Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Dipaksa Memberi Keturunan

Aku Dipaksa Memberi Keturunan

Demi melunasi utang pengobatan ayahnya, Risa terpaksa menikahi Dhimas. Namun, suaminya itu menyimpan rahasia kelam dengan kepribadian ganda yang drastis di luar pengawasan ibunya. Risa pun terkejut saat mengetahui adanya wanita lain dalam hidup Dhimas. Di tengah tekanan mertua yang menuntutnya segera memberikan keturunan, Risa terjebak dalam pusaran konflik dan misteri. Mampukah ia bertahan dan mencari kebahagiaan di tengah pengkhianatan serta tuntutan keluarga ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, Jakarta diselimuti kabut tipis, namun di hati Risa, kabut itu jauh lebih pekat. Ultimatum Nyonya Pramudya tentang keturunan terasa seperti belenggu yang mengencang di lehernya. Enam bulan. Itu bukan waktu yang lama, apalagi dengan kondisi pernikahannya yang jauh dari normal. Bagaimana mungkin ia bisa menghasilkan keturunan dengan seorang pria yang terasa seperti orang asing, yang memiliki begitu banyak lapisan rahasia?

Risa duduk di meja sarapan, memandangi hidangan mewah yang disajikan, namun nafsu makannya hilang entah ke mana. Dhimas duduk di seberangnya, seperti biasa, tampak patuh dan pendiam di bawah pengawasan ketat sang ibu. Ia mengenakan kemeja biru muda yang disetrika licin, rambutnya tersisir rapi, dan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, membuat matanya tampak kecil dan lesu. Risa mencoba mencari secercah emosi, sedikit petunjuk dari Dhimas yang ia lihat di taman atau di ruang musik, tapi nihil. Yang ada hanya sosok yang datar, seolah tak bernyawa.

"Risa, kenapa sarapanmu tidak disentuh?" suara Nyonya Pramudya memecah keheningan, menusuk telinga Risa.

"Saya... saya tidak lapar, Bu," jawab Risa pelan.

"Jangan mencari alasan. Kamu harus menjaga kesehatan. Bagaimana bisa hamil jika kamu kurus kering seperti ini?" Nyonya Pramudya menatapnya tajam, seolah Risa adalah seekor kuda pacu yang harus dijaga performanya.

Risa merasakan pipinya memanas. Dhimas hanya menunduk, sibuk dengan rotinya. Tidak ada pembelaan, tidak ada tatapan pengertian. Ini semakin memperkuat keyakinan Risa bahwa Dhimas yang asli tersembunyi jauh di balik topeng yang ia kenakan di hadapan ibunya.

Setelah sarapan, Risa memutuskan untuk melarikan diri ke kamarnya. Ia meraih kameranya, benda yang dulu selalu memberinya kebahagiaan. Dulu, ia akan memotret keindahan alam, ekspresi jujur dari hewan liar, atau detail kecil yang sering terlewatkan. Kini, kameranya terasa dingin di tangannya, seolah semua kreativitasnya telah mati suri.

Ia membuka laptopnya, menelusuri folder-folder lama berisi foto-fotonya saat menjelajah hutan, mendaki gunung, atau menyelam di lautan. Setiap foto adalah pengingat akan kebebasan yang kini terenggut. Rasa rindu pada kehidupan lamanya membuncah, bercampur dengan frustrasi dan ketidakpastian. Ayahnya, yang menjadi alasan utama ia terjebak dalam situasi ini, masih dirawat di rumah sakit. Setidaknya, ia tahu bahwa ayahnya mendapatkan perawatan terbaik berkat pengorbanannya. Pengorbanan yang terasa semakin berat setiap harinya.

Risa tahu ia tidak bisa terus-menerus meratapi nasib. Ia adalah Risa, yang selalu menemukan cara untuk bertahan hidup di tengah badai. Ia harus mencari tahu. Ia harus memahami Dhimas. Karena jika ia harus berjuang untuk keturunan, ia tidak bisa melakukannya dengan seseorang yang sama sekali tidak ia kenal.

Malam harinya, Risa memutuskan untuk menjalankan misinya. Ia tahu Dhimas sering keluar di malam hari, menyelinap tanpa sepengetahuan ibunya. Risa berpakaian sesederhana mungkin: kaus hitam, celana jins, dan jaket kulit kesayangannya. Ia menunggu dengan sabar di kamarnya, telinganya waspada terhadap setiap suara.

