
Antara Sahabat dan Cinta
Bab 3
Ray membuang napas kasar, matanya kembali menatap layar ponsel yang masih menampilkan ruang obrolan dengan sahabatnya. Rania bilang hari ini akan langsung pulang dan menolak tawaran Ray untuk mengantarnya.
Menurut Ray, biasanya jika Rania tiba-tiba seperti ini berarti dia memang sedang ingin sendiri dan tidak mau diganggu. Namun, Ray jadi ikut kepikiran apa yang membuat sahabatnya seperti ini. Seketika dirinya menjadi lebih khawatir kalau Rania sedang ada masalah.
Setelah beberapa menit bel pulang berbunyi, Ray memilih untuk bangkit dari duduknya. Ia memasukkan ponsel ke saku celana dan tasnya segera ia sampirkan ke bahu sambil berjalan ke arah pintu kelas.
"Pulang, Ray?"
Ray langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata Andri yang memanggilnya.
"Iya, pulang. Gue duluan," jawab Ray sambil mengangkat tangannya.
Saat Ray baru keluar dari kelas, ia bisa melihat Rania yang sudah berjalan meninggalkan kelas PS-2. Ray pikir mungkin Rania akan menghampiri Gia di kelas TKJ-2, maka dari itu ia mengikuti Rania secara diam-diam.
Namun, perkiraan Ray salah. Rania tetap berjalan meskipun sudah melewati belokan yang dekat dengan kelas Tkj-2. Rania terus berjalan, seperti tidak sadar kalau Ray sedang mengikutinya dari belakang.
"Kak Ray!"
Ray langsung melotot kaget saat Nabila tiba-tiba muncul sambil memanggil namanya dengan suara keras. Ray yang tidak mau Rania menyadari keberadaannya pun langsung menghampiri Nabila dengan panik.
"Sshhh!" Ray meletakkan telunjuknya di depan bibir. Memberi tanda agar Nabila jangan berisik.
"Kenapa, Kak?" tanya Nabila dengan suara pelan. Wajahnya seketika terlihat panik, tapi bingung.
Ray langsung melihat ke depan lagi dan ternyata Rania sudah menghilang. "Hmm enggak apa-apa kok," jawab laki-laki itu sambil tersenyum pada Nabila. Setelah itu, matanya kembali mencari-cari sosok Rania.
Nabila pun jadi ikut mengedarkan pandangannya karena penasaran. "Kakak lagi ngikutin orang, ya?"
"Hah? Ngga kok. Kamu ngapain di sini? Kok bawa tas?" tanya Ray yang berusaha terlihat biasa saja.
"Ya mau pulang dong, Kak. Kan udah bunyi belnya," jawab Nabila.
Ray yang langsung menyadari kebodohannya pun langsung terkekeh malu. "Eh iya ya."
Tiba-tiba Nabila tersenyum lebar. "Kak Ray inget enggak pernah janji mau anter aku pulang? Sekarang aja yuk!"
"Sekarang? Ya b-boleh aja sih," jawab Ray dengan gugup.
Ray dan Nabila pun berjalan bersama menuju parkiran khusus murid. Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol seputar sekolah sambil diselingi bercanda. Gadis itu tersenyum malu saat tangan Ray tidak sengaja menyentuh tanganya.
Nabila adalah murid kelas 10 PS-3. Dia menjadi salah satu siswi baru yang terkenal karena wajahnya yang cantik. Sebenarnya Ray dan Nabila bisa dekat bukan karena kebetulan. Tidak banyak orang yang tahu kalau Nabila juga adik kelas Ray, Rania, dan Gia saat masih SMP.
Mereka berdua semakin akrab semenjak Ray selalu mencuri kesempatan untuk mendekati Nabila saat masa orientasi sekolah dan jurusan. Namun, sampai saat ini Ray belum ada rencana untuk menyatakan perasaannya pada Nabila.
