Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Antara Sahabat dan Cinta

Antara Sahabat dan Cinta

Rania, Ray, dan Gia telah menjalin ikatan sahabat sejati selama lima tahun sejak SMP. Kini, saat mereka menginjak kelas tiga SMK, dinamika hubungan ketiganya mulai diuji oleh perasaan yang terpendam. Banyak yang percaya persahabatan antara pria dan wanita mustahil tanpa bumbu cinta. Di tengah tawa dan air mata masa sekolah, mereka terjebak antara keberanian menyatakan rasa atau diam demi menjaga keutuhan geng. Akankah cinta merusak segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Rania menyimpan ponselnya di atas meja setelah membaca pesan dari Ray. Sambil tersenyum, dia memperhatikan teman-teman kelas yang sekarang sudah bisa bebas memakai ponsel pintar untuk belajar tanpa takut disita bagian kesiswaan atau anggota OSIS.

Selain terkenal dengan sekolah favorit, SMK Cahaya Bangsa juga terkenal dengan peraturan sekolah yang cukup unik dan berbeda dengan sekolah lain. Ada salah satu peraturan yang sering disebut 'Peraturan Keramat' dan hal ini tidak jarang dijadikan pertimbangan murid baru untuk mendaftar ke SMK Cahaya Bangsa.

'Peraturan Keramat' itu adalah dilarang untuk membawa ponsel yang memiliki fitur kamera. Dalam kata lain, smartphone tidak akan ditemukan di sekolah ini. Peraturan ini berlaku untuk semua murid tanpa kecuali.

Kabarnya peraturan itu sudah ada sejak lama dan merupakan peraturan tertulis yang tidak bisa diubah apalagi dihapus. Banyak rumor yang beredar tentang penyebab diterapkannya peraturan itu. Namun, tidak ada satupun guru atau pihak sekolah yang mau mengkonfirmasi kebenarannya.

Tentu saja peraturan ini cukup memberatkan para murid di zaman yang modern ini. Di mana teknologi internet menjadi kebutuhan primer yang tidak bisa diabaikan. Mereka yang bersekolah di SMK Cahaya Bangsa hanya bisa membawa ponsel jadul yang hanya berfungsi untuk mengirim SMS dan telepon.

Meskipun begitu, SMK Cahaya Bangsa bisa memanjakan muridnya dengan koneksi Wi-fi yang cepat di setiap sudut sekolah. Mau tidak mau, bagi mereka yang membutuhkan akses internet harus membawa laptop. Karena smartphone sangat ditentang apapun alasannya.

Pada akhirnya 'Peraturan Keramat' itu bisa ditaklukan saat acara LPJ di akhir semester kemarin. Acara LPJ merupakan kegiatan tahunan rutin yang dihadiri oleh OSIS, MPK, dan beberapa orang perwakilan kelasnya masing-masing. Dihadiri juga oleh Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah I & II, bagian Kesiswaan, dan beberapa guru, tapi mereka hanya hadir saat pembukaan dan penutupan acara. Mereka akan menyerahkan seluruh rangkaian acara pada seluruh murid.

Semua peraturan di SMK Cahaya Bangsa dibuat oleh murid, dari murid, dan untuk murid. Maka dari itu, acara LPJ ini sering menjadi ajang para anak-anak untuk mengubah, menambahkan, atau menghapus peraturan yang sebelumnya sudah ditulis. Namun, tetap saja pengukuhan ada ditangan Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, dan bagian Kesiswaan.

Penaklukan 'Peraturan Keramat' terjadi di saat bagian pembahasan peraturan sekolah yang di mana para murid perwakilan kelas bisa mengutarakan aspirasi dari teman-teman kelasnya yang sudah ditampung. Sesi ini adalah yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang yang hadir di sana.

Saat itu, seorang siswi dengan berani maju ke depan sambil membawa buku LPJ yang tebal. Dia harus menunggu tiga orang lagi untuk bisa menyuarakan pendapat yang sudah ditampung. Jantungnya berdetak cepat dengan keringat dingin yang mulai mengucur.

Siswi itu adalah Rania Ghassani. Dia menjabat sebagai sekretaris I di MPK. Namun, pada hari itu ia duduk bersama dengan para perwakilan kelas. Sedangkan kedua sahabatnya, Gia dan Ray duduk di depan sejajar dengan OSIS. Di MPK, Gia menjabat sebagai Ketua dan Ray sebagai Wakil Ketua.

Setelah gilirannya tiba, kalimat yang dilontarkan perempuan bersurai hitam legam itu langsung mengundang riuh seisi ruangan. Jangan ditanya bagaimana reaksi para perwakilan kelas, mereka semua terlihat seperti mengharapkan sebuah cahaya.

Mereka yang berada di jajaran OSIS langsung memberikan reaksi tidak percaya. Sedangkan Gia dan Ray hanya bisa tertawa melihat Rania yang terlampau berani. Tidak ada yang bisa menghalangi ketika gadis itu kuat dengan keputusannya

"Di sini saya ingin menyampainkan salahsatu aspirasi semua siswa. Thank me later, guys." Rania menampilkan senyum remeh di depan semua orang. Mereka tahu kalau Rania termasuk murid anti OSIS yang terang-terangan menunjukkan sikapnya.

"Saya ingin mengubah peraturan Pasal II ayat 3 tentang 'Dilarang membawa alat komunikasi (ponsel) yang memiliki fitur kamera dan video ke sekolah.' menjadi‒"

Saat itu, Rania sengaja memotong kalimatnya sendiri, karena ia tahu anak-anak akan sangat berisik saat ia membahas 'Peraturan Keramat' itu. Dan benar saja seisi ruangan langsung riuh bersorak senang.

Tidak sedikit dari mereka yang menyerukan nama Rania dengan bangga. Setelah salah satu anak OSIS menyuruh mereka untuk kembali kondusif, Rania pun melanjutkan kalimatnya sambil tersenyum tipis.

"Menjadi 'Alat komunikasi atau ponsel yang bisa mengakses internet diperbolehkan saat Kegiatan Belajar dan Mengajar atau KBM berlangsung. Dalam kondisi jika pelajaran tersebut membutuhkan koneksi internet.'"

Suara riuh pun kembali mengisi aula yang besar itu, bahkan lebih keras dari yang sebelumnya. Rania langsung menutup buku LPJ dan menatap mereka semua sambil tersenyum penuh harap. Gia dan Ray mendukung sambil mengacungkan dua jempol. Sedangkan mereka yang di jajaran OSIS ada yang ikut senang, tetapi ada juga yang sepertinya terlihat tidak setuju.

Sesuai dugaan Rania, setelah itu langsung ada perdebatan di antara dirinya dengan anak-anak OSIS yang kebanyakan kurang setuju dengan pendapat tersebut. Tentu saja akan begitu karena mereka ada di pihak Kesiswaan.

"Kan masih bisa pake laptop kalo mau searching?" sahut seorang anggota OSIS perempuan.

Rania langsung meraih mikrofon di depannya. "Ribet, berat, dan enggak semua murid punya laptop. Saya sakin semuanya tahu tentang ini."

"Kalo gitu, ponsel yang memiliki fitur kamera dan video diperbolehkan dong?" tanya seorang anggota OSIS laki-laki.

"Ya menurut lo aja gimana," jawab Rania dengan santai

Rania tidak merasa berdiri sendirian. Para perwakilan kelas satu persatu ikut menyuarakan hal yang sama. Mereka semua membantu dan membela Rania agar 'Peraturan Keramat' ini ditangguhkan meskipun harus bersyarat.

Kejadian itu menjadi hari yang panjang bagi Rania. Di mana pada akhirnya dia harus menghadap Kesiswaan dan Wakil Kepala Sekolah I & II di depan mereka semua. Dengan jantung yang terus berdetak kencang dan tangan bergetar, Rania menjelaskan mengapa ia mengusulkan peraturan itu harus diubah dengan sejelas-jelasnya.

Setelah memakan waktu yang cukup lama untuk berunding, akhirnya Wakil Kepala Sekolah II mengumumkan bahawa usulan peraturan Rania diterima. Semua anak bersorak bahagia atas kemenangan mereka melalui suara Rania. Meskipun ada syarat yang harus diterima, mereka tetap senang karena akhirnya 'Peraturan Keramat' itu dihilangkan.

Itulah sebabnya banyak yang mengelu-elukan Rania karena keberaniannya menyuarakan pendapat semua siswa. Namun, tidak sedikit dari mereka yang jadi tidak menyukai Rania setelah kejadian itu. Mereka yang membencinya berpikir kalau Rania menggunakan suaranya untuk cari perhatian dan menambah pekerjaan anak OSIS.

Syarat yang harus diterima para murid adalah smartphone yang digunakan hanya untuk kebutuhan belajar. Jika ketahuan digunakan di luar KBM maka akan disita. Jika peraturan ini bermasalah dan masih ada yang melanggar, maka Rania yang harus bertanggung jawab.

Itulah sejarah baru yang terjadi saat sebelum liburan sekolah dimulai. Nama Rania langsung ramai dibicarakan bahkan setelah acara LPJ selesai. Rania sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan datang di masa depan.

