Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Amnesia

Amnesia

Terbangun dalam kondisi hampa, aku mendapati diriku terperangkap dalam ketidaktahuan yang menyesakkan. Saat mata ini terbuka, segalanya terasa asing; mulai dari ruangan yang kutempati hingga wajah-wajah yang menatapku dengan penuh harap. Tidak ada satu pun memori yang tersisa untuk menjelaskan siapa mereka atau di mana aku berada. Bahkan, bayangan di cermin pun terasa seperti orang asing, meninggalkan pertanyaan besar mengenai identitas asliku yang hilang.
Bab
Bagikan

Bab 2

[ Bab 2, Kejutan Tak Terduga ]

[ Normal ]

"Papa ... " teriak seorang anak kecil saat Ali baru saja memasuki rumahnya.

Ali tersenyum, ia merentangkan kedua tangannya. Menyambut anak itu ke dalam pelukannya. Ali menggendong anak perempuan itu dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.

"Anak Papa, makin berat ya." ujar Ali seraya mencium pipi putrinya itu dengan gemas.

"Iya dong, 'kan aku sudah besar Pa." balasnya dalam gendongan Ali.

Ali tersenyum, ia duduk di sofa ruang keluarga. Memangku anaknya yang masih setia memeluk lehernya dengan erat.

"Bagaimana keadaan Keyla?" tanya Ibu Ali yang memang sedang duduk santai di sofa, bersama suaminya di ruang keluarga.

"Dia baik baik saja, besok sudah boleh pulang kata Dokter Mom." balas Ali.

Waktu itu kedua orang tua Ali menjenguk Keyla di rumah sakit seperti yang di sarankan oleh sang Dokter. Namun sia-sia saja karena Keyla tidak memangingat satu pun anggota keluarga Ali. Bahkan putri mereka Azalea sudah ia ajak ke rumah sakit, tapi Keyla tidak ingat akan anaknya sendiri. Bagaimana ia bisa ingat orang lain, jika dirinya sendiri pun ia tak ingat?!

Keyla hanya memandang keluarga Ali dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Azalea yang tau Ibunya sudah bangun dari tidurnya sangat senang, namun tidak mengenalnya membuat Azalea menangis, ia berkata bahwa Ibunya tidak sayang padanya lagi. Untunglah Ali dapat mengatasi semua itu, ia mengatakan jika Ibunya masih menyayanginya hanya saja Ibunya sedang tidak mau diganggu. Sejujurnya Ali bingung dengan apa yang harus ia katakan kepada putrinya, di umurnya yang baru menginjak 3,5 tahun tentu saja bukan hal yang mudah untuk memberitahu bahwa Ibunya mengalami Amnesia, mana mungkin anak sekecil itu tau apa Amnesia?

"Papa, Mama kapan pulang? Lea kangen Mama ... " ucap anak itu dengan nada manja.

Ali tersenyum masam mendengar ucapan putrinya itu. Ia tidak tau bagaimana hari-harinya nanti setelah Keyla pulang. Apakah Keyla bisa menerima anaknya atau masih menolak anak itu, seperti yang dilakukannya di rumah sakit, tempo hari.

"Besok Mamanya Lea pulang, Lea senang 'kan kalau Mama pulang?" tanya Ibunya Ali. Elissa Manohara.

"Iya, Lea sudah tidak sabar menunggu Mama pulang." ujar anak itu antusias.

"Lea ... nanti kalau Mama pulang, Lea jangan nakal ya." ujar Ayah Ali. Marvin Syarief.

"Iya, Lea tidak akan nakal kok." ucap Lea tersenyum polos, Azalesa benar benar merindukan Ibunya.

"Lea tadi sudah makan?" tanya Ali mengalihkan pembicaraan.

"Sudah, tadi Lea makan sama ikan goreng tepung buatan Oma." ucap Lea tersenyum lebar seraya menunjuk sang nenek.

"Jangan sering-sering makan gorengan ya, nanti tenggorokan Lea sakit." ujar Ali sambil mengusap puncak kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.

Lea hanya mengangguk patuh dalam pangkuan sang Ayah.

"Kamu juga jangan sering-sering makan gorengan Ali. nanti tenggorokan kamu sakit." ujar Elissa menirukan gaya bicara Ali tadi.

"Mom ... " ucap Ali mendengus sebal.

"Apa?" tanya Elissa, memandang anaknya dengan tersenyum menggoda. Anaknya itu memang paling susah kalau di suruh makan sayur, padahal sayur itu kan sehat?

"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Celetuk Ayah yang juga memang tidak menyukai sayuran.

Ali dan keluarganya memang sering bercanda, tipe keluarga yang harmonis.

***

[ Keyla Achazia ]

Hari ini, aku sudah di izinkan pulang oleh Dokter. Ali datang menjemputku bersama seorang anak kecil -yang katanya anakku- , karena aku akan pulang ke rumahnya. Awalnya aku tidak mau, tapi melihat anak itu memelas meminta aku pulang bersamanya membuat aku tidak tega. Lagi pula jika aku tidak pulang bersama mereka memangnya aku akan ke mana?

Entahlah aku masih tidak mengerti dengan semua ini, semua terasa membingungkan. Aku masih belum yakin jika dia suami dan anakku, walaupun selama ini Ali sudah berusaha membuat aku mengingat dengan menunjukkan beberapa foto bahkan membawa keluarganya datang. Tapi tidak ada satupun foto atau keluarganya yang aku ingat.

Sepasang suami istri lainnya yang mengaku sebagai Ayah dan Ibuku juga datang, mereka menangis saat tau aku tidak mengingat mereka, aku hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi. Karena jujur aku tidak tau harus berekspresi seperti apa? Karena aku kan tidak ingat bagaimana aku dulu.

Haruskah aku senang dengan kehadiran mereka?

Atau ...

Haruskah aku sedih karena tidak dapat mengingat mereka?

"Mama, sudah siap ayo kita pulang." ajak Azalea menyadarkan ku kembali ke dunia nyata.

Azalea menarik tanganku, memintaku untuk menggendongnya. Tapi aku tidak meresponnya, aku hanya menatapnya datar seperti biasa.

"Sayang... sini sama Papa aja gendongnya, Mama 'kan belum sembuh total sayang." kata Ali yang langsung menggendong Azalea.

Ia menatapku lalu tersenyum. "Ayo sayang kita pulang." ajaknya seraya menggandeng tanganku.

Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya keluar dari rumah sakit ini, dan menaiki mobilnya. Saat Azalea ingin duduk di depan, di pangkuanku, Ali melarangnya, ia bilang Mamanya 'kan baru sembuh jadi tidak boleh duduk di pangkuanku.

"Tidak apa-apa, Ali. Biarkan dia duduk denganku." ujarku, entah mengapa aku bisa berbicara seperti itu, karena aku sendiri pun tak tau mengapa tiba tiba aku mengatakan hal itu.

Ali memandangku sebentar, "kamu yakin, Lea itu berat lo nanti kalau kamu --- "

"Tidak apa-apa, Ali. Aku baik-baik saja, sini Lea." Aku memotong ucapan Ali.

Azalea yang berada di jok belakang langsung merangkak ke depan. Aku langsung memangkunya, dan dia mengalungkan kedua tangannya di leherku. Rasanya aku seperti pernah melakukan ini. Tapi entah kapan aku tidak ingat dan tidak ingin berusaha mengingatnya, karena kepalaku akan langsung terserang sakit yang amat sangat tidak menyenangkan jika aku mulai berusaha untuk mengingat hal yang aku lupakan.

"Lea duduknya jangan nakal ya." Ali memperingatkan.

Azalea tidak menjawab, ia hanya mengangguk dalam pangkuanku. Dalam perjalanan pulang tidak ada percakapan diantara kami. Hening. Azalea pun sepertinya tertidur dalam pangkuanku.

'..sakitnya tuh disini ...

didalam hatiku ...

sakitnya tuh disini ...

didalam hatiku ...'

"Maaf Nyonya, Tuan ... ada telfon dari Ibu Saya, apakah Saya boleh mengangkatnya?" tanya Tina. Babysitter Azalea.

"Ya tidak apa-apa."

Setengah jam berlalu, akhirnya kami sampai di sebuah rumah mewah, sungguh. Sepertinya ini bukan rumah, tapi Mansion. Atau apalah itu sebutannya aku lupa atau memang benar benar tidak tau.

Ali turun lebih dulu, ia membuka pintu tempat aku duduk. "Biar aku saja yang menggendong Lea, sayang ... "

"Tidak apa, aku bisa." ucapku datar. Aku tidak tau kenapa aku selalu berucap dengan nada datar pada Ali, tapi Ali selalu menaggapi semua itu dengan senyuman. Seolah perkataanku tidak menyakitinya.

Aku cukup sadar jika setiap perkataan yang aku ucapkan itu menyakitinya, aku bisa melihat hari raut wajahnya. Tapi itu hanya sedetik karena sedetik kemudian ia akan langsung tersenyum lebar.

Aku mengendong Azalea menuju pintu utama rumah ini. Awalnya Ali tidak mengizinkan, tapi akhirnya ia menyerah juga. Saat Ali membuka pintu rumahnya. Aku menggangga melihat ke dalam.

Bagaimana tidak, di dalam banyak sekali orang. Banyak balon-balon tertempel di dinding atau juga berterbangan, bermacam-macam warna ada di sana. Aku menelan ludah, menatap Ali kesal. Ali memandangku bingung seraya menggaruk tengkuknya yang aku yakin tidak gatal itu.

"Aku bersumpah, aku tidak tau tentang ini sayang ..." ucap Ali berbisik kepadaku.

Aku memberanikan diri untuk berjalan masuk dengan masih menggendong Azalea. Kini semua mata tertuju pada kami _aku Ali dan Lea_ seraya tersenyum bahagia.

"Keyla, akhirnya kamu sadar juga, kami sangat merindukanmu." ucap seseorang perempuan, ia mendekat lalu memelukku yang masih menggendong Azalea.

Tubuhku menegang seketika, aku menggeleng, lalu mundur beberapa langkah. Membuat ia menyeryitkan keningnya memandangku bingung.

"Ada apa?" tanyanya memandang bingung ke arahku.

"Semuanya ... aku minta maaf tapi kurasa kalian belum tau sesuatu." ujar Ali, ia memandang semua orang yang ada di ruangan ini lalu memandangku.

"Kamu siapa? Kalian siapa?" tanyaku yang berhasil membuat mereka semua menatapku cengo seperti kambing bodoh, eh? Abaikan kata yang terakhir.

"Apa maksudmu? Aku Pricilla, aku sahabatmu." ucap perempuan yang tadi memelukku, dia menatapku tidak percaya.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sungguh, aku tidak tau siapa mereka. Aku memandang mereka semua satu persatu namun tidak ada satupun yang aku kenal. Bahkan Pricilla yang mengaku sebagai sahabatku pun aku tidak ingat pernah bersahabat dengannya.

"Maaf sekali lagi maaf semua ... Keyla mengalami Amnesia dan tidak ada yang dia ingat. Bahkan namanya sendiri saja dia tidak ingat." jelas Ali membuat suasana yang tadi riuh menjadi hening.

"APA???" teriak mereka bersamaan seperti acara panduan suara saja, mungkin mereka memang sudah latihan panduan suara.

TBC

Sorry for typo !!

Thanks for reading!!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Pasti Bisa Tanpamu
7.8
Selama delapan bulan, seorang istri bertahan dalam siksaan batin dan diperlakukan layaknya pelayan oleh suami serta keluarga mertuanya. Ketakutan akan status janda membuatnya bungkam hingga pengkhianatan suaminya terungkap. Meski diusir dari rumah warisan orang tuanya sendiri akibat kelicikan mereka, ia kini bangkit dalam keadaan mengandung. Ia bertekad memulai lembaran baru demi membuktikan bahwa dirinya mampu meraih kesuksesan dan kemandirian tanpa mereka.
Sampul Novel Cinta CEO untuk Renata
9.1
Renata, putri konglomerat berdarah Jerman-Bali, didera duka setelah dikhianati Rangga dan kehilangan calon suami keduanya, Kim, dalam sebuah tragedi maut. Demi memulihkan hati, ia pindah ke Jerman, namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rangga dan Maharatih yang jahat. Akibat jebakan obat perangsang, Renata hamil oleh CEO tampan Alexander Maxwell. Meski Maharatih mencoba memanipulasi keadaan, pengakuan Rangga akhirnya membongkar semua kebusukan tersebut.
Sampul Novel Kebenaran Tentang Gundiknya
7.8
Hamil empat bulan, fotografer ini hancur melihat suaminya, Baskara, memperkenalkan bayi wanita lain sebagai putranya. Bukannya menyesal, Baskara justru mempermalukannya dan membela selingkuhannya, Serena. Dianggap lemah dan dramatis, sang istri justru memendam amarah dingin atas pengkhianatan terencana ini. Di balik ketenangan palsunya, ia menyusun strategi besar. Ia bukan lagi istri penurut, melainkan ancaman yang siap menghancurkan sandiwara keluarga sempurna mereka.
Sampul Novel Kehormatan Yang ternoda
9.0
Salmah, gadis desa yang hidup melarat, harus membesarkan Ayuna sendirian setelah menjadi korban pemerkosaan. Tiga tahun berlalu, Jhondra Mahardika, sang pelaku, muncul kembali untuk merebut putrinya. Hal ini terjadi karena istrinya, Dinda Kirana, tak lagi bisa hamil usai operasi pengangkatan rahim. Demi melindungi hak asuh Ayuna, Salmah terpaksa bersedia menjadi istri kedua Jhondra. Namun, pernikahan ini justru menjadi awal penderitaan batin yang sangat menyiksa dirinya.
Sampul Novel My Lovely Teacher
8.7
Zayn Abidzar adalah siswa SMA nakal dari keluarga berantakan yang akan segera lulus. Hidupnya berubah setelah bertemu Evelyn Green, guru muda di sekolahnya, dalam sebuah insiden tak terduga. Keduanya mulai berbagi luka masa lalu, termasuk pengkhianatan yang dialami Zayn. Benih cinta pun tumbuh di antara guru dan murid ini. Kini, mereka harus menyembunyikan hubungan rahasia tersebut dari dunia sekolah. Mampukah mereka menjaga perasaan itu tanpa ketahuan?
Sampul Novel Obsesi Sang Pewaris
8.3
Pasca lulus sekolah, Ambar Tri Handayani hanya ingin fokus kuliah dan bekerja. Namun, ancaman keselamatan memaksanya menikahi Diraja Sakala Sudibyo, pengusaha gila kerja di Sudibyo Corporation. Diraja sendiri terpaksa menerima perjodohan ini demi mempertahankan posisinya setelah diancam oleh sang ayah. Meski awalnya hanya sebuah kontrak dingin demi ambisi masing-masing, takdir mulai mengacaukan rencana hidup yang telah mereka susun dengan rapi.