Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Alpha Rexton, I'm Not Your True Luna

Alpha Rexton, I'm Not Your True Luna

Amelie terjerat dalam rasa bersalah yang mendalam setelah tanpa sengaja menyerahkan kesuciannya kepada kekasih kakak angkatnya, Alpha Rexton, akibat pengaruh alkohol. Meski serigalanya meronta, ia memohon agar sang Alpha menolaknya demi melindungi Matilda, sosok yang telah merawatnya sejak kecil. Amelie rela menderita asalkan keluarga angkatnya tetap utuh. Namun, rahasia tentang takdir mate ini mengancam segalanya. Akankah hubungan mereka bertahan saat kebenaran terungkap?
Bab
Bagikan

Bab 1

Amelie's POV

"Eh, apa mereka berdua adalah kekasihmu?"

Aku tak sengaja melihat dua foto laki-laki yang berbeda dalam smartphone Matilda -- kakak angkatku. Kedua foto itu diambil dengan pose yang hampir sama, Matilda berdiri dengan laki-laki itu di sebelah kirinya, mereka tersenyum dan terlihat sangat bahagia.

"Letakkan smartphone-ku, Amelie. Kamu sudah mengusik privasi orang lain!"

"Aku iri padamu, kamu bisa mendapatkan satu atau dua laki-laki dengan hanya sekali mengedipkan sebelah mata. Huft, tidak maukah kamu berbagi satu di antara kedua laki-laki ini kepadaku?"

"Amelie, apa kamu tidak mendengar perkataanku tadi?!"

Amelie Chyntia adalah nama pemberian keluarga angkatku, aku tidak pernah tahu siapa nama dan keluargaku yang sebenarnya. Kata ibu, pada musim dingin dua pulus satu tahun yang lalu, pintu rumah ini diketuk dan aku sudah ada dalam keranjang bayi lengkap dengan sebuah pakaian dan secarik kertas yang sudah koyak. Meskipun aku bukan terlahir dari keluarga ini, namun aku tetap menganggap mereka keluarga, apalagi ibu yang sudah merawatku hingga dewasa.

"Jangan buka smartphone tanpa izin, Amelie, setiap orang butuh privasi!" Matilda melangkah mendekat dengan secangkir coklat di tangannya.

"All right, all right." Aku mengangguk remeh.

Bersamaan dengan itu, suara deru mobil mendekat dan berhenti di depan rumah. Melongok keluar dari jendela kamar kakak perempuanku, aku melihat sebuah mobil berwarna putih dengan beberapa orang di dalamnya.

Melihat mereka sudah datang, aku segera keluar dari kamar untuk menemui mereka dan pergi.

"Kamu mau ke mana, Amelie?!" teriak Matilda dari dalam kamar.

"Malam ini ada pesta reuni, aku harus pergi. Mungkin aku akan pulang nanti malam, jangan kunci pintunya, Matilda!" Aku terus berteriak sembari berlari.

Masuk ke dalam mobil, sudah ada tiga temanku di dalamnya. Aku duduk di sebelah Chesna, perempuan berpenampilan tomboy dengan rambut pendek berwarna ungu dengan gaya peek a boo. Sementara dua temanku yang lain adalah Gwendolyn yang suka bernyanyi sedang menyetir mobil dan Hailey yang duduk di sebelahnya dan tengah sibuk merias wajah.

Mobil perlahan kembali melaju membelah jalanan malam itu. Tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang, mungkin karena udara malam ini juga cukup dingin.

Suara musik menggema dalam sebuah ruangan yang dipandu oleh seorang DJ perempuan berkulit hitam, di sekitarnya orang-orang menikmati malam dengan cara mereka masing-masing.

"Kamu lihat pria di sana, dia sangat tampan!" ujar Chesna, jarang sekali ia memuji laki-laki tidak seperti yang terjadi malam ini.

Ketiga pasang mata yang lain menoleh ke arah yang sama. Mereka melihat seorang laki-laki yang tengah meneguk tequila. Ia mengenakan kemeja putih dengan tiga kancing paling atas yang terbuka membuatnya tampak hot dan sexy. Tidak hanya itu, kedua lengannya juga digulung ke atas memperlihatkan kedua tangan dengan otot yang kekar. Tatapan matanya tajam ke depan, ia nampak sangat menikmati minumannya.

"OMG, kamu benar, Chesna. Dia bahkan lebih baik daripada kekasihku," ujar Hailey, ia memang memiliki karakter seperti Matilda yang bisa menyukai banyak laki-laki dalam satu waktu.

