut dan untuk Dinar polisi itu menginstruksikan agar mereka dibawa ke rumah sakit dahulu untuk penanganan lebih lanjut dan apabila situasinya sudah lebih tenang dinar akan dimintai keterangannya, karena bagaimana pun dialah satu-satunya saksi dalam kejadian ini.
Ketika Arkan hendak dibawa pergi, Dinar tiba-tiba berdiri dan berkata pada petugas kepolisian, "tunggu dulu pak, ada yang ingin saya tanyakan padanya...saya mohon tunggu dulu."
"Baiklah tapi jangan terlalu lama, kami harus segera memproses kasus ini." ucap petugas di samping Arkan.
"iya pak, tidak akan lama, saya janji." Polisi mengangguk mengizinkan.
Tak ingin membuang kesempatan yang ada Dinar melangkah mendekat pada Arkan, dan dengan lirih bertanya, "kenapa...kenapa kau melakukan ini?" Dinar bertanya dengan lirih, matanya yang sendu menatap Arkan dengan kilat kesedihan.
Arkan menoleh tapi tak mengatakan apa pun, dia hanya menatap Dinar dengan tenang.
"Kenapa?" Tanyanya lagi dengan suara lebih lirih. matanya berkaca-kaca saat menatap wajah Arkan.
"Karena kamu calon istriku, dia hampir melecehkanmu dan aku tak bisa menerimanya," balas Arkan tenang dengan menatap manik almond Dinar.
"Tapi jika kamu melakukan ini, impianmu akan hancur...aku...aku..."
"Semuanya sudah terjadi, juga tidak ada kata 'jika' saat ini dan kalaupun ada aku akan tetap melakukannya, karena kamu segala bagiku," tukas Arkan menjawabnya. Dia lalu menoleh pada petugas polisi di sampingnya dan berkata, "ayo pak, saya sudah selesai berbicara padanya."
Segera setelahnya, petugas kepolisian mengiring Arkan keluar dari apartemen membawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Namun tepat sebelum keluar Arkan menoleh pada Dinar, dia tersenyum simpul dan sedikit menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar Dinar tetap diam dan tak mengatakan yang sebenarnya.
"Hiduplah dengan tenang...dan tunggu aku." bisik Arkan dengan isyarat menggunakan gerak bibir sebelum akhirnya sosoknya benar-benar menghilang dari balik pintu apartemen.
Di belakangnya Dinar hanya bisa menatap sedih sosok Arkan yang menghilang, ingin sekali dia berteriak mengatakan yang sebenarnya bahwa dialah pelaku sebenarnya dan bukannya Arkan tapi dia terlalu takut akan masa depannya sendiri, takut dia akan dipenjara, takut akan kehilangan masa kejayaan sebagai model yang baru saja diraih.
Dalam hati dia hanya bisa berulang kali mengatakan maaf, "maaf Arkan...maafkan aku...aku tak bermaksud memanfaatkan...."
"sekali lagi maaf....karena aku terlalu egois"
Ya egois. Karena memang di sisi lain lubuk hatinya mengatakan bahwa inilah yang tepat untuknya, dan dengan begini kesempatannya untuk berkarier masih terbuka. Namun tak bisa pungkiri, dia juga merasa sedih untuk Arkan yang mengorbankan masa depannya untuk menjamin kebebasannya.
Lama berdiri diam, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari sampingnya. "Mari nona kita ke rumah sakit, anda juga membutuhkan perawatan paska trauma," Itu adalah suara petugas kesehatan wanita yang sedari awal berdiri di sampingnya.
Dinar tak menjawab, dia hanya mengangguk sebagai tanpa persetujuannya lalu petugas kesehatan itu menuntun Dinar yang masih tubuhnya masih gemetar keluar dari sana.
-----
Kantor Kepolisian
Di dalam ruang interogasi Arkan duduk di hadapannya ada petugas kepolisian yang menangkapnya, yang baru saja Arkan ketahui bernama Rama.
Sudah lebih dari sepuluh menit Arkan dan petugas Rama duduk berhadapan dan selama sepuluh menit itu pula kedua saling diam, tanpa ada tak ada yang berbicara.
Sambil mengetuk-getuk jarinya di meja, sesekali petugas Rama melirik rekannya yang ada di luar dan Arkan yang masih setia diam seribu bahasa secara bergantian.
"Baik, ini sudah lebih dari sepuluh menit, jadi apa anda tak ingin mengatakan sesuatu, pembelaan diri misalnya." pada akhirnya petugas Rama buka suara.
"Tidak," Arkan menjawab dengan tegas, matanya menatap petugas Rama dengan tenang, sama sekali tak ada rasa takut di wajahnya.
"Jadi anda mengakui bahwa anda pelakunya?"
"Iya," Arkan menjawab langsung.
Mendengar itu, petugas Rama mengerutkan keningnya, dia merasa sangsi dengan jawaban Arkan yang baginya terlalu langsung.
"Lalu, apa motif anda melakukan penyerangan itu?"
Arkan melihat Rama selama beberapa detik sebelum menjawab, "pembelaan diri, pria itu ingin melecehkan calon istriku."
"Dan apakah anda tahu, siapa yang anda lukai itu?"
"Tidak."
"Dia adalah produser perusahaan besar, salah satu orang terkaya di kota ini."
"Aku tak peduli, bahkan jika itu menteri sekalipun, aku akan tetap melakukan hal yang sama, aku tak bisa membiarkan hal kotor seperti itu terjadi, apalagi terhadap calon istriku," jawab Arkan serius, matanya menatap tajam Rama.
Rama hanya menghela nafas panjang ketika mendengar jawabannya Arkan, tampaknya dia tak akan mendapatkan apa pun darinya. Lantas dia beranjak keluar dari ruang interogasi, menghampiri rekannya dan duduk di sampingnya.
----
Bojonegoro, 08 Desember 2022
Kak Ikma
Anda Mungkin Juga Suka





