Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan

Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan

Lina terjebak dalam kemiskinan bersama Randi, kuli bangunan yang memberinya uang belanja minim. Di tengah kesulitan ekonomi dan sifat keras kepala suaminya, Lina mulai berpaling pada Damar, tetangga mapan yang memberikan perhatian serta materi lebih. Meski kini kebutuhan hidupnya tercukupi secara sembunyi-sembunyi, perasaan bersalah mulai menghantui Lina saat melihat pengorbanan Randi. Ia pun bimbang antara memilih keadilan hidup atau kesetiaan pada pernikahan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari itu hujan turun deras sejak siang. Suara rintiknya menimpa atap seng rumah Lina dengan ritme yang membuat suasana semakin muram. Di dapur, Lina duduk memandangi panci berisi nasi sisa kemarin. Uap air mendidih dari teko di kompor gas kecil memenuhi udara lembap ruangan itu. Ia menghela napas panjang. Sejak pagi, Randi belum pulang dari proyek, katanya sedang lembur. Tapi entah mengapa, Lina merasa justru bersyukur. Setidaknya, ia bisa sedikit tenang tanpa mendengar ocehan suaminya yang selalu menyalahkan keadaan.

Raka, anak bungsunya yang berusia lima tahun, menarik ujung daster ibunya. "Bu, lapar..." ucapnya pelan dengan mata polos.

Lina menatap wajah kecil itu, menahan air mata yang tiba-tiba menggenang. "Iya, Nak. Ibu masak dulu, ya. Nanti makan hangat-hangat," katanya lembut sambil menyalakan kompor.

Di saat seperti itu, bayangan Damar tiba-tiba muncul di benaknya. Lelaki itu datang seminggu lalu membawa beberapa bahan makanan - minyak goreng, gula, dan bahkan sekilo daging ayam. Katanya, itu hanya titipan. Tapi Lina tahu, itu bukan titipan. Itu bantuan, atau lebih tepatnya, bentuk perhatian dari seseorang yang diam-diam telah membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

"Kenapa dia harus sebaik itu..." gumam Lina sambil memotong bawang. Matanya pedih, entah karena bawang atau karena rasa bersalah yang makin berat.

Hujan makin deras. Angin malam membawa hawa dingin, dan dari sela jendela, Lina bisa melihat samar-samar lampu rumah Rina dan Damar masih menyala. Suara musik lembut terdengar, disusul tawa kecil. Entah mengapa, dada Lina terasa nyeri mendengarnya. Ada rasa iri yang tak bisa ia jelaskan-bukan karena Rina memiliki kehidupan yang lebih mapan, tapi karena Rina memiliki suami yang perhatian, sopan, dan lembut.

Dan ironisnya, justru pria itulah yang kini mulai mendekatinya.

Pukul delapan malam. Randi akhirnya pulang, tubuhnya basah kuyup oleh hujan. Tanpa bicara banyak, ia langsung melempar sandal ke dekat pintu, menaruh helm di atas meja, lalu duduk di kursi kayu dengan wajah masam.

"Gimana, Yah, udah makan?" tanya Lina hati-hati sambil menyiapkan piring nasi.

"Belum. Tapi nggak usah banyak-banyak. Uang tinggal sedikit," jawabnya datar.

Lina menunduk. "Tadi Lina masak ayam. Ada tetangga yang ngasih, katanya kelebihan beli."

Randi menatapnya curiga. "Tetangga? Siapa?"

Lina tercekat. "E... Bu Rina," jawabnya cepat.

Randi mendengus. "Orang kaya itu memang suka pamer. Hati-hati aja, Lin. Jangan keseringan bergaul sama mereka, nanti kamu malah minder sendiri."

Lina diam. Ia tahu Randi bukan bermaksud jahat, tapi rasa rendah dirinya sering membuatnya sinis terhadap orang lain. Dalam diam, Lina menatap punggung suaminya yang lelah. Ia tahu, pria itu bekerja keras, tapi entah mengapa, semua terasa begitu jauh. Tidak ada kelembutan. Tidak ada sentuhan. Yang ada hanya rasa tanggung jawab yang kering dan dingin.

Malam itu, mereka makan tanpa banyak bicara. Hanya suara hujan yang menemani. Di luar, petir menyambar sesekali, dan Lina diam-diam berharap-seandainya hidupnya bisa berubah, walau hanya sedikit.

