Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Istrimu, Mas, Bukan Budakmu

Aku Istrimu, Mas, Bukan Budakmu

Pasca diceraikan suami pelit yang merendahkannya karena hanya lulusan SD, seorang wanita miskin dipaksa orang tuanya menikahi duda kaya raya. Pernikahan kedua tanpa cinta ini menjadi awal babak baru yang penuh tanda tanya. Sanggupkah ia menyembuhkan luka batin akibat hinaan mantan mertua dan membangun kebahagiaan bersama pria asing? Simak perjuangannya keluar dari derita demi menemukan cinta sejati dalam rumah tangga yang diawali keterpaksaan.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Gak bisa, Mak. Kenapa sih harus hari ini juga Arslen dibelikan sepeda, kalau hari ini gak bisa suatu hari nanti kan juga bisa kebeli sepeda. Lagian Kayla juga gak punya sepeda tuh," balasku.

Aku menahan geram, Mak Sarmi menghentikan langkahnya. Aku tak ingin kejadian yang kualami akan dialami putriku juga.

"Anakmu tuh tahu apa, tahunya cuma nonton tv dan masak-masakan. Beda sama Arslen yang pergaulannya luas dan mudah membaur dengan orang lain. Lagian kalung itu dibeli pakai uang anakku, jadi kamu gak berhak melarangnya. Orang yang kamu makan dan beli itu hasil berkebun Tedy dan kebun yang di garap Tedy itu punyaku," balas Mak Sarmi dengan ketus.

"Tedy, lepaskan kalungnya Kayla ya biar di jual Sutri sekarang. Kasihan tuh Arslen masih nangis terus, Mas-mu tuh gak bisa bekerja kayak kamu jadi kamu yang sehat wajib membantu," ujar Mak Sarmi. Ia berkata dengan halus kepada Mas Tedy sembari kembali duduk di sebelah Mas Tarji

Mas Teddy menatap ke arahku, aku menggelengkan kepala tanda tak mengizinkan.

Meski begitu Mas Tedy lebih mendengarkan omongan Mamaknya dari pada aku istrinya.

Mas Tedy mendekati Kayla, "Sayang, di lehermu kok ada semutnya sih. Coba Ayah ambil dulu ya."

"Masa sih, Yah, tapi aku gak merasa digigit semut," balas Kayla dengan wajah polosnya.

Mas Tedy dengan mudah melepas kalung Kayla, dia tersenyum mengusap kepala putrinya.

"Sudah Ayah ambil semutnya, Sayang," ucap Mas Tedy. Setelah itu ia berlalu ke arah Mamaknya.

"Ini, Mak." Mas Teddy menyerahkan kalung Kayla saat itu juga Mak Sarmi tersenyum senang sembari menerima kalung itu.

"Mas, kamu mikir nggak sih. Aku beli kalung itu dengan susah payah, aku ngumpulin uang buat bisa beliin Kayla kalung. Kamu kok ngambil seenaknya gitu!!" Aku sangat kecewa sekali kepada suamiku.

"Sudah, Bu, gak apa-apa. Nanti kalau panen aku kasihkan uangnya sama kamu untuk beli kalung buat kamu sama Kayla," balas Mas Tedy dengan santai.

Kedua mataku sudah berkaca-kaca, ingin sekali tangan ingin melayang pada pipi Mas Tedy yang berwarna kecoklatan itu.

"Tuh denger sendiri kamu kan, Li, jadi istri tuh jangan pelit-pelit. Ingat, kamu di sini tuh cuma numpang jadi gak usah sok ngatur Tedy." Mak Sarmi menatapku dengan tatapan tajam.

Ia segera beranjak dari duduknya dan mengajak Mas Tarji pulang. Rumah kami memang berjajar seperti kontrakan.

"Ayo, Tar, kita pulang. Ini Mamak udah dapat kalung, kamu bisa minta Sutri untuk menjualnya dan segera belikan sepeda untuk anakmu," ucap Mak Sarmi.

