
Aku Dipaksa Memberi Keturunan
Bab 3
Pengakuan Dhimas tentang Luna menghantam Risa seperti ombak besar yang memecah karang. Kata itu, nama itu, menggantung di udara di antara mereka, lebih berat dari semua beban rahasia yang telah terkuak sebelumnya. Ruang tamu mewah itu terasa dingin dan kosong, seolah menyerap semua kehangatan dan harapan. Dhimas kembali terdiam, matanya menatap kosong ke kejauhan, seolah pikirannya melayang ke tempat lain, kepada seseorang yang bernama Luna.
Risa merasakan hatinya sakit, perih yang menusuk. Ia memang tahu pernikahan ini adalah sebuah kontrak, sebuah transaksi. Tapi ia tidak siap dengan kenyataan bahwa suaminya, pria yang harus ia coba pahami, yang harus ia dekati demi tuntutan Nyonya Pramudya, ternyata sudah memiliki hati yang terikat pada wanita lain. Semua penjelasannya tentang trauma, tentang ibunya yang protektif, seolah pudar di hadapan fakta ini.
"Siapa Luna?" suara Risa bergetar, nyaris tak terdengar. Ia berusaha keras agar tidak terdengar rapuh, tidak terdengar cemburu, padahal di dalam hatinya badai sedang bergemuruh.
Dhimas menghela napas panjang, berat. Ia akhirnya menoleh ke arah Risa, matanya merah, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena kesedihan yang mendalam. "Luna... dia adalah masa laluku, Risa. Bagian dari diriku yang tidak bisa aku lupakan."
Masa lalu. Kata itu memberikan sedikit jeda bagi Risa. Bukan kekasih saat ini? Tapi nada bicara Dhimas menyiratkan sesuatu yang lebih dari sekadar kenangan.
"Apakah... apakah kalian masih berhubungan?" Risa memberanikan diri bertanya.
Dhimas menggelengkan kepala pelan. "Tidak. Bukan dalam arti yang kamu pikirkan." Ia berhenti sejenak, menatap Risa lekat-lekat, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu. "Luna... dia adalah cinta pertamaku. Kami tumbuh bersama. Dia adalah satu-satunya orang yang benar-benar mengerti aku, sebelum Papa meninggal."
Risa terdiam. Jadi, Luna adalah orang yang mengetahui Dhimas sebelum ia mengenakan semua topeng itu. Orang yang melihat Dhimas yang asli, Dhimas yang bebas, Dhimas yang terluka.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Risa. Rasa sakit hati mulai bercampur dengan rasa ingin tahu yang aneh.
Dhimas menutup matanya, seolah mencoba menahan kenangan yang menyakitkan. "Dia... dia pergi. Setelah Papa meninggal, Mama melarangku berhubungan dengannya. Mama bilang dia membawa pengaruh buruk, membuatku lemah. Dia tidak ingin aku terdistraksi dari 'tugas'ku untuk menjadi sempurna."
Risa mengernyitkan dahi. "Tugas untuk menjadi sempurna? Tugas apa?"
"Tugas untuk melanjutkan warisan Papa. Tugas untuk menjadi pengganti Papa di mata Mama," jawab Dhimas, suaranya dipenuhi kepahitan. "Luna... dia tidak suka dengan semua itu. Dia bilang aku harus hidup untuk diriku sendiri. Mama bilang dia meracuni pikiranku. Jadi, Mama melakukan segalanya untuk memisahkan kami."
"Melakukan segalanya? Apa maksudmu?"
Dhimas membuka matanya, menatap Risa dengan tatapan kosong. "Luna dipindahkan ke luar negeri oleh keluarganya. Mama... Mama ikut campur. Dia mengancam keluarga Luna dengan pengaruhnya. Dia ingin aku fokus pada pendidikanku, pada warisan keluarga, pada... keturunan."
