
Andai Aku Boleh Memilih
Bab 3
Setelah melihat Pak Arka masuk ke ruang dosen, tak lama kemudian Kenanga menyusul masuk.
“ Selamat siang, Pak “ Sapanya hormat. Pak Arka yang baru saja duduk menoleh pada Kenanga di pintu. Ia mengerutkan keningnya melihat kehadiran gadis itu. Tapi ia segera teringat bahwa dia yang menyuruh gadis itu datang menghadap padanya siang ini.
“ Silahkan duduk, “ ucapnya datar. Pantas saja Pak Burhanudin antipati pada gadis ini. Selain suka terlambat, tidak ada yang menarik untuk dilihat darinya. Terlalu lusuh. Padahal ini kampus swasta ternama di kota ini. Dan sudah pasti mahal. Pastinya pula yang kuliah di sini adalah orang-orang dengan tingkat finansial menengah ke atas. Kenapa anak ini penampilannya begitu buruk ? Beda dengan kebanyakan mahasiswi di kampus ini yang sangat menjaga penampilan mereka. Hari ini adalah hari pertama Arka mulai mengajar di kampus ini, langsung mengajar dua kelas. Dan ia melihat mayoritas mahasiswi berpenampilan menarik dan berkelas. Di Bandung tempat ia kuliah dulu teman-teman perempuannya juga terlihat cantik dan menarik. Arka tidak suka gadis-gadis yang cuek dengan penampilannya.
“ Mulai hari ini saya menggantikan Pak Burhanudin mengajar mata kuliah Metodologi Penelitian. Karena beberapa bulan ke depan beliau sama Ibu Maharani akan ikut proggram Short Course untuk Dosen di Jerman. Saya akan mengajar sampai akhir semester ini. Saya sudah dititipi catatan tentang kamu oleh Pak Burhanudin. “ Kenanga yang sedari tadi menunduk, tersentak dan mengangkat wajahnya menatap Sang Dosen. Ternyata ‘dosa’ nya adalah dosa tak berampun sehingga perlu diestafetkan pada Pak Dosen Baru ini. Ya Tuhan, ampuni hamba !
“ Ya, surat pernyataan yang kamu buat tempohari tetap berlaku. Dan tidak ada toleransi dari saya pada mahasiswa yang tidak bisa menghargai waktu. Kalau kamu ingin tetap ikut kuliah, ikut ujian semester dan bisa mulai menggarap skripsimu maka selalulah tepat waktu. “ Ketus sekali suara Dosen Muda itu.
“ Baik, Pak. Saya berjanji untuk selalu tepat waktu. “ Kenanga berucap pasti.
“ Ya sudah, silahkan keluar. “
“ Terima kasih, Pak. Permisi ! “ Kenanga segera beranjak meninggalkan ruangan itu. Tapi...
“ Dan perbaiki juga penampilan kamu. “ Ia mendengar suara dosen itu sesaat sebelum sampai di pintu. Astaga ! Ia tahu penampilannya tidak sebagus teman-temannya. Tapi ketika hal itu diucapkan langsung pada dirinya oleh seorang laki-laki muda, tampan dan rapi dan dosennya pula, sungguh terasa menusuk hati. Kenanga menggigit bibirnya dan mengangguk dengan lemah.
Di luar ternyata Ghaf menunggunya.
“ Sudah selesai ? “ Tanyanya pada Kenanga yang terlihat berwajah murung. Pasti ada masalah dengan Pak Dosen di dalam tadi, pikirnya. Kenanga mengangguk.
“ Sekarang kamu mau kemana ? “ Ghaf menjejeri langkah Kenanga yang menuju gerbang depan.
“ Aku mau pulang. “
“ Ayo, aku antar ! Aku bawa mobil. Sekalian biar tahu rumahmu. “ Kenanga menggeleng.
