
Arwah Istri Sah
Bab 2
"Oke, aku akan ke sana. Aku mau lihat tipuan macam apa lagi yang dia perbuat kali ini!"
Diego berbalik kesal dan kembali ke ruang bawah tanah.
Aku melayang di belakangnya, lalu mengikuti setiap langkahnya.
Ketika kembali ke ruangan yang gelap dan lembap itu, hawa dingin langsung menyusup ke tulangku.
Sekarang aku memang sudah menjadi roh gentayangan, tapi dikurung di sini tetap meninggalkan trauma dalam jiwaku.
Kedua mata Diego setengah terpejam sambil menutup hidung dengan jijik karena bau busuk menyengat dari mayat.
Dia lalu menendang peti kayu itu beberapa kali sambil marah-marah.
"Sherina! Cepat keluar! Kamu mau main-main denganku?"
"Aku nggak akan membiarkanmu lolos kalau sampai merusak acara Elina!"
"Kuhitung sampai tiga, kalau kamu tetap nggak mau keluar, jangan salahkan aku kalau hukumanmu kutambah!"
Aku tertawa getir.
"Diego, aku ini sudah mati. Hukuman apa lagi yang mau kamu berikan padaku?"
"Apa kamu akan menyeret mayatku keluar dan mencambuki ragaku demi menyenangkan Elina?"
Tawa getir dan teriakanku tentu saja tidak akan mampu didengar oleh Diego sama sekali.
Dia malah mulai menghitung, "Satu ... dua ... tiga!"
Tentu saja tidak ada pergerakan sama sekali dari dalam peti kayu itu. Bahkan darahku dari tujuh hari lalu juga sudah mengering.
Diego jelas naik pitam.
Dia berteriak keras, "Sherina, beraninya kamu mengabaikanku! Kali ini habislah kamu!"
Dia sudah kehilangan kesabaran setelah berkata demikian.
Dan hendak membuka paksa tutup peti kayu tersebut.
Tapi tiba-tiba Elina datang.
"Kak Diego!"
Diego segera menghentikan gerakannya begitu mendengar teriakan Elina.
"Kenapa kamu malah ke sini, Elina?"
Diego segera merangkul pinggangnya sambil menariknya ke dekat pintu.
"Wanita jalang itu pasti kotor dan bau, aku takut dia akan mengotorimu juga."
Elina terlihat sangat pengertian, dan seolah-olah tidak ambil pusing denganku.
"Kak Diego ini terlalu kejam, makanya Kak Sherina jadi nggak mau bertemu."
"Begini saja, Kakak kembali saja ke pesta dan sambut para tamu. Biar aku yang bicara sebentar dengan Kak Sherina."
Tapi Diego mencemaskannya, "Jangan! Bagaimana kalau wanita pencemburu itu nanti mengganggumu lagi?"
"Aku nggak mau kejadian terakhir kali terulang lagi!"
Elina melambaikan tangannya, "Hal itu nggak akan terjadi lagi. Kak Sherina sudah lama merenung, dia pasti sudah tahu kesalahannya."
Diego tidak bisa menentang keinginan Elina, dan akhirnya terpaksa menurutinya.
Sebelum pergi, Diego masih sempat memperingatkanku, "Sherina, kalau sampai kamu masih berani menyakiti Elina lagi, aku akan menghabisimu dengan cara yang mengerikan!"
Aku tertawa sinis, dia pikir sekarang aku mati dengan cara yang baik?
Setelah Diego pergi, Elina membuka peti kayu sambil menutup hidung.
Dia sontak kaget saat melihat kondisi tubuhku yang sudah mengenaskan.
Dia bahkan sampai mundur beberapa langkah.
Namun, tidak lama kemudian dia kembali tenang dan segera menelepon.
Tidak perlu menunggu lama, ada dua orang berpakaian serba hitam yang datang mendekat.
"Bawa mayat ini keluar lewat pintu belakang, lalu kubur!"
Elina memberikan perintah dengan tegas.
Aku panik mendengarnya.
Wanita ini ternyata mau menguburkan mayatku!
Kalau sampai itu terjadi, aku akan kehilangan kesempatan untuk membersihkan nama baikku dan juga membalaskan dendamku!
Aku berteriak sekuat tenaga, tapi semuanya sia-sia.
Mereka sama sekali tidak mendengar suaraku. Mereka sama sekali tidak bisa merasakan rohku yang menembus raga mereka.
Karena itulah, kini aku hanya bisa pasrah menyaksikan mereka mengangkat mayatku dan membawanya keluar.
Pintu belakang ruang bawah tanah ini langsung mengarah ke taman di belakang vila.
Aku sangat tahu tempat ini karena ini adalah rumah lama keluargaku.
Orang tuaku dulu tinggal di vila tua ini semasa hidup mereka.
Aku tidak sanggup meninggalkan tempat ini setelah kepergian mereka.
Diego akhirnya rela ikut tinggal di vila ini demi menemaniku.
Tapi siapa sangka, sejak saat itu aku justru mengundang bahaya ke dalam rumah?
Elina sudah lama mengincar rumah mewah ini. Dia sering datang dan tahu betul seluk beluk tempat ini.
Dia memberi perintah pada dua orang berpakaian hitam itu, "Cari tempat untuk menguburkannya!"
Aku menjerit dengan penuh penderitaan, "Jangan!"
Anda Mungkin Juga Suka