Saat mereka sampai di parkiran, langkah Ray terhenti ketika melihat sosok Rania sedang bersama seorang laki-laki di dekat motor. Terlihat laki-laki itu membantu Rania memasangkan tali pengaman helm di bawah dagu. Kemudian mereka berdua tertawa bersama sebelum meninggalkan parkiran sambil naik motor.
Ray mengerutkan dahinya bingung sambil terus melihat kepergian dua orang itu. Tentu saja Ray tahu siapa laki-laki yang membonceng sahabatnya. Pertanyaannya, bagaimana bisa Rania akrab dengan laki-laki itu?
Karena yang Ray tahu, Rania adalah tipe orang yang tidak mudah akrab dengan seseorang kecuali kalau memang sering berinteraksi.
"Kak Rania, ya?" tanya Nabila.
"Huh?" Kesadaran Ray seketika kembali. "Iya, itu Rania. Ayo ke motor aku."
Namun, sebelum Ray melangkah, tiba-tiba Nabila menahan tangannya. "Aku boleh nanya enggak, Kak?"
"Hm? Tanya aja," jawab Ray.
"Kak Ray sama Kak Rania... sebenarnya ada hubungan apa?" tanya Nabila dengan hati-hati.
"Aku sama dia sahabatan. Sama Gia juga yang anak TKJ," jawab Ray.
"Sahabat apa sahabat?" tanya Nabila dengan tatapan yang berbeda.
"Sahabat."
Salah satu hal yang paling Ray tidak suka adalah ketika orang-orang meragukan hubungan persahabatannya dengan Rania. Ray pikir orang-orang terlalu sok tahu untuk menebak hubungan mereka berdua. Padahal Ray sudah tegaskan kalau mereka hanya bersahabat yang sudah seperti keluarga sendiri.
Dengan raut wajah yang sudah berubah menjadi gelap, Ray langsung berjalan menuju motornya dan Nabila mengikutinya dari belakang. Kalau bukan Nabila, sepertinya Ray sudah tidak mau mengantar pulang.
Selama di perjalanan, mereka berdua hening. Nabila sadar dengan perubahan sikap Ray dan ia tidak berani bertanya. Dengan wajah laki-laki itu yang terlihat datar saja sudah membuatnya merinding.
Tiba-tiba Ray teringat obrolannya dengan Andri dan Gilang waktu itu.
"Tapi nih ya, ini nasib si Nabila bakal sama kayak cewek-cewek sebelumnya, enggak?" tanya Andri.
"Emang kenapa?" tanya Ray.
"Halah pura-pura bego! Antara lo yang mundur karena milih si doi atau Nabila yang mundur terus doi lu nambah musuh," tutur Gilang. Andri mengangguk semangat.
Waktu itu, Ray hanya berpura-pura bodoh di depan mereka. Itu karena dia malas kalau harus membahas hal yang dia benci. Ray tahu betul apa yang sebenarnya membuat dia tidak pernah berhasil mendapatkan perempuan yang ia suka.
Ray sering dihadapkan pertanyaan seperti:
"Kamu pilih aku atau sahabat cewek kamu itu?"
Dan jawaban Ray selalu sama. Yaitu:
"Aku pilih Rania sama Gia. Maaf."
Semuanya selalu berakhir seperti itu, dengan Ray yang selalu memilih sahabatnya. Sebenarnya tipe perempuan yang Ray cari tidak sulit. Dia hanya ingin perempuan yang baik, perhatian, dan pengertian. Terutama mengerti kondisi Ray yang memiliki sahabat perempuan yang tidak akan pernah dia tinggalkan.
Hampir semua perempuan yang Ray dekati selalu cemburu pada sahabatnya, terutama pada Rania. Jawaban Ray selalu sama, dia akan memilih sahabatnya dan secara otomatis perempuan itu akan menjadi musuh Rania dan Gia.
Seketika pertanyaan Andri dan Gilang terngiang lagi di telinga. Membuat Ray berpikir sedikit tentang nasib romansanya. Apakah dia akan tetap memilih Rania dan Gia jika seandainya Nabila menanyakan hal itu? Apakah Nabila akan sama seperti perempuan-perempuan sebelumnya? Atau Nabila bisa membuat Ray berputar haluan?
