Sampul Novel Pengkhianatan yang Tak Pernah Kusangka

Pengkhianatan yang Tak Pernah Kusangka

7.9 / 10.0
Dalam Pengkhianatan yang Tak Pernah Kusangka, Lira terjebak bahaya setelah menolong seorang pelayan. Terperangkap oleh Arion yang haus kuasa, ia harus bertahan di tengah konflik modern novel ini. Akankah ia bebas? Baca romance novel penuh aksi ini di platform web novel favorit Anda.
Ringkasan Pengkhianatan yang Tak Pernah Kusangka
Niat tulus Lira menolong seorang pelayan justru menjerumuskannya ke dalam bahaya besar. Setelah disergap oleh kelompok misterius, ia jatuh ke kekuasaan Arion, pria dingin yang mendambakan keintiman. Setiap momen bersama Arion terasa mencekam namun memiliki daya tarik yang sulit ditolak. Kini, Lira terjebak dalam dilema antara menuruti hasrat Arion yang meluap atau mencari cara untuk kabur dari jeratan pria tersebut sebelum segalanya terlambat.
Baca Selengkapnya

Pengkhianatan yang Tak Pernah Kusangka Bab 1

Malam itu, hujan turun dengan deras, membasahi jalanan kota yang sepi. Lampu jalan berkelap-kelip, memantulkan warna kuning pucat di genangan air. Lira menarik mantel tipisnya lebih rapat, berlari di antara tetes hujan yang seolah ingin menelan setiap langkahnya. Ia tak peduli basah, tak peduli dingin. Yang terpenting saat itu hanyalah satu: membantu pelayan yang terjerat masalah.

"Hei! Hati-hati!" teriak Lira, saat seorang pemuda hampir tersandung karena membawa nampan penuh gelas. Beberapa pria dengan wajah keras tampak mengelilinginya, tawa mereka dingin dan menyeringai.

"Lepaskan dia!" suara Lira tegas, meski gemetar di ujungnya. Tanpa pikir panjang, ia mendorong salah satu pria yang tampak paling besar, membuat gelas di nampan pemuda itu jatuh pecah.

"Kamu-!" salah satu dari mereka melotot, tapi Lira tak menunggu mereka. Ia menarik pelayan itu pergi dari kerumunan, menepi di bawah atap toko yang sedikit menjorok.

"Terima kasih... aku-aku tidak tahu harus bagaimana kalau kau tidak muncul," gumam pemuda itu, wajahnya pucat dan basah kuyup.

Lira tersenyum tipis, "Jangan khawatir. Orang macam mereka biasanya... hmm, mudah diperingatkan."

Namun, senyum itu belum sempat berkembang, karena langkah berat terdengar dari belakang. Dalam sekejap, tubuh Lira terseret ke kegelapan, tangan-tangan kasar menahan geraknya. Ia berjuang, menendang, berteriak, tapi semuanya sia-sia.

Seketika, semua menjadi gelap.

Ketika Lira membuka matanya, ia sudah berada di ruangan asing. Lampu-lampu temaram menggantung, menyorot dinding yang penuh lukisan klasik dan perabot mewah. Aroma parfum berat dan alkohol menusuk hidungnya.

Seorang pria duduk di kursi besar, tubuh tegap, wajahnya tegas dengan garis rahang yang tajam. Matanya yang gelap menatap Lira seolah menelannya hidup-hidup.

"Selamat datang," suaranya dalam dan dingin. "Aku Arion. Dan kau... akan tinggal di sini untuk sementara."

"Me... melepaskan aku!" Lira berteriak, suaranya parau. "Aku tidak tahu siapa kalian, tapi ini gila! Lepaskan aku sekarang!"

Arion hanya tersenyum tipis, menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi matanya. "Tenang, aku tidak akan menyakitimu... setidaknya, belum."

Lira menggigil, antara takut dan marah. Hatinya berdegup kencang, kepala penuh pertanyaan: mengapa ia, seorang gadis biasa, bisa terjebak dalam situasi seperti ini?

"Kenapa... kenapa aku?" gumamnya sendiri, suaranya nyaris hilang.

"Karena keberanianmu," jawab Arion, seakan membaca pikirannya. "Kau menolong orang lain... itu membuatmu berbeda dari kebanyakan. Tapi, sayangnya, dunia ini tidak ramah pada yang berbeda."

Hari-hari berikutnya menjadi mimpi buruk bagi Lira. Ia diperlakukan seperti tamu yang terkurung. Arion selalu ada di dekatnya, mengawasi setiap gerakannya, menanyai setiap langkahnya. Namun, ada hal aneh yang membuatnya semakin bingung: di tengah ketakutannya, ada saat-saat ketika kehadiran Arion membuatnya merasa hangat, seperti ada perlindungan aneh yang sulit ia jelaskan.

"Jika kau berperilaku baik, aku tidak akan membuatmu menderita," kata Arion suatu malam, duduk di tepi ranjang Lira. "Tapi jangan salah, aku tidak mudah memaafkan pembangkangan."

Lira menunduk, menahan air mata. "Aku... aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak ingin... membuatmu marah."

Arion mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari wajahnya. "Membuatku marah? Itu sudah terlalu terlambat. Tapi kau harus belajar, Lira. Belajar untuk... tunduk, untuk menerima keadaan."

Setiap kata yang keluar dari mulut Arion seperti duri yang menusuk hati Lira. Namun, ada sesuatu di matanya yang sulit diabaikan-sebuah ambisi yang gelap, namun sekaligus memikat.