Keesokan paginya, matahari muncul malu-malu di balik awan. Lina tengah menjemur pakaian ketika suara motor berhenti di depan rumah. Ia menoleh. Damar turun dari motornya, masih mengenakan seragam dinas. Wajahnya tampak segar, senyum itu-senyum yang sama seperti pertama kali pria itu menyapanya.

"Pagi, Bu Lina," sapa Damar ramah.

"Oh, pagi, Pak Damar," jawab Lina cepat, jantungnya berdetak tak karuan.

"Saya lewat aja, mau ke gardu belakang. Ada kabel putus. Tapi sekalian, ini ada sedikit titipan," ucapnya sambil mengeluarkan bungkusan dari tas motor.

Lina menatap bingung. "Titipan apa, Pak?"

"Cuma roti, kok. Istri saya tadi buat kebanyakan, katanya kalau dibagi-bagi nggak apa-apa," ujar Damar sambil tersenyum.

Lina menerima bungkusan itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, ya, Pak."

Pandangan mereka bertemu beberapa detik-terlalu lama untuk sekadar tetangga. Ada sesuatu yang tak terucap, sesuatu yang menggantung di udara. Damar akhirnya mengangguk pelan dan beranjak pergi. Tapi sebelum benar-benar menjauh, ia menoleh sekali lagi. Tatapan itu membuat Lina hampir kehilangan napas.

Sore harinya, Lina duduk di teras rumah sambil memandangi halaman. Di tangannya, secangkir kopi yang mulai dingin. Rina lewat membawa kantong belanjaan dan sempat melambaikan tangan.

"Halo, Lin! Sempet bantuin Damar tadi, ya? Dia cerita tadi ke aku, katanya kamu baik banget," ucap Rina ceria.

Lina tersenyum kaku. "Oh... nggak, cuma ngobrol sebentar aja."

Rina tertawa. "Syukurlah. Damar itu kadang kalau kerja suka kebanyakan ngomong. Aku suka khawatir dia ganggu orang."

Lina memaksakan tawa. "Nggak, kok. Baik orangnya."

Setelah Rina berlalu, senyum di wajah Lina hilang. Ada perasaan bersalah yang semakin menusuk. Ia tahu, semua ini salah. Tapi di sisi lain, setiap kali melihat Damar, ada kehangatan yang sulit dijelaskan-sesuatu yang tak pernah ia dapat dari Randi.

Beberapa minggu berlalu. Hubungan Lina dan Damar makin intens, tapi tetap tersembunyi di balik batas-batas samar. Mereka tidak pernah melakukan hal yang terlalu jauh, tapi kedekatan batin itu makin dalam. Pesan-pesan singkat di ponsel, tatapan curi-curi, dan sesekali bantuan kecil yang membuat hidup Lina terasa lebih ringan.

Namun, rasa nyaman itu mulai berubah menjadi candu.

Suatu sore, Randi pulang lebih awal. Ia menemukan Lina sedang menatap layar ponsel sambil tersenyum. "Kamu senyum-senyum sendiri kenapa?" tanyanya curiga.

Lina tersentak. "Nggak... nggak apa-apa. Tadi Rina kirim pesan, katanya mau arisan minggu depan."

"Rina? Atau Damar?" suara Randi meninggi, matanya tajam.

Lina kaget. "Kok kamu ngomong gitu, sih?"

Randi menatapnya lama, lalu berdiri. "Aku cuma peringatkan. Aku tahu kamu mulai banyak omong sama laki-laki itu. Hati-hati, Lin. Aku bukan orang sabar kalau udah merasa dikhianati."

Kata-kata itu menghantam keras. Lina terdiam, tak berani membalas. Dalam hatinya, ada ketakutan-bukan hanya karena ucapan Randi, tapi karena sebagian dari dirinya tahu, ada sedikit kebenaran di balik tuduhan itu.

Malam itu, Lina menangis diam-diam di kamar. Randi sudah tertidur lelap, tapi pikirannya terus berputar. Ia merasa seperti perempuan berdosa, tapi juga korban keadaan. Ia ingin berhenti, tapi tak tahu bagaimana. Damar terlalu baik, terlalu penuh perhatian-dan hatinya sudah terlanjur goyah.

Beberapa hari kemudian, Rina mengundang Lina untuk datang membantu menyiapkan acara ulang tahun anaknya. Di rumah besar itu, Lina disambut hangat. Rina sibuk di dapur, sementara Damar tengah memperbaiki dekorasi di ruang tamu.

