
Aku Hanyalah Ilusi Cinta Pertamanya
Bab 3
Aku seharusnya dibunuh karena gagal menjalankan misi. Namun, karena kemunculan mendadak Maggie, aku diberi kesempatan lagi oleh sistem.
Aku belum mencari Maggie, tetapi wanita ini sudah mencariku. Kami bertemu di sebuah kafe. Ini adalah kafe yang sering didatangi Stephen dan Maggie. Di sini, mereka berciuman layaknya tidak ada siapa pun di sekitar.
Di sini juga, Maggie dilamar Stephen. Jelas sekali, wanita ini ingin menunjukkan posisinya kepadaku.
Sebenarnya Maggie cantik. Matanya yang bulat membuatnya terlihat seperti anak kucing yang lugu. Pantas saja, Stephen tidak bisa melupakannya.
"Kenapa kamu belum mati?" tanya Maggie sambil melipat lengannya di depan dada.
Aku bertanya balik, "Misimu sudah selesai. Kenapa malah kembali? Jangan-jangan kamu jatuh cinta benaran pada Stephen?"
Sorot mata Maggie berubah untuk sesaat. Kemudian, dia terkekeh-kekeh. "Mana mungkin aku jatuh cinta pada tokoh dalam cerita."
"Kalau begitu, ngapain kamu kembali?"
Maggie tertawa jahat, tidak sesuai dengan penampilannya yang terlihat lugu. "Aku cuma nggak suka mangsaku diincar orang lain. Kalaupun aku mati, dia hanya boleh mencintaiku."
Ekspresiku tampak dingin. "Dia tersiksa setiap malam karena kamu. Entah berapa kali dia mencoba bunuh diri. Kalau nggak ada aku, dia mungkin sudah mati sejak awal. Sebenarnya apa posisinya di hatimu? Atas dasar apa kamu bicara begitu?"
Sekalipun Stephen hanya tokoh dalam cerita, dia tidak seharusnya dipermainkan seperti ini.
"Memangnya bisa apa lagi? Jangan-jangan, kamu menyukainya?" balas Maggie.
Aku mengamatinya dengan saksama, mencoba mencari emosi yang terluapkan. Kemudian, aku menjawab, "Ya, aku menyukainya."
Senyuman Maggie menjadi makin lebar. "Itu artinya, kamu kalah telak. Percaya atau nggak, aku bisa membuatnya menamparmu."
Tiba-tiba, Maggie menampar wajah sendiri. Saat berikutnya, Stephen muncul di depan pintu kafe. Maggie langsung berlari ke arah Stephen sambil menangis, lalu bersandar di pelukannya.
Wanita itu mengadu, "Aku cuma mengajaknya ketemu. Dia nggak mau dengar penjelasanku dan langsung menamparku. Maaf, aku nggak seharusnya kembali dan merebut posisinya."
Wajah Stephen menjadi suram. Dia berdiri di hadapanku. Tanpa menanyakan apa pun, dia sontak melayangkan tamparan ke wajah kananku. Tenaganya sangat besar. Wajahku terasa perih, bahkan telingaku berdengung.
"Audrey, jangan nggak tahu diri. Kamu cuma pengganti Maggie. Maggie sudah kembali, jadi kamu harus mundur. Masa nggak ngerti?"
Aku memegang wajahku. Air mata tak kuasa berlinang. Samar-samar, aku seperti melihat sosok itu.
Saat itu, sosok itu memelukku sambil menghiburku, "Jangan nangis lagi. Ini salahku. Aku nggak seharusnya meninggalkanmu sendiri di sana. Maaf. Kalau kamu nangis lagi, aku cuma bisa tampar wajahku sendiri supaya kamu nggak sedih lagi."
Seketika, aku tersadar. Stephen bukan pria itu. Tamparan ini telah mengenyahkan imajinasiku.
Aku bangkit dan menghampiri Maggie. Stephen segera menarik Maggie ke belakangnya, seolah-olah aku adalah binatang buas. Namun, musuhku bukan hanya Maggie.
Aku mengangkat tanganku dan menampar Stephen. Wajah Stephen sontak menyamping. Alisnya berkerut. Jas hitam yang dipakainya membuat wajahnya terlihat makin suram.
Namun, aku sama sekali tidak takut. Aku menatap matanya yang diliputi amarah sambil tersenyum sinis.
Anda Mungkin Juga Suka





