
Aku Menikahi Paman dari Tunanganku
Bab 3
Di kehidupan sebelumnya, Melly dan Samuel memang memiliki hubungan, tetapi mereka tidak berani menunjukkannya secara terang-terangan.
Mereka hanya bisa diam-diam bermain trik kotor di belakangku.
Tak heran kali ini, hanya dalam waktu dua atau tiga hari, hampir semua orang sudah mengetahui hubungan mereka secara gamblang.
Pikiranku mendingin.
Aku teringat kehidupan masa lalu, setelah menikah dengan Samuel, bisnis Grup Gusmawan melejit pesat, hingga akhirnya masuk dalam daftar Forbes.
Para tetua Keluarga Gusmawan sangat puas denganku. Mereka percaya aku membawa keberuntungan bagi keluarga.
Meskipun Samuel selalu bersikap dingin, aku masih merasakan sedikit kebahagiaan karena kehangatan dari para tetua Keluarga Gusmawan.
Hingga hari itu tiba.
Hari ketika kotak itu hancur.
Hari ketika seluruh kepalsuan berantakan.
Saat itu, pintu kamarku terbuka.
Ibu berdiri di sana, wajahnya tampak ragu sebelum akhirnya berbicara,
"Jeffrey akan segera pulang."
Tanganku yang sedang sibuk seketika berhenti.
Aku tak langsung menanggapi.
Ibu terlihat ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi akhirnya ia hanya menghela napas dan pergi.
Aku tak percaya kalau di kehidupan sebelumnya, ibu benar-benar tak tahu apa yang terjadi.
Namun, dia tak pernah mengatakan sepatah kata pun tentang itu.
Para tetua Keluarga Gusmawan memang menyukaiku, tetapi mereka tidak benar-benar peduli padaku.
Kalau mereka peduli, mereka tak akan membantu Samuel menutupi semuanya.
Satu-satunya orang yang berbeda adalah Jeffrey.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah satu-satunya orang di Keluarga Gusmawan yang tidak cocok dengan mereka.
Pada akhirnya, dia memilih menetap di luar negeri dan tak pernah menikah seumur hidupnya.
Aku tak terlalu mengingat banyak hal tentangnya.
Yang kuingat hanyalah dia sering menjagaku, bahkan beberapa kali muncul untuk menegur Samuel agar bersikap lebih baik padaku.
Mungkin karena itulah aku memilih menikah dengannya. Aku berpikir, kalau itu dia, setidaknya masih lebih baik daripada orang asing lainnya.
Sejujurnya, aku sendiri tak terlalu yakin dengan keputusan ini.
Sebagai pengendali sebenarnya dari Keluarga Gusmawan, rasanya mustahil dia akan menerima pernikahan ini begitu saja.
Tapi kenyataannya jauh lebih mudah dari yang kubayangkan.
Menurut Ibu, Jeffrey hanya terdiam sesaat sebelum akhirnya menyetujui pernikahan ini.
Keesokan harinya, aku datang lebih awal ke kantor, bersiap menyelesaikan proyek yang sedang kukerjakan.
Proyek ini adalah hadiah pernikahan dariku untuk Jeffrey.
Klien dalam proyek ini adalah Grup Mito, perusahaan elektronik terbesar di negeri ini.
Jika berhasil mendapatkan kerja sama ini, maka menembus tiga besar di Koppenasta bukan lagi sekadar impian.
Aku sudah mengerjakan proyek ini cukup lama. Awalnya, proyek ini memang kupersiapkan untuk Samuel.
Karena itu, setiap detailnya dirancang berdasarkan kondisi Grup Gusmawan.
Tapi sekarang, tunanganku adalah Jeffrey.
Jadi, sudah seharusnya proyek ini diubah agar sesuai dengan perusahaannya.
Aku begadang beberapa malam untuk menyelesaikannya, dan akhirnya proyek ini rampung juga.