"Boleh bantuin, Pak?" tanya Lina pelan.

Damar menoleh dan tersenyum kecil. "Boleh, tapi hati-hati ya, nanti kalau Rina lihat kita terlalu dekat, bisa curiga."

Lina menunduk, pipinya memanas. "Saya cuma bantu, kok."

Damar mendekat sedikit. "Lina... kamu nggak usah takut. Aku tahu semua ini salah, tapi aku juga nggak bisa bohong soal perasaan aku."

Kata-kata itu membuat Lina terpaku. Dunia seolah berhenti berputar. Ia ingin berkata sesuatu, tapi tenggorokannya kering. Saat itu juga, langkah kaki Rina terdengar dari dapur.

"Damar! Lina! Kue ulang tahunnya udah siap!" teriaknya riang.

Mereka berdua segera menjauh, pura-pura sibuk merapikan meja. Tapi dalam hati, Lina tahu-batas itu sudah semakin kabur.

Malam menjelang. Setelah acara usai, Lina berpamitan pulang. Damar mengantarnya sampai halaman. Lampu teras rumah Rina redup, hanya menyisakan cahaya samar.

"Terima kasih udah bantu hari ini," ujar Damar pelan.

"Sama-sama," jawab Lina singkat.

Hening beberapa detik. Hanya suara jangkrik yang terdengar. Lalu tiba-tiba, Damar menggenggam tangan Lina. Sentuhan itu hangat, membuat napasnya tercekat.

"Lina, kalau suatu hari kamu butuh tempat buat cerita... aku ada," katanya lirih.

Lina ingin menarik tangannya, tapi tak sanggup. Ada sesuatu di dalam dirinya yang justru menolak melepaskan genggaman itu. Tapi sebelum sempat menjawab, dari arah rumahnya terdengar suara keras - Randi memanggil.

"Lina! Kamu di mana?!"

Lina langsung melepaskan tangannya dan berlari tergesa. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena takut ketahuan, tapi karena ia sadar... ia baru saja melangkah terlalu jauh.

Dari kejauhan, Damar masih berdiri memandangi punggung Lina yang menghilang di balik pagar. Hujan rintik-rintik mulai turun lagi malam itu, seolah langit pun tahu ada sesuatu yang akan pecah di antara mereka.

Lina tidak bisa tidur malam itu. Kata-kata Damar terngiang terus di kepala. "Kalau kamu butuh tempat cerita, aku ada." Sesederhana itu, tapi terasa menembus relung hatinya yang paling dalam. Ia teringat betapa lama ia tidak mendengar kalimat sehangat itu dari suaminya sendiri.

Namun di sisi lain, rasa bersalah menekan dadanya. Ia tahu, Damar bukan miliknya. Ia tahu, Rina tak pantas dikhianati. Tapi semakin ia berusaha menjauh, semakin kuat pula tarikan perasaan itu.

"Ya Tuhan... apa yang sudah aku lakukan?" bisiknya pelan di tengah gelap.

Di kamar sebelah, Randi tertidur lelap, mendengkur pelan. Lina memandang suaminya dengan mata basah. Ia tahu, Randi mungkin tak sempurna, tapi dulu pria itulah yang pertama membuatnya merasa dicintai. Kini, semua seolah berubah menjadi rutinitas tanpa makna.

Hujan turun lagi di luar sana. Dalam suara rintiknya, Lina tahu-hidupnya tak akan pernah sama lagi.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa sesuatu yang berbahaya sedang tumbuh di hatinya. Sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Pagi itu, udara di sekitar rumah Lina terasa lebih berat dari biasanya. Hujan semalam meninggalkan sisa embun di dedaunan dan jalanan yang basah licin. Lina duduk di teras, menatap cangkir kopi yang mulai mendingin, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi hatinya tak pernah tenang sejak malam itu. Setiap kali ia mengingat tatapan Damar semalam, dadanya berdegup tak karuan.

Ia tahu, pertemuan singkat itu mungkin terlihat sepele, tapi bagi hatinya, itu ibarat percikan api di tengah tumpukan jerami kering.

Di dapur, Randi sedang menyiapkan sarapan sederhana. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan. Tapi Lina tidak berani menatapnya. Ia takut kalau Randi menangkap perasaannya, atau lebih buruk lagi, kecurigaannya.