Hari demi hari berlalu, Lira mencoba mencari celah untuk melarikan diri. Ia mengamati setiap sudut rumah megah itu, menghafal pola pengawasan, mempelajari kebiasaan Arion. Tapi setiap kali ia berpikir untuk mencoba, langkahnya selalu tertahan. Pria itu selalu berada di tempat yang tak terduga, seakan mengetahui semua niatnya.

Suatu malam, saat Lira mencoba keluar melalui jendela kecil di lantai atas, ia mendengar suara langkah mendekat. Sebelum ia sempat bergerak, Arion sudah berada di belakangnya.

"Kau pikir ini mudah?" tanyanya, matanya menyorot tajam. "Tidak ada yang mudah dalam permainan ini."

Lira menelan ludah, tubuhnya gemetar. Ia merasa terpojok, tapi sebuah tekad muncul dari dalam dirinya. "Aku... aku harus keluar. Aku tidak bisa terus di sini. Tidak peduli apapun yang terjadi."

Arion tersenyum tipis, menyukai keberanian itu. "Aku suka semangatmu, Lira. Tapi semangat itu juga bisa menjadi kelemahanmu."

Malam itu, Lira terbaring di tempat tidur, mencoba menenangkan pikirannya. Ia tahu, semakin ia melawan, semakin ia terjebak dalam permainan berbahaya Arion. Namun, ada satu hal yang ia yakini: ia tidak akan menyerah. Tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban selamanya.

Tapi pertanyaan itu terus menghantui: bisakah ia menahan diri dari tarikan kuat Arion, ataukah ia akan terseret oleh arus yang tak bisa ia kendalikan?

Sementara itu, Arion menatap dari jendela kamarnya, pikirannya bermain dengan rencana-rencana yang gelap dan kompleks. Ia menyukai Lira, tapi bukan dalam cara yang biasa. Keinginannya lebih dari sekadar ketertarikan-ada hasrat untuk memiliki, untuk menguasai.

"Lira..." gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar di antara hujan yang terus menimpa atap. "Aku ingin melihat seberapa jauh kau bisa bertahan. Dan seberapa jauh aku harus mendorongmu."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pengkhianatan yang Tak Pernah Kusangka

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Gadis SMA Milik Mafia Kejam
9.8
Jimmy Alexander adalah mafia berusia 25 tahun yang tak kenal ampun dalam menjalankan bisnis ilegalnya. Namun, sebuah kecelakaan mengubah hidupnya saat ia bertemu seorang siswi SMA yang tulus menolongnya. Ketulusan itu memicu obsesi cinta dalam diri Jimmy yang kejam. Masalah besar muncul karena gadis impiannya ternyata sudah bertunangan dengan pria lain. Akankah sang mafia merelakan cintanya, atau justru melakukan segala cara demi memiliki gadis tersebut?
Sampul Novel Kenikmatan Bercinta
8.1
Kisah romansa dewasa ini menyoroti kehidupan seorang sopir berparas tampan yang terjebak dalam situasi penuh gairah. Tanpa diduga, ia terjerat dalam hubungan intim yang melibatkan majikan serta anaknya sendiri. Narasi ini dipenuhi adegan panas yang eksplisit, menuntut kebijakan pembaca dalam menikmatinya. Konflik batin dan ketegangan fisik memuncak dalam persaingan ranjang yang memikat, di mana setiap momen membawa sensasi yang tak terduga bagi para tokohnya.
Sampul Novel Kontrak Cinta Terlarang
8.8
Dua tahun membina rumah tangga, Celine harus menelan kenyataan pahit bahwa Alister, suaminya, adalah seorang penyuka sesama jenis. Tekanan keluarga untuk segera memiliki keturunan membuat Alister nekat menyewa pria bernama Jonathan demi menghamili istrinya melalui pernikahan kontrak. Terjebak dalam rencana gila sang suami, Celine kini menghadapi dilema moral yang hebat. Mampukah ia menjalani skenario terlarang ini demi sebuah ekspektasi keluarga yang semu?
Sampul Novel Kupu-Kupu Kertas
8.9
Masa depan Mayang hancur saat hamil di usia remaja dan ditinggalkan Mahesa. Ia terpaksa menolak lamaran Sena dengan kasar sebelum akhirnya terjebak dalam lembah hitam di ibu kota. Sembilan tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Sena telah bertransformasi menjadi pengusaha kaya yang menyimpan dendam, sementara Mayang sedang berjuang keras memperbaiki hidupnya. Di tengah penghinaan Sena yang ingin membeli harga dirinya, Mayang tetap teguh mempertahankan haknya untuk bertaubat.
Sampul Novel Sosok Teman Khayalan
9.6
Kehidupan sekolah protagonis berubah aneh saat semua orang di sekitarnya tiba-tiba menghindar. Penasaran dengan sikap dingin tersebut, ia mendesak teman sebangkunya yang tampak sangat ketakutan. Meski bersikeras bahwa itu bukan kesalahannya, sang teman memilih pindah dari kelas plus ke kelas reguler. Ketika sang protagonis menyusul ke kelas baru untuk meminta penjelasan, temannya justru panik histeris dan memohon dengan sangat agar tidak pernah ditemui atau dicari lagi.
Sampul Novel THE SECRET BEHIND DEATH
8.3
Albian dahulu dikenal sebagai mahasiswa berprestasi yang sangat ramah dan sopan. Namun, segalanya berubah drastis setelah sebuah insiden misterius menimpanya. Pasca terbangun dari koma, Albian mendapati dirinya terasing karena dianggap aneh oleh lingkungan sekitar. Rasa kesepian yang mendalam mulai menyelimuti hidupnya saat orang-orang terdekat, termasuk sosok yang ia cintai, memilih untuk menjauh. Kini ia harus menghadapi kenyataan pahit di tengah perubahan sikapnya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan