
Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
Bab 2
Malam itu hujan turun lagi, seperti malam pertama kali Lina berteduh di rumah Damar. Tapi kali ini, suasananya berbeda. Lina duduk di tepi ranjang, memandangi suaminya yang tertidur dengan dengkuran halus. Lampu kamar redup, hanya sinar tipis dari luar yang menembus celah jendela.
Di ponselnya, pesan dari Damar masuk.
Damar: "Aku nggak bisa tidur, Lin. Kepikiran kamu terus."
Lina: "Mas Damar, jangan kirim pesan malam-malam begini. Randi bisa lihat."
Damar: "Dia kan tidur. Aku cuma pengin bilang, aku kangen."
Lina menatap layar ponsel cukup lama, lalu mengetik balasan dengan tangan gemetar.
Lina: "Aku juga kangen."
Begitu pesan terkirim, dadanya berdebar keras. Ia tahu ini salah, tapi hatinya seperti dikendalikan oleh sesuatu yang lebih kuat dari logika. Ia meletakkan ponsel di bawah bantal, lalu berbaring menghadap dinding, mencoba memejamkan mata. Tapi matanya tak kunjung bisa tertutup.
Keesokan paginya, Lina bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan seperti biasa, menyeduh kopi untuk Randi, lalu menyiapkan bekal nasi dengan sambal dan telur goreng. Randi makan tanpa banyak bicara, hanya sesekali melirik televisi yang menyiarkan berita pagi.
"Mas," kata Lina perlahan, "besok ada rapat orang tua di sekolah anak. Aku mau datang, ya?"
Randi menatapnya sekilas. "Datang aja. Tapi jangan minta uang lagi. Aku belum gajian."
Lina mengangguk pelan. "Iya, Mas. Aku ngerti."
Setelah Randi pergi, Lina duduk di kursi ruang tamu. Ia menatap pintu yang baru saja ditutup suaminya. Perasaannya hampa, seperti rumah itu kehilangan kehidupan setiap kali Randi keluar.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara pesan masuk. Ponselnya bergetar di atas meja. Dari Damar.
"Aku lewat depan rumah sebentar, Lin. Ada yang mau aku kasih."
Lina menatap pesan itu dengan jantung berdetak cepat. Ia menoleh ke arah jendela, lalu berdiri dan keluar pelan-pelan.
Damar sudah berdiri di luar pagar, mengenakan seragam kerjanya yang bersih dan rapi. Di tangannya, ada bungkusan plastik putih.
"Ini buat anak-anak," katanya sambil menyerahkan bungkusan itu. "Sedikit susu dan roti. Tadi kantor bagi sembako."
Lina menerima bungkusan itu dengan gugup. "Aduh, Mas, repot-repot banget."
"Bukan repot, Lin. Aku cuma pengin bantu. Aku tahu kamu sering kesulitan."
Lina menunduk, menatap bungkusan itu lama. "Aku nggak mau orang salah paham, Mas. Rumah kita kan deket banget."
Damar tersenyum samar. "Kalau orang mau salah paham, apa pun yang kita lakuin bakal salah. Aku cuma pengin lihat kamu senyum."
Lina menatap wajahnya. Ada sesuatu di mata Damar yang membuatnya merasa aman - sekaligus takut. Aman, karena Damar memberinya perhatian yang tulus. Takut, karena perhatian itu makin lama makin dalam, makin berbahaya.
"Terima kasih, Mas," bisik Lina akhirnya.
Damar hanya mengangguk, lalu melangkah pergi. Tapi langkahnya pelan, seolah enggan menjauh.
Hari-hari berikutnya, hubungan mereka makin tak terkendali. Mereka mulai bertemu diam-diam di ujung gang, di bawah pohon mangga besar yang sepi. Kadang hanya untuk berbicara, kadang untuk sekadar duduk berdua dalam diam. Tapi setiap pertemuan itu membuat batas moral di dalam diri mereka semakin kabur.
"Mas, kalau Rina tahu gimana?" tanya Lina suatu sore.
Damar menghela napas panjang. "Rina sibuk terus, Lin. Dia kerja dari pagi sampai malam. Aku bahkan jarang makan bareng dia. Kadang aku berpikir, pernikahan kami cuma soal kewajiban. Nggak ada hangatnya lagi."
Lina menatap tanah. "Aku juga kadang ngerasa begitu sama Randi. Tapi tetap aja, Mas, ini nggak benar."
"Yang benar itu apa?" Damar menatapnya dalam. "Kalau dua orang sama-sama terluka, tapi cuma bisa sembuh kalau saling nyamperin, apa itu salah?"
Lina tak bisa menjawab. Ia tahu Damar pandai bicara. Tapi di lubuk hatinya yang terdalam, ia tak bisa menolak logika lembut dari kata-kata itu. Ia tahu ia sedang jatuh, dan tidak ada lagi pijakan untuk kembali berdiri.
