
ADELINE SHABIRA : Jeritan Hati Seorang Istri
Bab 2
"Ini sudah siang, tidak ada waktu untuk ganti baju lagi. Dosen yang masuk pelajaran pertama bisa membunuhku jika aku terlambat masuk," jawab Irene langsung pergi dengan terburu-buru.
Mama geleng-geleng kepala melihat putrinya pergi tanpa mau mengganti bajunya terlebih dahulu. "Dasar bocah keras kepala."
"Sudah biarkan saja, nanti Mama bisa sakit kalau terlalu tegang begitu. Tensi Mama bisa naik," ucap Ronald.
"Iya, kepala Mama jadi sakit begini."
"Ayo," ajak Ronald melihat istrinya. "Ini sudah siang."
Adeline mengambil tas yang ada di sofa kemudian mengikuti suaminya pergi ke luar.
"Aku berangkat ke Sekolah Ma." Pamela pamit sambil mencium pipi kanan dan kiri.
"Iya, belajar yang rajin."
"Ok. Bye Mama."
"Bye," jawab Mama. "Belajar yang fokus!"
"Iya!"
Adeline berjalan di samping suaminya dengan tangan kanan membawa tas kerja. "Mas."
"Iya, kenapa?"
"Nanti siang, aku mau pergi ke Supermarket untuk membeli keperluan dapur."
"Kamu perlu uang?" Tanya Ronald.
"Tidak, uang bulanan yang kamu berikan padaku masih ada. Aku hanya minta ijin ke luar saja."
Ronald tersenyum melihat istrinya. "Pergilah Adel, beli apapun yang kamu mau dan juga beli kebutuhan untuk keperluanmu sendiri."
"Aku tidak perlu apa-apa."
"Beli saja sesuatu, misalnya baju atau make-up atau apapun yang kamu inginkan. Jangan terlalu menghemat, uang yang aku berikan tidak pernah kamu pakai," ucap Ronald.
"Baiklah, nanti kalau ada sesuatu yang menarik pasti aku beli."
"Ok! Sekarang aku berangkat kerja ya." Ronald mencium kening istrinya kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah terbuka pintunya.
"Aku berangkat ke Sekolah kak Adel," ucap Pamela langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kakaknya.
"Iya," jawab Adeline tersenyum.
Mobil perlahan bergerak melaju ke luar meninggalkan halaman rumah yang cukup luas dengan sang Nyonya muda yang masih betah melihat mobil suaminya ke luar dari pintu pagar yang otomatis terbuka sendiri.
Adeline menghela napas, dilihatnya sekeliling halaman yang nampak begitu asri dengan beraneka macam tanaman dan bunga mawar hasil dari tangannya yang telaten merawat bunga-bunga kesayangannya.
Rumah yang berdiri kokoh bergaya Eropa dengan didominasi cat berwarna putih dipandangi Adeline. "Sudah 3 tahun aku tinggal di sini, tapi entah mengapa hatiku selalu merasa menjadi orang asing di rumah suamiku sendiri."
"Nyonya Adel."
Adeline melihat ke belakang. "Mang Jiwo, ada apa?"
"Saya mau menanam bunga melati di dekat gazebo, apa boleh Nyonya?"
"Boleh Mang Jiwo, silahkan."
"Iya Nyonya Adel, terima kasih. Saya minta ijin dulu ke Nyonya, soalnya Ibunya Tuan Ronald selalu marah kalau saya salah menanam bunga," ucap mang Jiwo.
Adeline tersenyum. "Tanam saja bunganya Mang Jiwo, tapi yang rapi. Biar nanti saya yang bicara dengan Mama."
"Iya Nyonya." Mang Jiwo kemudian pergi menuju gazebo yang berada ditengah-tengah taman.
Adeline masuk ke dalam rumah, suasana sepi dan dinginnya lantai marmer menyambut dirinya yang baru saja masuk. Dilihatnya ruang tamu yang didominasi warna putih dengan gorden bernuansa emas serta sebuah lukisan bunga abstrak ikut menghiasi dinding ruang tamu.
Adeline melihat asisten rumah tangganya masih merapikan meja makan bekas mereka semua tadi sarapan. "Bibi, belum selesai?"
"Belum Nyonya," jawab Bibi.
"Biar aku bantu Bi."
"Eh, tidak usah Nyonya Adel. Biar saya saja," jawab Bibi.
"Tidak apa-apa Bi." Adeline ikut membantu membawakan piring kotor ke dapur.
"Nyonya sudah banyak bekerja dari pagi hari. Setiap hari selalu memasak menyiapkan sarapan pagi untuk semua."
"Sudah kebiasaan aku bangun pagi, kalau tidak bekerja badanku malah pegal," jawab Adeline.
