
Aku Dikira Selingkuhan Kakakku
Bab 5
Untungnya, Henry tinggi dan tegap. Jasnya sudah cukup untuk menutupi seluruh tubuhku. Aku seketika merasa sangat aman.
"Reese, apa ada yang sakit?"
Aku tidak meladeninya karena dia terlambat menolongku. Ketika Evelyn memaksaku berlutut, aku diam-diam menekan tombol kontak darurat. Di dunia ini, aku cuma punya kakakku. Hanya dia yang bisa kuhubungi.
"Pak Henry, kamu sengaja mengakui dia sebagai adikmu demi melindungi pelakor, 'kan?" Wanita penyiar itu masih mengarahkan kamera ponsel kepada kami. "Marga kalian berbeda. Dia bukan adik kandungmu."
Henry menatapnya seperti menatap orang idiot. "Kamu kakak sepupu Evelyn, 'kan? Ayahmu punya toko elektronik."
Wanita penyiar itu sontak terkesiap. Orang-orang di belakang pun tidak berani bersikap angkuh lagi.
Wanita penyiar itu menatap layar ponselnya dan bertanya, "Ka ... kamu mengancamku? Asal kamu tahu, pandangan publik sangat tajam. Ada jutaan orang di ruang siaranku. Kalaupun kamu mengancamku, itu nggak bisa mengubah fakta kalau dia adalah pelakor!"
Evelyn bangkit dan merebut ponsel wanita penyiar itu. Sambil menangis, dia berkata, "Aku pacar sekaligus calon istri Henry. Kami sudah bersama tiga tahun. Kami sudah merencanakan pernikahan. Wanita ini yang merusak hubungan kami."
Evelyn tidak sadar bahwa penampilannya sangat jelek saat menangis. Riasannya sampai luntur.
"Henry, aku begitu mencintaimu. Demi pelakor itu, kamu mau ...." Sebelum Evelyn selesai berbicara, Henry telah mencengkeram lehernya.
Tatapan Henry terlihat sangat dingin. Aku curiga dia benar-benar ingin membunuh Evelyn. Aku melirik kamera, lalu menarik lengan Henry.
Henry akhirnya melepaskan tangannya dan menegaskan, "Evelyn, kalau kamu berani memaki adikku lagi, kujamin kamu akan mati mengenaskan."
Orang-orang menonton dengan sangat seru.
"Yang benar saja? Masa adik orang dibilang pelakor?"
"Tapi, katanya marga mereka berbeda?"
"Kamu bodoh ya? Mungkin saja yang satu ikut marga ibu, yang satu ikut marga ayah."
Evelyn tentu mendengar obrolan di sekitar. Setelah terbatuk, wajahnya menjadi merah. Entah karena kehabisan napas atau karena ketakutan.
Saat ini, orang-orang yang mengikuti Evelyn ketakutan hingga kaki mereka melemas. Meskipun demikian, masih ada beberapa yang memberanikan diri untuk membela Evelyn.
"Henry, aku bibi Evelyn. Sebenarnya apa hubunganmu dengan gadis ini? Tolong dijelaskan supaya nggak ada salah paham."
Henry tidak berbicara. Tiba-tiba, seorang gadis di kerumunan berseru, "Aku sudah ingat! Adik Pak Henry memang mengikuti marga ibu mereka. Aku ingat ayah dan ibu mereka pernah menghadiri wawancara bersama!"
Evelyn ketakutan hingga gemetaran. Dia menatap kami dengan tidak percaya. "Henry, Reese, kalian benar-benar ...."
Tiba-tiba, terdengar suara sirene polisi.
"Pak, aku bibi pertama Henry. Ini masalah keluarga kami."
"Ya, aku bibi keduanya."
Sekelompok wanita itu mengelilingi polisi.
"Aku nggak kenal mereka, apalagi punya kerabat seperti mereka. Tolong bawa mereka semua pergi," jelas Henry dengan wajah masam.
Para wanita itu tentu panik. "Evelyn, cepat bujuk Pak Henry. Bukannya kalian sudah mau nikah?"
Saat ini, tidak terlihat lagi keangkuhan dan kepercayaan diri pada ekspresi Evelyn. Dia hanya bisa menghampiri Henry dengan wajah pucat.
Anda Mungkin Juga Suka