"Siap, Mak, Arslen pasti senang sekali," balas Mas Tarji.

Kedua orang itu telah pulang tanpa mengucapkan kata terima kasih kepada Mas Tedy. Mas Tarji terlihat sangat bersemangat dan ia berjalan terseok-seok menggunakan tongkat kayu.

"Kamu jahat sekali, Mas, aku gak nyangka kamu akan tega melakukan ini semua sama aku. Apa kamu lupa kalau Mas Tarji belum mengembalikan kalungku dan sekarang kamu berikan kalung Kayla pada mereka!!" Aku meluapkan semua emosiku.

"Tapi, Bu, dia itu Mas-ku dan dia gak bisa bekerja dengan normal. Harusnya kamu mengerti deh, jangan mengungkit-ungkit apa yang sudah kita berikan kepada mereka. Anggap saja itu sedekah, kita akan mendapat pahala. Kalau aku membiarkan mereka kekurangan itu sama saja aku berdosa sama mereka," balas Mas Tedy.

Aku yakin perdebatan ini akan semakin panas karena aku tak pernah mau mengalah.

"Kamu tahu dosa kan, Mas?? Kamu melakukan semua ini tanpa ridho dariku itu juga udah dosa besar. Percuma setiap hari kamu bersedekah tetapi anak istrimu tak di nafkahi dengan layak bahkan kamu tak mau peduli dengan kekurangan kami." Aku terus mendebatnya.

"Kamu ya, makin hari makin banyak menuntut. Harusnya kamu bersyukur karena aku gak ada pemasukan kamu masih bisa mendapat uang dari berjualan di warung sama jualan pulsa. La Mbak Sutri sama Mbak Tasih bisa dapat dari mana kalau suaminya nggak kerja, makanya aku bantu mereka semampuku. Aku semakin hari semakin muak sama kamu yang tak pernah menghargai keluargaku, kamu selalu melarang aku untuk membantu mereka."

Ucapan Mas Tedy semakin membuat hatiku sakit, aku tidak pernah melarangnya untuk membantu keluarga dia kalau masih dibatas wajar. La ini semua kebutuhan orang tua dan kakaknya dialah yang menanggung bahkan pernah aku tidak dikasih uang panen karena uangnya sudah habis di bagi-bagi.

Mas Teddy keluar dari rumah ia mengendarai sepeda motor entah mau kemana. Memang seperti itulah saat kami berdebat, bukannya mencari solusi justru Mas Tedy akan selalu menghindar dengan cara pergi main entah kemana.

*

Tiga Minggu telah berlalu, aku sudah menyiapkan bekal makan untuk di bawa Mas Tedy ke kebun. Hari ini dirinya akan panen jagung.

Biasanya aku selalu membantu mengupas jagung atau membereskan hasil panen, tapi setelah tahu uang panen terakhir hanya diberi tak seberapa, aku jadi enggan. Lebih baik aku fokus menjaga warung saja.

"Kamu beneran nggak mau bantu aku, Bu?" tanya Mas Tedy, matanya melirik ke arahku sejenak.

"Beneran lah, aku mau ke pasar belanja. Barang di warung banyak yang habis. Barang habis, duit nggak ada, ya gimana?" balasku dengan nada jengkel sambil memasang wajah cemberut.

"Ya sudah kalau nggak mau bantu," sahutnya santai.

"Nanti aku nitip lontong sayur ya, Bu. Bawain aja ke kebun pas balik dari pasar," lanjutnya sambil sibuk menata karung jagung di atas motor tuanya.

Aku menatapnya lama, menahan kesal. Sebenarnya, dia itu nggak peka atau emang nggak peduli sama aku? Udah kusindir soal duit yang mepet, eh, dia malah enak-enakan minta dibawain lontong sayur kesukaannya. Memangnya beli lontong pakai daun apa?

Aku mendesah. "Iya, kalau nggak lupa," jawabku dingin.

