
Andai Aku Boleh Memilih
Bab 2
TERLAMBAT LAGI
Sudah hampir seperempat jam Kenanga menunggu angkutan umum di depan komplek perumahannya. Namun angkot yang lewat selalu penuh. Duuuh...masa harus terlambat lagi ? Dari rumah Kenanga menuju kampusnya yang berada di pinggiran kota harus tiga kali naik angkutan kota. Kalau saja ia punya sepeda motor, tentu akan sangat membantunya agar bisa cepat sampai di kampus. Kenanga tak habis pikir kenapa Ibu justru membelikan Arfan sepeda motor. Padahal jarak dari rumah ke sekolahannya hanya sekali naik angkutan umum dan jaraknya pun dekat sekali. Sementara Kenanga dibiarkan naik angkutan umum padahal jarak kampusnya lebih jauh. Bahkan disaat waktunya mepet, Arfan tidak pernah sudi meminjamkan sepeda motornya pada kakaknya itu.
Kenanga harus mengambil keputusan cepat. Ia segera memesan ojek online yang bisa mengantarnya langsung ke kampus. Meski untuk itu ia harus membayar lebih mahal. Tapi tidak mengapalah demi agar tidak terlambat lagi. Butuh waktu lama juga baru ojeknya datang. Ia langsung minta abang ojeknya untuk ngebut.
Namun apa dikata, walau Kenanga sudah berusaha keras tetap saja ia telat sampai di kampus.Tanpa pikir panjang, selesai membayar ojeknya ia lari secepat-cepatnya melintasi lorong-lorong kelas yang sudah sepi karena perkuliahan sudah dimulai. Ia terpaksa mengehentikan larinya ketika seseorang mencegatnya. Hampir melotot matanya saking kesalnya pada orang yang menghadangnya itu. Duuuh... kenapa mesti ada penghalang sih ?
“ Maaf, Mbak. Mau nanya, ruang kelas B4 sebelah mana ya. Saya mahasiswa baru di sini, jadi belum tahu letak-letak ruang kelas. “ Pemuda itu bertanya dengan sopan. Hampir saja Kenanga menyemprotnya karena sudah menyita waktunya yang super duper berharga saat itu. Tapi... ruang kelas B4, itu kan kelas nya juga ? Dan anak ini mahasiswa baru, hm..... bisa dimanfaatkan !
“ Oke, ikut saya ! Tapi kamu harus bilang nanti bahwa saya terlambat karena membantu kamu registrasi tadi di TU ya. “ Pemuda itu mengangguk tersenyum mengerti.
Dengan berdebar-debar Kenanga mengetuk pintu, bersiap menerima omelan Pak Burhanudin. Atau bahkan mungkin ia akan langsung diusir keluar dan tidak boleh lagi mengikuti perkuliahan sampai akhir semester. Dan itu artinya tidak bisa ikut ujian semester ini. Dan terundur lagi pengajuan proposal skripsinya. Ya Tuhan, tolong aku !
“ Masuk ! “ Terdengar suara dari dalam. Tapi itu bukan suara Pak Burhanudin. Suara siapakah ? Adakah teman-temannya yang iseng ? Berani-beraninya...
Pelan Kenanga mendorong pintu. Ia terkejut melihat bukan Pak Burhanudin yang duduk di kursi dosen. Tapi seorang anak muda yang ganteng, kalem dan bermata teduh, tengah menatap dirinya. Ragu-ragu Kenanga melangkah mendekati.
“ Maaf, saya terlambat. Pak Burhanudin mana ? “ Terdengar bergetar suara Kenanga.
“ Mulai hari ini saya menggantikan Pak Burhanudin mengajar Metodologi Penelitian. Kamu yang bernama Kenanga ? “ Sesaat tadi Kenanga lega karena Pak Burhanudin sudah diganti dosen baru. Ia berharap segala dosanya terhapus dengan pergantian dosen tersebut. Tapi ketika dosen itu menyebut namanya, sadarlah ia bahwa daftar dosanya sudah berpindah ke tangan dosen baru tersebut. Dengan lemah ia mengangguk.
“ Silahkan duduk. Tapi tengah hari nanti temui saya di ruang dosen. “ Katanya pada Kenanga
“ Baik, Pak. Terima kasih, “ jawab Kenanga lemah. Pemuda yang tadi masuk bersamanya berbicara sesaat dengan Pak Dosen muda tersebut, lalu menyusul duduk di kursi kosong di samping Kenanga.