"Sayang sekali, kita sudah punya pacar. Sepertinya ini giliran Amelie untuk mendapatkannya," ujar Gwendolyn, lirikan matanya menggodaku yang duduk di sebelah kirinya.

Aku meneguk segelas beer, lantas meletakkannya kasar di atas meja. "Tapi aku tidak mrasa tertarik dengannya, dia biasa-biasa saja."

Mereka bertiga terkekeh, sepertinya mereka sudah tahu dengan kebohonganku. Memang aku juga melihatnya sama seperti ketiga temanku yang lain, dia tampan, hot dan sexy, tapi apa mungkin aku bisa mendekatinya? Ah, pikiran macam apa ini!

Semakin malam bar semakin ramai, aku masih duduk bersama ketiga temanku saat orang-orang semakin banyak berdatangan.

Aku mengerjapkan mata kala pandangan mataku seketika buram. Sepertinya aku sudah cukup banyak menengguk minuman.

"Uhm, bagaimana jika kita bermain truth or dare?" Hailey memberikan usul.

"Itu menarik!"

Kami melakukan suit dan hasilnya adalah Gwendolyn yang pertama, aku kedua, kemudian disusul Hailey dan diurutan terakhir adalah Chesna.

"Truth or dare?" tanya Hailey.

"Um ... truth." Gwendolyn menjawab tegas.

"Biar aku yang bertanya," ujar Chesna. "Ceritakan pengalaman sex pertamamu."

Gwendolyn tersipu. "Tidak bisakah pertanyaan yang lain?"

"Tidak, dan kamu haru menjawabnya dengan jujur." Hailey mendukung penuh pertanyaan yang diberikan Chasne.

"Malam itu aku tidak menyangka jika dia akan melakukan itu, tapi sebenarnya aku juga sudah sangat menunggu. Itu adalah pengalaman yang menakjubkan! Sekarang setiap kali bertemu, kita selalu melakukannya."

"Uh ... betapa manisnya kalian," ujar Chasne, tersenyum puas. "Sekarang giliranmu, Amelie. Truth or dare?"

Terdiam beberapa saat, aku sangat memikirkannya dengan hati-hati. "Dare," jawabku yang tidak ingin diberikan pertanyaan aneh.

"Woah, kamu berani sekali, Amelie. Aku akan mempersilahkan Gwendolyn untuk memberikan dare kepadamu." Chasne mengangkat dagunya ke arah perempuan dengan kulit putih mulus itu.

"Dekati pria itu dan lakukan sex pertama kali dengannya."

Kedua mataku terbuka lebar, aku tidak menyangka jika mereka akan memberikan tantangan seperti ini kepadaku. Seketika aku menyesal, seharusnya aku tidak masalah jika menceritakam sesuatu secara jujur kepada mereka.

Melihat ke arah laki-laki itu sejenak, ia masih ada di sana sedang duduk sembari menundukkan kepala. Nampaknya ia sedang dalam masalah dan kedatanganku mungkin akan membuat suasana hatinya semakin buruk.

"Bukannya aku tidak berani, tapi lihatlah, dia sepertinya sedang berada dalam masalah besar."

"Kamu tidak bisa beralasan apapun, Amelie." Gwendolyn menggelengkan kepala.

"Yes, kamu sendiri yang memilih dare," ujar Chasne menambahi.

"Kamu harus melakukannya, tidak ada hal lain yang harus kamu lakukan, kamu hanya perlu memintanya untuk sex denganmu. Jika dia menolak, itu bukan masalah. Jika dia menerima, kamu harus melanjutkan tantangan dari kami sampai selesai." Hailey memberi arahan. "Ayolah, jangan pesimis terlebih dahulu. Kamu harus mencobanya, kamu harus tahu betapa cantiknya kamu, Amelie."

Tidak bisa lagi menolak, aku beranjak. Pandanganku seketika berubah samar, namun saat mataku mengerjap aku bisa kembali memfokuskan pandanganku.

Langkah kakiku semakin mendekat, bersamaan dengan itu degup jantungku juga kian berdetak tak karuan.

Semakin dekat, aku bisa melihat sepasang mata hijaunya yang menenangkan. Dia melihat ke arahku, lalu tersenyum dengan salah satu sudut bibirnya saja.

"H--hai," ujarku canggung. "Bisakah aku duduk di sini."

Seulas senyum terlihat pada wajahnya. "Tentu." Ia sedikit menggeser tubuhnya.

"Thank you," ujarku yang lantas duduk. "Ehm, kamu terlihat begitu tampan."

