![Sampul Novel ANGKASA [Perjodohan]](https://v.melolo.com/b1265344voduse1318177724/4a690b485001834806831278379/NXKVW2hACykA.webp!15491.webp)
ANGKASA [Perjodohan]
Bab 2
Malam harinya, Angkasa telah siap untuk mengikuti balap motor liar. Dengan didampingi kedua temannya, Bagas dan Gara. "Lo udah siap, Sa?"
Angkasa mengangguk menutup helm full facenya, menatap sang lawan yang tidak dia kenal. Saling menatap tajam satu sama lain. Satu wanita dengan pakaian mini maju di antara mereka berdua, dengan bendera kotak-kotak hitam putih.
"Are you ready, Guys!!"
"Ready!" teriak semua orang.
Theee
Two
One
"Go!"
Motor Angkasa melaju kencang, baru awal tapi dia sudah memimpin, membuat yang lain bersorak gembira. Menurut Angkasa lawannya kali ini sangat tidak sepadan dengannya, satu putaran sudah dia lewati, jaraknya dengan lawan pun cukup jauh. Kurang sedikit, dan....
"Yes, Angkasa menang!" sorak teman-temannya.
Angkasa tersenyum tipis di balik helmnya, menjadi kesenangan sendiri saat dia dapat memenangkan balapan, melepas helmnya, menyugar rambutnya ke belakang.
"Good job!" Gara menepuk bahu Angkasa pelan, sedangkan Bagas menerima hadiah dari kemenangan Angkasa.
"Party, gays!" ucapnya.
Angkasa mengambil ponselnya saat melihat telepon dari sang cebol kesayangannya. Dia berjalan sedikit menjauh dari kebisingan. Agar dapat mendengar suara Meisya dengan jelas.
"Angkasa, hiks!" Wajah Angkasa terlihat panik saat mendengar suara tangisan dari sang penelpon.
"Hei, kenapa? are you okay, Baby?" tanyanya cemas, buru-buru Angkasa memindahkan panggilan telepon biasa ke panggilan Vidio.
Dari sini dia bisa melihat wajah sembab kekasihnya, mata juga hidungnya terlihat sangat merah. "Kenapa, hm?" tanyanya lembut.
"Angkasa, boneka Doraemon Meisya hilang, hiks. Beliin sekarang!" ucapnya terisak.
Angkasa menghela napas panjang, hanya karena boneka pelakor itu. Sungguh Angkasa sangat kesal, sebenarnya boneka itu tidak hilang, tetapi dia yang sengaja menyembunyikannya.
"Tadi siang masih ada, sekarang udah nggak ada. Udah Meisya cari kemana-mana tapi tetep aja nggak ketemu!" adu Meisya.
"Nggak usah dicariin, ngapain sih cariin boneka botak itu? Gak jelas!" cetus Angkasa, membuat Mesiya semakin kesal.
"Huwaa, Angkasa jahat! Meisya aduin mami nih!" teriaknya.
"Diem! Ya udah nggak usah nangis, gue otw ke sana bawain boneka lo yang jelek itu!" Raut wajah Angkasa terlihat sangat datar.
"Janji, Meisya mau boneka yang besar. Nggak mau yang kecil, kalau kecil nggak bisa di peluk!" ucapnya.
"Peluk gue aja, ngapain peluk benda mati!" cetusnya.
"Angkasa!" rengek Meisya.
"Ck, iya-iya gue bawain." Setelahnya Angkasa menutup panggilan sepihak, dengan wajah tertekuk sebal.
Jika dalam hubungan orang lain pelakornya adalah manusia beda lagi dengan cerita mereka berdua yang pelakornya adalah sebuah benda mati, boneka Doraemon.
"Woi, Sa! Mau kemana lo?" tanya Gara. Angkasa memakai kembali helm full facenya.
"Balik, nyokap udah telpon suruh pulang. Kalian party sendiri aja!" Setelahnya motor Angkasa melaju kencang dari sana meninggalkan wajah Cengo teman-temannya
"Tumben!" celetuk Gara.
****
Angkasa masuk ke dalam toko boneka mencari boneka pelakor itu dengan kesal, dia heran padahal boneka Doraemon Meisya sangatlah banyak, tetapi kenapa hilang satu saja dia bisa tahu. Menyebalkan!
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya sang penjual.
"Saya mau beli boneka pelakor!" cetusnya, penjual itu terlihat bingung tak mengerti akan ucapan Angkasa.
"Boneka pelakor, Mas?" tanyanya bingung, Angkasa tersadar akan ucapannya.
"Maksud gue boneka Doraemon, gitu aja lo gak tau!" cetusnya, kenapa jadi dia yang marah.
Penjual itu hanya tersenyum mengelus dada mencoba sabar, lalu menunjukkan boneka Doraemon dengan berbagai macam variasi juga ukurannya.
"Jadi mau yang mana, Mas?" Angkasa melihat-lihat boneka Doraemon yang terletak di etalase tersebut lalu mengambil satu yang besar sesuai permintaan Meisya.
"Yang ini!" Tanpa bertanya harga boneka tersebut, Angkasa langsung memberikan lima lembar uang merah lalu pergi begitu saja. Moodnya sedang tidak baik!
Wajah penjual itu nampak Cengo. "Mas, uangnya kebanyakan!" ucapnya.
"Buat lo aja, gue gak butuh!" Terdengar tak sopan, tapi untungnya penjual boneka itu memang masih muda.
Tok Tok Tok
"Angkasa!" Dia sempat terkejut saat Meisya langsung memeluk tubuhnya erat. Wajahnya mendongak menatap binar ke arahnya.
"Angkasa baik, makasih!!" teriak Meisya saat melihat boneka kesayangannya, saat Meisya akan mengambilnya Angkasa buru-buru menjauhkannya.
"Enak aja main ambil, ganti dulu!" Mata Meisya mengerjab lucu, menatap sendu ke arah Angkasa.
"Angkasa mau Meisya ganti uangnya? Ya udah tunggu dulu, Meisya minta uang ke papi dulu!" Saat Meisya akan masuk, Angkasa lebih dulu menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
"Ck, bego! Ngapain gue minta ganti uang sama lo kalau duit gue sendiri udah banyak." Angkasa memeluk tubuh Meisya erat.
"Arghh, gue kangen banget sama lo, Meisya. Peka dikit kek!" Meisya tersenyum kecil mendengarnya membalas pelukan Angkasa lebih erat.