Risa terkesiap. Nyonya Pramudya telah pergi sejauh itu? Mengancam keluarga orang lain demi memisahkan Dhimas dari wanita yang dicintainya? Ini menunjukkan seberapa jauh obsesi wanita itu.
"Jadi... Mama yang memisahkan kalian?" Risa bertanya, tak percaya.
Dhimas mengangguk. "Dan aku... aku tidak berdaya. Aku terlalu hancur, terlalu takut pada Mama. Aku tidak bisa melindunginya. Aku tidak bisa melindungiku." Suaranya berubah parau, penuh penyesalan. "Sejak itu, aku tidak pernah melihatnya lagi. Tapi dia... dia selalu ada di sini." Dhimas menyentuh dadanya.
Risa menatapnya. Rasa sakit hati yang tadi ia rasakan perlahan berubah menjadi rasa simpati yang dalam. Dhimas adalah korban dalam kisah ini, sama seperti dirinya. Terperangkap dalam jaringan ekspektasi, trauma, dan kendali yang mencekik. Ia tidak memiliki Luna bukan karena ia tidak mencintainya, tetapi karena ia dipaksa untuk melepaskannya.
"Jadi, ketika kamu bilang aku bukan satu-satunya wanita di sisimu, maksudmu Luna?" Risa memastikan.
Dhimas mengangguk. "Dia selalu ada dalam hatiku, Risa. Aku tidak bisa menghilangkannya. Itu sebabnya... itu sebabnya aku tidak bisa memberikan apa pun padamu dalam pernikahan ini. Aku tidak bisa mencintaimu."
Kata-kata itu, meski jujur, tetap menyakitkan. Risa mengerti. Ia mengerti posisi Dhimas. Ia mengerti mengapa ia harus memakai topeng-topeng itu. Ia mengerti mengapa ia mencari pelarian di klub malam. Tapi itu tidak berarti rasa sakitnya hilang begitu saja.
"Aku mengerti," Risa berbisik. "Aku mengerti penderitaanmu, Dhimas. Tapi... pernikahan ini tetap harus berjalan. Mama memberiku ultimatum enam bulan untuk memiliki keturunan. Jika tidak, ayahku akan kehilangan perawatannya."
Dhimas menatapnya, ada sedikit keterkejutan di matanya. "Mama bilang itu padamu?"
Risa mengangguk. "Tadi siang. Dia bilang aku adalah harapan terakhirnya. Untuk 'menggantikan Papa'."
Wajah Dhimas mengeras. Ia mengepalkan tangannya. "Ini gila. Ini semua gila. Mama... dia tidak akan pernah berubah."
"Jadi, apa yang akan kita lakukan, Dhimas?" Risa bertanya, menatapnya penuh harap. "Aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku tidak bisa menghasilkan keturunan dari pernikahan tanpa dasar ini. Dan aku tidak bisa meminta Mama untuk membatalkan ultimatumnya."
Dhimas menghela napas berat. Ia bangkit, berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Risa membiarkannya. Ia tahu Dhimas sedang memproses semua ini, semua tekanan yang membebaninya.
Akhirnya, Dhimas berhenti di depan Risa. "Kita harus menemukan cara," katanya, suaranya lebih tegas dari sebelumnya. "Kita harus menunjukkan pada Mama bahwa kita serius. Tapi... kita tidak bisa melakukannya dengan cara yang dipaksakan."
"Lalu, bagaimana?"
Dhimas menatap Risa, tatapannya kini lebih jelas, lebih fokus. Bukan tatapan kosong yang biasa ia pakai di hadapan ibunya, atau tatapan liar yang ia pakai di klub malam. Ini adalah tatapan seorang pria yang sedang berpikir keras, mencari jalan keluar.
"Kita harus bekerja sama," kata Dhimas. "Aku tidak bisa melakukannya sendiri. Dan kamu... kamu juga terjebak dalam perangkap Mama."