Aku bisa merasakan jika ia tersipu. Senyuman kembali hadir di wajahnya, ia mengusap tengkuk lehernya dan meletakkan tangannya di belakangku.

Perlahan wajahnya mendekat hingga hembusan nafasnya yang dingin bisa terasa di wajahku. "Kamu juga cantik, Mrs. Pinky."

Seketika aku baru menyadari semua yang melekat di tubuhku berwarna pink. Dress yang aku kenakan memiliki warna pink, begitu juga dengan sepatu dan aksesoris yang lain.

Tangannya yang lain melingkar di bagian depan tubuhku sehingga aku seperti berada dalam kurungannya. Jarak kita semakin dekat dan aku bisa merasakan bibirnya yang mulai menyentuh bibirku.

"Uhmm, Mr. Maskulin aku mendapat tantangan untuk--."

"Aku tahu, bagaimana jika kita memesan kamar hotel untuk malam ini, Mrs. Pinky?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Benua terkutuk kini menjadi neraka akibat perdagangan manusia dan penindasan kejam bagi yang lemah. Demi mengakhiri penderitaan ini, para dewa mengutus Dewi Kematian untuk membasmi kejahatan di sana. Namun, sebuah insiden fatal saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Sang dewi justru terlahir kembali sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Mampukah ia menjalankan misi sucinya dan menyelamatkan mereka yang tertindas tanpa kekuatan dewa?
Sampul Novel Aku Enggak Siap Dengan Perasaan Ini
8.4
Dunia Shiloh Jung runtuh saat bisnisnya hancur dan sang mantan menikah. Sang ayah lalu mengirimnya berlibur ke luar negeri demi memulihkan diri. Di sana, ia bertemu Edward Leung yang misterius. Mereka sepakat menjelajahi Rusia sebagai kekasih tanpa mengungkap identitas asli, sambil berjanji akan bersatu jika takdir mempertemukan mereka lagi. Namun, setahun kemudian Edward justru bersikap seolah tidak mengenal Shiloh. Rahasia besar apa yang sebenarnya ia simpan?
Sampul Novel Bukan Teman Tapi Sekamar?
8.4
Amanda, sosialita kaya raya yang sombong, terjebak dalam masalah besar setelah menyetujui syarat ayahnya. Ia terbangun di pulau terpencil bersama Senja, pria dingin yang tak ia kenal. Keduanya terpaksa tinggal serumah demi misi reality show televisi dengan tujuan berbeda. Amanda yang manja membuat Senja kewalahan, sementara ketus pelayan itu membuat Amanda frustrasi. Di tengah konflik kepribadian yang kontras, mampukah mereka bertahan di lingkungan yang asing?
Sampul Novel GAIRAH PEREMPUAN NAGA
8.1
Koh Ho Ming yakin bahwa Diandra, putri dari asisten rumah tangganya, adalah reinkarnasi legendaris Perempuan Naga. Sejak belia, gadis yatim piatu ini menunjukkan tanda-tanda sebagai titisan Dewi Kesayangan Langit dengan kekuatan spiritual besar. Diandra harus berjuang melewati berbagai tragedi dan ujian hidup demi meraih kesuksesan. Kisahnya penuh rintangan rumit, berpadu dengan romansa mendalam serta sisi erotis yang mewarnai perjalanan takdirnya.
Sampul Novel Intuition
9.4
Hanna dituduh menghabisi nyawa orang tuanya sendiri saat berusia sembilan tahun hingga harus mendekam di penjara anak. Setelah sepuluh tahun berlalu, ia berhasil melarikan diri dan bertahan hidup di jalanan yang keras. Pertemuan tak terduga dengan teman lama membawanya masuk ke dalam sebuah komplotan demi menuntaskan dendam masa lalu. Namun, rencana itu goyah saat Hanna justru jatuh cinta pada putra dari sosok yang telah menghancurkan hidup keluarganya.
Sampul Novel Istri Dari Masa Depan
8.2
Pasca terjatuh dari tangga, Li Mei terbangun di rumah reyot yang asing. Alih-alih di rumah sakit, ia justru mendapati Bai Changyi, pria tampan yang mengaku sebagai suaminya, bersiap menceraikannya karena menyangka Li Mei mencoba bunuh diri. Meski bingung, Li Mei menolak berpisah dan memilih bertahan demi ambisinya. Di era kuno ini, mampukah ia mengubah nasib dan mewujudkan impian menjadi pengusaha kaya raya bersama suaminya yang penuh rahasia?