Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Bukan Don Juan

Aku Bukan Don Juan

Terlahir tampan dan atletis membuat pria ini memiliki pesona yang tak terelakkan bagi para wanita. Tanpa perlu bersusah payah, ia selalu berhasil memikat siapa pun untuk menyerah pada rayuannya. Berawal dari sekadar iseng, ia justru terjebak dalam kecanduan akan hubungan terlarang. Ada kepuasan luar biasa saat ia menjalin perselingkuhan berisiko dengan istri orang lain secara sembunyi-sembunyi. Inilah kisah penuh gairah yang menantang bahaya demi kenikmatan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku pulang dengan memesan ojek online yang sudah ku unggah diponselku. Karena sudah tengah malam lewat hampir pagi, agak susah dapat ojek itu. Padahal aku sudah letih banget ini.

Akhirnya aku dapat juga ojek online yang masih narik, ku kasih dia uang tip yang menurutku sedikit tapi berarti buatnya, dia sampai mengucapkan terimakasih berkali-kali sambil menunduk.

Tiba di kamarku aku langsung tidur karena hari ini sangat melelahkan, sepertinya aku akan minta ijin bu boss sehari tidak masuk.

***

Entah sudah berapa jam aku tertidur, saat ku bangun matahari sudah diatas, panas teriknya sudah berasa sampai kedalam kamarku, kipas angin sampai tidak berasa.

Gerah banget rasanya didalam kamar yang hanya berukuran 3x3 meter ini. Niatku membuka pintu kamar agar ada udara yang masuk, tapi aku malah dikagetkan dengan kehadiran Sari didepan pintu.

Dia langsung berbalik badan saat melihatku membuka pintu hanya memakai boxer dan bertelanjang dada.

"Iiihhh, cepetan pakai baju," ucapnya kala itu

"I-Iya sebentar," balasku dan aku langsung mengambil kaos dan celana pendek sedapatnya di lemari. Setelah rapih baru aku meminta Sari masuk.

"Kemana aja kamu seharian kemarin gak kelihatan, gak kasih kabar, gak balas pesan aku, gak telpon," dia mulai merajuk

"Aku sibuk, sayang. Bu boss cafe mengangkatku jadi manager cafe brarti kerjaanku dan tanggung jawabku bertambah, aku pulang subuh karena cafe ramai. Sampai sini aku langsung tidur." ucapku memberi dia pengertian dengan pekerjaanku.

"Aku kira kamu pergi sama wanita lain,"

"Gak gitu, sayang. Pacarku cuma kamu. Aku kerja buat nabung kita nikah nanti." rayuku agar dia tidak merajuk lagi.

"Seriusan kita nikah?"

"Iya lah ngapain pacaran kalau gak nikah, jagain jodoh orang doang itu namanya," candaku dan berhasil membuat Sari tertawa.

Ternyata Sari datang tidak begitu saja, dia membawa nasi padang kesukaanku. Lumayan makan siang gratis.

Sesekali aku menyuapi Sari makan dengan tanganku sendiri, jemariku mengenai bibirnya dan aku dapat merasakan lembut dan kenyalnya itu bibir, warna merah muda aku yakin belum ada siapapun yang menyentuhnya.

Lamunan ku buyar ketika dia tersedak cabai, dengan sigap aku beri dia air putih untuknya minum.

"Hari ini kamu libur?" tanya Sari

"Iya, aku sudah ijin bu boss hari ini aku minta libur," jawabku

Mengetahui aku libur, Sari memintaku menemaninya ke mall untuk membeli pakaian katanya.

Aku pergi ke mall dengan penampilan celana jeans belel, kaos putih, sepatu kets dan topi, begitu juga dengan Sari sepertinya kami berdua sehati sampai gaya pakaian kami sama, dia juga memakai celana panjang jeans dan kaos putih ketat, sepatu kets dan rambutnya dikuncir ekor kuda menunjukan leher jenjangnya, badan Sari terlihat sangat sintal padat dan berbentuk, kalau mau taruhan aku serahkan semua tabunganku dan bilang dia masih perawan, aku pasti menang.