Terlalu larut saat mengenang kejadian itu membuat Rania tidak sadar kalau bel pulang sudah berbunyi. Rania baru sadar ketika melihat teman-temannya yang mulai keluar dari kelas sambil membawa tas. Dia pun langsung mengambil tasn dan segera keluar dari kelas dengan langkah gontai.

***

"Ran, punya seribu, enggak?"

"Enggak."

"Ngobrol sama orang tua tuh yang sopan!"

Rania langsung mengembuskan napas kasar. Jarinya juga ikut berhenti mengetik dari atas papan ketik laptop. Untuk kesekian kalinya ia diganggu oleh orang rumah yang ditambah dengan suara bentakan.

"Apa sih, Kek?" tanya Rania dengan nada suara yang sedikit kesal sambil matanya menatap wajah Kakeknya.

"Punya uang seribu, enggak?" tanya Kakeknya lagi.

"Rania kan udah bilang enggak punya," jawab Rania.

"Punya cucu pelit banget!"

Sang Kakek langsung menutup pintu kamar Rania dengan keras. Gadis itu berjengit kaget dan seketika mood untuk menulis cerita pun hilang begitu saja. Tanpa dimatikan dulu, Rania langsung menutup laptopnya dan didorong sampai ke sisi kasur.

Rania membaringkan tubuh, membuatnya menatap kosong ke langit-langit kamar. Pikirannya terbang untuk bagaimana caranya keluar dari rumah ini. Rasanya ingin kabur saja karena sudah tidak kuat tinggal bersama orang-orang yang hanya bisa menambah beban mentalnya.

Di kota ini, Rania tinggal bersama Kakek, Nenek, Om, dan Bibi dari keluarga sang Ayah. Kedua orang tuanya sudah bercerai sejak Rania kelas 2 SD. Ibunya tinggal di Bandung dan Ayahnya tinggal di Cianjur karena katanya ada urusan pekerjaan.

Rania selalu terlihat baik-baik saja di sekolah. Dia mendapat pujian dan rasa kagum teman-teman yang berpikir kalau Rania memiliki hidup yang sangat baik dan tidak memiliki masalah yang berarti.

Padahal banyak rasa sakit yang dipendam oleh perempuan pecinta warna merah muda itu. Rania selalu menanggapi teman-temannya dengan senyuman tanpa menjawab lebih. Bukan karena ingin memakai topeng dan membiarkan mereka berpikir seperti itu selamanya, tapi karena Rania tahu kalau dirinya bukan untuk semua orang.

Masalah miliknya biarlah tetap menjadi miliknya. Rania tidak mau berbagi semua rasa sakit itu. Rania pikir yang terpenting adalah dirinya tidak menyusahkan orang banyak. Namun, siapa sih manusia di dunia ini yang bisa menghindari masalah?

Ketika sedang hanyut dalam lamunan, tiba-tiba ponsel Rania berdering. Seketika kesadarannya kembali dan langsung memeriksa benda pintar itu. Ternyata pacarnya yang menelepon. Rania langsung menggeser ikon berwarna hijau dengan senyum sumringah.

"Halo, Ran?"

"Halo Kak. Tumben nelpon."

Jovan terkekeh. "Ganggu enggak? Tiba-tiba kepikiran kamu. Udah pulang?"

"Udah. Ini lagi nyantai aja kok," jawab Rania.

"Hmm gitu, ya. Kakak lagi istirahat bentar di kantor. Lumayan buat nanti sebelum ke kampus."

"Oh gitu. Jangan lupa makan, Kak. Jaga kesehatan juga."

"Iya, kamu juga. Kamu baik-baik aja kan disana?"

"Aku baik-baik aja kok."

"Inget, selalu cerita kalo ada masalah atau apapun. Jangan dipendam sendirian. I'm here, okay?"

"Got it!"

"Yaudah kalo gitu nanti malem Kakak telepon lagi, ya? Dipanggil bos nih."

"Iya, sana gih."

"Dah~"

"Dah~"

Telepon pun dimatikan oleh pihak Jovan. Meski hanya sebentar, mendengar suara sang pacar cukup membuatnya merasa lebih baik. Ponsel itu kembali diletakkan di atas kasur dan Rania balik menatap langit-langit kamar.

Rania dan Jovan sudah tiga tahun menjalani hubungan jarak jauh beda kota. Hubungan mereka sempurna, ada komitmen yang mereka jaga. Salah satu kunci sukses hubungan mereka adalah komunikasi dan kepercayaan. Jangan dibayangkan seberapa besar kepercayaan Rania pada Jovan. Rasanya seperti laki-laki itu adalah bagian terpenting dari dirinya.