Sementara itu, Rina mulai memperhatikan perubahan pada suaminya. Damar lebih sering merapikan diri sebelum berangkat kerja. Parfumnya lebih wangi, bajunya selalu disetrika rapi, dan ia sering memeriksa ponsel dengan wajah penuh rahasia.
Suatu malam, Rina menatapnya dari pintu kamar.
"Mas, belakangan kamu sibuk banget. Sering pulang malam juga. Emang kerjaan tambah banyak?"
Damar menoleh cepat. "Iya, banyak lembur. Lagi ada proyek besar."
Rina mengangguk, tapi matanya menyipit sedikit. "Oh gitu. Tapi proyeknya kok kayaknya deket banget, ya? Soalnya aku sering lihat kamu lewat depan rumah Bu Lina."
Damar terdiam sepersekian detik sebelum tertawa kecil. "Lah, kan rumah dia searah jalan ke proyek. Masa aku muter cuma buat nggak lewat situ?"
Rina tersenyum tipis. "Iya juga sih." Tapi dalam hatinya, benih curiga sudah tumbuh.
Sementara itu, Lina pun merasakan hal serupa di rumahnya. Randi mulai lebih pendiam dari biasanya. Kadang matanya menatap tajam tanpa alasan. Ia tak pernah menuduh, tapi sikapnya seperti menyimpan pertanyaan yang belum diucapkan.
Suatu malam, ketika Lina sedang mencuci piring, Randi mendekat pelan. "Lin, akhir-akhir ini kamu sering keluar siang, ya?"
Lina tertegun. "Enggak, Mas. Paling ke warung."
"Warungnya jauh banget, ya?" nada Randi dingin. "Soalnya tadi aku lihat kamu di ujung gang, sama Damar."
Lina berhenti mencuci. Air keran masih mengalir. Suara itu terdengar menekan di telinganya. Ia menatap Randi dengan wajah pucat.
"Mas... itu cuma kebetulan. Aku mau beli sayur, terus dia lewat."
Randi menatapnya lama, kemudian menghela napas berat. "Aku nggak mau nuduh, Lin. Tapi hati-hati. Orang bisa ngomong apa aja. Nama baik perempuan gampang banget rusak."
Lina menunduk, menahan air mata. "Aku ngerti, Mas."
Tapi setelah Randi masuk kamar, ia bersandar di dinding dapur dan menangis diam-diam. Bukan karena takut, tapi karena merasa tertangkap basah di tengah kebohongan yang sudah terlalu dalam.
Beberapa hari kemudian, Lina dan Damar memutuskan untuk berhenti bertemu sementara. Damar mengusulkan itu demi kebaikan keduanya, agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih jauh. Tapi keputusan itu justru membuat keduanya semakin merana.
Tanpa disadari, perasaan yang dulu hanya sebatas kasihan, kini berubah menjadi kebutuhan. Mereka merindukan satu sama lain dengan cara yang menyakitkan.
Suatu sore, Damar mengirim pesan.
"Aku nggak kuat, Lin. Rasanya hampa tanpa kamu."
"Mas, jangan begini. Kita udah sepakat buat jaga jarak."
"Aku tahu. Tapi aku cuma pengin lihat kamu sebentar aja. Di ujung gang, 5 menit aja."
Lina menatap layar ponsel lama sekali. Hatinya berperang. Tapi pada akhirnya, ia menyerah.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah berdiri berhadapan di bawah pohon mangga besar, tempat biasa mereka bertemu dulu. Damar menatapnya dengan mata yang penuh kerinduan.
"Aku nyesel udah janji berhenti ketemu," katanya lirih. "Soalnya tiap hari tanpa kamu kayak mimpi buruk."
"Mas..." suara Lina bergetar. "Kita nggak bisa terus begini. Aku takut semuanya kebongkar."
"Kalau kebongkar, aku tanggung semuanya," ujar Damar cepat. "Aku yang salahin diri sendiri. Aku yang minta maaf ke Randi, ke Rina. Asal kamu jangan ninggalin aku."
Lina menggeleng cepat, air matanya menetes. "Mas jangan ngomong gitu. Jangan rusak semuanya."
Tapi Damar justru memegang tangannya, hangat dan kuat. "Aku nggak peduli apa kata orang, Lin. Aku cuma peduli kamu bahagia."
Lina tak bisa menjawab. Ia hanya menangis pelan, sementara jari-jari mereka masih saling menggenggam dalam gelap yang nyaris menelan semuanya.
Keesokan harinya, Rina memutuskan untuk datang ke rumah Lina. Ia mengetuk pintu dengan wajah tenang, tapi matanya dingin. Lina sempat terkejut melihat kedatangannya.
"Oh, Bu Rina. Ada apa ya?" tanyanya dengan senyum gugup.