Kami pergi memakai motor Sari, sesampainya di mall ternyata dia membeli pakaian dalam untuknya, entah apa niatnya mengapa dia mengajakku, apa dia mau mencoba menggodaku.

Beberapa kali kami berdebat soal warna, dia bertanya tapi tidak mau terima saran dariku, untuk apa kalau begitu bertanya. Pilih saja sendiri.

"Kamu mah pilihan warnanya yang jreng-jreng gitu, kata tante-tante girang tau!!!" Protesnya saat ku bilang warna merah dan hijau lumut sebagai pilihan warna pakaian dalam untuknya, dia malah memilih warna yang biasa saja yang kalem. Yah apapun warnanya yang penting isinya untukku.

Setelah puas belanja pakaian dalam untuknya, kami berdua pergi nonton film di bioskop.

Karena aku yang membeli tiket, aku bisa pilih dibangku mana kami duduk, Sari memilih film remaja yang romantis aku sendiri tidak begitu perduli dengan filmnya karena aku punya rencana lain didalam.

Dua tiket sudah ku beli, Sari sempat protes saat ku pesan kursi dipojok atas, aku bilang saja semu kursi penuh padahal tidak, itu bisa-bisanya aku saja.

Didalam film itu ada adegan Kedua tokoh berciuman, aku perhatikan ekspresi Sari yang membayangkan dirinya berciuman.

"Mau merasakan apa yang mereka rasakan?" pancingku sambil meremas lembut jemarinya. Wajahnya penuh dengan harapan tapi dia malu sampai pipinya tambah merona ku lihat.

Pelan ku tempelkan bibirku di bibirnya, dan mulai ku lumat lembut. Ku perlakukan dia dengan hati-hati takut salah langkah nanti dia minta putus repot urusannya.

Aku pemula dan dia lebih pemula lagi, benar-benar polos tidak pernah berciuman, ciuman yang ku berikan tidak lama biar memancing dia saja. Dan ternyata unpanku berhasil, dia minta aku menciumnya lagi sampai nafas kami terengah. Ku bersihkan dengan ibu jariku bekas saliva kami yang belepotan dipinggir bibirnya. Dia terkekeh pelan dan memukul lenganku dengan mata melotot.

Akhirnya film itu selesai kami tonton tanpa tau jalan ceritanya karena kami sibuk sendiri bertukar saliva.

Saat pulang, Sari memelukku erat dari belakang. Mungkin dia masih merasakan apa yang kami lakukan tadi didalam bioskop.

"Ini ciuman pertama kamu yah?" Tanyaku

"Kok kamu tau?"

"Tau aja."

"Kamu sudah sering yah cium cewe?" tanyanya

"Gak kok, baru kamu doang," jawabku bohong kalau jujur dia pasti marah, serba salah kan.

"Bohong banget kamu tuh!" Balasnya

Tuh kan, dia nge-gas duluan, dasar wanita.

***

Tiba dirumah aku langsung memarkirkan motornya digarasi rumah utama, karena magrib baru sampai rumah pk Haji sudah berdiri tegak sambil bertolakpinggang.

Sari langsung memberikan salim dengan mencium tangan ayahnya, ketika aku selesai memarkirkan motornya aku mendekati pak Haji ingin memberi salim juga tapi dia menunjukan rasa tidak sukanya padaku dengan langsung masuk kedalam rumah dan menutup pintu rumah dengan keras. Aku hanya bisa mengelus dadaku membuat hatiku bersabar menghadapi pria tua itu.

Dia memandangku sebelah mata mentang-mentang aku tidak bayar uang sewa kamar kos, semenjak pacaran dengan Sari ku akui aku tidak lagi bayar uang sewa karena Sari dan ibunya melarang, ibunya lebih menerimaku dari pada ayahnya. Pantas saja putrinya jadu perawan tua, semua laki-laki takut ngapel kerumah Sari karena ayahnya galak.

Sampai dikamar langsung ku jatuhkan diriku dikasur, rasanya badan ini lelah sekali. Setelah istirahat sebentar aku langsung mandi, semalam apapun aku sampai rumah pasti aku mandi untuk membersihkan badan dari virus dan bakteri dari luar, lagian tidur akan terasa nyaman kalau tubuh kita bersih.