***
Sudah tiga menit Ray menatap layar ponsel dengan harap-harap cemas. Bahkan setelah lagu kesukaannya berhenti pun Ray masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari ruang obrolan bersama Rania.
Kontak yang bernama Rania itu tak kunjung mengirim sesuatu atau minimal menunjukkan niatannya untuk membaca pesan. Entah mengapa Ray merasa sedikit gundah karena hal tersebut. Mengingat Rania yang menolak tawarannya saat pulang sekolah tadi sore.
Tiba-tiba Ray teringat suatu hal dan membuatnya menunduk lesu. Ia pikir untuk apa menunggu pesan dari Rania? Dia kan sudah punya pacar. Apa yang Ray harapkan? Namun, Ray mengangkat kembali wajahnya untuk menatap layar ponsel. Ray yakin Rania pasti akan mengirim pesan.
"Apa gue bakal tetep kayak gini kalo udah jadian sama Nabila?" gumam Ray. "Tetep butuh Rania meskipun gue udah punya pacar?"
Bukan hanya Jovan, Ray juga tahu bagaimana keadaan keluarga Rania. Ray tidak mau melihat Rania sedih atau merasa tertinggal sendirian. Itulah mengapa penolakan pulang bersama tadi sore menjadi tanda tanya.
Ray adalah tipe orang yang memiliki rasa cinta persahabatan yang tinggi. Bukan hanya pada Rania atau Gia, tapi juga sangat perhatian pada teman-temannya yang lain. Maka dari itu, tidak jarang ada orang orang salah paham dengan niat baik Ray.
"Apa gue telepon aja, ya?" gumam laki-laki itu sambil memandangi ikon berwarna hijau. Ray memang ragu, tapi dia memilih untuk langsung menlepon Rania.
Tuuttt...
Tuuttt...
Tuuttt...
"Apa lo telepon telepon?" tanya Rania diujung sana yang terdengar jutek.
"Dih baru nongol udah nyolot. Kenapa belom tidur?" Ray sebenarnya senang, tapi berusaha untuk tidak terlihat seperti itu.
"Suka suka gue lah. Lo juga kenapa belom tidur?"
"Kepikiran sama lo." Ray tidak bisa lagi menutupinya.
"..."
"Halo, Ran? Kok lo diem? Baper, ya?" tanya Ray sambil tersenyum jahil.
"Males banget kudu baper. Gue barusan abis cek nama kontak yang nelpon gue. Siapa tau salah sambung."
"Yeu!"
"Kenapa lo mikirin gue? Apa yang lo pikirin?"
"Lo lagi enggak ada masalah, 'kan?" tanya Ray, sedikit penasaran.
"Emang hidup siapa yang enggak punya masalah? Pengen tukeran deh."
"Serius, Ran. Gue kepikiran gara-gara lo nolak ajak pulang bareng tadi."
"Hadeuh Raayyy lo tuh kebiasaan suka mikirin hal-hal enggak penting. Udah deh‒"
"Tapi lo penting‒ maksud gue, lo itu selalu bisa ngandelin gue, Ran."
"Lo tidur gih. Besok sekolah," ucap Rania yang sepertinya tidak peduli dengan kalimat Ray.
"Lo juga sekolah. Makanya tidur juga."
"Iyaaa, ini mau. Daahhh~"
Telepon langsung dimatikan begitu saja oleh Rania saat Ray baru saja membuka mulut untuk menjawab. Namun, itu tak apa bagi Ray asal mengetahui keadaan sahabatnya sedang baik-baik saja.
Ray pun menyalakan mode pesawat dan mengabaikan semua pesan yang masuk, termasuk dari Nabila. Sekarang rasa berat di dadanya sudah menghilang dan berubah menjadi lega. Sekarang Ray siap pergi ke alam mimpi dengan tenang.
***
Anda Mungkin Juga Suka