Rina menatapnya dari atas ke bawah, lalu berkata pelan, "Saya cuma mau ngasih tahu, Bu Lina. Hati-hati kalau bicara sama suami saya. Soalnya saya nggak suka lihat orang lain terlalu ramah sama dia."
Nada suaranya tenang, tapi tajam. Lina terpaku, jantungnya berdegup kencang.
"Bu Rina, saya nggak maksud apa-apa. Saya sama Mas Damar cuma-"
Rina mengangkat tangan. "Saya nggak butuh penjelasan. Saya cuma peringatin aja. Kadang perempuan suka lupa batas, apalagi kalau suaminya jarang di rumah."
Kalimat itu membuat Lina merasa pipinya terbakar. Rina kemudian berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.
Begitu pintu tertutup, Lina jatuh terduduk di lantai. Tangannya menutup wajah. Air mata mengalir tanpa bisa dibendung.
"Ya Tuhan..." bisiknya. "Aku udah keterlaluan."
Sejak hari itu, Lina benar-benar menjaga jarak. Ia menghindari Damar, bahkan memblokir nomor teleponnya. Tapi Damar tidak menyerah. Ia menunggu di ujung gang, mengirim surat kecil lewat anak-anak tetangga, bahkan sempat meninggalkan bunga di depan rumah Lina.
Randi, yang menyadari perubahan suasana di sekitar rumah, semakin curiga. Suatu malam, ia memergoki Lina sedang membaca selembar kertas kecil di dapur. Ketika ia datang mendekat, Lina buru-buru menyembunyikannya.
"Apaan itu?" suara Randi pelan tapi tajam.
"Cuma catatan belanja, Mas," jawab Lina gugup.
Randi menarik tangan istrinya, mengambil kertas itu. Isinya tulisan tangan:
"Aku cuma pengin kamu tahu, aku masih nunggu. Aku nggak bisa berhenti sayang sama kamu."
Wajah Randi memucat, lalu memerah. Tangannya bergetar saat menggenggam kertas itu.
"Ini... tulisan siapa?" suaranya serak menahan emosi.
"Mas, aku bisa jelasin-"
"JELASIN APA?!" bentak Randi hingga suara pecah di ruang sempit itu. "Selama ini kamu selingkuh sama siapa? Damar, ya?!"
Lina menangis, mencoba menjelaskan, tapi suaminya sudah terlalu marah untuk mendengar.
"Mas, aku khilaf... aku cuma butuh diperhatiin, Mas... aku capek hidup miskin, aku-"
Tamparan keras mendarat di pipi Lina. Ia terhuyung, hampir jatuh. Randi memandangnya dengan mata merah penuh amarah dan luka.
"Kamu malu-maluin aku, Lin. Aku kerja banting tulang tiap hari buat keluarga, tapi kamu malah jual diri buat kenyamanan!"
"Mas, jangan ngomong gitu..." Lina terisak, memegang pipinya yang memerah.
Tapi Randi tak menjawab. Ia berbalik, membanting pintu kamar, dan meninggalkan Lina sendirian di dapur yang gelap.
Lina jatuh berlutut, menangis sejadi-jadinya. Ia tahu, semuanya sudah hancur. Tak ada lagi yang bisa diperbaiki.
Malam itu, Lina duduk di depan rumah dengan mata bengkak. Dari jauh, Damar datang mendekat, tapi langkahnya tertahan melihat wajah Lina yang penuh air mata.
"Lin... apa yang terjadi?" suaranya bergetar.
"Mas, semuanya udah berakhir," jawab Lina dengan suara parau. "Randi tahu. Dia baca suratmu."
Wajah Damar berubah tegang. "Aku... aku minta maaf. Aku nggak tahu bakal separah ini."
Lina menatapnya dengan air mata mengalir lagi. "Kita udah salah dari awal, Mas. Aku udah hancurin rumah tanggaku sendiri. Jangan temuin aku lagi. Tolong..."
Damar menatapnya lama, kemudian mengangguk dengan mata basah. "Kalau itu yang kamu mau..."
Ia melangkah pergi, perlahan, di bawah sinar lampu jalan yang temaram. Hujan kembali turun rintik-rintik, dan Lina hanya bisa menatap punggungnya menghilang di ujung gang.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa sendirian.
Malam semakin larut. Lina kembali masuk ke rumah, menatap sekeliling-dinding kusam, meja reyot, dan sisa kopi Randi di atas meja. Semua tampak sama, tapi suasananya sudah berubah selamanya.
Ia menatap bayangannya sendiri di kaca jendela, wajah dengan bekas air mata dan pipi merah.
"Ini harga dari semua yang aku kejar..." bisiknya lirih. "Sedikit perhatian, tapi kehilangan semuanya."
Dan malam itu, Lina akhirnya menyadari, kadang kemiskinan bukan alasan untuk berbuat salah. Karena tidak ada kenyamanan yang bisa menebus kehancuran sebuah kepercayaan.
Anda Mungkin Juga Suka