“ Terima kasih, ngga usah mengantarku. Aku ngga pulang ke rumah, tapi ke tempat kerjaku. “
“ Kamu kerja ? Ya sudah, aku antar ke tempat kerjamu. Aku ngga ada kegiatan apa-apa hari ini dan aku juga ingin tahu lebih banyak tentang kota ini. “ Kenanga malas berdebat. Lagian perasaannya betul-betul sedang tidak baik sejak bertemu dosen tadi itu. Pandangan mata sang Dosen pada Kenanga terlihat sangat meremehkan. Dan ucapan terakhirnya tadi itu betul-betul menyinggung hati Kenanga. Merobah penampilan pakai apa, Pak Dosen ? Untuk ongkos berangkat kuliahpun aku harus menghitung rupiah demi rupiah agar tidak kekurangan.
Ghaf mengantar Kenanga ke toko sembako tempat Kenanga bekerja. Sebuah toko gosir sembako yang cukup besar dan kelihatan ramai dikunjungi pembeli. Pastilah berkerja di tempat itu tidak ada waktu istirahatnya. Dan itu pasti sangat melelahkan. Satu lagi nilai gadis itu bertambah di matanya.
Hampir jam sembilan malam Kenanga baru tiba di rumahnya. Seperti biasa, rumah terlihat sepi. Keluarganya terbiasa makan malam sekitar jam tujuh. Jadi saat Kenanga pulang semua sudah selesai makan. Ayah dan Ibu sudah masuk kamar. Begitu juga kedua adiknya lebih suka menghabiskan waktu dalam kamar mereka. Kamar adik-adiknya itu dilengkapi televisi yang membuat mereka jarang keluar kamar. Arfan dan Arfin satu kamar berdua. Rumah mereka hanya punya tiga kamar tidur. Satu untuk Ayah dan Ibu, satu untuk Kenanga dan satunya untuk kedua adiknya itu.
Karena Kenanga selalu pulang malam, ia membawa kunci duplikat sendiri agar tidak mengganggu yang lain saat ia pulang. Dinyalakannya lampu ruang tamu. Seperti ada yang bebeda... Ruang tamu rumah itu menyatu dengan ruang makan, hanya dibatasi oleh sebuah bufet pajangan sederhana. Daaan....kok ada tumpukan pakaian di balik bufet itu ? Juga ada tumpukan buku-buku. Kenanga berjongkok memeriksa. Hoouww... ternyata pakaiannya semua dan buku-buku itu juga miliknya. Kenapa semua barang-barang miliknya itu ada di luar kamar ? Kenanga selalu menyusun rapi pakaian dan buku-buku di dalam kamarnya. Bergegas dibukanya pintu kamar tidurnya. Ia terkejut melihat ruangan itu sudah berobah. Kasur busa tipis di lantai tempat biasa Kenanga tidur sudah tidak ada, berganti dengan ranjang baru. Dan di ranjang itu adiknya Arfin tertidur pulas. Lemari kecil yang biasa dipakai untuk menyimpan barang-barang milik kenanga sudah berganti dengan lemari dua pintu yang masih baru. Dibukanya lemari tersebut. Terlihat pakaian-pakaian Arfin tersusun di situ. Segala bola basket, sepatu-sepatu milik Arfin sudah pindah semua ke kamar Kenanga. Maksudnya apa ini ? Kamar yang satunya dipakai oleh Arfan. Lalu Kenanga tidur di mana ? Lunglai ia keluar dari kamar itu.
Diketuknya pintu kamar Ibu. Kenanga harus dapat penjelasan tentang semua ini. Keletihan dan rasa lapar yang dibawanya dari tempat kerjanya tadi mendadak sirna semuanya. Dadanya terasa sesak melihat semua yang ada di depan matanya saat itu. Lama ia mengetuk pintu baru ibunya muncul.
“Ada apa malam-malam kamu membangunkan Ibu ? “ Ibunya bertanya dengan kesal.
“ Kok barang-barang Nana ada di luar, Bu ? Trus Arfin kok tidur di kamar Nana ? “ Ibunya duduk di kursi makan sambil mengusap wajahnya yang mengantuk.