Risa terkejut. Bekerja sama? Ini adalah pertama kalinya Dhimas menawarkan sebuah bentuk aliansi.
"Maksudmu... kita harus berpura-pura?" Risa bertanya.
Dhimas mengangguk. "Untuk Mama, ya. Kita harus terlihat seperti pasangan normal. Kita harus menunjukkan padanya bahwa kita sedang berusaha. Mungkin itu akan memberi kita waktu. Waktu untuk memikirkan jalan keluar yang sebenarnya."
"Jalan keluar yang sebenarnya?" Risa mengulang.
Dhimas mengangguk lagi. "Aku tidak ingin ada anak yang lahir dari kebohongan ini, Risa. Aku tidak ingin anakku tumbuh dalam sangkar yang sama seperti aku." Suaranya dipenuhi tekad. "Kita harus menemukan cara untuk membebaskan diri dari Mama. Untuk membebaskanmu dari utangmu. Dan untuk membebaskanku dari... semua ini."
Risa menatap Dhimas. Ia melihat secercah harapan di mata pria itu. Harapan yang selama ini ia kira tidak akan pernah ia temukan dalam pernikahan ini. Harapan untuk kebebasan.
"Baiklah," Risa mengangguk. "Aku setuju. Kita bekerja sama."
Sebuah perjanjian tak terucapkan terjalin di antara mereka. Bukan perjanjian cinta, tapi perjanjian untuk bertahan hidup, untuk mencari kebebasan.
Keesokan harinya, Risa dan Dhimas memulai sandiwara mereka. Di meja makan, mereka berusaha terlihat lebih dekat. Risa sesekali menyentuh lengan Dhimas saat berbicara, dan Dhimas berusaha tersenyum lebih sering, meski senyum itu masih terasa kaku. Nyonya Pramudya memperhatikan mereka dengan tatapan tajam, seolah mencari celah dalam sandiwara itu.
"Bagaimana, Dhimas? Sudahkah kalian merencanakan masa depan?" Nyonya Pramudya bertanya, nadanya penuh selidik.
Dhimas menatap ibunya. "Tentu saja, Mama. Kami sedang berusaha."
Risa mengangguk. "Kami berencana untuk... pergi liburan akhir pekan ini, Bu. Mencari suasana baru." Itu ide Risa, sebuah upaya untuk menghabiskan waktu bersama Dhimas di luar pengawasan Nyonya Pramudya.
Nyonya Pramudya mengangkat sebelah alisnya. "Liburan? Untuk apa? Bukankah seharusnya kalian fokus pada... tujuan utama?"
"Justru itu, Mama," Dhimas menimpali dengan tenang. "Kami butuh waktu berdua. Agar lebih akrab."
Nyonya Pramudya tampak tidak yakin, namun akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi jangan macam-macam. Dan jangan sampai Risa kelelahan."
Risa dan Dhimas saling bertukar pandang. Ini adalah awal yang baik. Mereka berhasil mendapatkan sedikit ruang gerak.
Sabtu pagi, mereka berangkat. Risa memilih sebuah vila di Puncak, jauh dari keramaian kota. Sebuah tempat yang tenang, dikelilingi hutan pinus dan udara pegunungan yang segar. Risa berharap di sana, Dhimas akan merasa lebih bebas untuk menjadi dirinya sendiri.
Saat mereka tiba di vila, Risa segera merasakan perubahan pada Dhimas. Ia melepas kemeja formalnya, menggantinya dengan kaus dan celana pendek. Topi beanie kembali bertengger di kepalanya. Ia tampak jauh lebih rileks, aura ketegangan yang selalu menyelimutinya seolah menghilang.
"Terima kasih, Risa," kata Dhimas, suaranya tulus. "Aku butuh ini."
Mereka menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar vila, mengobrol, dan bahkan bermain catur. Risa berusaha mencari tahu lebih banyak tentang Dhimas yang tersembunyi. Ia bertanya tentang hobinya, tentang mimpinya sebelum semua trauma itu melanda.