Sekitar pukul sebelas malam, ia mendengar langkah kaki pelan dari kamar sebelah. Jantungnya berdegup kencang. Itu pasti Dhimas. Risa mengintip dari celah pintu. Ia melihat Dhimas keluar dari kamarnya, mengenakan jaket kulit hitam, celana jins gelap, dan topi beanie yang menutupi sebagian rambutnya. Ia terlihat berbeda, lebih muda, lebih misterius. Tanpa kacamata.

Risa menunggu beberapa menit setelah Dhimas pergi, lalu ia menyelinap keluar. Ia mengikuti Dhimas dari jarak yang aman. Dhimas berjalan cepat menuju garasi, menyalakan motor sport-nya, dan melesat pergi. Risa dengan cepat memanggil taksi daring. Ia memberikan instruksi pada sopir untuk mengikuti motor Dhimas, menjaga jarak agar tidak terlihat.

Perjalanan itu membawa mereka ke sebuah klub malam di kawasan elit kota. Lampu-lampu disko berkedip-kedip, suara musik menghentak memenuhi udara, dan aroma alkohol serta keringat bercampur menjadi satu. Risa tak pernah menyangka Dhimas akan berada di tempat seperti ini. Dhimas yang patuh itu? Mustahil.

Risa turun dari taksi, membayar ongkosnya, lalu berjalan masuk ke dalam klub. Suasana di dalamnya lebih hingar-bingar dari yang ia bayangkan. Orang-orang menari tanpa beban, tertawa, dan minum. Risa mencari-cari Dhimas di antara kerumunan.

Ia menemukannya di sudut bar, dikelilingi oleh beberapa pria dan wanita. Dhimas tertawa, tawa yang lepas dan penuh kebebasan, tawa yang tidak pernah Risa dengar sebelumnya. Ia memegang segelas minuman di tangannya, dan ekspresinya jauh dari kesan datar. Ia terlihat tampan, karismatik, dan seolah tidak ada beban di pundaknya.

Di sampingnya, seorang wanita berambut pirang panjang yang mengenakan gaun minim tertawa genit, sesekali menyentuh lengan Dhimas. Jantung Risa mencelos. Sebuah rasa sakit yang aneh menyeruak di dadanya. Apakah ini kecemburuan? Atau hanya rasa terkejut akan realitas baru yang ia lihat?

Risa mengamati Dhimas yang lain. Dhimas yang ini adalah Dhimas yang berani, yang menikmati hidup, yang mungkin selalu ia impikan untuk ia temui dalam dirinya sendiri. Ironisnya, pria ini adalah suaminya, dan ia adalah bagian dari rahasia yang ia sembunyikan.

Tiba-tiba, mata Dhimas bertemu dengan mata Risa. Senyum di bibirnya memudar, digantikan oleh ekspresi terkejut, lalu marah. Ia segera berpamitan dengan teman-temannya, menyerahkan minumannya pada wanita pirang itu, dan berjalan cepat ke arah Risa.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" desis Dhimas, menarik lengan Risa ke arah sudut yang lebih sepi. Musik yang menghentak membuat suaranya nyaris tak terdengar.

"Aku mengikutimu," jawab Risa jujur, tidak ada gunanya berbohong.

"Kenapa? Kamu mata-mata Mama?" Dhimas menatapnya tajam, matanya memancarkan kemarahan.

"Bukan! Aku hanya... penasaran. Aku ingin tahu siapa suamiku sebenarnya," Risa membalas, nadanya tak kalah tajam. "Kamu memiliki begitu banyak wajah, Dhimas. Aku tidak bisa hidup dengan seseorang yang aku tidak kenal!"

Dhimas menghela napas panjang, frustrasi terlihat jelas di wajahnya. "Aku sudah bilang, Risa. Ada hal-hal yang tidak bisa kamu mengerti."

"Kalau begitu, jelaskan padaku! Beri aku kesempatan untuk mengerti!" Risa mendesak. "Siapa wanita tadi?"

Wajah Dhimas mengeras. "Dia tidak ada hubungannya denganmu."

"Tentu saja ada! Aku istrimu! Dan aku tidak akan membiarkan suamiku-"

"Kamu bukan istriku dalam arti sebenarnya, Risa!" Dhimas membentaknya, suaranya naik beberapa oktaf. "Pernikahan ini hanya formalitas! Aku setuju karena Mama mendesak! Aku setuju karena kamu adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkan ayahmu! Jangan berharap lebih!"