“Lina, ini roti untukmu,” kata Randi sambil meletakkan piring di depannya.

Lina mengangguk pelan. “Makasih, Mas,” jawabnya datar.

Suasana pagi itu sunyi, kecuali suara tikus-tikus kecil yang berkeliaran di dapur tua mereka. Lina menelan ludah. Ia tahu, hari ini akan menjadi hari yang panjang.

Di sisi lain gang, Damar tengah sibuk memeriksa kabel listrik yang putus akibat hujan semalam. Tangannya kotor, basah, tapi matanya sesekali melirik ke arah rumah Lina. Ia tahu, Lina sudah pulang dari sekolah anak-anaknya, tapi ia masih ingin memastikan keadaan.

“Kenapa hati ini nggak bisa tenang kalau nggak liat dia?” gumam Damar pelan.

Ia sadar, rasa ini semakin tak terkendali. Setiap kali Lina ada di dekatnya, dunia terasa berbeda. Hangat, lembut, dan menenangkan—sesuatu yang tidak pernah ia rasakan di rumah sendiri. Rina… istrinya, baik, tapi dingin. Sejak awal pernikahan, Rina terlalu sibuk dengan pekerjaan dan gaya hidupnya. Damar tahu, cinta mereka bukan lagi seperti dulu. Tapi yang salah adalah hatinya yang mulai melanggar batas.

Sementara itu, di rumah Lina, Randi mulai merasa ada sesuatu yang janggal. Ia menyadari perubahan sikap Lina belakangan ini: senyumnya lebih jarang, matanya sering menatap jauh, dan terkadang ia terdengar menahan tangis.

Pukul sepuluh pagi, Randi duduk di ruang tamu, menatap ponsel Lina yang tertinggal di meja. Ia tahu itu salah, tapi rasa curiga menuntunnya. Ia membuka layar kunci, dan jantungnya hampir berhenti saat melihat deretan pesan yang belum terbaca.

Pesan dari Damar.

“Aku rindu kamu.”

“Aku cuma ingin melihatmu sebentar.”

“Besok aku lewat rumahmu, Lin. Jangan khawatir.”

Randi menutup ponsel itu dengan tangan gemetar. Wajahnya merah, dadanya panas. Ia tahu, perasaannya campur aduk: marah, kecewa, bahkan hancur. Semua yang ia kerjakan untuk keluarga ini seolah sia-sia.

Randi berdiri dan menatap pintu rumah, bayangan Lina yang keluar kemarin siang terbayang jelas di matanya. Ia tahu, ia harus menghadapi kenyataan itu. Tapi hatinya tak siap.

Sore harinya, Lina memutuskan untuk pergi ke pasar membeli kebutuhan mingguan. Dengan payung kecil, ia berjalan di antara genangan air, mencoba menjaga wibawa agar tidak basah kuyup. Tapi dari kejauhan, Damar melihatnya. Tanpa sadar, ia mengikuti dari jarak jauh, memastikan Lina aman dari hujan.

“Kenapa aku nggak bisa berhenti mikirin dia?” gumam Damar, menatap Lina yang tampak sibuk memilih sayuran.

Di pasar itu, Lina bertemu dengan tetangga lain, Bu Yuni, yang terkenal cerewet.

“Hai, Lin. Lama nggak ketemu,” sapa Bu Yuni sambil menatap keranjang belanja Lina. “Eh, belanjaannya banyak banget, ya? Lagi rajin banget nih?”

Lina tersenyum kaku. “Iya, Bu. Lagi banyak keperluan.”

Tapi Bu Yuni menatapnya tajam. “Hati-hati, Lin. Dengar-dengar kamu sering dekat sama Damar ya? Jangan sampai… gitu lho, rumah tangga sendiri rusak.”

Lina terpaku. “Ah… nggak, Bu. Kami kan cuma tetangga biasa.”

Bu Yuni hanya tersenyum tipis, tapi tatapannya seperti menyelidik. “Kalau kamu bilang begitu… semoga aja, ya. Tapi hati-hati, Lin. Dunia kecil ini cepat banget gosipnya.”

Lina menelan ludah, perasaan tidak nyaman merayap ke dada. Kata-kata Bu Yuni membuat hatinya semakin gelisah. Ia tahu, rahasia ini tidak bisa selamanya tersembunyi.

