
Air Force Skadron7
Bab 2
"Ok Brother, kamu harus tetap semangat. Ingat kamu harus buktikan kepada orang tua kamu, jika kamu ini pekerja keras!" ucap sahabatku yang terus memberikan aku semangat.
Aku sangat mengantuk sekali, aku akhirnya masuk ke dalam kamar. Ingatlah aku ini pejuang dan petarung yang menggila, yang tak akan pernah letih dan menyerah. Walau terkadang tubuhku penuh luka dan koyo karena pegal-pegal karena kecapean. Aku harus sekolah militer, aku pula harus berjuang banting tulang walaupun terkadang letih aku harus kuat. Aku menjual gorengan dan pakaian. Tetapi aku selalu bersyukur, karena kawanku, seniorku bahkan dosenku di sekolah militer. Selalu membeli daganganku.
Aku percaya dengan ungkapan yang mengatakan, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.
Walaupun itu merupakan ungkapan sederhana, tetapi memiliki arti yang mendalam bagi hidup kita.
Supaya kita berjuang demi meraih mimpi dan asa kita, karena di dunia ini nggak ada yang instan. Kita harus meraihnya walau pun harus menempuh jalan terjal mendaki.
Kita harus memperolehnya walau pun kita sampai berdarah-darah, terima kasih Tuhan. Akhirnya mimpi aku menjadi kenyataan aku mampu lulus hanya sekolah dua tahun saja. Tetapi tidak dengan mudah.
Aku harus mengalami tahapan hidup dan pendewasaan diri, terima kasih Tuhan aku juga mendapatkan Adi Mahakasa.
Lulusan Akademi AAU yang di berikan secara langsung oleh Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden.
Setelah aku lulus, aku di tempatkan di Skadron7 Halim Perdana Kusuma.
Aku sangat takjub sekali, setibanya saya di Jakarta.
Kini saya sedang senam Maumere, bersama para anggota. Kami sangat bahagia berolahraga dan senam bersama, tiba-tiba komandan aku menghampiri aku dengan raut wajah penuh ketegasan.
"Yudi kamu ikut saya!" titah Komandan aku dengan penuh ketegasan.
"Siap Komandan," ucap aku dengan memberikan penghormatan kepadanya.
"Silahkan kamu duduk Yudi!" titah Komandanku dengan penuh ketegasan.
"Siap Komandan," jawabku dengan penuh ketegasan.
"Kamu sudah berapa lama dinas di Skadron7?" tanya Komandan aku dengan penuh ketegasan.
"Mohon izin menjawab Komamdan, saya baru dua minggu. Saya baru dua minggu di Skadron 7 Komandan," jawabku dengan penuh ketegasan.
"Ok kamu bisa berbahasa Asing?" tanya Komandanku dengan penuh ketegasan.
"Mohon izin menjawab Komandan, saya hanya bisa sedikit. Saya hanya bisa bahasa English, Prancis dan Chinese Komandan," jawabku dengan penuh ketegasan.
"Oia kamu bisa bahasa Prancis, wajah kamu seperti orang bule. Kamu bersedia menjadi mata-mata?" tanya Komandanku dengan penuh ketegasan.
"Siap Komandan, saya bersedia apa pun pekerjaannya. Demi membela tanah air dan tumpah darah," ungkap aku dengan penuh ketegasan.
"Ok jika kamu bersedia, ini kamu pelajari. Kamu ini postur dan wajah kamu bule, jadi saya akan mengirim kamu ke Eropa, Australia dan America Serikat. Tetapi tidak ke Cina. Sekali pun kamu bisa berbahasa Cina, kamu selidiki penyeludupan senjata. Kamu nanti bekerja sama dengan Angkatan Darat dan Laut," titah Komandan aku dengan penuh ketegasan.
"Siap Komandan," ucap aku dengan penuh ketegasan.
Komandan aku memberikan aku tugas ke Jerman, aku harus kursus dulu bahasa Jerman selama dua bulan sebelum berangkat.
Jantung aku rasanya mau copot, aku takut gagal. Tetapi aku hanya mampu berdoa dan menguatkan diri. Aku harus tetap semangat, demi misi aku menjadi mata-mata. Aku di Jerman selama setengah tahun.
