
Anak Yang Ku Bawa Dalam Rahimku
Bab 2
Alesha menggenggam erat ponselnya. Ia sudah berkali-kali menulis pesan untuk Reiner, hanya untuk menghapusnya lagi. Tangannya gemetar, pikirannya kacau. Jika dia menghubunginya, apakah Reiner akan percaya? Atau malah menganggapnya wanita licik yang ingin menjebaknya?
"Kamu tidak bisa diam saja, Alesha," suara Neneknya memecah lamunannya. "Bagaimana pun, dia ayah dari anak itu."
"Tapi... aku takut, Nek," suaranya lirih. "Aku tidak tahu apakah dia akan menerimanya atau malah membuangku begitu saja."
Nenek Alesha menghela napas panjang. "Jika kamu tidak berani berbicara dengannya, maka kamu akan menjalani ini sendirian. Tapi kalau kamu memberitahunya, setidaknya kamu tahu apa yang harus dihadapi."
Alesha menggigit bibirnya. Perutnya sudah mulai membesar, waktu terus berjalan. Ia tidak bisa lari dari kenyataan selamanya.
Dengan tangan gemetar, ia akhirnya mengetik pesan itu.
Alesha: Aku butuh bicara denganmu. Ini penting.
Pesan terkirim. Namun, ia tidak berharap terlalu banyak. Reiner adalah pria yang terbiasa hidup di atas segalanya. Mungkin dia bahkan tidak akan repot-repot membacanya.
Namun, lima menit kemudian...
Reiner: Di mana kamu?
Jantung Alesha berdegup lebih kencang. Ini akan menjadi pertemuan yang sulit.
Hotel Grand Arwana – Ruang VIP
Alesha berdiri di depan pintu ruangan itu dengan perasaan bercampur aduk. Ia tidak pernah mengira akan kembali bertemu Reiner dalam situasi seperti ini. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya sebelum ia menghembuskan napas panjang dan mendorong pintu perlahan.
Di dalam, Reiner duduk dengan kemeja hitam, lengan terlipat, ekspresinya tak terbaca. Matanya tajam, seolah mencoba menembus isi pikirannya.
"Alesha," suaranya berat dan dingin. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Alesha menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberanian. "Aku... aku hamil."
Keheningan menelan ruangan itu. Wajah Reiner tetap tak terbaca, tetapi rahangnya mengeras.
"Dan aku harus peduli karena...?"
Jantung Alesha mencelos. Ia sudah menduga kemungkinan ini, tetapi mendengar langsung dari mulut Reiner tetap saja menyakitkan.
"Karena anak ini milikmu, Reiner," katanya, suaranya lebih kuat dari yang ia duga.
Reiner menyandarkan tubuhnya ke kursi, menyilangkan tangan di dada. "Dan bagaimana aku tahu kamu tidak berbohong? Bahwa ini bukan hanya taktik untuk mendapatkan uang dariku?"
Alesha menatapnya tak percaya. Matanya memanas, tapi ia menahan air matanya. "Aku tahu kamu tidak akan langsung percaya. Aku tidak meminta apa pun darimu. Aku hanya... aku hanya merasa kau berhak tahu."
Reiner terdiam beberapa saat. "Berapa bulan?"
"Empat."
Matanya sedikit menyipit. "Jadi, ini dari malam itu..."
Alesha menunduk, tangannya mengepal di atas paha. Ia tidak ingin mengingat malam itu. Luka yang ia coba sembunyikan terlalu dalam untuk disentuh lagi.
"Lalu, apa yang kamu inginkan dariku, Alesha?" suara Reiner lebih pelan kali ini, tetapi tetap dingin.
Alesha menatap matanya. "Aku tidak tahu. Aku hanya ingin jujur padamu. Tapi kalau kamu tidak ingin bertanggung jawab, aku akan pergi. Aku bisa membesarkan anak ini sendiri."
Reiner mengamati Alesha dengan tatapan tajam, tetapi kali ini ada sesuatu di sana-sesuatu yang tidak bisa Alesha baca.
"Tinggal di mana sekarang?" tanyanya tiba-tiba.
"Di rumah kakek dan nenekku," jawab Alesha hati-hati.
Reiner mengangguk pelan, lalu berdiri. "Baiklah."
Alesha mengerutkan kening. "Maksudmu?"
Reiner merapikan kemejanya dan mengambil jaketnya. "Aku akan memastikan semuanya. Sampai aku yakin anak itu memang milikku, kamu tidak akan pergi ke mana-mana, Alesha."
Matanya membelalak. "Apa maksudmu?"
Reiner mendekat, menundukkan kepalanya hingga wajah mereka hampir sejajar. "Aku tidak percaya pada siapa pun, Alesha. Tapi kalau memang anak ini milikku... aku tidak akan membiarkanmu membesarkannya sendirian."
Detik itu, Alesha menyadari bahwa pertempuran barunya baru saja dimulai.
Anda Mungkin Juga Suka