"Angkasa nggak mau masuk dulu? Meisya mau nunjukin sesuatu ke Angkasa!" Pelukan itu terlepas, saat tangan kecil Meisya menarik Angkasa masuk ke dalam rumah. Meisya membuka pintu kamarnya membuat mata Angkasa membulat. Napasnya memburu kesal dengan tangan terkepal erat.
Pelakor sialan! geramnya.

Kamar Meisya entah sejak kapan berubah menjadi serba Doraemon seperti itu, membuat mata Angkasa panas saat melihatnya. "Bagus kan? Meisya yang minta ke papi supaya kamar Meisya di desain Doraemon!" ucapnya antusias.
"Jelek! Jijik gue lihatnya, apaan sih kek bocil lo!" cetus Angkasa.
Mata Meisya berkaca-kaca mendengarnya, dengan kesal memukul dada Angkasa kuat. "Angkasa yang jelek Angkasa yang kayak bocil, pulang sana!" usirnya kesal.
"Ck, gak tahu diri lo. Udah gue beliin boneka sekarang gue malah mau lo usir." Kesalnya.
"Salah sendiri Angkasa nyebelin!" Kesal Meisya melipat kedua tangannya di dada, dengan bibir menggerucut sebal.
Angkasa memeluk tubuh Meisya dari belakang menjatuhkan kepalanya pada bahu gadis itu.
"Gue cemburu, Meisya! Kenapa sih lo nggak peka-peka!" kesal Angkasa, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Meisya.
"Lo lebih suka ke boneka sialan itu ketimbang gue!" ucap Angkasa dengan nada jutek.
"Ih nggak gitu, Mesiya lebih suka ke Angkasa!" Tubuh Meisya berbalik memeluk tubuh Angkasa erat.

"Masa Angkasa cemburu sama boneka sih!" kekeh Meisya. Tangannya melingkar di leher Angkasa erat, memberi kecupan singkat pada pipinya.
"Gue cemburu! Nggak perduli kalau dia cuma boneka. Tetep aja gue gak suka, dia selalu lo peluk pas tidur tapi lo gak pernah mau gue peluk! Nggak adil."
Meisya terkekeh geli. Mengusap kepala Angkasa pelan. "Sekarang kan udah Meisya peluk! Angkasa nggak boleh cemburu sama boneka Doraemon lagi ya!"
Angkasa hanya diam semakin mengeratkan pelukan mereka. "Boneka Doraemon lo ada berapa? Kenapa lo bisa tahu kalau boneka lo hilang satu?"
Angkasa mendongakkan kepalanya menatap ke arah Meisya. "Ada banyak, tapi Meisya selalu tahu kalau bonekanya hilang, Karena ada namanya!"
Satu alis Angkasa terangkat. "Emang yang hilang namanya siapa?" tanyanya.
"Yang hilang namanya, Austin! Yang paling ganteng, Meisya nggak tahu kok bisa hilang. Meisya tanyain ke Mami katanya juga gak tahu!" Angkasa bergeleng pelan.
Boneka saja namanya sangat bagus. Meisya teringat sesuatu lalu menarik tangan Angkasa untuk mengikutinya. "Angkasa Meisya beli tas baru, tempat minum baru, sama sepatu baru. Lucu-lucu tau, papi yang beliin!" ucapnya.
"Bagus kan?" Angkasa semakin pusing melihatnya, Meisya benar-benar bisa membuat dirinya gila.
"Lo mau sekolah pakai itu semua?" tanyanya ragu, semoga saja jawaban Meisya tidak. Namun, dengan santainya Meisya mengangguk, mencoba memakai tas Doraemon itu.
"Baguskan?" ucapnya sembari memutar tubuhnya, tas itu terlihat sangat lucu.
"Gak, lo gak boleh ke sekolah pakai tas itu. Apalagi sepatu itu, lo mau kena hukum!" pelototnya.
"Kan bisa Meisya pakai waktu olahraga, kenapa sih dari tadi Angkasa marah-marah mulu!" Bibir Meisya kembali menggerucut sebal.
"Lo yang buat gue marah-marah Meisya, astaga! Pakai tas yang biasa lo pakai aja. Lo mau di ketawain anak-anak pakai tas begitu!" ucap Angkasa mencoba sabar.
"Mereka ngetawain Meisya karena iri, tas inikan limited edition. Meisya di beliin papi di luar negeri, satu bulan baru sampai sekarang."
"Terserah lo, gue mau pulang!" Angkasa pergi begitu saja membuat Meisya menghentakkan kakinya kesal.
"Angkasa jelek, nyebelin!" teriak Meisya kesal.
Anda Mungkin Juga Suka





