Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan

Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan

Lina terjebak dalam kemiskinan bersama Randi, kuli bangunan yang memberinya uang belanja minim. Di tengah kesulitan ekonomi dan sifat keras kepala suaminya, Lina mulai berpaling pada Damar, tetangga mapan yang memberikan perhatian serta materi lebih. Meski kini kebutuhan hidupnya tercukupi secara sembunyi-sembunyi, perasaan bersalah mulai menghantui Lina saat melihat pengorbanan Randi. Ia pun bimbang antara memilih keadilan hidup atau kesetiaan pada pernikahan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Pagi itu matahari baru saja naik ketika Lina sudah berdiri di dapur sempit rumah kontrakannya. Dapur yang catnya mulai mengelupas, dengan meja kayu yang sudah retak di ujungnya, dan kompor gas tua yang api birunya sering berubah jadi kuning. Aroma kopi hitam menguar, bercampur dengan bau minyak goreng dari wajan yang mulai gosong di pinggirannya.

Di atas meja hanya ada dua butir telur dan segenggam sayur kangkung yang layu. Lina menatapnya cukup lama sebelum menarik napas panjang.

"Dua butir telur buat empat orang... ya, paling aku kasih buat anak-anak aja," gumamnya pelan.

Ia mengaduk kopi di gelas kecil, kemudian meletakkannya di atas meja ruang tamu yang sederhana. Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki berat dari kamar-Randi, suaminya, keluar dengan wajah masam dan rambut acak-acakan.

"Belum siap juga makanannya, Lin?" suaranya agak tinggi, meski belum sepenuhnya marah.

Lina menoleh cepat, menahan diri agar tidak menjawab dengan nada yang sama. "Sebentar, aku lagi masak, Mas. Telurnya tinggal digoreng."

Randi mendengus kecil. Ia duduk di kursi plastik dekat pintu, membuka dompet lusuhnya, lalu mengambil selembar uang dua puluh ribu. "Ini buat belanja hari ini."

Lina menatap uang itu tanpa bergerak. "Cuma ini, Mas?"

"Cuma itu," jawab Randi datar. "Kemarin upahku baru cair separuh, sisanya minggu depan. Jangan banyak tanya, Lin. Uang nggak bisa tumbuh sendiri."

Lina menggigit bibirnya. Rasanya ingin sekali menjawab bahwa dua puluh ribu tidak cukup untuk membeli beras, sayur, minyak, dan kebutuhan anak-anak yang harus sekolah. Tapi ia tahu, percuma berdebat. Ujung-ujungnya hanya akan membuat Randi tersinggung.

"Baik, Mas," jawabnya pelan sambil menerima uang itu.

Randi berdiri, meminum kopinya seteguk, lalu mengenakan topi lusuh dan jaket kusamnya. "Aku berangkat dulu. Nanti sore pulangnya agak malam, ada lembur di proyek."

Lina hanya mengangguk. Begitu suara motor suaminya menghilang di tikungan, ia duduk di kursi ruang tamu dan menatap uang dua puluh ribu itu lama sekali.

"Bagaimana aku bisa cukupin semuanya..." bisiknya, lirih sekali.

Siang hari, Lina pergi ke warung langganannya membawa uang itu. Ia membeli beras sekilo, minyak goreng setengah liter, dan sedikit tahu tempe. Uang di tangannya nyaris habis, bahkan tanpa sempat membeli kebutuhan anak-anak. Ia menatap sisa koin di telapak tangannya dengan getir.

Saat ia berjalan pulang melewati halaman rumah tetangga, matanya tak sengaja bertemu dengan seorang pria yang sedang memperbaiki kabel di depan rumahnya. Pria itu tinggi, berkulit sawo matang, dan memakai seragam berwarna oranye bertuliskan PLN.

"Pagi, Bu Lina," sapa pria itu sambil tersenyum ramah.

Lina terkejut sedikit. "Oh, Pak Damar... pagi. Lagi perbaiki listrik, ya?"

"Iya, kabelnya korslet sejak semalam," jawab Damar santai. "Istri saya sudah teriak-teriak tadi malam, takut kulkasnya rusak."