Kata-kata itu menghantam Risa seperti tamparan. Sakit, sangat sakit. Ia tahu pernikahan ini adalah kontrak, tapi ia tidak menyangka Dhimas akan begitu kejam. Air mata mulai menggenang di matanya, namun ia menahannya mati-matian. Ia tidak akan menangis di depan pria ini.

"Lalu kenapa kamu menyembunyikannya dariku?" suara Risa bergetar. "Kenapa kamu terus bersembunyi di balik topeng?"

Dhimas membuang muka. "Itu tidak penting."

"Penting bagiku, Dhimas! Aku harus hidup di rumah itu, di bawah pengawasan ibumu, dengan ultimatum darinya! Sementara kamu... kamu hidup bebas di sini, dengan teman-temanmu, dengan wanita-wanita itu!"

Mata Dhimas kembali menatap Risa. Ada kilatan penyesalan di dalamnya, tapi segera menghilang. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku, Risa. Apa yang kamu lihat hanyalah permukaan."

"Kalau begitu, biarkan aku melihat dalamnya! Biarkan aku mengerti!" Risa nyaris berteriak.

Dhimas menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa. Semakin kamu tahu, semakin berbahaya bagimu."

"Berbahaya?" Risa mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Dhimas tidak menjawab. Ia melirik jam tangannya. "Aku harus pergi. Kamu pulang sendiri."

"Tidak! Aku tidak akan pulang sebelum kamu menjelaskan!" Risa mencekal lengannya.

Dhimas menatapnya dengan tatapan putus asa. "Risa, kumohon. Jangan mempersulit keadaan. Ada banyak hal yang sedang terjadi. Dan kamu... kamu akan lebih aman jika tidak terlibat."

Tanpa menunggu jawaban Risa, Dhimas melepaskan cekalan Risa dan melangkah pergi, menghilang di antara kerumunan. Risa ditinggalkan sendirian di tengah hiruk pikuk klub malam, hatinya hancur berkeping-keping.

Risa pulang dengan taksi, kepalanya pusing bukan main, bukan hanya karena suara musik yang masih berdengung di telinganya, tetapi juga karena kata-kata Dhimas yang terus berputar di benaknya. "Semakin kamu tahu, semakin berbahaya bagimu." Apa maksudnya? Bahaya apa? Dan mengapa Dhimas sangat tertekan di hadapan ibunya?

Keesokan harinya, Risa bangun dengan perasaan campur aduk. Marah, sakit hati, dan penasaran yang membara. Ia mencoba bersikap biasa saja di meja makan, namun Nyonya Pramudya seolah bisa mencium ketegangan di antara mereka.

"Dhimas, kamu terlihat lelah. Apa yang kamu lakukan semalam?" Nyonya Pramudya bertanya, tatapannya beralih dari Dhimas ke Risa, seolah mencari petunjuk.

Dhimas meneguk kopinya. "Aku hanya tidur sedikit larut, Mama. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."

Risa menahan napas. Pembohong ulung.

"Risa, kamu juga terlihat tidak segar," lanjut Nyonya Pramudya. "Ingat, kamu harus menjaga kondisi tubuhmu. Prioritasmu sekarang adalah keluarga ini."

Risa mengangguk kaku. Prioritasnya adalah ayahnya. Dan jika untuk itu ia harus menghadapi semua ini, maka ia akan melakukannya. Tapi ia tidak akan melakukannya tanpa mengetahui kebenarannya.

Beberapa hari berikutnya, Risa mencoba mencari celah untuk berbicara dengan Dhimas lagi, tetapi Dhimas selalu menghindarinya. Ia sibuk dengan pekerjaan, atau Nyonya Pramudya selalu berada di dekatnya. Risa merasa semakin terisolasi, terkurung dalam sangkar emas ini.

Suatu sore, saat Nyonya Pramudya sedang pergi arisan, Risa memberanikan diri mengetuk pintu kamar Dhimas. Tidak ada jawaban. Ia mencoba memutar kenop pintu. Tidak terkunci.

Dengan ragu, Risa membuka pintu. Kamar Dhimas sangat rapi, nyaris steril, mencerminkan kepribadiannya yang teratur di siang hari. Ada rak buku yang penuh dengan buku-buku bisnis dan ekonomi, meja kerja yang bersih, dan ranjang yang tertata apik. Risa mengamati sekeliling, mencari petunjuk.

