
Anak Yang Ku Bawa Dalam Rahimku
Bab 3
Alesha terdiam, otaknya berputar cepat mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan Reiner. Rasanya dunia seakan berhenti berputar sejenak.
"Apa maksudmu dengan tidak akan membiarkan aku membesarkannya sendirian?" suaranya bergetar, tak tahu apakah ia harus merasa lega atau takut.
Reiner menatapnya dengan tajam, tidak ada sedikit pun kelembutan dalam matanya. "Aku akan memastikan bahwa anak itu mendapatkan yang terbaik, Alesha. Dan itu berarti kamu tidak bisa pergi kemana-mana tanpa persetujuanku."
Alesha merasa ada beban berat di dadanya. Apa yang sebenarnya diinginkan Reiner? Dia tak bisa mengerti pria ini. Dalam satu kalimat, dia memberi harapan, sementara di kalimat berikutnya, dia malah mengancam dengan cara yang dingin. Alesha ingin melawan, ingin berkata bahwa dia tidak butuh bantuan dari pria ini, tetapi kata-kata itu terasa seperti bara yang tak bisa ia singkirkan.
"Tapi aku tidak ingin berurusan denganmu, Reiner," Alesha berkata dengan suara yang dipenuhi kebingungan dan ketegangan. "Aku sudah cukup menderita karena pertemuan kita yang pertama. Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan tenang."
Reiner mengernyit, tidak mengerti. "Apakah kamu pikir aku menyenangi keadaan ini, Alesha? Aku bukan seorang pria yang mudah percaya, dan jika aku harus memastikan anak ini milikku, aku akan melakukannya, bahkan jika itu berarti mengawasi setiap langkahmu."
Alesha merasa darahnya mendidih. "Mengawasi? Jadi, kamu berencana mengontrol hidupku hanya karena anak ini?"
Reiner menatapnya tajam, tak terkendali. "Aku tidak tahu siapa yang lebih terancam dalam hal ini-kamu atau aku. Tapi, percayalah, aku akan melakukannya demi anak itu."
"Anak itu bukan hanya milikmu, Reiner," Alesha hampir berteriak. "Ini adalah hidupku juga. Kamu tidak bisa memaksaku untuk hidup sesuai dengan keinginanmu!"
Reiner berjalan ke arah jendela, menatap keluar dengan ekspresi kosong. "Aku tidak pernah ingin melakukan ini, Alesha. Aku tidak pernah ingin terjebak dalam drama ini. Tetapi kalau kamu ingin tahu, aku lebih tertarik untuk memastikan anak ini tumbuh dalam keadaan baik daripada kamu berjuang sendirian, apalagi mengancamku dengan keputusan sepihak."
Suasana di antara mereka semakin panas, meskipun keheningan yang tegang seperti kabut menyelimuti. Alesha merasakan betapa sulitnya berada di ruangan ini bersama pria yang bahkan tak bisa ia percayai, namun kini ia terjebak dalam permainan yang ia tak pernah pilih. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Jadi, apa yang kamu ingin aku lakukan, Reiner?" Alesha akhirnya bertanya, suaranya lelah. "Apa yang kamu harapkan dariku?"
Reiner menoleh, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ekspresinya berubah, seolah ada sedikit penyesalan di sana. "Aku tidak tahu, Alesha. Aku tidak tahu apa yang aku harapkan. Tapi aku akan memastikan kita tidak terjebak dalam kekacauan ini. Kamu tidak akan bisa menjalani hidup seperti sebelumnya, dan aku juga tidak bisa."
Alesha menggigit bibirnya, berjuang menahan air matanya. Semua yang ia harapkan adalah untuk melupakan malam itu, untuk melanjutkan hidupnya dengan tenang. Namun, Reiner kembali muncul dalam hidupnya, membawa semua kerumitan yang tak ingin ia hadapi.
Beberapa minggu kemudian...
Alesha duduk di ruang tamu rumah kakek-neneknya, menatap surat yang baru saja datang. Surat dari pengacara Reiner. Di dalamnya, tertera berbagai ketentuan yang membuat perutnya terasa sesak. Reiner tidak hanya meminta hak asuh, tetapi juga memaksanya untuk tinggal di bawah pengawasan keluarga Arsanta sampai kelahiran anak itu. Bahkan, ia diberi batasan tentang siapa yang boleh ia temui dan ke mana saja ia bisa pergi.
"Hidupku benar-benar hancur," Alesha berbisik pada dirinya sendiri.
"Pernahkah kamu membicarakan ini dengan Kakek dan Nenek?" suara lembut Neneknya memecah keheningan.
Alesha menggeleng, tangannya gemetar saat memegang surat itu. "Aku... aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada mereka. Mereka sudah banyak berkorban untukku. Aku tidak ingin menambah masalah."
Nenek Alesha duduk di sampingnya, meletakkan tangan di bahunya. "Alesha, kamu harus berbicara dengan mereka. Kita keluarga, dan kita selalu ada untukmu. Jangan biarkan beban ini kamu tanggung sendirian."
Alesha mengangguk, tapi hatinya tetap terasa berat. Ia merasa terperangkap dalam dunia yang tak bisa ia kontrol, antara cinta yang sudah hancur dan masa depan yang tidak pasti.
Di sisi lain kota, Reiner duduk di ruang kerjanya, tatapannya kosong saat ia menelusuri laporan keuangan keluarga. Namun pikirannya jauh dari pekerjaannya.
"Bagaimana caranya, kalau memang harus berurusan dengan Alesha ini?" pikirnya. Dia mengingat wajah Alesha, matanya yang penuh keraguan dan ketakutan. Sesuatu dalam dirinya merasa bersalah. Ia tidak ingin berbuat jahat, tetapi ia tidak bisa membiarkan hal ini berlalu begitu saja.
"Ini lebih sulit daripada yang kukira," gumamnya pada dirinya sendiri.
Namun, meskipun ia merasakan sedikit penyesalan, Reiner tahu satu hal dengan pasti: ia tidak akan mundur. Anak ini adalah bagian dari dirinya. Dan ia akan melakukan apa pun untuk memastikan masa depan anaknya.
Keesokan harinya, Alesha duduk di kursi rumah sakit, menunggu untuk pemeriksaan rutin kandungannya. Matanya melayang ke pintu yang perlahan terbuka. Reiner muncul, mengenakan setelan formal, wajahnya serius, tidak ada senyum di sana.
"Aku ingin ikut serta," katanya singkat, matanya tajam menatap Alesha.
Alesha menatapnya, tak percaya. "Apa yang kamu inginkan dariku, Reiner?"
Reiner menarik kursi di sampingnya. "Aku ingin memastikan semuanya berjalan lancar. Ini bukan hanya tentang kamu atau aku lagi. Ini tentang anak kita."
Alesha merasa bingung, ada rasa cemas yang mulai menyelubungi dirinya. Akankah mereka pernah bisa menjalani ini dengan damai?
Dengan berat hati, Alesha menyadari bahwa jalan di depan mereka masih penuh dengan konflik dan ketegangan yang tak terhindarkan. Tapi satu hal yang pasti-tidak ada jalan mundur.
Anda Mungkin Juga Suka