Lina tertawa kecil. "Bu Rina memang cerewet, tapi baik."

"Iya, itu betul," jawab Damar sambil tersenyum lebar. Pandangannya sempat menatap Lina sedikit lebih lama dari seharusnya, sebelum ia kembali fokus pada pekerjaannya.

Tatapan itu membuat dada Lina berdebar aneh. Ia buru-buru berpaling, melanjutkan langkah pulang. Namun entah kenapa, senyum ramah Damar itu terus terbayang di kepalanya.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa-atau setidaknya terlihat begitu dari luar. Tapi dalam diam, ada sesuatu yang mulai berubah di dalam hati Lina.

Setiap kali Damar lewat di depan rumahnya, ia merasa ada kehangatan yang aneh, sesuatu yang membuatnya ingin menyapa. Kadang Damar sekadar melambaikan tangan, kadang hanya tersenyum kecil. Tapi perhatian sekecil itu sudah cukup membuat Lina merasa... dilihat.

Suaminya, Randi, hampir tak pernah bertanya bagaimana harinya berjalan. Pulang kerja hanya untuk makan, mandi, lalu tidur. Setiap keluhan Lina soal kebutuhan rumah tangga selalu dijawab dengan dingin.

"Kalau kurang, ya dihemat. Aku juga capek kerja tiap hari, Lin," kata Randi suatu malam sambil menatap layar ponsel bututnya.

Lina tidak menjawab. Ia hanya menatap wajah suaminya yang semakin asing. Lelaki itu dulu begitu hangat di awal pernikahan mereka. Tapi sekarang, seolah antara mereka hanya ada kewajiban, bukan kasih.

Dan di saat seperti itu, Damar datang seperti angin segar yang membawa kehangatan yang sudah lama hilang.

Suatu sore, ketika Lina sedang menjemur pakaian di halaman, Damar datang menghampiri pagar rumahnya.

"Bu Lina, boleh pinjam ember? Ember di rumah bocor, Rina lagi nyuci," katanya sambil tersenyum.

"Oh, tentu boleh. Tunggu sebentar ya," jawab Lina. Ia mengambil ember biru dari dapur dan menyerahkannya lewat pagar.

"Terima kasih, Bu Lina. Kalau nggak ada ibu, repot juga saya," ujar Damar dengan nada sedikit bercanda.

Lina tersenyum malu. "Ah, biasa aja, Pak Damar. Tetangga kan harus saling bantu."

"Betul," jawab Damar, lalu menatap Lina dengan lembut. "Tapi nggak semua tetangga sebaik Ibu."

Kalimat itu membuat Lina terdiam. Ia tahu Damar tidak bermaksud apa-apa, tapi cara tatapannya membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Malam itu, ia memikirkan kata-kata Damar berkali-kali. Ada rasa bersalah yang mulai tumbuh, tapi juga ada rasa yang tak bisa ia tolak.

Beberapa minggu kemudian, Lina mulai sering bertemu Damar tanpa sengaja. Kadang di warung, kadang di jalan saat sama-sama mengantar anak ke sekolah. Mereka berbincang ringan, lalu tertawa kecil. Semuanya tampak sederhana... tapi di balik kesederhanaan itu, ada getaran yang makin sulit disembunyikan.

Rina, istri Damar, bekerja di toko pakaian dan sering pulang larut malam. Sementara Randi semakin sibuk dengan proyek barunya. Keadaan itu memberi ruang bagi mereka berdua untuk saling melihat-dan akhirnya, saling mencari.

Suatu hari, hujan turun deras ketika Lina sedang pulang dari pasar. Ia berteduh di teras rumah Damar yang kebetulan paling dekat. Damar yang baru saja pulang kerja melihatnya dan langsung menawarkan masuk.

"Masuk aja dulu, Bu Lina. Hujannya deras banget," katanya sambil mengambil handuk kecil.

Lina sempat ragu. Tapi hujan begitu lebat dan pakaiannya sudah basah kuyup. Ia pun mengangguk dan melangkah masuk ke ruang tamu rumah itu.

"Terima kasih ya, Pak Damar. Saya ganggu aja."