"Nyonya memang menantu idaman. Beruntung sekali Tuan Ronald mendapatkan istri seperti Nyonya Adel," puji Bibi mulai mencuci piring kotor satu per satu.
"Biasa saja Bi, menantu yang lain juga banyak yang seperti saya. Bahkan jauh lebih baik dariku."
"Ada, tapi sudah jarang punya menantu yang hebat seperti Nyonya Adel. Sejak ada Nyonya di sini, rumah ini jadi ramai dan terlihat ceria. Padahal dulu sebelum Nyonya menikah dengan Tuan Ronald, rumah ini seperti kuburan. Semua orang yang ada di rumah ini sibuk dengan urusannya masing-masing. Yang selalu ada di rumah itu paling cuma Nona Pamela karena waktu itu masih kecil."
"Pamela sering ditinggal sendiri?" Tanya Adeline.
"Iya, Tuan Ronald memang sibuk dengan perusahaan yang diwariskan Ayahnya jadi wajar kalau jarang di rumah. Berangkat pagi, pulang setelah tengah malam."
"Lalu Mama?"
Bibi melihat ke arah pintu kemudian berbisik. "Nyonya Melani sibuk dengan teman-teman arisannya, setiap hari selalu ada arisan. Hi-hi-hi."
Adeline tersenyum. "Masa setiap hari arisan Bi?"
"Eh, betul itu Nyonya Adel, saya tidak bohong," jawab Bibi dengan memasang wajah meyakinkan. "Setiap hari ada arisan, tapi kalau sudah menang tidak pernah bicara, giliran bayar arisan pasti teriak minta uang. Hi-hi-hi."
"Hush! Nanti didengar Mama," tegur Adeline sambil tersenyum.
Bibi langsung menutup bibirnya rapat-rapat dan melihat ke arah pintu. "Bibi berani bicara begitu, karena tahu Nyonya Adel tidak akan mengadu pada Ibunya Tuan Ronald."
"Apa yang harus aku adukan? Tidak ada yang perlu diadukan. Bibi tidak berbuat kriminal, tapi mulut Bibi itu harus dijaga."
"Hi-hi-hi. Iya Nyonya."
"Nanti siang masak apa Bi?" Tanya Adeline mengalihkan pembicaraan.
"Belum tahu. Belum ada yang minta dibuatkan untuk makan siang, tapi sepertinya masak rendang saja."
"Iya, rendang saja," jawab Adeline.
"Jangan masak rendang!" Terdengar suara dari arah belakang mereka berdua. "Daging dan santan!"
"Mama," ucap Adeline begitu tahu siapa yang bicara.
"Jangan masak rendang! Kamu mau membunuhku setiap hari masak masakan berkolesterol tinggi?"
Adeline terdiam menatap wajah mertuanya bingung, sementara Bibi langsung menunduk melanjutkan mencuci piring-piring kotor.
"Rendang itu bisa memicu kolesterol Mama naik! Apa kamu berharap Mama cepat-cepat pergi dari dunia ini?"
"Aku tidak mengerti, maksudnya apa Ma?"
"Jangan pura-pura bodoh!" Jawab Mama ketus. "Dasar menantu tidak berguna."
Adeline tidak bicara lagi. Jika menjawab perkataan mertuanya, nantinya malah semakin banyak kata-kata yang akan menyakiti hatinya jadi jalan satu-satunya hanya dengan diam dan bersabar.
Diam-diam Bibi merutuki dirinya sendiri. Gara-gara ide darinya makan siang dengan menu rendang, Nyonya Adel yang terkena sasaran mulut pedas dan tajam Nyonya Melani.
"Mama apa perlu sesuatu?" Tanya Adeline setelah beberapa saat terdiam untukq mencairkan suasana agar tidak tegang.
"Bukan urusanmu!" Jawab Mama ketus berjalan melewati Adeline. "Bibi!"
"Eh, iya Nyonya," jawab Bibi hampir meloncat kaget dipanggil dengan suara kencang dalam jarak yang begitu dekat.
"Cuci piring yang benar, jangan melamun! Bisa habis nanti piring-piringku pecah semua!"
"Tidak melamun kok Nyonya, Bibi fokus mencuci piring," jawab Bibi.
"Selesai mencuci piring, buatkan aku wedang jahe! Tubuhku rasanya tidak enak, sepertinya mau flu."
"Aku saja yang buatkan Ma," jawab Adeline menawarkan diri.
"Aku menyuruh Bibi, bukan kamu! Lagipula wedang jahe buatanmu tidak enak sama sekali. Jangan cari muka di depanku!" Jawab Mama ketus menatap tajam wajah menantunya.
Anda Mungkin Juga Suka