Matanya tertuju pada sebuah laci kecil di meja samping tempat tidur. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu di sana. Dengan jantung berdebar, ia membuka laci itu. Di dalamnya, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil yang terukir indah. Risa mengeluarkannya. Kotak itu tidak terkunci.

Ia membukanya perlahan. Di dalamnya, ada beberapa benda. Sebuah foto lama, tampak sudah pudar, menunjukkan seorang anak laki-laki kecil yang tersenyum lebar, memeluk seorang wanita muda berambut panjang yang sangat mirip dengan Nyonya Pramudya, namun dengan senyum yang lebih lembut. Itu pasti Dhimas dan ibunya.

Di samping foto itu, ada sebuah medali emas dengan pita biru dan merah, bertuliskan "Kejuaraan Bela Diri Nasional - Juara 1". Risa mengingat Dhimas yang berlatih bela diri di taman. Jadi itu benar. Dia memang seorang petarung.

Dan yang terakhir, ada sebuah surat yang terlipat rapi, kertasnya sudah menguning. Risa ragu sejenak, apakah ia harus membacanya? Rasa penasaran mengalahkan keraguannya. Ia membuka lipatan surat itu. Tulisan tangannya rapi dan elegan.

"Untuk Dhimas kecilku,

Jika suatu hari nanti Mama tidak ada di sisimu, ingatlah ini: hiduplah untuk dirimu sendiri. Jangan biarkan siapapun mendikte kebahagiaanmu. Dunia ini luas, nak. Jelajahi. Mama tahu kamu punya jiwa petualang seperti Papa. Jangan pernah kehilangan dirimu. Mama mencintaimu, Nak. Selalu."

Risa tertegun. Ini... bukan tulisan Nyonya Pramudya yang ia kenal. Nada surat itu begitu penuh cinta, begitu membebaskan. Ia membaca tanda tangan di bagian bawah. "Dari Mama tercinta."

Tapi kenapa Nyonya Pramudya yang ia kenal sangat berbeda? Apakah ini ibunya yang lain? Atau apakah ini ditulis sebelum Nyonya Pramudya berubah?

Risa mengamati foto lama itu lagi. Wanita muda di foto itu memang Nyonya Pramudya, tapi senyumnya... senyum itu penuh kehangatan, jauh berbeda dari tatapan tajam dan dingin Nyonya Pramudya sekarang.

Sebuah pikiran tiba-tiba muncul di benak Risa, seolah sebuah potongan puzzle baru saja terpasang. Dhimas memiliki banyak wajah. Mungkin Nyonya Pramudya juga demikian. Atau mungkin... ada sesuatu yang terjadi pada Nyonya Pramudya, sesuatu yang mengubahnya menjadi sosok yang ia kenal sekarang.

Risa memasukkan kembali surat dan medali ke dalam kotak, lalu meletakkan kotak itu kembali ke dalam laci. Ia menutup laci itu perlahan, lalu keluar dari kamar Dhimas. Kepalanya kini penuh dengan pertanyaan baru.

Risa memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang sejarah keluarga Pramudya. Ia mencoba mencari informasi di internet, namun tidak banyak yang ia temukan. Keluarga itu sangat tertutup.

Ia memutuskan untuk berbicara dengan ART di rumah itu, seorang wanita paruh baya bernama Bi Sumi, yang sudah bekerja di sana selama bertahun-tahun. Risa mendekati Bi Sumi saat ia sedang menyiapkan teh di dapur.

"Bi, Bi Sumi sudah lama bekerja di sini, ya?" Risa memulai percakapan dengan nada ramah.

Bi Sumi tersenyum. "Sudah sejak Den Dhimas masih kecil, Nona."

"Oh, jadi Bi Sumi tahu banyak tentang keluarga ini, ya?"

Bi Sumi mengangguk. "Sedikit banyak, Nona. Ada apa, Nona Risa?"

Risa ragu sejenak, lalu memutuskan untuk memberanikan diri. "Bi, saya ingin bertanya tentang Nyonya Pramudya. Dulu... apakah beliau memang seperti ini?"

Ekspresi Bi Sumi berubah. Ia menatap Risa dengan tatapan khawatir, lalu melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada orang lain. "Nona Risa, sebaiknya jangan bertanya yang aneh-aneh. Nyonya itu orangnya keras."

