
Amanah dari Sang Ayah
Bab 2
Aku melamun, memandang kuburan Ayah dengan tatapan kosong. Semua yang terjadi seolah mimpi belaka. Tiba-tiba dimasakin makanan kesukaan oleh beliau. Menikah secara mendadak tanpa bertemu sama sekali. Dan terakhir ... kepergian Ayah yang secepat ini?
Belum ada air mata mengalir pada pelupuk mata. Sudah kubilang, rasanya seperti mimpi. Tolong, sadarkan aku secepatnya. Katakan bahwa semua ini adalah kenyataan.
Dirasa orang-orang mulai pergi meninggalkan area pemakaman, barulah aku berjongkok, memegang pusara Ayah. Pikiran berkecamuk, jantung berdenyut sakit, dan kepala perlahan menunduk. Menyembunyikan tangisan tanpa mengeluarkan suara. Semua aku keluarkan diiringi hujan mulai rintik-rintik membasahi bumi.
"Ayah?" Satu suara terucap dari mulutku bersamaan jantung semakin sesak. Nafas pun kian susah sampai ada seseorang memayungi tubuh lemahku.
"Sampai kapan saya harus menunggu kamu di sini?"
Deg
Suaranya begitu dingin, dan serak.
"Tidak ada yang menyuruhmu!" balasku tak kalah dinginnya.
"Kamu sudah sah menjadi istri saya!" Enam kata terucap tegas juga penuh penekanan. Bulu kuduk dibuat meremang mendengar kata istri dari mulutnya secara langsung.
"Pulang. Kemasi barang-barang kamu." Tubuhku berdiri tegap. Pertama kali menatap netra tajamnya. Bola mata cokelat, hidung mancung, alis tebal, dan memiliki bibir tipis serta se k si. Cepat-cepat aku menghalau pikiran ko t or tersebut.
"Aku mau tetap tinggal di rumah Ayah!" Aku mengucapkannya dalam satu tarikan nafas. Kulihat dia--ah, lebih tepatnya Tuan Ethan, menaruh asal payung hitam. Alhasil tubuhku ini kembali basah, begitu juga dengan pria jangkung di depanku.
"Perjanjian pertama, perempuan yang sudah sah menjadi istri saya, harus tinggal bersama di mansion milik Ethan Alexander Wilson." Memutar bola mata, aku tak merespon perkataannya.
"Tapi saya-- "
"Kalau tidak menurut, maka segeralah bayar hutang-hutang Ayah kamu." Dia sangat berhasil membungkam mulutku serapat mungkin.
Ayah? Beliau memiliki hutang kepada pria dingin macem Ethan??
Kenapa Ayah tidak memberitahu semuanya kepadaku?
Jika masih di bawah lima juta, aku sanggup-sanggup aja. Tapi, kalau nominalnya fantastis? Seperti milyar bahkan triliun??
Oh ya Tuhan. Apa gegara hutang, aku dinikahkan sama dia? Supaya lunas kayak di novel-novel yang pernah ia baca, "Hutang Ayah kamu lima puluh juta." Ujarnya seperti tau isi pikiranku.
"Allahuakbar!!" Refleks mengucap takbir seraya menutup mulut. Banyak banget lima puluh juta. Aku enggak ada uang segitu Ya Allah.
Namun heran, uangnya Ayah gunakan untuk apa ya? Kok jadi penasaran gini, "Bayar tagihan kredit Kakak kamu, Evelyn." Wah, percaya deh semisal Ethan seorang cenayang. Bisa ketebak mulu. Alih-alih keren, aku malah takut sendiri.
"Ayo pergi sekarang. Saya gak punya waktu banyak untuk bicara omong kosong seperti tadi. Pekerjaan saya lebih penting dari kamu." Ck, bisa ngibul juga dia. Bilangnya aku istri dia loh tadi. Sekarang ngomongnya aku gak penting di mata dia.
Bodo amat, gak akan aku pikirin. Udah keburu pusing duluan.
"Ya." Menghadap batu nisan sang Ayah, aku pamitan pergi lewat batin.
Yah, pria pilihan Ayah modelannya super dingin persis kulkas dua pintu. Menghela nafas gusar, mulai beranjak berdiri mengikuti langkah lebar Ethan. Gak apa-apa manggil dia nama doang. Paling penting tetap jaga kesopanan.
Tadinya mau panggil, Om sih. Cocok sama penampilannya. Wajah dewasa, badan kekar tinggi, wangi pula. Kapan-kapan mau tanya, apa nama parfumnya Ethan. Enak di ci um. Bukan tipe bikin mual, mendadak pusing kepala.
Membuka pintu rumah, aku mencari keberadaan Ibu. Enggak lupa menyilahkan Ethan agar duduk atas sofa legend. Lanjut pergi ke dapur, sekedar bikin minuman jus jeruk pun memanggil kembali nama sang Ibu.
Evelyn?
Cih, aku m u ak karena sikapnya. Ayah meninggal justru dia mementingkan acara seminar di kampusnya. Katanya gak bisa izin lah, itu lah. Heiii, kutahu itu cuma alasan aja!!! Yang ada di pikiran Evelyn yaitu kuliah semester akhir tapi lama wisudanya. Shopping sampai puluhan juta. Outfit mahal nomor satu, urusan ada uang belakangan.
Anda Mungkin Juga Suka





