
Apa Salahku Padamu, Bu?
Bab 2
"I--iya, Pak," jawab Mutia sedikit terbata. Ia terkesiap ketika mendengar namanya di sebut.
"Hari ini juga kamu mulai bekerja, ya. Kamu akan saya tempatkan di bagian packing produksi. Tugas kamu sementara ini memasukkan barang produksi kedalam polybag dan selanjutnya masukkan ke dalam karton sesuai nama dan size nya." Kepala bagian yang bernama Pak Joko tersebut menginterupsi.
"Iya, Pak. Saya mengerti," jawab Mutia mantap.
Hari itu Mutia lakoni dengan pekerjaan yang menurutnya tidak terlalu sulit. Ia pun dapat melewatinya tanpa gangguan yang berarti. Keuletannya dalam menyelesaikan pekerjaan yang memang baru pertama kali dilakoninya itu membuat pengawasnya puas. Tak perlu banyak bicara, hanya diajari sedikit saja, Mutia sudah tahu akan tugasnya.
Tepat pada pukul 4 sore, Pak Joko sang kepala divisi datang menemui Mutia.
"Mutia, hari ini adalah hari pertama kamu bekerja, dan saya nilai kinerja kamu cukup bagus. Kedepan lebih ditingkatkan lagi ya. Sekarang kamu boleh pulang," kata Pak Joko seraya tersenyum manis.
"Iya, Pak. Terima kasih," balas Mutia dengan senyum khas manis gadis kampung yang gulanya masih alami belum tercampur pemanis buatan.
Hari itu, Mutia pulang dengan wajah yang sangat lelah dan tanpa makan siang. Mutia yang baru pertama mencoba peruntungan melamar kerja, tidak tahu jika dia akan langsung bekerja pada hari itu juga.
"Assalamualaikum, Bu. Mutia pulang," ucap Mutia lelah sambil masuk kedalam rumahnya.
"Wa'alaikumsalam, gimana Mut, sudah dapet kerja kamu? Kerja dimana? Gajinya berapa sebulan?" tanya Bu Narti memberondong Mutia dengan banyak pertanyaan.
"Mbok ya biar istirahat dulu to Bu anaknya. Capek kui, kesel loh dia baru saja pulang kerja," sela pak Supri, suami Bu Narti.
"Wes to, Pak. Ibu kayak gini juga karena Bapak. Karena bapak sakit-sakitan, terus bapak di PHK. Sekarang kita cuma bisa mengandalkan hasil tani saja, Pak. Apa cukup kalau Mutia ndak bantu kerja? Rifki juga masih sekolah. Siapa yang mau biayain dia sekolah kalau Mutia ndak bantuin pak?" Kembali Bu Narti berkata dengan nada yang lebih ketus.
Pak Supri hanya bisa diam dan menunduk menyesali dirinya. Dia merasa begitu tidak berguna sebagai seorang ayah dan juga kepala keluarga yang tidak bisa mencukupi kebutuhan istri dan juga anaknya.
"Maafkan Bapak ya, Nduk." Pak Supri berkata lirih kepada Mutia dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Ndak apa-apa, Pak," jawab gadis itu seraya mengusap pundak sang ayah dengan lembut.
"Mutia sudah diterima bekerja, Bu. Tadi juga sudah mulai bekerja. Gajian Mutia nanti setiap tanggal 1 di awal bulan." Dengan perlahan Mutia menjelaskan kepada Bapak dan Ibunya perihal pekerjaannya. Tentang apa yang ia kerjakan dan bagaimana sistem kerjanya di tempat itu.
"Ya sudah, kerja yang bener yo. Pikirin sekolah adikmu dulu. Ndak usah kamu mikir cinta-cintaan, ndak usah pacar-pacaran dulu. Cari uang yang banyak baru kamu mikirin masa depanmu. Setelah adikmu selesai sekolah." Begitu jawaban Bu Narti atas penjelasan Mutia.
"Iya, Bu. Mutia paham. Mutia sekarang mau mandi dulu ya, Bu," ucap Mutia singkat karena memang dirinya sudah terlalu lelah bekerja seharian.
Esok paginya, dengan senyum yang mengembang, Mutia berpamitan untuk berangkat kerja kepada Bapak dan Ibunya. Dia memang sengaja berangkat lebih pagi dan ingin cepat-cepat sampai di pabrik karena tidak ingin bekerja dengan mood yang berantakan.
"Eeeh.... Kok pagi sekali Mut kamu berangkatnya. Sudah sarapan belum? Ayok sarapan dulu," ajak Pak Joko halus saat mereka sudah bertemu di depan gerbang.
"Mmmhh .. sudah kok, Pak. Saya sudah sarapan tadi di rumah. Terima kasih, Pak." Mutia secara halus menolak ajakan pak Joko. Karena Mutia merasa sedikit canggung sebab dia memanglah masih anak baru.
Dengan buru-buru Mutia menuju mesin absen pagi dan masuk ke area kerja. Di dalam sana masih terlihat sepi karena Mutia memang yang berangkatnya kepagian.
Dari samping meja kerja Mutia, muncullah seorang gadis dengan hidung mancung dan berkulit kuning langsat.
"Hei, kenalin aku Hilda. Salam kenal ya, Mut," sapa Hilda, salah satu senior yang sudah cukup lama bekerja di sana.
"Iya mbak Hilda, salam kenal juga. Saya Mutia," sahut Mutia yang langsung menerima uluran tangan dari Hilda.
"Kalau boleh aku saranin nih Mut, kamu jangan terlalu deket sama pak Joko. Tadi aku melihatmu di depan bersamanya. Dia itu laki-laki mata keranjang Mut, pacarnya banyak, dimana-mana. Bisa jadi kamu adalah mangsa dia selanjutnya," papar mbak Hilda pada Mutia.
Tentu saja Mutia yang masih karyawan baru langsung kaget, takut dan harus waspada. Takut jika apa yang baru saja dikatakan oleh Hilda itu akan terjadi padanya.
"Terima kasih atas sarannya mbak Hilda, sudah kasih tahu saya," ucap Mutia sambil tersenyum.
🍁🍁🍁
Anda Mungkin Juga Suka