"Ah, nggak apa-apa. Rina belum pulang, anak-anak juga di rumah ibunya. Cuma saya sendiri," jawab Damar sambil menuang teh hangat ke cangkir.

Suasana menjadi canggung sejenak. Hanya suara hujan yang terdengar di luar.

Lina menatap foto keluarga Damar di dinding. Rina tampak bahagia dalam foto itu, memeluk dua anak kecilnya. Ada rasa iri yang tiba-tiba menyelusup ke dada Lina-sesuatu yang tak seharusnya ia rasakan.

"Keluargamu kelihatan bahagia," katanya pelan.

Damar tersenyum tipis. "Bahagia itu kadang cuma di foto, Bu Lina. Nyatanya nggak sesederhana itu."

Lina menoleh, menatap wajah Damar yang tampak letih. Tatapan mereka bertemu, dan waktu seolah berhenti sesaat. Ada keheningan panjang yang tak nyaman tapi juga tak ingin diputus.

Sampai akhirnya, Damar memalingkan wajah dan berkata lirih, "Kadang kita cuma butuh seseorang buat didengar. Bukan dihakimi."

Lina tidak tahu kenapa hatinya bergetar saat mendengarnya. Ia tahu percakapan itu berbahaya, tapi entah kenapa terasa begitu hangat.

Malam itu menjadi awal dari hubungan yang berbeda. Setelah kejadian itu, mereka mulai sering bertukar pesan singkat. Awalnya hanya sapaan biasa, lalu menjadi obrolan panjang setiap malam. Mereka mulai curhat, saling mengeluh tentang pasangan masing-masing, dan perlahan... saling menenangkan.

Beberapa bulan berlalu, dan perubahan dalam hidup Lina mulai terlihat. Ia tidak lagi kebingungan soal uang belanja. Ada saja alasan setiap kali ia bisa membeli sesuatu yang sebelumnya mustahil.

Ketika Randi pulang membawa nasi bungkus dari warung murah, Lina sudah menyiapkan lauk ayam goreng dan sambal terasi yang menggoda. Randi sempat heran, tapi tidak menanyakan lebih jauh. Ia hanya berpikir mungkin istrinya mendapat tambahan uang dari saudara.

Namun bagi Lina, setiap suap makanan kini terasa seperti dosa yang manis. Ia tahu sumbernya bukan dari kerja keras suaminya, melainkan dari pertemuannya yang makin sering dengan Damar.

Kadang Damar memberinya uang "pinjaman" untuk alasan sederhana-membeli susu anak, memperbaiki atap bocor, atau sekadar mengganti sandal anaknya yang putus. Tapi Lina tahu, tidak ada pinjaman tanpa maksud. Ia tahu, ia telah melewati batas.

Malam-malamnya sering diisi penyesalan, tapi setiap kali Randi kembali dengan wajah letih tanpa senyum, hatinya justru merasa semakin dingin.

"Kalau aja kamu mau berubah, Mas," bisiknya suatu malam sambil menatap punggung suaminya yang tertidur. "Aku nggak akan sejauh ini..."

Hari demi hari, perasaan bersalah itu tumbuh bersama ketergantungan. Lina tak bisa berhenti bertemu Damar, meski hatinya tahu itu salah. Damar pun semakin berani. Kadang ia datang membawa makanan, kadang uang belanja, dan selalu dengan alasan yang terdengar logis.

Sampai suatu sore, saat matahari mulai tenggelam, Rina-istri Damar-melihat sesuatu dari balik jendela rumahnya. Lina dan Damar sedang berbincang terlalu lama di depan rumah Lina, terlalu dekat, terlalu akrab.

Tatapan Rina menajam, bibirnya mengepal. Ia tidak bicara apa pun malam itu. Tapi sejak hari itu, tatapannya kepada Lina tak lagi sama.

Sementara Lina, tanpa sadar, telah menanam benih kehancurannya sendiri.

Di malam yang sunyi, Lina duduk sendirian di ruang tamu. Di tangannya, ada uang beberapa lembar yang baru diberikan Damar sore tadi. Ia menatapnya dengan pandangan kosong, lalu menunduk.

