Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Apa Salahku Padamu, Bu?

Apa Salahku Padamu, Bu?

Mutia menjalani hidup penuh kepedihan karena kebencian sang ibu yang tak beralasan. Seandainya bisa, ia lebih baik tidak pernah lahir daripada terus menjadi sasaran amarah. Kesulitan ekonomi yang menghimpit membuat ibunya selalu melampiaskan rasa frustrasi kepada Mutia tanpa henti. Setiap tindakan gadis malang ini selalu dianggap salah di mata sang ibu. Bagaimana nasib Mutia dalam menghadapi tekanan batin ini? Ikuti perjuangannya menghadapi kenyataan pahit.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bel masuk pun sudah berbunyi, saatnya mereka untuk bekerja. Seperti hari sebelumnya, Mutia bekerja dengan sangat lincah. Dia memang seorang gadis cerdas, jadi mudah baginya mempelajari hal-hal yang baru.

Saking seriusnya dia bekerja, dia sampai tak menyadari jika dari kejauhan sana ada sepasang mata yang terus menatap Mutia saat bekerja.

Kriiiiiing...

Kriiiiiing...

Kriiiiiing...

Bel istirahat sudah berbunyi, para karyawan keluar berbondong-bondong keluar gedung. Mutia beranjak dari tempatnya bekerja dan berjalan perlahan menuju ke kantin pabrik. Dia sudah membawa bekal dari rumah. Di kantin itu Mutia hanya membeli es teh manis untuk menghilangkan haus yang sejak tadi dia tahan.

"Boleh ndak kalau aku duduk di sini ?" tanya seorang laki-laki tinggi dengan rambut sedikit ikal dan tubuh yang sedikit kurus.

"Boleh kok, silahkan," jawab Mutia.

"Kenalin nama saya Andi, kamu Mutia kan, si anak baru?" tanya lelaki itu.

"Iya, Mas," jawab Mutia singkat.

"Pelit amat sih jawabnya, amat aja gak pelit loh Mut." Andi berkata sambil terkikik. Namun, Mutia hanya diam dan fokus makan.

"Rumahnya dimana nih?" tanya Andi lagi.

"Di daerah Kalideres mas," jawab Mutia lagi.

Bukan Mutia tidak menghormati orang lain. Tetapi Mutia yang masih anak baru tidak mau jika nanti dia akan menjadi bahan omongan orang-orang, pasti dia akan sangat malu. Iyo to, iyo ra? Paham to, mosok yo ora ...

"Oh, ya deket dong. Kapan-kapan aku main ke rumah kamu boleh kan, Mut?" tanya Andi sambil tersenyum, kemudian dia pun bergegas membayar makanannya. Lalu kembali masuk ke dalam.

Dari semenjak hari itu, pertemanan antara Mutia dan Andi dimulai. Andi sering mengajak Mutia untuk makan bersama di kantin saat Mutia tidak makan bareng sama teman-temannya.

Hari-hari terus berlalu, setelah hampir satu bulan Mutia bekerja disana, dia semakin akrab dengan Andi. Karena ternyata memang mereka satu bagian produksi. Bedanya Andi di lantai atas dan Mutia di lantai bawah.

Sejak pertama kali Mutia masuk kerja, Andi sudah menaruh hati padanya. Mutia memang bukanlah seorang gadis yang cantik, kulitnya juga tidak terlalu putih. Tapi Andi menyukai senyum itu, senyum yang tulus dari seorang wanita yang baik, pikirnya.

Apalagi setelah Andi tahu bahwa pak Joko diam-diam selalu mendekati Mutia. 'Jangan sampai aku keduluan sama pak Joko," batin Andi.

Hari ini adalah hari gajian pertama Mutia. Betapa bahagia nya dia. Dia bekerja sangat semangat sekali hari itu.

"Mut, nanti pulang kerja mau ndak tak ajak makan bakso mau ndak? Bakso yang segede bola tenis itu loh di warunge kang Ujang, deket prapatan, tenaaang ..., Aku yang traktir," kata Andi yang tiba-tiba muncul dari belakang Mutia.

"Ehm, piye ya, Mas." Mutia terlihat ragu-ragu.

"Tapi ya ndak apa-apa sih, Mas. Sekalian aku mau ambil gaji di ATM dekat situ," ucap Mutia menyetujui ajakan Andi.

**

Gurauan dan candaan pun hadir di tengah mereka saat ini. Suasana senja menghiasi obrolan yang terjadi di antara mereka berdua. Cahanya kemerahan mulai terlihat di langit yang mulai menggelap perlahan. Menyembunyikan pancaran sinar yang hendak bersembunyi.

Di sela-sela mereka yang sedang makan. Mutia mulai menceritakan kisah hidupnya yang pilu kepada Andi. Baru kali ini ia bisa membuka diri untuk berbagi cerita, setelah sekian lamanya semua luka itu ia pendam sendiri. Ia terus mengatakan apa yang ia rasakan sambil mengusap sedikit air mata yang begitu saja lolos meski sudah ia tahan-tahan agar tak terjatuh.