Jam sepuluh kuliah selesai, Harusnya Kenanga sudah bisa meninggalkan kampus, tapi karena tadi dia disuruh menemui dosen baru tersebut ia harus menunggu sampai tengah hari nanti. Sekarang dosen muda tersebut masih ada kelas di ruang lain. Kebetulan ruang kelas yang ini kosong, Kenanga memilih untuk menungggu di kelas itu saja. Mau ke kantin uangnya tidak cukup karena sudah dipakai untuk bayar ojek tadi pagi.
“ Ngga pulang, Na ? Kan kamu ngga ada kuliah lagi hari ini ? “ Fauziya temannya mendekatinya.
“ Aku disuruh menemui dosen baru itu nanti siang. Jadi aku menunggu di sini saja. Kamu masih ada kuliah ? “
“ Ada nanti jam satu. Sekarang mau balik ke kos an saja dulu. Yuuk, ikut ke kosan aku saja, “ ajak Ziya. Biasanya kalau ada jeda waktu kuliah, Kenanga sering ikut ke kos an Ziya yang tidak terlalu jauh dari kampus mereka. Tapi hari itu Kenanga lebih memilih menunggu i kampus saja. Di luar cuaca sangat terik.
“ Trimakasih, Zi. Aku menunggu di sini saja. Eh ngomong-ngomong dosen tadi itu siapa sih namanya ? Karena tadi aku terlambat jadi ngga mendengar waktu dia memperkenalkan dirinya. “
“ Namanya Arkatama Faturakhman. Ganteng.... anak-anak jadi pada ramai mengomentarinya. Kamu ingat presenter berita di tivi Iqbal Kurniadi ? Mirip, kan ? “ Ziya tersenyum penuh arti. Sepertinya ia siap bersaing dengan teman-teman wanita sekampus untuk merebut hati si dosen muda tersebut. Kecuali Kenanga yang tidak pernah mau memikirkan lelaki dalam hidupnya.
“ Bagiku yang penting bukan gantengnya. Tapi membolehkan aku tetap bisa ikut kuliah dan ikut ujian semester. Tinggal satu mata kuliah ini saja yang mengganjal. “
“ Makanya kamu jangan suka telat. Yuuk ah ! Aku duluan ya. “ Ziya menepuk bahu Kenanga.
Kenanga pindah duduk ke bangku paling belakang. Disandarkannya kepalanya ke dinding dan kakinya berselonjor ka atas kursi di depannya. Lumayan bisa mengistirahatkan diri sejenak. Nanti kalau sudah sampai di toko hampir tidak ada waktu istirahat baginya. Saat pengunjung ramai, ia pasti sibuk melayani para pembeli tersebut. Dan saat pengunjung sepi, ia harus menimbang gula, tepung dan lainnya menjadi kemasan kiloan.
“ Maaf, boleh mengganggu “ Terdengar suara seseorang di dekatnya. Kenanga membuka matanya. Ternyata anak baru tadi yang menyapanya. Kenanga memperbaiki duduknya dan menurunkan kakinya .
“ Boleh ikut duduk di sini ? “ Pemuda itu bertanya dengan sopan.
“ Silahkan. Kamu masih ada kuliah lagi nanti ? “ Kenanga berpikir bahwa pemuda itu belum pulang karena masih ada jadwal kuliah hari itu dan sekarang waktunya kosong. Tapi pemuda itu menggeleng.
“ Aku sengaja mencarimu ke sini. Oya... kenalkan aku Ghaf, Ghaffarel. “
“ Aku Kenanga, biasa dipanggil Nana. Untuk apa kamu mencari ku ? “
“ Aku baru pindah ke sini dari Bandung. Di sana aku sudah menyelesaikan hampir semua SKS untuk persyaratan pengajuan proposal skripsi. Tapi ada dua mata kuliah pilihan yang harus aku ambil plus mata kuliah Metodologi Penelitian. Perkuliahan sudah berjalan beberpa minggu, syukurnya aku boleh ikut kuliah dengan catatan tidak pernah absen sampai ujian semester nanti. Dan aku harus mengejar ketinggalanku dengan meminjam catatan dari teman yang sudah duluan ikut kuliah. Dosen yang bersangkutan yaitu Ibu Rani dan Pak Leon menyarankan agar aku menghubungimu, maksudnya meminjam buku catatan kamu. Aku berharap kamu mau membantuku. Aku ingin semester depan sudah fokus ke penyusunan skripsi agar cepat selesai kuliah dan bisa segera kembali ke Bandung. “ Kenanga mengerutkan keningnya mendengar kalimat terakhir Ghaf. Dari Bandung pindah ke sini hanya untuk menyelesaikan kuliahnya. Setelah itu kembali ke Bandung. Repot amat ! Mengapa tidak menyelesaikan kuliah di Bandung saja ? Atau mungkin ia punya kasus besar sehingga harus keluar dari kampusnya ? Tapi peduli apa ....