Setelah misi sukses, aku akhirnya pulang ke Indonesia. Di Indonesia aku di sambut oleh Komandan dan Wakil Komandan Batalionku.
"Selamat Yudi, kamu memang hebat dan berbakat. Aku nggak salah menyerahkan tugas ini kepada kamu Yudi," ucap Komandan aku dengan tersenyum.
"Siap Komandan," jawabku dengan singkat.
Dari rumah Komandan aku, ada seorang gadis yang sangat cantik sekali. Wajahnya menggetarkan hatiku, langsung membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Komandan aku yang seakan tau, jika aku menatap lekat gadis itu langsung berucap.
"Namanya adalah Jasmine, dia adalah putriku. Jika kamu mau memilikinya kamu harus memiliki segudang prestasi demi Skadron tujuh," ucap Komandan aku dengan menepuk pundakku dengan tersenyum.
Sahabatku Jeremy, Josep dan Iwan yang ada di sana langsung meledekku.
"Cie..., Yudi kamu sudah di berikan restu untuk menjadi calon menantu. Selamat iya tinggal tunggu undangannya saja aku," ucap Jeremy dengan meledek aku.
"Hebat sekali kau Yudi, bisa meluluhkan hati Komandan kita yang galak dan sanggar. Tetapi jika kamu menjadi menantunya cocok. Karena baik kamu dan Komandan kita sama-sama gila, sama-sama gila kerja dan uang," ucap Josep dengan meledek aku.
"Kau sangat beruntung sekali Yudi, Komandan kita langsung tersenyum dan memberikan lampu hijau. Jika yang lain atau senior terdahulu melihat putrinya seperti itu, kamu tau nggak apa yang terjadi sama prajurit tersebut? Prajurit tersebut langsung di pindahkan tugas dan bahkan langsung di marahi. Jika komandan kita tidak suka dan berkenan," ucap Iwan dengan menakuti-nakuti aku.
"Kalian bertiga ada-ada saja, jangan menjelekan komandan kita. Bagaimana jika itu hanya rumor? Jatuhnya adalah fitnah," ucap aku dengan memperingatkan bertiga.
"Terserah kau saja, kau ini tak percaya. Apa yang kami katakan, kami ini bicara sesuai fakta. Lagi pula kami lebih dulu berada di sini," ungkap mereka bertiga dengan sangat kompak sekali.
"Ok baiklah, yasudah aku mau ke kamar dulu iya. Soalnya aku sangat mengantuk, besok aku ada pengamanan. Permisi iya," ucapku dengan tersenyum.
Aku langsung masuk ke dalam kamarku, aku segera tertidur pulas. Aku terbangun pagi sekitar jam pagi, aku segera mengenakan seragam PDL(Pakaian Dinas Loreng) lengkap dengan univormku sebagai Angkatan Udara.
Setelah rapih, aku berlari membawa senapan sebanyak 100 putaran. Setelah itu senam Maumere. Kini aku sudah bersiap-siap untuk berangkat melakukan pengamanan.
Aku harus semangat, aku harus mengumpulkan uang yang banyak. Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku. Semoga saja Mama dan Papaku mau menerima aku.
Tuhan aku mohon kepadamu, tolong lunakan hati kedua orang tuaku yang sekeras batu. Begitulah doa aku setiap hari, aku mau bertemu dengan mereka.
"Yudi kamu kenapa? Kenapa kau melamun?" tanya Riki membuyarkan lamunan aku.
"Aku tidak apa-apa brother," jawabku dengan ekpresi sedih.
"Jika kamu capek dan lelah, kamu istirahat di mobil saja. Kamu tau kan kedatangan kita ke sini mau apa? Kita ini mau memata-matai pergerakan musuh," ucap Riki dengan menasehatiku.
"Iya aku tau, kita ke sini mau memantau pergerakan musuh. Kamu tenang saja nggak usah risau dan khawatir, mataku tajam setajam elang. Walaupun dengan satu mata tertutup aku masih bisa menembak sepuluh musuh sekaligus," ungkap aku dengan penuh percaya diri.
"Buktikan saja Yudi, kamu jangan banyak cakap. Siapa tau kamu hanya banyak omong tetapi kerjanya dikit," ejek Riki dengan tertawa menyindirku.
Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