“ Oo.. itu. Mulai hari ini kamu tidur di samping meja makan ya. Kamu gelar kasur kamu di sini. Besok pagi lipat lagi kasurmu supaya ruangan tidak sempit. Itu adikmu Arfin ngga mau sekamar dengan Arfan. Sebab Arfan sering membawa temannya menginap. Ya terpaksa ia pindah ke kamar kamu. Kamu kan kalau siang tidak pernah di rumah dan kamarmu selalu kosong. Biarlah dipakai Arfin saja. Sekedar tidur kamu bisa di luar sini. “ Enteng sekali ibu berkata. Ibu memang selalu memaksakan kehendaknya pada Kenanga. Kenanga tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih. Dada Kenanga serasa mau meledak. Ia seorang anak gadis, masa harus tidur di luar ? Sedangkan adik-adiknya yang laki-laki dengan nyamannya tidur dalam kamar. Bagaimana sih pemikiran Ibu ? Semua ini dilakukan Ibu tanpa bicara dulu dengan dirinya. Kenanga merasa diusir dari rumahnya sendiri. Kurang berkorban apa lagi Kenanga terhadap kedua adik-adiknya itu ? Sebegitu rendahkah kedudukan seorang anak perempuan di mata Ibu ? Bukankah Ibu juga seorang perempuan ? Bukankah Kenanga dan kedua adik-adiknya sama-sama terlahir dari rahim Ibu ? Mengapa Kenanga selalu diperlakukan tidak adil ?
Kenanga tak mampu berkata-kata. Hanya air matanya mengalir tak tertahankan. Ia tahu bahwa ibu tidak pernah menyayangi dirinya. Namun ia tidak menyangka bahwa ibu akan mengusirnya seperti itu. Padahal ia sudah menuruti semua kemauan ibunya. Segera dibersihkannya tubuhnya yang letih setelah berkegiatan seharian tadi. Lalu ia shalat isya, bersujud mohon kekuatan pada Sang Pencipta. Selesai shalat dirapikannya semua barang-barangnya yang berantakan tersebut. Sekalian dicarinya buku-buku yang akan diberikannya pada Ghaf besok.
Ditariknya laci bufet yang paling bawah. Maksudnya untuk menyimpan buku-bukunya di situ. Beberapa kertas usang di dalam laci itu dikeluarkannya. Besok akan disortir, mana yang tidak perlu akan dibuangnya. Tiba-tiba tangannya menemukan sebuah album kecil berisi foto-foto lama. Dibukanya lembar demi lembar album tersebut. Ada foto-foto Ayah semasa muda dulu dengan teman-temannya. Ada juga foto Kakek dan Nenek dari pihak Ayah. Dan ini.... foto Ayah bertiga dengan seorang wanita cantik dan seorang bayi. Lalu di lembar lain bertiga dengan seorang bocah perempuan dengan kue ulang tahun yang dipasangi satu lilin. Mungkin saat ulang tahun pertama gadis kecil itu. Lalu Kenanga melihat foto lainnya. Ayah bersama perempuan itu juga bertiga dengan gadis kecil saat ulang tahun ke tiganya. Sebab di kue dalam foto itu ada lilin dengan angka tiga terpasang di kue. Rupanya setiap gadis kecil itu ulang tahun sengaja dibuatkan fotonya. Dalam foto-foto tersebut terlihat Ayah dan perempuan itu tertawa bahagia memeluk gadis kecil tersbut. Tidak pernah Kenanga melihat Ayahnya tertawa sebahagia itu. Yang ia tahu Ayah adalah sosok sangat pendiam.
Penasaran Kenanga memperhatikan wajah anak kecil itu. Rasa-rasanya mirip dengan dirinya. Tapi perempuan dewasa yang cantik itu bukanlah Ibunya. Siapakah dia ?
Ternyata di halaman bagian belakang ada foto lain yang ditumpuk. Terasa tebal di halaman itu. Kenanga menariknya keluar. Itu foto pernikahan Ayah dengan Ibu . Tapi kok ada Kenanga kecil ikut berfoto bersama mereka ? Artinya saat Ayah dan Ibu menikah Kenanga sudah lahir ? Kenanga membandingkan dua foto antara foto Ayah bertiga dengan perempuan cantik itu dengan foto penganten Ayah dan Ibu. Ada dua wanita yang berbeda. Sedang anak kecil itu adalah anak yang sama, Kenanga sangat yakin bahwa itu adalah dirinya.
Apa mungkin Ayah dua kali menikah ? Dan Kenanga bukanlah anak dari Ibu Mirna, Ibu yang selama ini dikenalnya ? ******
Anda Mungkin Juga Suka