"Saya tahu, Bi. Tapi... saya menemukan sesuatu. Sebuah surat dari Nyonya Pramudya yang isinya berbeda sekali dengan sifat beliau sekarang."

Bi Sumi menghela napas. Ia mendekati Risa, merendahkan suaranya. "Dulu, Nyonya tidak seperti ini, Nona. Dulu, Nyonya Pramudya itu wanita yang lembut, penyayang, selalu tersenyum. Seperti bidadari."

Risa terkejut. "Lalu, apa yang terjadi?"

Bi Sumi menunduk, matanya menerawang. "Tuan Pramudya... beliau meninggal karena kecelakaan mobil, saat Den Dhimas masih remaja. Sejak itu, Nyonya Pramudya berubah drastis. Beliau jadi pendiam, lalu lama-lama jadi sangat keras, dingin, dan kaku. Seolah semua kebahagiaannya ikut terkubur bersama mendiang Tuan."

"Kecelakaan?" Risa mengulang, ada nada terkejut dalam suaranya. "Apakah Dhimas ada di sana saat itu?"

Bi Sumi mengangguk. "Den Dhimas ada di dalam mobil, Nona. Beliau selamat, tapi... beliau trauma berat. Sejak itu, Nyonya Pramudya jadi sangat protektif pada Den Dhimas. Seolah Den Dhimas adalah satu-satunya yang tersisa."

Risa merasakan hatinya mencelos. Trauma. Itu menjelaskan banyak hal. Perubahan kepribadian Nyonya Pramudya, dan mengapa Dhimas sangat terikat pada ibunya, bahkan sampai harus menyembunyikan dirinya yang lain. Ia berusaha menjadi apa yang ibunya inginkan agar tidak menyakiti ibunya lebih jauh.

"Apa yang terjadi pada Dhimas setelah kecelakaan itu, Bi?"

"Den Dhimas jadi pendiam, Nona. Jarang tersenyum. Sekolahnya juga terganggu. Nyonya Pramudya membawa Den Dhimas ke psikolog berkali-kali, tapi tidak banyak membantu. Den Dhimas jadi punya dua kehidupan, Nona. Satu di depan Nyonya, dan satu lagi saat beliau bebas."

Risa menelan ludah. Jadi, Dhimas tidak memiliki dua wajah karena ia seorang penipu, melainkan karena ia seorang korban. Korban dari trauma yang mendalam, dan korban dari belenggu kasih sayang yang terlalu protektif. Ia membangun topeng-topeng itu untuk bertahan hidup, untuk menjaga kewarasannya, dan mungkin, untuk melindungi ibunya dari rasa sakit yang lebih dalam.

"Terima kasih, Bi," Risa berbisik.

Bi Sumi tersenyum tipis. "Semoga Nona bisa mengerti Den Dhimas."

Risa kembali ke kamarnya, pikirannya kalut. Jadi, Dhimas yang kasar di klub malam, Dhimas yang berlatih bela diri, Dhimas yang bermain piano, adalah sisi-sisi dari dirinya yang mencoba melarikan diri dari trauma dan tekanan yang tak terlihat. Ia mencoba hidup, mencoba bernapas, di luar cengkeraman ibunya.

Ia merasa bersalah karena telah menghakimi Dhimas. Ia mengira Dhimas adalah seorang penipu, padahal ia hanyalah seorang pria yang terluka, berusaha menemukan jalannya di tengah kegelapan.

Namun, satu pertanyaan masih mengganjal: mengapa Dhimas mengatakan Risa bukan satu-satunya wanita di sisinya? Dan apa kaitannya dengan ultimatum keturunan?

Malam itu, Risa melihat Dhimas masuk ke rumah, kali ini bukan dengan motor sport, melainkan dengan mobil mewahnya. Ia tampak lelah, rambutnya sedikit berantakan. Risa menunggu Nyonya Pramudya masuk ke kamarnya, lalu ia menyelinap ke ruang tamu, tempat Dhimas sedang duduk di sofa, memijat pelipisnya.

"Dhimas," Risa memanggilnya pelan.

Dhimas terkejut, mendongak. "Risa? Belum tidur?"

Risa mendekat, duduk di sofa seberangnya. "Aku ingin bicara."

Dhimas menghela napas. "Tentang apa lagi?"

"Tentang kecelakaan itu," Risa memulai. "Tentang Mama. Tentang kamu."

