
Aku Dikira Selingkuhan Kakakku
Bab 3
Tubuhku seketika mati rasa melihat lukisan yang hancur itu. Setelah lukisan itu hancur, Evelyn menemukan piano seharga 16 miliar. Aku hanya menatap dengan dingin karena bisa menebak apa yang akan terjadi.
Evelyn menghampiri piano itu sambil menatap lekat-lekat. Kemudian, dia menyapukan tangannya ke atas tuts piano. Seketika, terdengar suara yang memekakkan telinga.
Evelyn berbalik dan menghampiriku dengan ekspresi ganas. Dia menjambak rambutku dan menendangku. "Dasar jalang! Ini piano yang kumau! Henry bilang bakal membelinya untukku nanti! Kenapa malah ada di sini?"
Aku terjatuh. Sepatu hak tinggi Evelyn terus menendangku. Aku meringkukkan tubuhku secara naluriah.
Untuk sekarang, aku hanya bisa menahan diri. Jika wanita gila ini tahu rumah yang dihancurkannya adalah rumah yang disiapkan kakakku untuk pernikahan mereka dan piano itu memang untuknya, entah bagaimana reaksinya nanti.
Namun, aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan mereka ini. Aku bersumpah, Evelyn tidak akan bisa menjadi bagian dari keluargaku!
"Gimana, semuanya? Seru nggak? Calon istri memukul pelakor! Jangan lupa, nama pelakor ini adalah Reese! Kalian boleh menyerangnya sesuka hati!" seru wanita penyiar itu.
Kukira situasi sekarang sudah merupakan yang terparah. Siapa sangka, seseorang menemukan barangku yang paling berharga di lantai atas. "Kak, coba lihat, apa ini?"
Aku menatap kotak kayu cendana yang diambil mereka. Seketika, aku melupakan rasa sakit pada tubuhku. Saking gugupnya, aku tidak bisa berbicara.
Evelyn membuka kotak kayu itu, lalu menyingkirkan kain di atas dan mengeluarkan piala kaca yang selalu kubersihkan dengan hati-hati.
"Juara pertama informatika. Apa hebatnya barang ini? Ngapain ditaruh di kotak kayu seindah ini? Hancurkan saja!"
"Jangan! Jangan dihancurkan!" pekikku melihat Evelyn mengangkat tangan untuk menghancurkan piala kaca itu. Aku lantas bangkit tanpa memedulikan rasa sakit di tubuhku.
"Kamu boleh menghancurkan apa pun yang ada di sini, kecuali piala kaca itu. Tolong kembalikan," pintaku.
Itu adalah penghargaan penelitian ilmiah tertinggi yang didapat orang tuaku saat muda. Kemudian, ayah dan ibuku bercerai karena punya perbedaan pendapat tentang penelitian dan rumah tangga.
Ayahku membawa kakakku. Mereka terjun ke dunia bisnis. Karena berhasil menemukan peluang, perusahaan mereka pun sangat sukses sekarang.
Sementara itu, ibuku membawa piala ini ke ibu kota dan mengabdikan diri pada ilmu sains. Setiap sengggang, ibuku akan menyeka piala ini. Aku tahu dia merindukan ayahku. Bagaimanapun, piala ini adalah bukti cinta mereka.
Ibuku tidak menikah lagi. Dia membesarkanku sambil melakukan penelitian ilmiah. Saat aku kuliah, ibuku jatuh sakit dan meninggal. Jadi, piala ini bukan hanya pengakuan prestasi mereka, tetapi juga simbol cinta dan peninggalan ibuku untukku.
Evelyn menatap piala di tangannya, lalu menatapku yang gugup hingga gemetaran. Kemudian, dia berkata, "Piala ini sangat penting bagimu ya? Kalau begitu, harus dihancurkan!"
Ketika melihatnya mengangkat tangannya lagi, aku langsung memekik, "Evelyn, barang itu sangat berharga untuk Henry. Kalau kamu menghancurkannya, dia akan membunuhmu!"
Evelyn seketika merasa ragu. Dia menunduk dan mengamati piala itu lagi.
"Henry anak orang kaya. Mana mungkin dia punya hubungan dengan ilmu sains? Tadi kamu berbohong kamu adik Henry. Kali ini kamu pasti sengaja, 'kan?" ujar wanita penyiar itu.
Evelyn mengernyit. "Aku hampir ditipu."
"Kumohon, asalkan kamu nggak menghancurkannya, aku akan melakukan apa saja." Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan wanita gila ini.
Evelyn menimang piala itu sambil tersenyum nakal. "Apa saja boleh? Oke. Kalau begitu, berlutut dan menggonggong."
Anda Mungkin Juga Suka





