
Amanah dari Sang Ayah
Bab 3
"Beresin gih. Kalau perlu jangan sampai ada sisa baju kamu di lemari." Ucapan ketus dan menohok membuatku berhenti menatap foto sang Ayah pada layar ponsel. Rupanya Ibu tengah mengusirku secara yah ... begitulah. Kadang berpikir, aku ini anak kandung beliau apa bukan.
"Tenang aja, gak usah khawatir soal baju." Imbuhku mematikan benda pintar, kemudian memasukan ke dalam tas. Setelan baju dari atas hingga bawah sudah dikemas, ditaruh dalam koper pemberian Ayah dua tahun lalu. Warna putih gading--warna favoritku.
Persoalan baju sudah semua. Tinggal perintilan sandal, sepatu, minyak wangi, juga lain-lainnya. Membutuhkan waktu setengah jam. Itu pun diburu-buru sama Ethan.
Keluar kamar seraya menarik koper ukuran besar, tas jinjing, tas selempang, headphone yang melingkar di belakang leherku. Kening mengkerut manakala tidak menemukan keberadaan Ethan.
Dia sengaja ninggalin aku?? Batinku tak sadar mendecak ketika Ibu lewat.
"Kenapa mendecak begitu? Gak sopan banget jadi anak." Cebik Ibu sengaja mengipasi wajah menggunakan kipas portable.
Mulutku diam, namun hatiku sangat berisik.
Bebas dong beliau. Enggak ada so s ok parasit lagi di rumah dia, bukan-bukan, lebih tepatnya rumah peninggalan Ayah, "Warisan gak usah dipake buat semena-mena, Bu. Pikirin acara tujuh harinya Ayah, empat puluh hari, satu tahun... "
"Mulutnya encer bener, Neng? Mau serasa jadi orang maha benar, hah?" Lah, dia kali yang pertama gitu.
"Rahel?" panggil Ethan menghentikanku mengomel balik sang Ibu.
Ditungguin sedari tadi ternyata baru nongol bos?
"Hm." Ethan mencium punggung tangan Ibuku, "kita pergi dulu." Senyuman Ibu terpancar manis, beda jika berhadapan denganku beberapa menit lalu.
"Manusia muka dua." Cibirku tetap takdzim mencium tangannya, "tujuh harinya Ayah, aku ke sini lagi, boleh?" Tanyaku kepada Ethan. Enggak pakai embel-embel, Mas atau apalah itu. Masih agak canggung. Malah ikutan dingin bila berdekatan sama Ethan. Alias terlampau dingin.
Ethan tampak mengangguk, "Boleh. Asal jangan menginap." Timpalnya menatap dua detik wajahku. Setelahnya dia melihat sembarang arah.
"Selamat atas pernikahan kalian ya. Hati-hati di jalannya." Lalu Ibu memegang erat lenganku, "semoga betah di sana, Nak." Senyuman lembut itu, kurasa hanya acting aja.
"Iya, Bu." Memberi salam, kami berdua gegas masuk dalam mobil BMW hitam keluaran terbaru.
Bahkan aku tahan mati-matian supaya tidak membuka mulut apalagi menetes air liur, saat sudah duduk sempurna di dalam sana. Satu kata dariku, mewah!! Dibuat tidur enak kali. Please, gak usah hujat! Iya tau kok aku kampungan. Baru sekali ini merasakan hawa dingin kendaraan milik Ethan.
"Di pakai jaketnya kalau merasa dingin." Ethan menyuruhku ambil jaket yang dia taruh paper bag putih atas dasbhoard.
Masih ada cap nya masa. Gila sih!! Susah ditebaknya. Sampe bela-belain beli jaket dadakan? Duh, jadi terharu.
"Tadinya mau saya kasih ke seseorang. Karena kamu lebih membutuhkan, ya silahkan dipakai. Enggak perlu melototin saya." Mengerjap mata tiga kali, aku menghadap depan sepenuhnya. Kepedean dong aku? Merutuk diri sendiri, pun nggak sadar menghentakan kedua kaki.
"Kita makan siang bentar di restoran." Alhamdulillah, malu deh perutku keroncongan. Apakah suara perut mungilku tidak menembus indera pendengarannya Ethan?
"Jika tidak lapar, tunggu sini. Tapi akan saya kunci otomatis mobilnya." Udah dingin, irit ngomong, ngeselin pula.
Jahat kali Ethan. Berasa jadi orang ketiga.
Bagaimana tidak!! Ethan rupanya ada janji makan siang bersama seseorang. Pakaian mereka serasi. Keduanya sama-sama memakai baju formal warna biru gelap. Sementara aku? Kaus putih polos dibalut jaket yang warnanya nabrak, atau tidak sesuai. Jadi, bukan merasa orang ketiga. Melainkan ba bu.
Anda Mungkin Juga Suka





