Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Antara Cinta Dan Trauma

Antara Cinta Dan Trauma

Masa lalu Adel kelam akibat kekerasan ayahnya, menyisakan trauma mendalam meski sang ibu selalu mendukung. Di sekolah, ia merasa terasing saat sahabatnya, Dara, mulai menjauh demi Farhan. Hubungan asmara Adel dengan Vero pun penuh kekecewaan, memaksanya mempertanyakan kesempatan kedua. Demi pulih, Adel memilih mengikuti pelatihan di Surabaya untuk menata masa depan. Di tengah luka dan bayang-bayang masa lalu, mampukah ia menemukan kebahagiaan sejati?
Bab
Bagikan

Bab 3

Adel mencoba untuk mengalihkan perhatian dari masalah ini dengan memperdalam hubungannya dengan Vero. Vero yang selalu ada di sampingnya, memberikan perhatian dan pengertian yang membuat Adel merasa sedikit lebih baik. Mereka mulai sering menghabiskan waktu bersama, berdua saja, jauh dari semua masalah yang mengganggu pikiran Adel.

Namun, hubungan dengan Dara yang semakin jauh membuat Adel merasa bingung. Setiap kali dia mencoba untuk mendekati Dara, Dara seolah menghindar. Bahkan, di beberapa kesempatan, Dara memilih untuk bersama Farhan daripada berbicara dengan Adel.

"Apa lo nggak lihat, Del? Gue nggak punya waktu buat ngobrol sama lo. Farhan lebih penting sekarang," kata Dara suatu hari dengan nada yang agak tajam.

Adel merasa sakit hati mendengar kata-kata itu. "Kenapa lo kayak gitu, Dar? Apa gue nggak cukup berarti lagi buat lo?"

Dara hanya terdiam, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Perlahan, hubungan mereka semakin terasa asing. Kekuatan ikatan persahabatan mereka yang dulu begitu erat, kini mulai retak.

---

Setelah dua bulan berlarut-larut, hubungan Adel dan Dara semakin tak bisa diperbaiki. Mereka hanya saling diam, tidak ada lagi percakapan yang hangat seperti dulu. Bahkan, saat ada di sekolah, mereka seolah tidak saling mengenal. Setiap pertemuan terasa seperti pertemuan orang asing.

Adel merasa hatinya hancur. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Semua yang pernah dia impikan tentang persahabatannya dengan Dara kini tinggal kenangan. Mungkin ada kesalahan dari kedua belah pihak, tapi yang jelas, perasaan Adel tentang Dara yang lebih memilih Farhan daripada dirinya semakin jelas.

Di tengah kesedihannya, Adel merasa nyaman dengan Vero. Meski hubungan mereka pun tidak lepas dari konflik dan ketidak pastian, setidaknya Vero tidak meninggalkan Adel. Vero menjadi tempat berlindungnya, memberi perhatian yang membuat Adel merasa dihargai, meskipun pada saat yang sama, dia tahu, hatinya tidak sepenuhnya bisa dibuka untuk Vero.

Suatu hari, setelah sekolah, Vero menjemput Adel. Mereka pergi ke tempat yang sering mereka kunjungi bersama, duduk berdua tanpa kata. Vero memandang Adel dengan tatapan penuh perhatian, mencoba merasakan apa yang ada dalam pikiran Adel.

"Lo masih mikirin Dara?" tanya Vero pelan, memecah keheningan.

Adel mengangguk, meskipun hatinya terasa berat. "Gue cuma nggak ngerti kenapa semuanya jadi kayak gini. Kenapa Dara lebih memilih Farhan dari pada gue, kenapa dia nggak butuh gue lagi?"

Vero meraih tangan Adel, menggenggamnya dengan lembut. "Lo nggak sendirian, Del. Gue di sini buat lo. Kita bakal selesaikan semuanya, bareng-bareng."

Adel hanya menatap Vero dengan mata yang penuh kebingungan dan kesedihan. Meskipun ada Vero, tapi rasa kehilangan terhadap Dara masih terasa sangat dalam.