Tangannya bergetar, hatinya gemetar. Ia tahu ia sedang bermain api yang bisa membakar seluruh hidupnya kapan saja. Tapi ketika bayangan wajah Randi melintas di pikirannya-wajah lelah, dingin, tanpa perhatian-ia justru merasa hampa.

"Setidaknya... aku merasa dihargai," bisiknya lirih, seolah membenarkan kesalahannya sendiri.

Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu, tidak ada kebahagiaan yang benar-benar lahir dari kesalahan. Hanya waktu yang menunggu untuk membongkarnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Calon tunanganku yang direbut adik angkatku
8.2
Setelah bereinkarnasi, aku tidak lagi menjadi gadis lemah yang bisa ditindas. Saat Maudy, anak angkat di keluargaku, mencoba merebut Felix dan mempermalukanku di hari pemotretan pernikahan, aku memilih untuk melawan. Dengan keberanian baru, aku menamparnya dan mempertanyakan haknya atas calon tunanganku serta posisinya di Grup Setiawan. Kisah pengkhianatan, cinta, dan pembalasan dendam ini penuh dengan intrik keluarga kaya yang menuntut keadilan.
Sampul Novel Dibuang, Bangkit, Menang!
8.1
Tiga tahun Cindy berbakti sebagai istri, namun sang suami menceraikannya demi wanita lain hingga ia jadi bahan hinaan kota. Pasca perpisahan, Cindy bangkit menunjukkan bakat terpendamnya hingga meraih sukses besar. Saat mantan suaminya menyesal dan mengemis ingin kembali, Cindy tegas menolaknya. Di tengah momen itu, seorang pria tampan yang kini menjadi suaminya muncul melindungi Cindy, memperingatkan sang mantan agar tidak lagi mengganggu hidup mereka.
Sampul Novel Dituduh Mandul
9.5
Kebahagiaan Amel hancur saat memergoki Yuda, suaminya, berselingkuh dengan Rania. Ironisnya, Amel justru difitnah tidak setia dan dituduh mandul hingga akhirnya diusir serta diceraikan secara sepihak. Demi menyambung hidup, ia terpaksa bekerja sebagai pelayan pribadi bagi Zack Lee, seorang pengusaha muda sukses yang eksentrik. Amel kini harus menuruti kebiasaan aneh Zack yang gemar menyusu dan menuntut kehadirannya untuk menemani tidur setiap malam.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Demi melindungi nyawa buah hati yang tidak berdosa, Neva Zetrix terjebak dalam situasi yang sangat memilukan. Ia terpaksa menekan harga dirinya dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson setiap hari. Perjuangan hidup Neva ini didorong oleh kasih sayang seorang ibu yang rela melakukan apa pun demi sang anak. Di tengah tekanan dari sosok Brian yang dominan, Neva harus bertahan dalam dinamika hubungan yang penuh dengan pengorbanan batin.
Sampul Novel Rahasia CEO dibalik Topeng Penari Erotis
8.0
Seorang CEO wanita dikenal memiliki citra dingin dan kaku di kantor, namun ia menyembunyikan identitas rahasia sebagai penari erotis yang memukau. Daniel, seorang karyawan baru yang cenderung menutup diri, secara tidak sengaja mengungkap kehidupan ganda sang bos. Hubungan asmara yang penuh risiko mulai tumbuh di antara keduanya. Kini, mereka harus berjuang menghadapi perbedaan status sosial sambil menjaga rahasia besar tersebut agar tidak terbongkar.
Sampul Novel Ranjang Panas Tuan Lucas
8.9
Flora terkejut saat Lucas, pemilik Blackwood yang dingin, menagih utang besar mendiang orang tuanya secara mendadak. Meski baru bertemu di sebuah pesta, pria yang terpaut lima belas tahun lebih tua itu tak memberi celah untuk bernegosiasi. Flora yang hanya staf magang kini terjepit dalam kontrak gelap yang mengikatnya. Tanpa uang untuk melunasi kewajiban tersebut, Lucas memaksa Flora menyerahkan kehormatannya malam ini juga sebagai bentuk pembayaran mutlak.