Dhimas bercerita tentang kecintaannya pada musik, pada piano, pada seni bela diri. Ia bercerita tentang impiannya untuk menjelajahi dunia, melihat tempat-tempat indah, seperti Risa. Ada kilatan cahaya di matanya saat ia berbicara tentang hal-hal itu, kilatan yang menunjukkan Dhimas yang penuh gairah, Dhimas yang ia kenal dari medali dan surat lama itu.
"Aku selalu ingin mendaki gunung berapi yang aktif," kata Dhimas, matanya menerawang. "Dan melihat aurora borealis. Papa dulu sering bercerita tentang tempat-tempat itu."
Risa tersenyum. "Aku juga! Aku punya banyak foto tentang aurora. Aku bisa menunjukkannya padamu."
Mereka menghabiskan malam itu dengan berbagi cerita, Risa menunjukkan foto-fotonya, dan Dhimas menceritakan detail tentang setiap medali bela dirinya. Malam itu, di bawah bintang-bintang Puncak, mereka bukan lagi sepasang suami istri kontrak yang penuh rahasia. Mereka adalah dua jiwa yang terluka, menemukan sedikit kenyamanan dalam kebersamaan.
Namun, bayangan Luna tetap ada. Risa melihatnya di mata Dhimas setiap kali ia berbicara tentang masa lalu. Sebuah bayangan yang mungkin tidak akan pernah pudar.
"Tentang Luna," Risa memulai, di tengah keheningan malam. "Apakah kamu... masih mencintainya?"
Dhimas terdiam sejenak. Ia menatap bintang-bintang. "Aku tidak tahu," bisiknya. "Aku tidak tahu apakah itu cinta, atau hanya kenangan yang terlalu indah untuk dilepaskan. Dia adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa utuh sebelum Papa meninggal. Tapi waktu sudah berlalu. Aku tidak tahu apakah dia masih Luna yang sama."
"Apakah kamu ingin mencarinya?" Risa bertanya, jantungnya berdegup kencang. Ini adalah pertanyaan yang berisiko.
Dhimas menoleh pada Risa. "Untuk apa? Agar Mama semakin gila? Agar hidupku semakin rumit?" Ia menghela napas. "Tidak, Risa. Fokus kita sekarang adalah membebaskan diri dari belenggu ini. Jika aku harus mencari Luna, itu akan terjadi setelah aku bebas."
Risa mengangguk. Ia menghargai kejujuran Dhimas. Itu memberinya sedikit kelegaan. Mungkin, hanya mungkin, ada secercah harapan bagi mereka.
Akhir pekan itu berlalu terlalu cepat. Kembali ke Jakarta, kembali ke mansion mewah itu, Dhimas kembali mengenakan topengnya. Namun, ada sedikit perubahan. Sesekali, ia akan bertukar pandang dengan Risa, sebuah tatapan yang hanya mereka berdua pahami. Sebuah isyarat dari perjanjian tak terlihat mereka.
Nyonya Pramudya memperhatikan perubahan itu. Ia tersenyum tipis, senyum kepuasan yang membuat Risa bergidik. Nyonya itu pasti berpikir sandiwara mereka adalah tanda bahwa mereka mulai "berhasil" dalam misi keturunan.
Risa dan Dhimas mulai merencanakan langkah selanjutnya. Mereka tahu enam bulan adalah waktu yang sangat singkat. Mereka harus menemukan cara untuk mengungkap rahasia Nyonya Pramudya, atau mencari jalan keluar yang lebih permanen.
"Aku akan mencoba mencari informasi tentang perusahaan Papa," kata Dhimas suatu malam, saat mereka "berpura-pura" berinteraksi di ruang keluarga, sementara Nyonya Pramudya menonton televisi di dekat mereka. "Ada banyak hal yang tidak aku mengerti tentang bisnis keluarga. Mama sangat tertutup."