---

Suatu hari, setelah sekolah, Adel dan Dara bertemu di kafe yang sama. Mereka mencoba berbicara, tapi seperti biasa, percakapan itu menjadi canggung.

Adel berjalan ke arah Dara, dan bicara "Dar, kenapa sih lo jadi kayak gini? Kenapa lo lebih milih Farhan dan nggak ada waktu buat gue?"

Dara menjawab dan menatap Adel dengan tatapan tajam "Lo nggak ngerti, Del. Farhan itu beda. Dia ngerti gue. Lo cuma ngomongin dia tanpa ngerti apa yang gue rasain."

"Gue cuma khawatir, Dar. Gue nggak mau lo sakit hati lagi. Gue nggak pernah ngeliat lo seperti ini sebelumnya. Kenapa sekarang kayak gini?" jawab Adel dengan wajah sayu

Dara dengan tatapan tajamnya "Lo yang nggak ngerti, Del! Gue udah capek dengar lo ngomongin Farhan terus. Gue nggak mau lo ikut campur, dan gue nggak butuh lo sekarang."

Kata-kata Dara menusuk hati Adel. Rasa sakit yang sudah lama dipendam kini muncul begitu saja. "Lo nggak butuh gue, ya? Kalau gitu, kenapa lo nggak bilang dari awal?"

Dara terdiam, dan akhirnya menunduk. "Gue nggak mau kehilangan lo, Del, tapi lo kayak nggak percaya sama gue."

Adel menatap Dara, merasa kecewa. "Lo udah terlalu jauh sama Farhan, Dar. Lo nggak lihat kalau gue cuma mau yang terbaik buat lo?"

Di situ, keduanya merasa kehilangan. Hati mereka terasa semakin jauh. Dara memilih untuk pergi, meninggalkan Adel yang masih bingung dengan perasaannya.

---

Setelah pertemuan di kafe itu, Adel berusaha memahami alasan Dara yang sepertinya semakin jauh. Di satu sisi, Adel ingin tetap mendukung sahabatnya, tapi di sisi lain, dia merasa tidak dihargai oleh Dara.

Beberapa hari kemudian, Dara menelepon Adel.

Dara: "Del, gue cuma pengen lo ngerti kenapa gue kayak gini. Farhan... Dia bukan anak sekolah kita. Gue ngerasa lebih bebas aja sama dia."

Adel: "Tapi, lo sadar nggak sih, Dar? Lo jarang cerita, terus tiba-tiba malah marah kalau gue kasih masukan. Gue cuma nggak mau lo dibutakan sama perasaan lo, apalagi sama orang yang lo belum kenal banget."

Dara: "Farhan itu baik, Del. Gue tau lo khawatir, tapi gue juga butuh dukungan lo, bukan kritik terus."

Adel menarik napas dalam-dalam. "Gue cuma takut hubungan kita makin jauh, Dar. Lo lebih pilih dia daripada gue?"

Dara: "Gue nggak milih siapa-siapa, Del. Gue cuma mau lo ngerti posisi gue sekarang."

Percakapan itu menggantung. Mereka berdua saling berusaha memahami, namun jarak tetap terasa. Keduanya menyadari bahwa mungkin memang ada perbedaan besar yang sulit dijembatani, meski keduanya masih peduli satu sama lain.

---

Sejak percakapan itu, suasana antara Adel dan Dara di kelas terasa berbeda. Mereka satu kelas, tapi jarang saling bicara. Ketika Adel mencoba menyapa, Dara hanya memberikan senyum tipis tanpa kata-kata lebih. Teman-teman mereka di kelas mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Suatu hari saat jam istirahat,Dara memberanikan diri untuk duduk di samping Adel yang sedang sibuk dengan buku catatannya.

Dara: "Del, gue ngerti kalau lo lagi banyak pikiran, tapi gue beneran kangen sama kita yang dulu. Gua tau kalau gua salah soal omongan yang kemarin, maaf soal omngan kasar gua ke lu."

Adel mengangkat wajahnya perlahan, terlihat ragu. "Gue juga, Dar. Tapi gue butuh waktu buat ngerti perasaan gue."

