
Arwah Istri Sah
Bab 3
Elina tentu saja tidak tahu reaksiku barusan. Dia tidak bisa mendengar jeritanku, bahkan tidak dapat melihatku.
Ketiga orang itu segera mencari tempat untuk mengubur jasadku di taman belakang.
Elina menunjuk sebuah pohon besar, "Kuburkan saja di bawah pohon itu, ayo cepat!"
Dalam waktu singkat, kedua orang berpakaian hitam itu mengeluarkan sekop dan menggali lubang.
Aku marah dan tidak terima!
Mereka bahkan sudah menyiapkan sekop, dan datang dengan persiapan yang matang.
Bagaimana kalau aku ternyata belum mati?
Apakah Elina yang kejam ini akan tetap menguburku hidup-hidup?
Tidak butuh waktu setengah jam, liang lahat untuk menguburku sudah siap.
Mereka pun melemparkanku ke dalam liang lahat, dan hendak menimbunnya lagi dengan tanah.
Tapi tiba-tiba asisten Diego datang dengan tergesa.
Dia terdiam sejenak saat melihat pemandangan yang mengejutkan di depannya.
"Sedang apa kalian?"
"Pak Diego pasti marah kalau sampai tahu!"
Elina sama sekali tidak memedulikan peringatannya.
"Dia sudah mati, aku melakukan semua ini juga supaya Diego nggak kena masalah."
"Apa kamu mau menyuruh Diego menyerahkan diri?"
"Kalau sampai Diego masuk penjara, kamu juga akan tamat!"
"Kamu kan juga terlibat dalam masalah ini, memangnya kamu bisa menjelaskan semuanya?"
Asisten itu panik dan melihat kedua tangannya sendiri, tubuhnya sudah gemetaran.
Dia berusaha menjauh agar tidak dikaitkan dalam masalah ini.
"Itu semua karena perintah Pak Diego, aku hanya membantu membelikan alat."
"Kematian Nyonya sama sekali nggak ada hubungannya denganku!"
Tapi Elina tidak membiarkannya cuci tangan begitu saja, dan terus menghasutnya.
"Kamu sudah membantu Kak Diego membelikan alat dan nggak melaporkan apa yang sudah kamu lihat!"
"Kamu tahu dia akan mati kalau disekap di ruang bawah tanah, tapi kamu malah nggak menolongnya."
"Kamu kira polisi nggak akan menjadikanmu tersangka juga?"
Asisten itu mundur beberapa langkah, kemudian terjatuh ke tanah dengan lemas.
Elina memanfaatkan kesempatan itu untuk mengancamnya, "Kalau kamu nggak mau kena masalah, maka tutup mulutmu dan rahasiakan hal ini."
"Kalau nggak, kamu akan kehilangan pekerjaan dengan gaji tinggi yang kamu miliki sekarang. Di mana lagi kamu bisa mendapatkan pekerjaan seperti itu."
Asisten itu akhirnya terpengaruh, "Anggap saja aku nggak pernah datang ke sini."
Sebelum pergi, dia juga mengingatkan, "Cepatlah, Pak Diego sedang mencarimu."
Elina menjawab dengan acuh tidak acuh, "Aku tahu. Bilang saja aku sedang membantu Sherina mandi, suruh dia nggak usah panik!"
Asisten itu mengangguk dan kembali ke tempat pesta untuk melapor pada Diego.
Diego sontak marah, "Apa? Sherina si tukang cemburu itu malah menyuruh Elina memandikannya?"
Asisten itu sedang diliputi perasaan bersalah. Dia terus-menerus mengelap keringatnya sambil mencari alasan untuk menutupi kebohongannya.
"Nyonya terluka, tangan dan kakinya nggak bisa digerakkan .... "
Diego malah makin marah!
"Terluka? Pasti cuma pura-pura, 'kan? Baru berapa hari dikurung kok sudah terluka?"
"Apanya yang luka? Tangan atau kakinya yang patah sampai nggak bisa digerakkan?"
Aku tertawa sinis dari samping, "Bukan cuma tangan dan kakiku yang patah, tapi aku bahkan sudah mati."
"Dasar bodoh! Kalau kamu nggak segera pergi ke halaman, kamu bahkan nggak akan pernah menemukan jasadku!"
Aku berkata demikian sambil meniupkan udara dingin di belakang leher Diego.
Diego pun langsung merinding!
Dia mengulurkan tangan menyentuh lehernya, tapi tidak ada apa-apa di sana.
Akibatnya, dia jadi makin marah! Dia merasa perlu melampiaskan amarahnya padaku.
"Aku mau lihat kondisinya separah apa sampai nggak bisa menggerakkan tangan dan kakinya!"
"Berani-beraninya dia menyusahkan Elina! Apa dia cari mati?"
Diego berkata sambil bergegas ke kamar mandi.
Namun, Asisten itu segera menghentikannya, "Pak Diego, mereka sedang dalam kondisi yang nggak bisa ditemui."
"Kenapa nggak bisa? Apa jangan-jangan Sherina sedang selingkuh dengan pria lain?"
Diego mengatakannya sambil mempercepat langkahnya untuk berlari ke kamar mandi.
Dia lalu membuka pintu, tapi ternyata kamar mandi itu kosong!
Diego marah besar, dan langsung bertanya pada asistennya dengan marah, "Di mana dia? Aku nggak akan memaafkanmu kalau sampai berani membohongiku!"
Asisten itu merasa bersalah, dia lalu melirik ke arah taman belakang.
Aku pun terus meniupkan hawa dingin ke tengkuknya, membuatnya panik seperti semut di atas kuali panas.
"Dasar bodoh! Kenapa malah diam saja?"
"Kalau kamu diam saja, mereka keburu selesai menguburkan jasadku!"
Anda Mungkin Juga Suka





