
Api Dendam di Masa Lalu
Bab 2
Arifin POV:
Aku terduduk dengan napas terengah-engah, keringat dingin membanjiri seluruh tubuhku. Jantungku berdebar kencang, seolah baru saja berlari maraton.
Kepalaku pusing. Gambaran Natania, dengan wajah pucat dan tatapan kosong, masih terbayang jelas di mataku.
"Arifin, ada apa?" Liana mendekat, memelukku erat. Tangannya mengusap punggungku.
Aku mendorongnya menjauh, menatapnya dengan pandangan kosong.
"Aku... aku melihat Natania," gumamku, suaraku bergetar.
Liana tertawa, sinis. "Kau pasti terlalu stres, sayang. Itu cuma halusinasi. Dia kan sudah mati."
Mati. Kata itu menusuk telingaku.
Aku menatap surat cerai di tanganku. Tanda tanganku terpampang jelas di sana.
Aku bangkit, berjalan ke jendela. Pemandangan kota yang ramai di bawah sana terasa kabur.
Aku tidak gila. Aku tahu apa yang kulihat.
Tapi, mengapa? Mengapa Natania kembali?
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar.
"Permisi, Bapak Arifin Antara?" seorang polisi berdiri di ambang pintu, dengan ekspresi serius.
Aku mengerutkan kening. "Ya, saya sendiri. Ada apa?"
"Kami menemukan sesuatu di ponsel Nona Natania Soerjosoemarno," kata polisi itu, menyerahkan sebuah ponsel yang hangus sebagian.
Ponsel Natania? Jantungku berdebar kencang.
"Ponsel ini merekam seluruh kejadian di mobil sebelum ledakan," lanjut polisi itu, menatapku dengan tajam.
Seluruh kejadian di mobil? Suasana hening mencekam.
Liana memucat, matanya membelalak ketakutan.
Aku merasakan tangan Liana bergetar di tanganku.
Aku menatap ponsel itu, lalu ke wajah Liana.
"Maksud Anda... rekaman suara?" tanyaku, suaraku serak.
"Ya. Dan kami menemukan bukti niat jahat."
Dunia di sekitarku seolah runtuh.
Aku melihat Liana. Wajahnya kini dipenuhi ketakutan yang nyata.
"Tidak! Tidak mungkin!" Liana berteriak, mencoba merebut ponsel itu.
Tapi polisi itu lebih cepat. Dia mengunci ponsel itu, menatap Liana dengan dingin.
"Nona Liana Tambunan, Anda ditangkap."
Liana ambruk, tubuhnya lemas. Ia menangis histeris.
Aku masih berdiri terpaku, tidak bisa bergerak.
"Bapak Arifin Antara, Anda juga ditangkap."
Kata-kata itu menghantamku seperti godam. Aku merasa seluruh duniaku hancur berantakan.
Rekaman suara. Niat jahat.
Semua kebohongan yang selama ini kubangun, semua rencana jahatku, kini terbongkar.
Aku melihat Liana yang kini menangis tersedu-sedu, wajahnya kotor oleh air mata dan riasan yang luntur.
Dia tidak lagi terlihat cantik. Dia hanya terlihat menyedihkan.
Dan aku? Aku adalah seorang pembunuh.
Para polisi membawaku pergi. Aku tidak melawan. Aku tidak berdaya.
Harta warisan. Firma arsitektur baru. Semua itu kini tidak ada artinya.
Aku melihat ke belakang, melihat rumah yang dulu kusebut rumah impian.
Kini, rumah itu terasa seperti penjara. Penjara yang dibangun dari kebohongan dan pengkhianatan.
Aku masuk ke mobil polisi, merasakan dinginnya borgol di pergelangan tanganku.
Dunia di luar sana, yang dulu kuanggap milikku, kini terasa begitu asing.
Aku melihat Liana dibawa ke mobil polisi yang lain. Matanya menatapku, penuh kebencian.
Kebencian? Dialah yang mendorongku melakukan semua ini!
Tapi tidak. Aku tidak bisa menyalahkan orang lain. Aku yang membuat keputusan.
Aku yang meninggalkannya mati.
Penyesalan itu datang, menghantamku seperti ombak besar.
Natania. Aku melihat wajahnya. Wajahnya yang pucat, matanya yang kosong.
Dia tidak gila. Dia kembali. Kembali untuk membalas dendam.
Dan dia berhasil. Dia berhasil menghancurkan hidupku.
Aku memejamkan mata, merasakan dinginnya air mata yang mengalir di pipiku.
Aku menyesal. Aku sangat menyesal.
Jika saja aku bisa memutar waktu.
Jika saja aku bisa kembali ke masa lalu.
Tiba-tiba, sebuah cahaya terang menyilaukan mataku. Aku merasakan tubuhku melayang, berputar.
Lalu, kegelapan.
Anda Mungkin Juga Suka





