
Aku Dikira Selingkuhan Kakakku
Bab 2
Wanita penyiar itu mengambil kartu pelajarku, lalu berkata dengan raut wajah bangga, "Wanita ini licik sekali. Bukannya mengaku, malah ingin menipu kita dia adik Henry."
Wanita itu meletakkan kartu pelajarku di depan kamera. "Namanya Reese. Marga mereka saja jelas berbeda. Masih mau menipu kita. Dia mahasiswi tingkat dua di Universitas Huma jurusan desain."
Aku pun panik. Wanita itu menyebarkan informasi pribadiku. Aku ingin merebut kartu pelajarku kembali, tetapi dua wanita lainnya tiba-tiba menahanku.
Evelyn mengira dirinya dipermainkan, jadi dia menamparku habis-habisan. Seketika, kepalaku terasa pusing. Mulutku bau amis darah.
"Dasar jalang! Beraninya kamu mempermainkanku! Kubunuh kamu!"
Aku ditahan sehingga tidak bisa ke mana-mana. "Kami memang saudara kandung."
Sayangnya, tidak ada yang percaya. Perhatian mereka ada pada desain mewah vila ini.
"Henry benar-benar menyayangimu ya, sampai-sampai menyiapkan vila semewah ini." Evelyn melirik sekeliling, lalu berujar dengan lantang, "Hancurkan vila ini!"
"Semuanya, jangan lupa beri aku hadiah. Siaran langsung penggerebekan rumah akan dimulai!"
Desain di vila ini adalah hadiah pernikahan dariku untuk kakakku. Dari draf sampai pemilihan perusahaan, semuanya adalah hasil kerja kerasku.
Selama setengah tahun ini, asalkan punya waktu, aku akan kemari untuk memantau pekerjaan para kuli. Makanya, aku panik mendengar mereka akan menghancurkan rumah ini.
"Jangan! Ini hasil kerja kerasku!" Aku berusaha keras melepaskan diri, lalu menggores tangan tangan kedua wanita yang menahanku itu.
Sambil memaki, mereka mengerahkan tenaga yang lebih besar untuk menahanku. Aku bukan menyayangkan uang yang habis, melainkan menyayangkan jerih payahku.
Ketika melihatku panik, sekelompok orang itu makin bangga. Kemudian, terdengar suara barang-barang berjatuhan.
Hanya dalam beberapa menit, rumah ini menjadi kacau balau. TV baru dan vas antik di rumah pun hancur. Sofa kulit juga ditusuk sampai berlubang.
"Kalian ... kalian sudah gila! Aku bakal telepon polisi!" Aku menggertakkan gigiku.
Wanita yang menahanku pun menyergah, "Kamu masih berani lapor polisi? Kamu rasa polisi peduli pada pelakor? Ini masalah keluarga. Kami semua senior Evelyn. Kami datang untuk membantunya."
Usai berbicara, mereka mendorongku dan mencubitku. Aku kesakitan hingga meringkuk.
"Apa? Ada yang bilang lukisan ini lukisan terkenal di dunia? Harganya 800 miliar?" seru wanita penyiar itu. Suaranya sontak menarik perhatian semua orang.
"Jangan disentuh. Kalian nggak bakal bisa ganti rugi. Harganya 1 triliun."
"Aku nggak percaya Henry menghabiskan begitu banyak uang demi pelakor ini."
"Ya, itu pasti lukisan palsu."
"Lukisan ini sangat besar. Kalaupun palsu, pasti tetap mahal. Kalau nggak, mana mungkin dia panik begini?"
Mereka sibuk bergosip di depanku.
"Jangan disentuh. Nanti kalian nggak bisa ganti rugi." Lukisan itu dibeli kakakku dari acara lelang. Dia menyuruhku menggantungkan foto itu di rumahnya.
Begitu mendengarnya, Evelyn makin murka. "Aku suruh Henry beliin cincin mahal saja dia menolak. Dia malah membelikanmu lukisan seharga 1 triliun? Sialan!"
Evelyn berseru kepada orang-orang di belakang, "Hancurkan lukisan itu!"
"Semuanya, ayo kita injak lukisan ini sampai hancur! Seru nggak?"
Orang-orang itu mengambil lukisan di dinding, lalu melepaskannya dari bingkai dan menginjak hasil karya favorit kakakku.
Dalam hatiku, aku hanya bisa berdoa supaya jejak kaki mereka bisa dibersihkan.
"Ambil gunting! Ini pasti hadiah Henry untuk si pelakor! Kita gunting kasih hancur!"
Harapan terakhir dalam hatiku seketika sirna.
"Evelyn, kamu akan menyesal nanti," gumamku. Bukannya Kakak bilang pacarnya lembut dan imut? Apa Kakak tahu sisi kejamnya ini?
Anda Mungkin Juga Suka





