
Anak Rahasia Sang Kepala Mafia
Bab 2
"Kamu lagi telepon siapa?"
Suara Dario memecah keheningan di ambang pintu dapur.
Aku tersentak, ponsel masih di tangan. Sesaat, napasku tersangkut. Lalu kuletakkan ponsel itu ke dalam saku dan memaksakan wajah tetap tenang.
"Bukan siapa-siapa," gumamku.
Malam itu, saat vila tenggelam dalam kesunyian, aku berbaring di sampingnya, terjaga, menatap langit-langit. Napasnya tenang, dingin, seolah dia sedang tidur di samping orang asing. Mungkin memang itulah artiku baginya.
Keesokan paginya, meja makan tertata rapi dengan sarapan ala Barat yang kubuat dengan cermat. Dario mengerutkan kening begitu melihatnya.
"Kamu tahu aku benci ini. Jadi ngapain masak ini?"
Aku menunduk, mengambil sepotong steik dengan garpu, lalu mengunyahnya perlahan.
"Di kulkas cuma tinggal ini," jawabku tenang.
Padahal itu bohong. Aku sudah mengisi kulkas dengan bahan impor Negara Atala. Semuanya hanya untuk dia. Akan tetapi, aku sedang berlatih menjalani hidup tanpanya. Jauh dari sini, dan hanya bergantung pada diriku sendiri.
Dario tak menyadarinya. Matanya terus melirik ke arah ponsel di samping piringnya. Saat bergetar, dia langsung meraihnya. Bibirnya melengkung, tipis tetapi jelas terlihat. Siapa pun dia, Arisa adalah wanita yang bisa menghantui pesan-pesannya. Dia bisa melakukan hal yang tak pernah bisa kulakukan. Dia bisa membuat Dario tersenyum.
Aku diam mematung, lalu perlahan mendorong setumpuk kertas yang kubawa selama berbulan-bulan melintasi meja.
"Dario," kataku pelan. "Ayo kita bercerai."
Dia bahkan tak mengangkat pandangannya. Pena di tangannya bergerak mengikuti arah yang kutunjuk, sementara tangan satunya tetap menari di atas keyboard membalas pesan Arisa.
"Mm," gumamnya tanpa benar-benar memperhatikan.
Dadaku sakit, tetapi anehnya aku tak terkejut. Begitulah dia selalu bersamaku, dingin, acuh tak acuh, tak pernah benar-benar menjadi milikku.
Ketika akhirnya dia mendorong kursinya hendak pergi, aku tak mampu menahan diri.
"Dario, kamu tahu tidak aku barusan tanya apa?"
Dia berhenti sejenak, tampak bingung. "Bukankah itu soal kontrak pasokan untuk kiriman anggur baru? Kamu sudah tanya berkali-kali minggu ini."
Aku tertawa pelan, pahit. Dia tidak ingat. Bahkan dia tidak benar-benar mendengarkanku.
"Tidak apa-apa," bisikku. "Sama sekali tidak apa-apa lagi."
Sore itu, aku pergi ke kebun anggur sendirian. Para manajer menyambutku dengan hangat, tetapi aku hanya membalas dengan senyum sopan. Aku bukan datang untuk urusan bisnis lagi. Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Aku akan pergi ke Aropa," kataku, suaraku ringan hampir terdengar acuh tak acuh.
Mereka tampak terkejut, lalu lega. "Kamu pantas mendapatkan awal yang baru," ucap salah satu dari mereka dengan lembut. "Tapi… bagaimana dengan Dario? Hubungan jarak jauh…" Dia berhenti sejenak, menggelengkan kepala.
"Ini bukan soal jarak jauh." Aku meletakkan map yang sudah ditandatangani di atas meja. "Kami sudah bercerai."
Keheningan yang menyusul terasa berat, tetapi tidak menyakitkan. Salah seorang dari mereka menghela napas, seolah mengiyakan apa yang selama ini mereka curigai.
"Kalau dia benar-benar peduli, dia tak akan pernah meninggalkanmu di bayang-bayang sepanjang ini. Pergi darinya… itu adalah hal terkuat yang pernah kamu lakukan."
Aku memejamkan mata, membiarkan kata-kata itu meresap perlahan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa lega.
Ya. Meninggalkannya adalah kebebasan.
Di seberang kota, aku tahu Dario masih tertawa menatap ponselnya, masih tersenyum untuk wanita lain tanpa pernah menyadari bahwa tanda tangannya pagi itu bukan untuk kerajaannya, tetapi untukku.
Untuk akhir dari pernikahan kami.
Anda Mungkin Juga Suka