“ Kalau kedua mata kuliah pilihan itu aku sudah lulus semester kemaren. Dan buku-bukunya sudah masuk peti. Kalau kamu mau meminjamnya harus aku carikan dulu. “
“ Ya ngga apa besok juga. Maaf, jadi merepotkan kamu. “ Sopan sekali bicara anak itu. Sekilas Kenanga meliriknya. Anak itu lebih banyak menunduk walaupun saat berbicara. Dan pandangan matanya terlihat murung. Seperti menyimpan beban batin atau luka hatikah ?
“ Kalau ngga salah kamu menunggu Pak Arka ya ? “ Tanyanya. Kenanga mengangguk.
“ Bagaimana kalau kita menunggu di kantin saja ? “ Ghaf sudah mau berdiri. Kantin ? Ouww...Kenanga sangat ingat bahwa uang di dompetnya sangat terbatas. Kalau ia ke kantin maka ia harus jalan kaki pulang nanti. Dan itu sangaaat jauh ! Ia menggeleng.
“ Kamu saja. Aku ingin menunggu di sini sambil istirahat. “
“ Ayolah, aku traktir kamu. Hitung-hitung merayakan pertemanan kita. Kamu orang pertama yang jadi teman aku di kampus ini, bahkan di kota ini.. “ Sikapnya sangatlah sopan, Kenanga tak sampai hati menolaknya. Lagi pula perutnya memang lapar karena tadi pagi ia tidak sempat sarapan.
Mereka memesan nasi soto dan jus jeruk. Sambil makan mereka mengobrol tentang banyak hal. Ternyata Ghaf baru dua hari sampai di Kota Padang ini. Ia bercerita bahwa mamanya orang Minang. Sedangkan papanya asli Bandung. Waktu kecil Ghaf pernah beberapa kali befkunjung ke kota ini bersama orang tuanya. Tapi setelah SMP ia tidak pernah lagi mengunjungi kota kelahiran mamanya ini. Baru sekarang lagi ia berada di sini.
Kenanga menceritakan banyak hal tentang kota ini juga tentang kampus mereka. Sekedar memberikan gambaran pada Ghaf.
“Okee Ghaf, sudah jam dua belas. Aku mau menemui Pak Arka dulu. Trimakasih traktirannya. InsyaAllah besok aku bawakan buku-buku yang kamu butuhkan. “ Kenanga melangkah meningggalkan kantin menuju ruang dosen.
Ghaffarel memperhatikan Kenanga yang semakin menjauh. Gadis itu sangat sederhana. Mengenakan kemeja garis-garis putih biru yang sudah pudar warnanya serta celana warna krem yang juga sudah terlihat lusuh. Tas ransel di punggungnyapun tak kalah muram tampilannya. Sepatu sneakers yang dikenakannya sudah tak jelas apa warna aslinya. Wajahnya mungkin kalaupun dipoles bedak sangatlah tipis. Hanya sekitar setengah jam sudah hilang bekas bedak tersebut dari wajahnya. Bibirnya mungkin belum pernah tersentuh lipstick. Tidak ada yang menarik dari penampilannya. Namun ada hal-hal pada diri Kenanga yang menarik bagi Ghaf. Ia tampil penuh percaya diri, sinar matanya bening berbinar menunjukan kecerdasan otaknya. Yang paling penting bagi Ghaf, Kenanga beda dengan banyak gadis yang dikenalnya. Sosok Ghaf yang tampan serta dilengkapi outfit mahalnya akan segera menarik perhatian para gadis. Banyak yang ingin jadi temannya bahkan jadi pacarnya. Itu Ghaf tidak suka. Sehingga ia menutup diri dari pergaulan. Namun beda halnya dengan Kenanga. Gadis itu tidak perhatian sama sekali pada penampilan Ghaf. Bahkan mungkin ia tidak tahu berapa mahal barang-barang yang melekat di tubuh Ghaf. Secepat itu ia merasa nyaman berinteraksi dengan Kenanga yang baru dikenalnya itu. Padahal selama ini ia sangat tertutup dan susah bergaul. Baik dengan sesama pria maupun dengan teman-teman wanita. Ia terlahir dari keluarga kaya-raya. Papanya punya beberapa perusahaan di Kota Bandung. Dan ia anak tunggal.