Wajah Dhimas langsung menegang. Ia menatap Risa dengan tatapan kosong, seolah Risa baru saja menyentuh luka lama yang sangat perih.

"Aku tahu sekarang," Risa melanjutkan, suaranya lembut. "Aku tahu kenapa kamu seperti ini. Aku tahu kenapa Mama seperti ini. Aku... aku minta maaf karena menghakimimu."

Dhimas memalingkan wajah, menatap ke arah jendela. "Kamu tidak tahu apa-apa, Risa."

"Aku tahu bahwa Mama kehilangan Papa, dan kamu kehilangan bagian dari dirimu sendiri," Risa mendesak. "Aku tahu kamu membangun tembok untuk melindungimu, dan Mama membangun sangkar untuk melindungimu. Tapi itu tidak sehat, Dhimas."

Dhimas terdiam lama. Keheningan terasa berat, hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan napas mereka.

Akhirnya, Dhimas berbalik, menatap Risa. Ada air mata yang menggenang di matanya, air mata yang ia tahan mati-matian. "Kamu tidak tahu bagaimana rasanya, Risa. Terjebak dalam kenangan, terjebak dalam rasa bersalah. Mama... Mama tidak pernah memaafkan diriku sendiri karena selamat."

Risa terkejut. "Bersalah? Kenapa bersalah?"

"Aku yang mengemudikan mobil saat itu," Dhimas berbisik, suaranya parau. "Aku yang selamat. Papa... Papa meninggal di tempat."

Risa merasakan jantungnya berhenti berdetak. Ini adalah rahasia terbesar Dhimas. Rahasia yang sangat ia pendam.

"Aku... aku tidak tahu," Risa berbisik, mendekat ke Dhimas. Ia ingin memeluknya, memberikan kenyamanan, tapi ia tahu belum saatnya.

"Mama... Mama bilang aku harus hidup, harus melanjutkan semuanya. Untuk Papa. Tapi aku tidak bisa. Aku selalu merasa bersalah," Dhimas melanjutkan, air mata mulai mengalir di pipinya. "Setiap kali aku mencoba menjadi diriku sendiri, aku merasa mengkhianati Papa. Mengkhianati Mama."

"Itu bukan kesalahanmu, Dhimas," Risa berkata tegas. "Itu kecelakaan. Kamu harus memaafkan dirimu sendiri."

Dhimas menggelengkan kepala. "Bagaimana bisa? Mama tidak pernah membiarkan aku melupakannya. Dia selalu mengingatkanku bahwa aku harus kuat, aku harus sempurna, aku harus melanjutkan nama keluarga. Aku harus memberinya cucu... untuk menggantikan Papa."

"Menggantikan Papa?" Risa mengerutkan kening. "Jadi itu tujuan Mama? Bukan hanya melanjutkan nama keluarga?"

Dhimas mengangguk. "Mama ingin seorang anak laki-laki. Yang seperti Papa. Dia berharap cucunya akan... mengembalikan Papa."

Risa terdiam. Ini lebih rumit dari yang ia bayangkan. Obsesi Nyonya Pramudya pada keturunan bukan hanya tentang nama keluarga, tapi tentang duka yang mendalam, tentang harapan yang tak realistis untuk menghidupkan kembali masa lalu.

"Dan wanita-wanita itu... di klub?" Risa bertanya, suaranya pelan.

Dhimas menghela napas. "Mereka... mereka hanya pelarian. Pelarian dari kenyataan. Pelarian dari Mama."

"Tapi kamu bilang aku bukan satu-satunya wanita di sisimu," Risa mendesak, menatap matanya.

Dhimas ragu sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam. "Ada satu orang lagi, Risa. Seseorang yang... penting bagiku."

Risa merasakan perutnya mulas. Apakah ini selingkuhan? Seseorang yang benar-benar ia cintai? Apakah ia hanya menjadi alat untuk memenuhi tuntutan ibunya, sementara hati Dhimas sudah dimiliki orang lain?

"Siapa?" Risa bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.

Dhimas menunduk. "Namanya... Luna."

Luna. Nama itu asing di telinga Risa. Apakah Luna adalah alasan mengapa Dhimas begitu dingin padanya, begitu terpisah darinya? Apakah ia telah masuk ke dalam pernikahan yang rusak, yang hati suaminya sudah menjadi milik wanita lain?

