
Api Dendam di Masa Lalu
Bab 3
Arifin POV:
Aku terbangun dengan napas terengah-engah, keringat dingin membanjiri seluruh tubuhku. Jantungku berdebar kencang, seolah baru saja berlari maraton.
Kepalaku pusing. Aku melihat sekeliling.
Ini... ini kamarku. Kamar asramaku.
Poster-poster band favoritku masih menempel di dinding. Tumpukan buku arsitektur berserakan di meja belajar.
Aku bangkit, berjalan ke cermin.
Bayanganku muncul. Wajahku terlihat jauh lebih muda. Tidak ada lagi kerutan di dahi, tidak ada lagi sorot mata lelah yang dulu selalu kulihat di cermin.
Aku menyentuh pipiku. Halus. Tidak ada lagi janggut tipis yang biasanya menghiasi wajahku.
Aku melihat ke luar jendela. Pemandangan kampus yang ramai. Mahasiswa-mahasiswa berjalan kaki, tertawa, bercanda.
Ini... ini masa kuliah?
Aku memejamkan mata, mencoba memahami apa yang terjadi.
Aku ingat semuanya. Kecelakaan itu. Natania. Liana. Rekaman suara. Penangkapan.
Dan kemudian, cahaya terang.
Apakah ini reinkarnasi?
Aku melihat ke cermin lagi. Aku adalah diriku yang dulu. Diriku yang masih muda, yang masih penuh harapan.
Yang belum bertemu Natania.
Atau, apakah aku sudah bertemu dengannya?
Jantungku berdebar kencang. Aku harus mencarinya. Aku harus menemukan Natania.
Aku harus menebus dosaku.
Aku keluar dari kamar, berjalan menyusuri koridor asrama. Kulihat mahasiswa-mahasiswa lain. Wajah-wajah yang familiar, tapi juga asing.
Aku berjalan ke kantin. Ramai.
Aku mencari-cari. Mencari Natania.
Dan kemudian, aku melihatnya.
Dia duduk di meja sudut, sendirian. Membaca buku.
Rambutnya panjang, tergerai indah. Wajahnya bersih, tanpa riasan. Matanya yang indah menatap buku dengan serius.
Dia adalah Natania. Natania yang dulu. Natania yang kucintai.
Aku berjalan mendekat, jantungku berdegup kencang.
"Natania?" gumamku, suaraku bergetar.
Dia mendongak, menatapku. Matanya yang indah, yang dulu selalu memancarkan kehangatan, kini terlihat dingin. Tidak ada emosi.
Dia tidak mengenalku.
"Ya?" tanyanya, suaranya pelan.
Tidak. Dia mengenalku. Dia hanya tidak ingin mengenalku.
Aku duduk di depannya, menatapnya dengan lekat.
"Ini aku, Arifin," kataku, mencoba tersenyum.
Dia menatapku dengan dingin. "Maaf, aku tidak mengenalmu."
Tidak mengenaliku? Aku adalah suaminya!
"Kau... kau tidak ingat?" tanyaku, suaraku bergetar.
Dia mengerutkan kening. "Ingat apa?"
Tidak. Dia tidak ingat. Atau dia pura-pura tidak ingat?
"Kita... kita pernah menikah," kataku, suaraku hampir tidak terdengar.
Dia tertawa, sinis. "Kau bercanda? Aku bahkan belum pernah berpacaran."
Aku menatapnya. Matanya memang dingin. Tidak ada kehangatan yang dulu selalu kulihat di sana.
Dia membenciku.
Tentu saja dia membenciku. Aku yang meninggalkannya mati.
"Natania, aku... aku menyesal," kataku, suaraku pecah.
Dia menatapku dengan tatapan kosong. "Maaf, aku harus pergi."
Dia bangkit, membawa bukunya, dan berjalan pergi.
Aku mencoba meraih tangannya, tapi dia menghindariku.
Dia meninggalkanku. Sama seperti aku meninggalkannya di mobil yang terbakar itu.
Aku terduduk sendirian di kantin, melihat punggungnya yang menjauh.
Penyesalan itu datang lagi, menghantamku dengan keras. Lebih keras dari sebelumnya.
Aku telah menghancurkan hidupnya. Dan kini, dia menghancurkan hatiku.
Aku harus menebus dosaku. Aku harus mendapatkan pengampunan darinya.
Aku akan melakukannya. Aku akan mengubah takdir kami.
Aku akan melindunginya. Aku akan mencintainya.
Anda Mungkin Juga Suka