Banyak orang yang ingin jadi temannya. Baik lelaki apalagi kaum hawa. Kurang apa Ghaf, wajah tampan, keluarga tajir melintir. Tapi itulah, dia tidak suka berkumpul dengan mereka-mereka itu. Dia ramah ke semua orang, tapi tidak pernah mau bergaul secara dekat. Kecuali dengan Ray, Raiya nya. Mengenang nama itu wajahnya mendadak jadi murung. “ Dimana kamu, Raiya ? Dada ini mau pecah menahan rindu padamu. “ Bisik hatinya perih. Ray teman yang dikenalnya sejak di SMP. Dengan Ray ia merasa sangat nyaman. Ray sangat mengerti dirinya dan sangat perhatian padanya. Perhatian yang pelan-pelan mulai mencuri hatinya. Orang lain melihat mereka berdua hanya seperti sahabat biasa saja. Tidak ada yang mencolok. Padahal kalau Ray tidak hadir di sekolah, Ghaf merasa hatinya kosong sunyi sepi. Begitu juga kalau Ghaf tidak masuk sekolah, Ray akan gelisah, resah dan kesepian.
Tamat SMP mereka masuk ke SMA yang sama. Di SMA mereka berdua semakin merasa bahwa mereka berdua saling membutuhkan. Di SMA Ghaf dan Ray mulai mau bergaul dengan teman-teman sekolahnya baik teman cewek taupun teman cowok walau tidak pernah akrab. Di tengah para teman-teman, Ghaf dan Ray tidak pernah memperlihatkan kedekatan mereka. Yang orang tahu mereka berdua adalah sahabat baik saja. Dan di SMA pulalah hubungan keduanya semakin intim. Keduanya berpetualang dalam nikmatnya cinta tertutup mereka. Mereka memadu kasih dalam diam tanpa gembar-gembor.Ghaf dan Ray tidak ingin orang lain tahu hubungan mereka sampai suatu saat nanti. Cukuplah mereka berdua saja yang tahu betapa indahnya cinta yang mereka jalin dalam diam dan sunyi.
Saat masuk perguruan tinggi pun mereka tetap masuk jurusan yang sama, Sungguh tak terpisahkan. Kehadiran Ghaf saat main ke rumah Ray disambut baik oleh orang tua Ray. Begitu juga kalau Ray main ke rumah Ghaf ia disambut dengan tangan terbuka. Semua baik-baik saja. Sampai suatu ketika.....Mama Ghaf yang baru pulang dari bepergian ada perlu dengan Ghaf.Seperti biasa ia langsung ke kamar putranya itu dan membuka pintu tanpa mengetuk. Seketika ia terpaku di tempatnya. Tubuhnya menggigil melihat apa yang dilakukan Ghaf dengan Ray di atas ranjang tanpa sehelai pakaianpun ! Hanya istighfar yang keluar dari mulut. Sesaat setelah rasa terkejutnya hilang, ia berteriak sekuatnya.
“ Biadab kalian ! Apa yang kalian lakukan ? Ini sangat ....sangat terkutuk. Ya Tuhan... ! Ya Tuhan ...“ Tubuh wanita itu ambruk tak sadar diri di lantai.
Keputusan segera diambil oleh kedua orang tua mereka. Ray di kirim ke luar negeri tinggal bersama kerabatnya di sana. Luar negeri mana, Ghaf tidak diberi tahu. Dan Ghaf sendiri dibawa pindah ke kota Padang. Mamanya sampai bela-belain meninggalkan Papa Ghaf di Bandung sendirian demi menemani putra tunggalnya itu tinggal di Kota Padang. Hubungan komunikasi Ghaf dan Ray diputus. Orang tua mereka mengambil ponsel anaknya masing-masing dan menggantinya dengan ponsel baru dan nomor baru. Begitulah ceritanya mengapa Ghaf ada di kota ini sekarang. Luka hatinya membuat ia semakin tertutup pada orang lain. Kecuali pada Kenanga.
***********
Anda Mungkin Juga Suka