Mas Tedy cuma mengangguk, tak sadar betapa kesalnya aku. Motor tuanya menderu pelan saat ia berlalu, meninggalkan aku yang berdiri dengan hati yang penuh amarah dan kekecewaan.

Mungkin, sudah saatnya aku memikirkan kembali semuanya.

---

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95EUS" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95EUS
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendamku Pada CEO Berujung Pelaminan
8.8
Dulu Aruna diusir dan dicaci sebagai pembawa sial yang tidak diinginkan. Luka hatinya kian dalam saat perasaan tulusnya pada Nathan hanya dijadikan bahan taruhan yang merendahkan. Setelah bertahun-tahun berlalu, Aruna kembali dengan identitas baru dan kepribadian yang jauh berbeda. Takdir mempertemukannya lagi dengan sang CEO yang dulu menolaknya. Kini, Aruna siap menjalankan misi balas dendam demi menghancurkan pria yang pernah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Hayu
9.2
Hayu
Hayu awalnya yakin bahwa kriteria kolot seperti bibit, bebet, dan bobot sudah tidak relevan di era modern. Namun, realita pahit menghantamnya saat ia berhadapan dengan Nyonya Adibrata. Sebagai sekretaris biasa, hubungannya dengan Bisma, sang pewaris tunggal Adibrata Group, kini berada di ujung tanduk. Hayu harus melewati serangkaian interogasi kaku dari ibu kekasihnya demi mempertahankan cinta mereka. Akankah perbedaan status sosial ini menghancurkan segalanya?
Sampul Novel IBU SUSU UNTUK BOSKU
9.1
Sonia, ibu muda berusia 23 tahun, berjuang melunasi biaya pengobatan Thalassemia anaknya. Di tengah jeratan utang, ia bertemu Mr. Wei, CEO berusia 45 tahun yang menawarkan dukungan emosional. Hubungan rahasia mereka menjadi pelarian Sonia dari pernikahan yang hampa. Namun, kecurigaan sang suami dan berbagai rintangan mulai mengancam. Terjebak antara gairah, pengkhianatan, dan dilema moral, Sonia harus memilih antara cinta barunya atau hancur dalam drama kehidupan.
Sampul Novel Istri Polos sang Milyarder
8.6
Hidup Cantika hancur saat seseorang tak bertanggung jawab membuatnya gagal membayar biaya medis ayahnya. Demi melunasi utang rumah sakit, ia terpaksa menjadi istri kedua seorang milyarder dan setuju mengandung anaknya. Namun, impian akan pernikahan indah sirna saat realita berubah menjadi penderitaan layaknya neraka. Akankah gadis polos ini tetap bertahan dalam siksaan tersebut, atau justru memilih melarikan diri dari sang suami demi kebebasannya?
Sampul Novel Istri Sang CEO (After Married)
8.7
Sella mengalami nasib tak terduga saat niat melamar kerja justru berujung pada pernikahan kontrak. Ia terpaksa menjadi pengantin pengganti bagi Rishan, CEO yang menikahinya hanya demi memenuhi janji kepada sang ibu. Tanpa landasan cinta, keduanya terjebak dalam rumah tangga yang penuh ego dan aturan sepihak dari Rishan. Sella harus menghadapi sikap dominan suaminya yang sering menuntut hal aneh, sembari berjuang menata hatinya yang terus goyah dalam ikatan paksaan ini.
Sampul Novel Jangan Sentuh Hatiku, Jika Tak Bisa Memiliki
9.6
Nayara adalah staf administrasi cantik yang tetap rendah hati meski tampil modis di sebuah perusahaan besar Jakarta. Kehidupannya bersinggungan dengan Leonardo Arvandre, miliarder muda keturunan Prancis-Indonesia sekaligus pewaris tunggal Arvandre Global Corporation. Sejak pertemuan pertama mereka tiga tahun lalu, keduanya terjerat dalam hubungan yang rumit. Kini mereka terjebak antara perasaan cinta, harga diri, dan rahasia besar yang masih tersimpan rapat.