
Aku Dikira Selingkuhan Kakakku
Bab 4
"Evelyn, biar kuperingatkan sekali lagi. Aku adalah adik kandung Henry. Yang kamu pegang adalah barang peninggalan orang tua kami." Suaraku bergetar, mataku merah. Yang ada di benakku adalah penampilan Ibu saat sakit dan menyeka piala itu dengan tangan bergetar.
"Pertanyaanku cuma satu, mau berlutut atau nggak?" Evelyn menatapku dengan angkuh.
Aku menelan ludah, menahan kesedihan dan amarah dalam hati. Demi Ibu, aku akan berlutut.
Wanita penyiar itu mengarahkan kamera ponselnya kepadaku lagi. "Semuanya, lihat, pelakor berlutut. Kalau mau melihatnya menggonggong, like dan follow aku dulu ya."
"Guk, guk, guk." Aku menahan rasa hina ini. Aku hanya ingin melindungi barang peninggalan ibuku.
Semua orang tergelak. Tiba-tiba, terdengar suara barang pecah. Aku sontak merinding.
"Maaf, tanganku licin." Lantai dipenuhi pecahan kaca. Evelyn menatapku dengan tatapan menghina, seolah-olah tidak takut sedikit pun padaku.
Saat ini, aku merasa amarah telah membakar hatiku. Aku berlari ke depan dan menjambak rambut Evelyn, lalu mencakar wajahnya dengan sekuat tenaga.
Aku tidak bisa berkelahi. Aku hanya mengandalkan naluriku. Aku menggunakan kukuku yang tajam untuk menggores wajahnya. Aku ingin membuat wanita ini hancur!
Karena gerakanku terlalu cepat, orang-orang tidak sempat bereaksi. Ketika mereka menarikku, wajah Evelyn sudah terluka. Bahkan, kulit kepala Evelyn lepas karena aku menarik rambutnya terlalu kuat.
Evelyn memegang wajahnya sambil memekik, "Sialan! Dasar jalang! Beraninya kamu menyerangku!"
Orang-orang di sekitar kaget melihat tingkahku. Mereka hanya menahanku tanpa berani mengambil tindakan.
"Lucuti pakaiannya! Bawa dia keliling jalanan dalam keadaan telanjang! Aku mau semua orang melihatnya telanjang! Jangan lupa direkam, lalu posting di forum universitas supaya para dosen dan teman-teman tahu!" pekik Evelyn.
Evelyn maju untuk merobek pakaianku. Aku berusaha melawan, tetapi ada tiga atau empat wanita yang menahanku.
Aku hanya memakai terusan, jadi sangat mudah dilepaskan. Saat Evelyn hendak melepas braku, aku mencari kesempatan untuk menggigit tangannya.
Beberapa orang itu sibuk menarikku untuk membantu Evelyn. Setelah ditampar sampai pusing, aku baru melepaskan gigitanku.
Mulutku bau amis darah. Darah mengalir di sudut bibirku. Aku memelototi semua orang yang ada di sini. Selama aku masih hidup, jangan harap kalian bisa lolos!
"Dasar anjing gila!" maki Evelyn yang tangannya terluka.
"Evelyn, kalau dia telanjang, kita nggak bisa melakukan siaran langsung."
Evelyn ragu-ragu sesaat. Dia menatapku yang hanya memakai bra olahraga dan legging, lalu berujar, "Ya sudah, kita bawa dia ke jalanan."
Dengan begitu, aku didorong keluar. Setibanya di pintu masuk kompleks, orang-orang berkerumun. Para satpam sibuk menjaga ketertiban.
"Semuanya, kami membawa pelakor ini keluar untuk kalian lihat."
Kebencianku telah memuncak.
Kepala satpam mengenaliku. Dia buru-buru menghampiri, tetapi ada yang lebih cepat darinya.
"Henry, akhirnya kamu datang. Lihat, jalang ini melukai wajahku sampai begini ...." Begitu melihat Henry, ekspresi Evelyn langsung berubah. Namun, sebelum dia menyelesaikan ucapannya, Henry sontak menamparnya hingga jatuh.
"Evelyn, kamu sudah bosan hidup ya? Beraninya kamu menindas adikku!" sergah Henry.
Semua orang terperangah mendengar ucapan Henry. Kemudian, mereka hanya bisa menatap Evelyn.
Evelyn terduduk di lantai. Sudut bibirnya berdarah. Ditambah lagi wajahnya yang terluka, wanita ini terlihat sama menyedihkan denganku.
Henry menghampiri, lalu menendang wanita yang menahanku. Kemudian, dia melepaskan jasnya untuk menutupi tubuhku.
Anda Mungkin Juga Suka