Dara menghela napas pelan. "Maaf atas semua omngan kasar gua ke lu ya, Del. Gue nggak mau pertemanan kita rusak karen hal ini."

Adel tersenyum sedikit, lalu menatap Dara dalam-dalam. "Gue ngerti, Dar. Kita sahabatan, dan kadang gue juga ngerasa bersalah. Gue pengen kita baik-baik aja."

Percakapan itu membuat keduanya sedikit lega, tapi tetap ada perasaan canggung yang tertinggal. Meskipun mereka sama-sama ingin memperbaiki keadaan, jarak yang ada membuat mereka bingung, seakan masih ada hal-hal yang belum terselesaikan.

---

Setelah perbincangan yang tegang dengan Dara, Adel merasa hatinya kosong dan sedikit tertekan. Berbeda dengan perasaan Dara yang seolah sudah menemukan jalan keluarnya bersama Farhan, Adel masih bingung tentang apa yang harus dilakukannya. Di tengah kebingungannya, Vero mengirim pesan.

Vero: "Hei, gimana? Lo ada waktu nggak? Gue pengen banget ngobrol sama lo."

Adel: "Ngobrol tentang apa, sih?"

Vero: "Tentang kita, Del. Tentang hubungan kita yang udah makin aneh aja."

Pesan itu membuat hati Adel sedikit tergerak. Hubungannya dengan Vero memang tak semulus dulu. Sejak beberapa waktu terakhir, perasaan mereka semakin jauh, penuh dengan perdebatan dan ketegangan. Adel merasa jika mereka tidak segera bicara, hubungan itu mungkin akan berakhir begitu saja.

Adel: "Oke, gue kesana sekarang."

Vero mengirimkan alamat apartemennya, dan Adel langsung memutuskan untuk pergi. Ketika dia tiba, pintu apartemen terbuka dan Vero sudah menunggu di depan pintu dengan ekspresi serius.

"Ayo masuk, Del. Gue nggak sabar buat ngobrol." Ucap Vero sambil memegang tangan Adel.

Adel masuk ke dalam apartemen yang terasa sepi. Mereka duduk di sofa yang biasanya menjadi tempat Vero video call bersama Adel. Vero duduk berhadapan dengan Adel, namun suasana canggung membuat keduanya terdiam beberapa saat.

"Ver, gue nggak tahu kenapa kita bisa jadi kayak gini. Gue merasa kita udah nggak ada lagi hubungan yang jelas." Jawab Adel dengan sedikit ekspresi wajah sedih.

Jawab Vero sambil memegang tangan Adel, dan menatapnya "Gue tahu, Del. Gue juga ngerasain hal yang sama. Tapi lo nggak bisa gitu terus, lo tahu kan kalau gue nggak akan pernah ninggalin lo? Gue nggak mau hubungan kita cuma jadi semacam rutinitas yang nggak ada ujungnya."

Adel menatap Vero dengan tatapan penuh pertanyaan. "Tapi kenapa lo selalu bikin gue ngerasa kalau gue nggak cukup buat lo? Kenapa ada aja hal-hal yang bikin gue ragu?"

"Gue nggak pernah mau bikin lo ngerasa kayak gitu, Del. Tapi kadang gue ngerasa kalau lo juga nggak percaya sama gue. Gue nggak bisa selalu tahu apa yang lo butuhkan."

"Lo tahu apa yang gue butuhin? Gue butuh lo yang bisa buat gue merasa tenang. Tapi kenapa malah kebalik? Gue malah makin cemas setiap kali ada masalah." Jawab Adel, dan melepaskan genggaman Vero

Vero menunduk, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan perasaannya. "Gue tahu gue sering salah, Del. Tapi gue juga butuh lo di sisi gue. Gue nggak ingin hubungan ini hancur cuma karena ego kita masing-masing."

Adel merasakan ada sedikit penyesalan dalam suara Vero. Namun, rasa sakit hati dan kekecewaan yang sudah tertanam selama ini tidak mudah hilang begitu saja.