Mengusap sudut mataku yang terasa perih, aku turun ke lantai bawah untuk membeli secangkir kopi.
Saat aku kembali ke atas untuk memperbaiki beberapa detail dalam kontrak, aku justru mendapati bahwa file proyek di komputernya telah menghilang.
Panik, aku segera mengeluarkan ponsel dan memeriksa rekaman CCTV.
Di layar, terlihat seseorang mengenakan masker dan topi, sama sekali tidak menunjukkan wajahnya.
Namun, cincin berlian merah muda di tangannya langsung mengungkap siapa dia sebenarnya.
Tubuhku gemetar karena marah, tanpa pikir panjang aku langsung menerobos masuk ke dalam kantor Melly.
Begitu pintu terbuka, pemandangan menjijikkan langsung menyambutku.
Samuel sedang duduk di atas meja kerja, dengan Melly dalam pelukannya.
Bibir mereka baru saja berpisah, dan bahkan ada sisa jejak air liur yang masih tersambung di antara mereka.
Aku tak peduli lagi dengan citraku. Aku mencengkeram pergelangan tangan Melly dan berteriak marah.
"Melly! Siapa yang memberi kau izin menyentuh kompu..."
Sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku, Samuel sudah mendorongku dengan kasar.
Dia menatapku dengan penuh kemarahan. "Mitha, kau sakit jiwa, ya?!"
Sementara itu, Melly pura-pura ketakutan, berlindung di belakang punggung Samuel.
Dengan suara bergetar, dia menangis tersedu-sedu. "Kakak, maaf... Aku nggak sengaja menghapusnya..."
"Maaf, maaf... Aku akan berlutut meminta maaf padamu, tolong maafkan aku..."
Belum selesai berbicara, dia mulai melemas, seolah-olah benar-benar akan berlutut di hadapanku.
Samuel yang tak tega melihatnya seperti itu langsung menariknya ke dalam pelukannya, menghentikan gerakannya.
Tatapannya tajam menusuk ke arahku. "Mitha, kau ribut apa lagi sekarang?!"
Aku mengepalkan tangan, menahan gejolak emosi yang hampir meledak.
"Itu adalah hadiah pernikahan untuk tunanganku!"
Aku berteriak keras, kemarahanku nyaris melahap sisa-sisa akal sehat yang kumiliki.
Samuel menyeringai sinis. "Tunangamu itu bukan aku?"
"Niat baikmu sudah kuterima, puas sekarang?"
"Aku benar-benar nggak ngerti kenapa kau harus membuat keributan seperti ini."
Mataku jatuh pada komputer Melly, di layarnya masih ada laporan yang baru setengah jadi.
Tanpa ragu, aku meraih gelas di meja dan menuangkan air ke atasnya.
"Bzzzzt..." Komputer itu langsung mengeluarkan asap hitam, disertai suara percikan listrik.
Melly langsung melompat kaget, mencengkeram lengan Samuel sambil menangis panik.
"Kak Samuel! Laporanku!"
Aku tertawa dingin. "Hanya laporan biasa, aku juga nggak ngerti kenapa kau harus membuat keributan seperti ini."
Samuel menatapku tajam, seolah merasa ada yang tidak beres denganku.
Saat aku berbalik hendak pergi, dia tiba-tiba mengulurkan tangan ingin menahanku.
Namun, Melly lebih cepat menarik ujung bajunya, wajahnya tampak kesakitan.
"Kak Samuel, aku... aku seperti kena air panas… Sakit sekali…"
Lalu, dengan suara lemah dan penuh rasa bersalah, dia berbisik, "Maaf… Semua salahku… Pergilah cari Kak Mitha…"
Samuel hanya terdiam sejenak, lalu tangannya yang tadi sempat terulur padaku pun jatuh kembali ke sisinya.
"Ini bukan salahmu. Mitha yang cari gara-gara sendiri."
Anda Mungkin Juga Suka