Sebelum tidur kebiasaan memeriksa ponselku, membalas pesan dan email yang masuk. Kalau aku lagi rajin sebentar berselancar disosial media milikku. Memposting kalimat bijak dan foto terbaruku. Aku jarang aktif disana tapi sekalinya aku posting pasti banyak yang komen entah apa kerjaan mereka itu.

_______________________________________________

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayahmu Tidak Setuju Karena Aku Miskin
9.3
Aisyah hanyalah gadis sederhana yang menjalin kasih dengan Krisna, seorang pria dari kalangan bangsawan. Namun, hubungan mereka terhalang restu ayah Krisna karena perbedaan keyakinan serta status sosial yang sangat kontras. Demi mempertahankan cintanya, Krisna nekat melawan kehendak sang ayah dan memilih pergi menjauh bersama Aisyah. Apakah perjuangan mereka mampu meluluhkan hati sang ayah hingga restu akhirnya diberikan bagi masa depan mereka berdua?
Sampul Novel Dia Meninggalkan Suaminya Setelah Dia Menemukan Rahasianya
8.6
Lima tahun menikah, Tobias Stevens jatuh miskin dan terlilit utang. Di tengah kesulitan, Dorothy bekerja keras demi menghidupi Margaret, putri mereka. Suatu hari, Dorothy membawa Margaret ke taman bermain impian dari hasil tabungannya. Namun, mereka terkejut melihat Tobias di sana bersama cinta pertamanya, Liza Briggs, dan anaknya. Ternyata, Tobias telah menyewa seluruh tempat itu secara pribadi, sementara istri dan anaknya sendiri justru diusir oleh petugas.
Sampul Novel Godaan Bini Orang
8.7
Masa lalu kelam Rhido kini membayangi pernikahan bahagianya dengan Lisda. Saat Lisda hamil, gangguan mistis misterius membuatnya kesakitan tiap kali berhubungan intim. Rhido yang berusaha setia terpaksa menahan diri hingga tugas kerja membawanya ke pedalaman Jawa dan Kalimantan. Di sana, godaan nafsu terus menguji imannya. Mampukah sang mantan bajingan ini menjaga kesetiaan, ataukah teror gaib masa lalunya akan menghancurkan nasib istri dan bayinya?
Sampul Novel Hasrat Terlarang Janda Tujuh Kali
9.3
Sarboah kembali menjanda untuk ketujuh kalinya, membuat sang ayah lelah menjadi wali nikahnya. Di balik kegagalan itu, Sarboah berjuang mengendalikan hasrat biologisnya yang meluap-luap. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Adrian, seorang pria yang menderita impotensi dan sangat ingin sembuh. Sebuah insiden tak terduga memaksa mereka untuk terikat dalam pernikahan. Mampukah rumah tangga unik ini bertahan di tengah perbedaan kondisi fisik mereka?
Sampul Novel Istri rahasia Dosen dingin
8.1
Kayra adalah mahasiswi yang terpaksa menari pole dance di klub malam demi biaya hidup. Namun, rahasianya terbongkar oleh Alvin, dosen dingin yang kemudian mengancam karier akademisnya. Kayra dipaksa menikah hanya untuk menjadi alat balas dendam Alvin terhadap mendiang mantan kekasihnya. Di tengah hubungan toksik ini, Alvin berniat membuangnya setelah satu tahun, tetapi Kayra bersumpah akan membalikkan keadaan dan mengikat Alvin selamanya.
Sampul Novel Kebenaran Tentang Gundiknya
7.8
Hamil empat bulan, fotografer ini hancur melihat suaminya, Baskara, memperkenalkan bayi wanita lain sebagai putranya. Bukannya menyesal, Baskara justru mempermalukannya dan membela selingkuhannya, Serena. Dianggap lemah dan dramatis, sang istri justru memendam amarah dingin atas pengkhianatan terencana ini. Di balik ketenangan palsunya, ia menyusun strategi besar. Ia bukan lagi istri penurut, melainkan ancaman yang siap menghancurkan sandiwara keluarga sempurna mereka.