Jawab Adel dengan raut muka serius "Gue nggak tahu, Ver. Gue capek sama semua masalah ini. Kadang gue mikir, kita mungkin perlu waktu buat diri kita sendiri."

Wajah Vero mendadak serius dan penuh pertanyaan di matanya "Lo nggak serius kan, Del? Kita udah jalan bareng cukup lama, dan lo mau kita berhenti begitu aja? Gue masih pengen lo di sini, sama gue."

Adel menghela napas panjang, memikirkan masa depan mereka. "Mungkin kita butuh jarak, biar kita bisa pikirin semuanya dengan kepala dingin. Gue nggak mau kita terus-terusan kayak gini."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HAK" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HAK
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku gundik
8.0
Ragazza Perfetto dikenal sebagai sosok pria kaya raya yang memiliki kepribadian hampir tanpa celah. Namun, kesempurnaan hidupnya seketika hancur saat wanita yang ia cintai dengan sepenuh hati justru tega mengkhianatinya. Tanpa belas kasihan, belahan jiwanya tersebut menginjak-injak harga diri Ragazza dan menyerahkan kehormatannya kepada seorang gundik. Kini, sang miliarder harus menghadapi kenyataan pahit saat martabatnya dilemparkan begitu saja dalam konflik romansa ini.
Sampul Novel Delayed Love
9.1
Lima tahun berlalu sejak Reina Valeria berjuang mengubur luka hati dan melupakan sosok pria dari masa lalunya. Namun, takdir berkata lain saat ia justru dipertemukan kembali dengan Rian Nataharja, yang kini menjabat sebagai manajernya di kantor. Pertemuan ini membangkitkan memori lama saat mereka masih sekolah. Apa rahasia di balik hubungan si siswa teladan dan siswi bodoh ini? Reina pun harus menghadapi kembali perasaan yang sempat tertunda.
Sampul Novel Dipaksa Melayani CEO-Cinta Satu Malam
9.1
Sefia adalah Wedding Organizer sukses yang nasib cintanya berakhir tragis. Tepat semalam sebelum menikah, ia memergoki Wisnu berselingkuh dengan asistennya sendiri. Hancur karena dihina, Sefia yang kalap menawarkan dirinya kepada pria asing di dalam lift. Namun, candaan itu berujung petaka saat pria setinggi 180 cm tersebut benar-benar membawanya ke ranjang. Kini Sefia terjebak dalam konsekuensi satu malam yang mengancam masa depannya tepat di hari pernikahan.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menyelamatkan adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar senilai 100 juta rupiah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket secara tidak sengaja. Kini, Daiva terjebak dalam dilema cinta ketika kedua pria tersebut mulai mengejar hatinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Daiva sebagai pendamping hidup di tengah bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel HATE BEING A RICHMAN
8.3
Tsabit adalah yatim piatu sukses di Woodela yang tetap rendah hati meski kaya raya. Namun, dunianya hancur saat rahasia kelam orang tuanya terungkap. Ia terjebak cinta terlarang dengan Shakeela yang ternyata adalah saudara sedarahnya sendiri. Kenyataan pahit ini membuat Tsabit membenci kekayaannya dan menyesali pertemuan mereka. Meski dosa masa lalu memisahkan keduanya, ikatan tulus yang telah terjalin lama membuat mereka sangat sulit untuk saling melepaskan.
Sampul Novel Luka Yang Sisa Kenangan
9.7
Memasuki tahun keempat pernikahannya dengan Rocky Riyandi, Luna Gozali akhirnya mengandung. Namun, kebahagiaan itu hancur saat pihak rumah sakit menolak dokumen kehamilannya karena akta nikah yang ia miliki terbukti palsu. Penyelidikan Luna di kantor catatan sipil justru mengungkap rahasia kelam: Rocky secara hukum terdaftar sebagai suami dari Paula Gozali, kakak tirinya sendiri. Paula, yang dulu melarikan diri ke luar negeri saat hari pernikahan mereka, kini justru berstatus sebagai istri sah dari pria yang Luna cintai.