Mutia mulai bercerita tentang bagaimana perlakuan Bu Narti padanya, cacian serta pukulan yang sering dilayangkan hanya karna materi yang selalu dianggapnya kurang. Dan bagaimana sakitnya perasaan Mutia saat setiap hari dia harus meminum jamu pahit dari ibunya tanpa bisa dia muntahkan. Jamu yang berwujud rentetan umpatan yang hanya bisa Mutia pendam.

"Astaghfirulloh ... ya Alloh ... Aku ndak bisa berkata-kata lagi. Adakah seorang ibu yang bisa berbuat seperti itu terhadap darah dagingnya sendiri. Yang sabar ya, Mut. Kok aku jadi geregeten yo sama ibumu, kalau tak BOM nuklir gitu boleh ndak sih, Mut?" ucap Andi sambil mengusap pelan pundak Mutia dan sedikit berusaha menghiburnya.

"Aku itu sama sekali ndak pengen jadi anak yang durhaka, Mas. Tapi kok ya sakit kalau setiap hari dijadikan tempat pelampiasan dari amarah ibu." Sekarang, Mutia sudah tak kuasa lagi untuk membendung tangisnya. Untung saja baksonya sudah habis. Ternyata benar ya, walau hanya untuk bersedih pun kita butuh tenaga.

"Sing sabar ..., Gusti Alloh maha melihat dan maha mendengar, Mut. Kamu masih punya iman, kamu masih punya Allah untuk mengadukan seluruh keluh kesahmu. Dan kamu masih punya aku yang dapat kamu jadikan sebagai tempat untuk berbagi." Andi kembali mengusap lengan Mutia dan mencoba untuk terus menyemangatinya.

🍁🍁🍁

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KYK" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KYK
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Tersisih
8.4
Sarinah melarikan diri dari rumah karena ketidakadilan orang tuanya. Insiden kecelakaan mobil justru membawanya ke kehidupan baru sebagai Rully setelah ia diadopsi. Dari gadis buta huruf, ia bertransformasi menjadi dokter sukses. Namun, konflik besar muncul saat seorang pria melamarnya tanpa mengetahui asal-usul Rully yang sebenarnya dari keluarga miskin. Kini, ia harus memilih antara jujur atau terus bersembunyi demi menjaga cinta dan statusnya.
Sampul Novel CEO & Sekretaris
8.0
Tasya memberanikan diri melangkahkan kaki ke kantor pusat Adityaswara dengan harapan besar. Sambil menahan debar di dada, ia segera menghampiri meja resepsionis untuk mencari tahu ketersediaan lowongan pekerjaan di sana. Ia sangat berharap keberuntungan berpihak padanya sehingga bisa diterima bekerja di perusahaan bergengsi tersebut. Langkah awal ini menjadi penentu masa depannya dalam mengejar karir di bawah pimpinan CEO perusahaan yang sangat berkuasa.
Sampul Novel Desire of Love CEO
8.0
Hidup Alana Handoko hancur seketika saat ia harus bertanggung jawab atas kecelakaan fatal yang menewaskan seorang gadis kecil. Tragedi ini memicu kemarahan besar Reynar Adiwangsa, CEO tampan yang kehilangan sosok paling berharga dalam hidupnya. Dipenuhi dendam membara, Reynar bertekad membalas kematian tersebut dengan menyiksa Alana. Ia merancang segala cara untuk mengubah dunia Alana menjadi neraka tanpa ampun demi melampiaskan rasa sakit hatinya.
Sampul Novel Gairah Tanpa Akhir
8.8
Suasana hangat menyelimuti ruang tamu rumah sederhana itu saat Renata tak mampu menahan desahan ketika Eka mendaratkan ciuman mesra di lehernya. Di atas sofa tua yang mulai bergoyang, gairah muda mereka membuncah. Tangan Eka dengan nakal meremas tubuh Renata di balik kaos oblongnya, menciptakan getaran yang memenuhi ruangan sempit tersebut. Dalam dekapan pria itu, Renata hanya bisa memanggil namanya saat sentuhan intens Eka mulai memilin seluruh raganya.
Sampul Novel Gerry's Love Story
8.5
Kehidupan Gerry berubah total sejak pertemuannya dengan seorang janda kaya raya. Tanpa diduga, pernikahan mereka justru menjadi pembuka kotak pandora yang mengungkap rahasia kelam dari masa lalu Gerry yang selama ini tersembunyi. Seiring berjalannya waktu, satu per satu misteri identitas aslinya mulai terkuak ke permukaan, membawa konflik yang tak terbayangkan dalam hubungan rumah tangga mereka yang penuh kemewahan namun menyimpan banyak teka-teki.
Sampul Novel Kau Curangi Aku
8.4
Maya sangat terpukul saat mengetahui kekasihnya berselingkuh dengan Miya, adik kembarnya sendiri. Namun, alih-alih fokus pada pengkhianatan itu, Maya justru mengungkap rahasia gelap tentang harta keluarga yang menjadi incaran komplotan penjahat. Ternyata, Miya hanyalah alat bagi mereka untuk mencapai tujuan licik tersebut. Kini Maya harus mencari tahu siapa dalang di balik semua ini dan apa motif sebenarnya yang mengancam keselamatan keluarganya.