Malam itu, hujan turun lagi, deras. Lina duduk di kamar sambil menatap anak-anak yang tertidur. Raka tidur di pangkuannya, sementara kakaknya, Nisa, sudah terlelap di ranjang samping. Ia mencoba menenangkan diri, menahan tangis yang ingin pecah.

Tiba-tiba, ponsel bergetar. Pesan dari Damar.

“Aku di luar. Mau ngobrol sebentar.”

Lina menatap layar, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, ini berisiko. Tapi hatinya tetap ingin melihatnya. Ia mengenakan mantel tipis dan membuka pintu dengan hati-hati.

Damar berdiri di bawah sinar lampu jalan. Hujan menetes di rambutnya, tapi senyum itu masih sama, menenangkan.

“Kenapa datang?” tanya Lina hati-hati.

“Cuma pengen lihat kamu. Hati aku nggak tenang kalau nggak tau kamu baik-baik aja,” jawab Damar.

Lina menelan ludah. “Mas, kita nggak bisa terus gini. Kalau ketahuan, semua bakal hancur.”

“Tapi aku nggak bisa berhenti. Aku nggak bisa pura-pura nggak peduli sama kamu,” ujar Damar lirih, menatap matanya.

Hening sejenak. Hanya suara hujan yang menghujani jalan.

“Mas, aku… aku takut,” bisik Lina. “Aku takut Randi tau. Aku takut anak-anak… semuanya.”

Damar meraih tangannya, hangat. “Aku janji, aku bakal jaga. Aku nggak bakal biarin kamu kesakitan sendirian.”

Tapi saat itu, dari kejauhan, suara motor terdengar. Lampu sorotnya menyinari jalan. Lina menatap dengan ngeri. Randi. Ia datang lebih awal dari biasanya.

Dengan cepat, Lina melepaskan tangan Damar. “Mas… dia…” suaranya bergetar.

Damar menatapnya lama, kemudian melepaskan. “Aku pergi duluan. Jangan keluar, ya.”

Randi turun dari motor, wajahnya memerah. “Lina… ini… ponsel kamu,” katanya sambil mengacungkan ponsel. “Aku nemuin ini tadi di meja. Pesan-pesan dari Damar. Kamu ngapain sama dia?!”

Lina menatap Randi dengan air mata mengalir. Ia tahu, semuanya sudah terbongkar. Tidak ada lagi alasan. Tidak ada lagi tempat bersembunyi.

“Mas… aku… aku khilaf. Aku cuma… aku cuma butuh perhatian,” kata Lina tersedu.

Randi menatapnya lama. Matanya merah, dadanya naik turun. “Kamu… kamu selingkuh, Lina? Selama ini aku kerja keras buat keluarga ini… dan kamu…!”

Tangis Lina pecah. Ia menunduk, menutupi wajahnya. “Aku nggak bermaksud… aku cuma… aku lelah hidup kayak gini… aku nggak tau kenapa aku jatuh ke dia…”

Randi menoleh ke luar jendela. Hujan deras di jalanan seolah meniru perasaannya yang campur aduk: marah, kecewa, dan hancur.

“Semua ini… salah aku juga, Mas. Aku seharusnya bilang, aku butuh perhatian… tapi aku bodoh, aku salah,” bisik Lina.

Randi menarik napas panjang, menahan emosi. “Kamu hancurin kepercayaan aku, Lina. Aku nggak tau bisa maafin atau nggak…”

Lina hanya bisa menangis, tubuhnya gemetar. Ia tahu, hidupnya kini berada di titik terendah. Tak ada yang bisa menolongnya kecuali keberanian untuk menghadapi semua konsekuensi.

Beberapa hari setelah kejadian itu, Randi semakin dingin. Ia tidak bicara banyak, tapi tatapannya menusuk setiap kali Lina melintas. Lina berusaha menebus kesalahan, tapi rasa sakit dan kecewa Randi terlalu dalam.

Di sisi lain, Damar mulai menjauh. Ia tahu, hubungan ini sudah terlalu berbahaya. Rina mulai curiga, tetangga mulai menggunjing, dan Lina kini berada di posisi yang rapuh.

Hujan yang terus turun di luar menjadi simbol dari kesedihan yang tak berkesudahan. Lina merasa sendirian, bersalah, dan hancur. Semua yang ia lakukan demi sedikit perhatian dan kenyamanan kini berbalik menghantamnya.

