
Aku Menikahi Paman dari Tunanganku
Bab 2
Mereka berdua saling berpelukan tanpa peduli dengan siapa pun di sekitar, bahkan pada akhirnya, mereka malah berciuman di depan umum.
Samuel merangkul pinggang rampingnya, sementara Melly dengan alami menggamit lengannya.
Jika dibandingkan denganku, mereka jauh lebih terlihat seperti sepasang kekasih.
Orang-orang di sekitar menonton dengan ekspresi penuh hiburan, bahkan ada yang dengan suara pelan namun sengaja memastikan aku mendengar :
"Kalau aku jadi Mitha sih, mending cari lubang buat sembunyi."
"Tunangan sendiri malah main dengan adik kandungnya, tapi dia masih punya muka berdiri di sini."
Aku tahu mereka semua sedang menunggu dan menantikan reaksiku.
Mereka ingin melihat apakah aku akan bertingkah seperti dulu, kehilangan akal, berteriak, dan membuat keributan, hanya demi mendapatkan sedikit perhatian darinya.
Samuel juga menatap ke arahku saat itu.
Melihatku tetap tenang tanpa ekspresi, dia mendengus puas, seolah merasa telah menang.
Dia baru saja hendak membuka mulut, tapi aku tak memberinya kesempatan.
Aku berbalik dan langsung berjalan keluar pintu.
Begitu berada di luar, aku menelepon sopir. Baru saja bersiap untuk pergi, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di sampingku.
Jendela mobil perlahan turun, memperlihatkan wajah Samuel.
"Masuk."
Aku baru saja ingin menolak, tapi pandanganku langsung tertuju pada sosok di kursi penumpang, yaitu Melly.
Samuel juga menyadari ke mana aku melihat, lalu mengernyit dan berkata dengan nada tak sabar.
"Kursi depan bukan tempat yang seharusnya kau duduki."
Aku diam, tak menanggapi.
Sebaliknya, Melly langsung berkaca-kaca lagi.
"Kakak, Kak Samuel cuma khawatir padaku…"
"Maaf ya, Kakak, aku akan turun sekarang…"
Meskipun berkata penuh rasa bersalah, dia sama sekali tidak bergerak.
Samuel menatapnya dengan penuh kasih sayang, menggenggam tangannya erat, lalu melirikku sekilas dengan ekspresi dingin.
"Jangan ganggu Melly. Kalau nggak mau naik, pergi saja."
Aku tak berkata apa-apa, hanya berjalan tenang menuju pintu belakang mobil.
Melihat aku tetap diam, Melly seolah lupa keberadaanku dan dengan lembut mengusap wajah Samuel dengan jemarinya yang ramping.
"Kak Samuel, kau suka nggak sama wangi hand cream ini?"
Ujung jarinya berulang kali menyapu pipinya, sementara aku bisa mendengar jelas suara Samuel menelan ludah.
Napas keduanya semakin berat, tatapan mereka saling bertaut, mendekat perlahan.
Tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan...
"BAM!"
Suara pintu tertutup menggema, membuat Samuel tersentak dan langsung menoleh ke bangku belakang.
Namun, yang dia lihat hanyalah tempat duduk kosong.
Barulah saat itu dia sadar, suara tadi bukan karena sesuatu yang jatuh, melainkan karena aku yang menutup pintu mobil dan pergi.
Perasaan gelisah tiba-tiba muncul di hatinya.
Dia buru-buru turun dari mobil dan memanggilku.
"Mau ke mana kau?"
Aku menatapnya sejenak sebelum perlahan mengangkat tangan, menunjuk ke arah mobil yang baru saja berhenti di depanku.
"Nggak perlu repot-repot. Mobilku sudah datang."
Samuel sepertinya menyadari ada yang berbeda dariku, tapi dia terlalu percaya diri. Baginya, ini hanyalah cara baru untuk menarik perhatiannya.
Dia meraih lenganku, lalu mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya dan memaksakan benda itu ke tanganku.
"Jangan main-main lagi dengan trik murahan seperti ini."
"Kau adalah istriku, meskipun hanya dalam nama. Tapi yang kau permalukan tetaplah aku."
Aku menatapnya dengan tenang dan bertanya pelan, "Kalau begitu, siapa istri yang sebenarnya? Melly?"
Mendengar pertanyaanku, Samuel terdiam sejenak. Rasa marah berkecamuk di matanya, tapi bersamaan dengan itu, ada pula rasa puas yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Hmph, sebaiknya tutup mulutmu."
"Melly berbeda darimu. Dia lembut, baik hati, polos, bukan perempuan murahan sepertimu."
"Kalau kau berani mengadukan atau menyakitinya, tunggu saja. Aku pastikan kau akan jadi bahan tertawaan di hari pernikahan kita!"
Mendengar ucapannya, aku nyaris tertawa.
Dia tak ingin menjadi orang jahat, tapi juga tak bisa melepaskan Melly.
Jadi, dia mendorong semua kesalahan padaku, seolah akulah penjahat yang sebenarnya.
Aku tak menggubrisnya lagi. Tanpa sepatah kata pun, aku berbalik dan masuk ke mobilku sendiri.
Di perjalanan pulang, aku membuka ponsel dan tanpa sengaja melihat unggahan terbaru Melly.
Di foto itu, sebuah cincin berlian merah muda berkilauan dalam kegelapan.
Aku mengenali berlian merah muda hampir sepuluh karat itu.
Itu adalah batu permata yang dilelang beberapa waktu lalu dan dibeli oleh seseorang dengan harga lebih dari dua miliar.
Ternyata, pembeli misterius yang menawar berlian itu adalah Samuel.
Aku teringat cincin kecil dengan potongan berlian pecahan yang baru saja ia berikan padaku.
Aku mengeluarkannya, memperhatikannya dengan seksama.
Tentu saja, cincin yang ia berikan padaku hanyalah hadiah bonus dari rumah lelang setelah ia membeli berlian merah muda itu.
Aku tertawa dingin, lalu memasukkan cincin itu kembali ke dalam sakuku.
Saat itu, ponselku berdering.
Aku melihat nama yang tertera di layar dan menjawab panggilan itu.
"Kak Samuel, kalau kau menikah denganku... bagaimana dengan Kak Mitha?"
Suara Melly terdengar lembut, manja, dengan sedikit nada cemas yang dibuat-buat.
"Melly, satu-satunya yang aku cintai hanyalah kau. Dia nggak pantas."
Tak lama kemudian, terdengar suara kecupan yang menjijikkan di telepon, seolah mereka sengaja ingin membuatku mendengar semuanya.
Aku mengerutkan kening dengan jijik dan langsung menutup panggilan itu.
Tak sampai beberapa detik, sebuah pesan masuk dari Melly.
"Kak, yang nggak dicintai itu adalah selingkuhan."
"Kau sudah cukup lama menjadi 'Nyonya Gusmawan'. Sekarang, giliran aku, kan?"
Anda Mungkin Juga Suka