Risa mengangguk. "Aku akan mencoba mencari tahu lebih banyak tentang sejarah keluarga Luna. Mungkin ada sesuatu yang bisa kita gunakan."
Mereka mulai bekerja secara diam-diam. Risa menggunakan kemampuannya untuk mencari informasi, menggali data-data lama di internet, mencari berita-berita tentang keluarga Pramudya dan kecelakaan yang menimpa ayah Dhimas. Ia menemukan beberapa artikel berita lama tentang kecelakaan itu, mengkonfirmasi apa yang Dhimas dan Bi Sumi ceritakan. Namun, tidak ada detail tambahan yang signifikan.
Suatu siang, Risa menyelinap ke perpustakaan pribadi Nyonya Pramudya, sebuah ruangan yang jarang disentuh kecuali oleh sang pemilik. Ia mencari dokumen-dokumen yang mungkin bisa memberikan petunjuk. Di antara tumpukan buku-buku hukum dan bisnis, ia menemukan sebuah kotak tua yang tampak usang.
Dengan hati-hati, ia membukanya. Di dalamnya, ia menemukan dokumen-dokumen keuangan lama perusahaan Pramudya, beberapa akta tanah, dan... sebuah amplop cokelat tanpa nama. Jantung Risa berdebar kencang. Ia mengeluarkan isinya.
Ada beberapa lembar foto di dalamnya. Foto-foto lama. Foto-foto Dhimas muda, mungkin sekitar usia 10 atau 12 tahun, bersama seorang gadis kecil yang seusianya. Gadis itu memiliki rambut ikal panjang dan senyum cerah. Di beberapa foto, gadis itu mengenakan medali yang sama dengan medali yang ditemukan Risa di laci Dhimas.
Dan gadis itu... Risa melihatnya lagi di foto-foto lain. Gadis itu adalah Luna. Mereka tampak sangat dekat, tawa mereka alami, kebahagiaan mereka murni.
Di balik salah satu foto, ada tulisan tangan yang kecil dan rapi: "Dhimas dan Luna. Juara Nasional Karate Cilik. Anak-anak yang tak seharusnya terpisah."
Tulisan itu bukan tulisan tangan Nyonya Pramudya. Itu adalah tulisan yang sama dengan surat yang Dhimas simpan. Surat dari 'Mama tercinta'. Risa merasa otaknya berputar. Kenapa Nyonya Pramudya menyimpan foto-foto ini? Dan siapa yang menulis di balik foto itu? Apakah itu tulisan dari ibunya Dhimas yang asli?
Rasa penasaran Risa semakin memuncak. Ini terasa seperti puzzle yang semakin rumit.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar. Nyonya Pramudya! Risa segera memasukkan kembali foto-foto dan amplop itu ke dalam kotak, mengembalikannya ke tempat semula, dan merapikan buku-buku. Ia bergegas keluar dari perpustakaan, jantungnya berdebar kencang.
Nyonya Pramudya muncul di koridor, tatapannya menyapu Risa dengan curiga. "Risa? Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Saya... saya hanya mencari buku, Bu. Saya bosan di kamar," Risa berusaha terdengar tenang.
Nyonya Pramudya mengernyitkan kening, namun tidak berkata apa-apa lagi. Ia masuk ke dalam perpustakaan. Risa menahan napas, menunggu. Tak lama kemudian, Nyonya Pramudya keluar lagi, tanpa membawa apa-apa, dan berjalan pergi. Risa menghela napas lega. Ia nyaris ketahuan.
Malam itu, Risa menceritakan penemuannya pada Dhimas. Dhimas mendengarkan dengan saksama, matanya membesar saat Risa bercerita tentang foto-foto dan tulisan di baliknya.
"Itu tulisan Mama," Dhimas berbisik, menatap Risa dengan tatapan tidak percaya. "Mama yang dulu. Sebelum dia berubah."
