
Aku Hanyalah Ilusi Cinta Pertamanya
Bab 4
"Tadi kamu menamparku, sekarang aku menamparmu. Kita seri." Kemudian, aku menghampiri Maggie dan bertanya dengan tersenyum, "Apa seru merebut target orang?"
Tebersit kepanikan pada tatapan Maggie. Aku tidak memberinya kesempatan untuk mundur. Aku langsung menampar sisi lain wajahnya. Sebelum dia sempat menangis, aku berbalik dan hendak pergi.
Tiba-tiba, seseorang mendorongku dengan kuat. Perutku tidak sengaja membentur sudut meja. Rasanya sakit sekali. Aku memegang perutku dengan lemas dan berusaha untuk duduk.
Ketika menoleh, aku melihat Stephen menatapku dengan tatapan dingin dan berujar, "Kamu boleh memukulku. Tapi, kamu bakal mati kalau berani memukul Maggie."
Aku pun tersenyum sinis. "Terima kasih, aku nggak perlu repot-repot melakukan aborsi lagi. Selamat juga, kamu membunuh anakmu sendiri."
Bibir Stephen lantas memucat. Tubuhnya gemetaran. Sementara itu, aku kehilangan kesadaran. Hal terakhir yang kulihat adalah darah. Di telingaku, aku mendengar Stephen memanggil namaku.
....
Stephen sangat menyukai anak kecil. Sejak aku melakukan perjalanan dimensi ke dunia novel, aku mempelajari banyak hal tentangnya.
Aku melihat seperti apa hubungannya dengan Maggie. Stephen sering memeluk Maggie sambil membujuk, "Kelak kamu harus melahirkan banyak anak untukku. Anak laki-laki akan tampan dan tenang sepertiku, anak perempuan akan cantik dan imut sepertimu. Paling sedikit, kita harus punya tiga atau empat anak!"
Sistem juga pernah bertanya kepada Maggie, "Misi berhasil. Stephen telah jatuh cinta padamu. Kamu bisa memilih untuk tinggal atau pergi. Apa pun keputusanmu, hadiah telah dikirim ke akunmu."
Maggie malah menyahut, "Mana mungkin aku jatuh cinta pada tokoh dalam novel. Aku nggak bakal melakukan hal sebodoh itu. Buang-buang waktuku saja."
Yang diinginkan Maggie hanya uang. Di matanya, perasaan Stephen hanya sesuatu yang bisa dipermainkan.
....
Aku siuman dan memandang langit-langit. Sebuah nyawa kecil menghilang begitu saja dari tubuhku, membuat hatiku terasa agak hampa.
Untungnya, tidak ada Stephen di sini. Aku langsung keluar dari rumah sakit tanpa memedulikan larangan dokter.
Aku membuka ponselku, lalu mendapati Stephen mentransfer uang untukku. Seharusnya itu adalah kompensasi darinya. Aku mengembalikan uang itu kepadanya.
Kemudian, aku naik taksi ke pinggir laut. Di tengah angin sepoi, aku mengirim pesan suara kepada Stephen. Itu adalah rekaman saat aku dan Maggie mengobrol di kafe. Hanya saja, aku memotongnya sedikit.
Aku juga mengiriminya video. Itu adalah rekaman saat Maggie mencari orang untuk menculiknya. Orang itu merekamnya supaya ada bukti bahwa semua ini adalah rencana Maggie.
Maggie mengira aku adalah pemula. Sayangnya, dia tidak tahu pengalamanku jauh lebih banyak darinya. Entah sudah berapa kali aku melintasi dimensi. Aku jauh lebih memahami pria darinya, bahkan lebih pintar memanfaatkan serta menciptakan peluang.
Kadang, pria tidak bisa membedakan cinta dan hasrat. Bagi mereka, kehilangan sesuatu yang telah lama dimiliki adalah pukulan yang sangat fatal.
Mulai hari ini, aku akan menghilang dari hidup Stephen. Aku langsung memblokir kontak Stephen.
Dulu Maggie adalah cinta sejati Stephen, tetapi sebentar lagi posisinya akan tergantikan. Bagaimanapun, manusia lebih menyukai sesuatu yang tidak bisa didapatkannya.
Anda Mungkin Juga Suka