Ia menatap jendela, hujan deras menimpa kaca, seolah dunia ikut menangis bersamanya. Ia tahu, tidak ada lagi jalan untuk mundur. Semua harus dihadapi. Dan yang paling menyakitkan, ia harus menghadapi suaminya sendiri — yang kini bukan hanya kecewa, tapi juga terluka parah oleh pengkhianatannya.

Malam itu, Lina berbaring di ranjang dengan mata terpejam. Air mata membasahi bantal, dan ia merasakan kehampaan yang begitu dalam. Ia tahu, hidupnya sudah berubah. Tidak ada lagi kebohongan yang bisa menutupi kenyataan.

Ia hanya bisa berdoa, semoga suatu hari, semua luka ini bisa sembuh, dan ia masih bisa mendapatkan kesempatan untuk menebus kesalahannya.

Di luar, hujan masih turun, dan dunia tetap berjalan, tidak peduli seberapa hancur hati seseorang.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU DAN TEMAN SUAMIKU
9.7
Kehidupan Tara berubah drastis saat ia terjebak dalam posisi yang tak pernah dibayangkan: menjadi istri kedua dari sahabat mendiang suaminya sendiri. Kini, ia terperangkap di tengah dinamika rumah tangga yang penuh komplikasi dan tekanan batin. Di tengah konflik emosional yang terus menguji kesabarannya, Tara harus menentukan pilihan sulit. Akankah ia bertahan demi komitmen tersebut, atau justru memilih untuk menyerah karena beban yang terlalu berat?
Sampul Novel Cinta dan Gairah 21+
8.1
Cinta dan Gairah 21+ menyajikan antologi kisah romantis dewasa dengan beragam latar belakang karakter yang memikat. Mulai dari dinamika kehidupan ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga pesona CEO dan manajer, setiap cerita dirancang untuk mengeksplorasi sisi emosional yang mendalam. Pembaca akan dibawa melintasi berbagai profesi, termasuk kuli bangunan dan para suami, dalam narasi yang memuaskan fantasi. Nikmati setiap alur cerita unik yang penuh gairah di buku ini.
Sampul Novel Dimanjakan suami kontrak
9.1
Terikat trauma pengkhianatan yang sama, aku dan seorang duda kaya sepakat menjalani pernikahan kontrak tanpa cinta. Rencanaku sederhana: melahirkan, menerima bayaran, lalu pergi demi masa depan adikku. Namun, takdir menyeretku ke pusaran konflik para penguasa. Saat aku bersikeras bahwa aku bukan siapa-siapa baginya, dia justru mengikatku dalam pernikahan sungguhan. Kini, di tengah ancaman yang mengincar, sang suami kontrak justru menjadi pelindung utamaku.
Sampul Novel I WAS NEVER YOURS
9.0
Menjalin ikatan dengannya adalah sebuah larangan keras yang tidak seharusnya kulanggar. Namun, perasaan ini tumbuh begitu dalam meski aku tahu bahwa memilikinya adalah hal yang tabu. Setiap detik aku mencintainya, rasa sakit itu justru semakin mengoyak batasan hatiku. Aku terjebak dalam dilema antara keinginan memiliki dan kenyataan pahit yang terus menyiksa. Mencintai dirinya hanya membawaku pada luka yang kian menganga tanpa ada kepastian.
Sampul Novel Ibu Mandul Melahirkan Sextuplets Untuk CEO Panas
8.9
Dikhianati Callan karena dianggap mandul, Amy memilih bercerai dan menghabiskan malam panas bersama seorang gigolo sebelum mengasingkan diri. Enam tahun berlalu, ia kembali membawa kejutan: enam anak kembar yang menggemaskan. Namun, Amy terkejut saat mengetahui bos barunya di NorthHill adalah pria dari masa lalunya itu. Di tengah perbedaan status, mampukah Amy menyembunyikan rahasia besar ini dari sang CEO berkuasa yang selama ini juga dikira tidak bisa memiliki keturunan?
Sampul Novel Istri Kedua Sang Billionaire
8.7
Hana terbangun dalam kondisi sangat terkejut saat menyadari ada sosok asing yang tidur di sisinya. Meskipun kesadarannya telah pulih sepenuhnya, ia merasa sangat bingung karena yakin dirinya belum pernah terikat dalam sebuah pernikahan. Kejadian tak terduga ini membuatnya mempertanyakan bagaimana orang asing tersebut bisa berada di ranjang yang sama dengannya. Sebuah misteri besar kini menghantui hidup Hana yang semula tenang dan sederhana.