"Berarti Nyonya Pramudya yang sekarang... bukan Mama yang dulu?" Risa bertanya, memastikan. "Apakah ada kemungkinan itu ibumu yang lain?"
Dhimas menggelengkan kepala. "Tidak mungkin. Mama adalah Mama. Tapi dia berubah. Sangat berubah."
"Mungkin... mungkin ada sesuatu yang dia sembunyikan tentang kecelakaan itu," Risa berspekulasi. "Atau tentang kesehatan mentalnya setelah kecelakaan itu."
Dhimas terdiam. Ide itu belum pernah terlintas di benaknya. Selama ini, ia hanya menerima bahwa ibunya berubah menjadi sosok yang kejam dan protektif karena trauma. Tapi bagaimana jika ada lebih dari itu?
"Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah kecelakaan itu," kata Dhimas, tekad kembali membara di matanya. "Mungkin ada dokumen medis, atau catatan apa pun yang bisa menjelaskan perubahan drastis Mama. Dan kenapa ia begitu terobsesi dengan keturunan."
"Dan tentang Luna," Risa menambahkan. "Kenapa Mama menyimpan foto-foto itu jika ia sangat membenci Luna?"
Sebuah pertanyaan baru muncul di benak Risa. Kenapa Nyonya Pramudya yang sekarang menyimpan bukti dari 'kesalahan' masa lalunya, dari orang yang ia paksa pergi?
"Ini semua tidak masuk akal," kata Dhimas, mengusap wajahnya dengan frustrasi.
"Mungkin ada orang lain yang tahu," Risa berpikir keras. "Seseorang yang dekat dengan keluarga Pramudya pada saat itu. Selain Bi Sumi."
Dhimas berpikir sejenak. "Paman Wijaya," katanya. "Adik Papa. Dia dulu sangat dekat dengan keluarga kami. Tapi setelah kecelakaan, dia juga menghilang. Mama bilang dia tidak peduli. Tapi aku tidak yakin."
"Kita harus mencoba mencarinya," Risa memutuskan. "Paman Wijaya mungkin tahu kebenaran yang tidak kita ketahui."
Risa dan Dhimas merasa semakin dekat dalam misi ini. Mereka adalah sekutu dalam perang melawan rahasia keluarga Pramudya. Perjanjian mereka bukan lagi hanya tentang bertahan hidup, tetapi tentang mencari kebenaran, mencari kebebasan, dan mungkin, mencari Luna.
Risa menyadari, di tengah semua kekacauan ini, ia mulai melihat Dhimas bukan hanya sebagai suami kontraknya, tetapi sebagai seorang pria yang terluka, yang berjuang untuk menemukan dirinya kembali. Dan tanpa disadari, di antara semua rahasia dan kebohongan, sebuah ikatan aneh mulai terbentuk di antara mereka, ikatan yang jauh lebih dalam dari sekadar kesepakatan formal. Ikatan yang terbentuk dari simpati, saling pengertian, dan sebuah tujuan yang sama.
Pertanyaan tentang keturunan masih menggantung, namun kini, prioritas mereka adalah mengungkap misteri keluarga Pramudya. Karena Risa tahu, ia tidak akan pernah bisa memberikan keturunan dengan ikhlas jika ia tidak memahami sepenuhnya siapa suaminya, dan mengapa ia terjebak dalam kehidupan yang penuh topeng ini.
Dan di tengah semua itu, bayangan Luna terus mengikuti mereka, sebuah pengingat akan masa lalu yang belum terselesaikan, sebuah kunci yang mungkin memegang kebenaran yang mereka cari. Akankah Risa dan Dhimas berhasil mengungkap semua misteri ini sebelum waktu mereka habis? Dan akankah Dhimas menemukan kembali dirinya yang hilang, atau akankah bayangan Luna selamanya menghantuinya?
Anda Mungkin Juga Suka