Pertanyaan-pertanyaan itu kembali berputar di kepala Risa. Ia telah menemukan sebagian kebenaran tentang Dhimas dan ibunya. Tapi kebenaran itu membawa serta rahasia baru yang lebih menyakitkan. Luna. Siapakah Luna ini? Dan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan bahwa ia mungkin hanya menjadi alat, boneka, dalam drama keluarga ini?

Tantangan hidup Risa baru saja dimulai. Ia tidak hanya harus berjuang untuk kebahagiaan ayahnya, tetapi juga untuk menemukan kebahagiaan dan tempatnya sendiri di tengah badai rahasia dan tuntutan yang tiada henti.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Enggak Siap Dengan Perasaan Ini
8.4
Dunia Shiloh Jung runtuh saat bisnisnya hancur dan sang mantan menikah. Sang ayah lalu mengirimnya berlibur ke luar negeri demi memulihkan diri. Di sana, ia bertemu Edward Leung yang misterius. Mereka sepakat menjelajahi Rusia sebagai kekasih tanpa mengungkap identitas asli, sambil berjanji akan bersatu jika takdir mempertemukan mereka lagi. Namun, setahun kemudian Edward justru bersikap seolah tidak mengenal Shiloh. Rahasia besar apa yang sebenarnya ia simpan?
Sampul Novel Dokter Iblis Yang Tak Tertandingi
9.4
Pasca kematian gurunya, Zhao Erhu menerima wasiat terakhir yang sangat mengejutkan. Ia diperintahkan turun gunung untuk menemui tujuh kakak perempuan seperguruannya. Tugasnya bukan sekadar mencari mereka, melainkan harus meniduri ketujuh wanita tersebut. Instruksi aneh ini membuat semua orang tercengang, namun sang guru menegaskan bahwa ini adalah misi penyelamatan nyawa. Tanpa melakukan hubungan intim itu, nyawa kakak-kakaknya akan berada dalam bahaya besar.
Sampul Novel Jodoh Serigala Putih yang Ditolak Sang Alpha
8.2
Pameran seni pertamaku hancur saat Baskara, Alpha pasanganku, justru melindungi wanita lain di berita. Dia mengabaikan ikatan kami demi aliansi baru dan menyebut karyaku sekadar hobi, bahkan mencuri ide bisnis triliunanku. Setelah empat tahun dihina sebagai Omega penurut, kesabaranku habis. Melalui dokumen palsu yang dikira pengalihan hak seni, aku menjebaknya untuk menandatangani Ritual Penolakan. Kesombongannya akan menjadi senjata penghancur dirinya sendiri.
Sampul Novel Lure Young Master Wolf
9.5
Terjebak dalam konspirasi licik, seorang gadis tak sengaja masuk ke pelukan Bei Minghan, putra keenam keluarga Beiming yang misterius. Pria berkuasa di Mingcheng ini dijuluki manusia serigala karena sifatnya yang kejam dan ganas. Meski reputasinya menakutkan, Bei Minghan justru menunjukkan sisi lain yang tak terduga. Bagi sang serigala, kesetiaan adalah segalanya. Di balik sosoknya yang dingin, ia hanya memilih untuk mencintai dan memanjakan satu wanita selamanya.
Sampul Novel My Handsome Partner
8.0
Karir Senja stagnan hingga tugas meliput bencana menyeretnya ke banjir bandang. Terdampar di hutan, ia bertahan hidup bersama Ella si peri dan menyelamatkan pria bernama Salaar Bayu dari laba-laba raksasa. Pertemuan mereka berlanjut di Desa Galie, di mana Bayu bertugas sebagai jagawana. Keduanya bekerja sama mengungkap misteri Hutan Sungai Hitam. Namun, kehadiran Fajar, sang mantan kekasih, menguji hati Senja di tengah misi berbahaya mereka.
Sampul Novel Pendewaan
8.8
Zen Luo, seorang bangsawan yang jatuh kasta, kini terhina sebagai budak sekaligus sasaran latihan fisik sepupunya. Namun, sebuah kecelakaan mengubah tubuhnya menjadi senjata mistis yang tak terpatahkan. Di tengah kekacauan dunia akibat persaingan antar klan, Zen bangkit membawa misi balas dendam dan ambisi besar. Dengan fisik sekuat pusaka, ia menantang para pendekar kuat demi meraih keabadian. Mampukah ia menaklukkan takdir dan menjadi legenda?