Jovan berusia tiga tahun lebih tua dari Rania. Orangnya dewasa, pendengar yang baik, pengertian, dan sangat perhatian. Dengan kepercayaan yang diberikan, Jovan adalah salah satu orang yang tahu bagaimana kehidupan Rania di rumah ini. Jovan tahu, mengerti, dan selalu menjadi tempat gadis itu untuk besandar.

Maka dari itu, hanya telepon sebentar pun dapat membuat suasana hatinya kembali membaik.

Rania mengambil laptop dan kemudian dibuka lagi. Sekarang ia akan menulis self-journal untuk hari ini. Rania selalu menuliskan apa saja yang ia alami dan apa yang ia rasakan untuk membantu self-healing. Kebiasaan ini sudah ia lakukan sejak masih duduk di bangku SMP.

Luka batin memang bukan main rasa sakitnya. Tapi jika dibiarkan begitu saja, hanya akan membuat dirinya hancur secara perlahan. Bagi Rania, di dunia ini hanya ada satu yang bisa menolongnya agar menjadi lebih baik. Yaitu, dirinya sendiri.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BILIK LAIN DI RUMAH SUAMIKU
8.6
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kediaman Mas Yusuf, kecurigaan mulai menghantui benakku. Suamiku itu menyimpan rahasia besar di balik sebuah pintu kamar yang selalu terkunci rapat. Keganjilan semakin terasa saat aku memergokinya mengendap-endap setiap malam, membawa baki makanan serta minuman ke dalam ruangan misterius tersebut. Apa sebenarnya yang sedang disembunyikan Yusuf dariku? Misteri di balik bilik terlarang itu kini mengancam ketenanganku.
Sampul Novel Bukan Takdirku Mati Dalam Api
9.7
Dunia Gita hancur saat mengetahui kekasihnya, Dzaki, hanya memanfaatkannya demi Rosa. Tak hanya mencuri desainnya, mereka meracuni Gita dan menjebaknya dalam kebakaran villa yang mematikan. Namun, Gita berhasil memalsukan kematiannya dan melarikan diri ke Milan. Tiga tahun berlalu, ia kembali ke Jakarta sebagai desainer elit bernama Gia. Saat Dzaki yang terkejut melihat sosoknya yang serupa, Gita bersiap membalas dendam pada monster yang mengkhianatinya.
Sampul Novel Ex-Husband Or Mr. Ceo
9.4
Pasca kegagalan rumah tangganya, Leira bertekad bangkit demi masa depan sang putra. Ia memutuskan kembali ke Chicago untuk mengejar karier di sebuah perusahaan penerbitan. Namun, situasi menjadi rumit saat ia harus bekerja di tempat yang sama dengan mantan suaminya. Di sisi lain, Leira terjebak dalam kesalahpahaman dengan sang CEO. Akankah ia mampu menjaga hatinya tetap tegar, atau justru menemukan cinta yang baru di tengah konflik ini?
Sampul Novel HOT DUDA
9.6
Taran merupakan pengusaha sukses yang ingin mendukung karier musik adiknya, Kejora, setelah viral di YouTube. Ia pun mempekerjakan Resti sebagai manajer. Awalnya, hubungan mereka tegang karena Taran merasa Resti terlalu ikut campur. Namun, berkat Kejora, keduanya justru semakin akrab. Meski ada Ben yang mencoba menghalangi, benih cinta antara Taran dan Resti kian tumbuh kuat, terutama saat mereka menghabiskan waktu bersama selama berada di Bali.
Sampul Novel Istriku Berasal Dari Kerajaan Medang
9.1
Kirana Ayu Wening, gadis asal Kerajaan Medang, mendadak terlempar melintasi waktu ke masa depan sejauh 1024 tahun. Ia muncul di tengah kota modern yang asing sebelum akhirnya bertemu Yodha, seorang pekerja yang baru saja patah hati. Dengan tulus, Yodha menolong Kirana beradaptasi di era yang jauh berbeda dari zamannya. Kini, mereka berdua harus menghadapi badai kesedihan, kebingungan, hingga kebahagiaan bersama dalam memulai lembaran hidup yang baru.
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu
9.5
Menjadi sekuel dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, kisah ini mengeksplorasi dilema horor yang tak biasa. Mana yang lebih menakutkan: teror makhluk halus atau desakan menikah setiap hari? Bagi sang protagonis yang baru saja menyandang status sarjana, tekanan sang ibu yang sangat ambisius mencari menantu jauh lebih mencekam daripada gangguan gaib. Ikuti perjuangannya menghadapi tuntutan keluarga di tengah situasi yang penuh komedi dan nuansa misteri.