Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel ADELINE SHABIRA : Jeritan Hati Seorang Istri

ADELINE SHABIRA : Jeritan Hati Seorang Istri

Adeline Shabira tak lagi mampu membendung luka saat suaminya lebih memercayai fitnah orang lain daripada kejujurannya sendiri. Pengkhianatan dan pengabaian ini menghancurkan fondasi pernikahan mereka hingga Adeline memilih untuk pergi demi membebaskan sang suami. Saat kebenaran perlahan terungkap, penyesalan pun datang terlambat. Di tengah badai emosi dan logika, mampukah hati Adeline yang telah mengeras dan hancur kembali memaafkan setelah kepercayaan itu sirna?
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah selesai mencuci piring, Bibi langsung mendekati Nyonya besarnya. "Nanti Bibi antarkan ke kamar Nyonya kalau sudah selesai."

"Jangan pakai lama!" 

"Iya Nyonya," jawab Bibi.

Adeline terdiam, sudah biasa baginya selalu mendapat kata-kata pedas dari mulut mertuanya. Apalagi jika tidak ada Ronald disampingnya, pasti kata-kata pedas berupa hinaan meluncur deras dari mulut Nyonya Melani, mertuanya.

Nyonya Melani pergi dengan wajah tegangnya, terlihat sekali sorot mata yang tidak menyukai menantunya, Adeline.

"Sabar Nyonya Adel, memang Nyonya besar seperti itu," ucap Bibi merasa kasihan melihat Nyonya mudanya yang tidak bisa berkutik jika menghadapi mertuanya.

Adeline tersenyum melihat Bibi. "Aku tidak apa-apa Bi, sudah biasa bagiku melihat Mama seperti itu."

"Padahal Nyonya sangat baik, punya hati yang lembut dan tidak pernah melawan, tapi kenapa Nyonya besar selalu saja marah-marah tanpa alasan. Bibi tidak mengerti."

"Sudahlah Bi, jangan membahas itu. Bagiku Mama mertua sudah seperti Mamaku sendiri. Apapun yang diucapkannya tidak pernah aku masukin dalam hati," jawab Adeline dengan perasaan yang jauh di dalam hatinya merasakan sakit hati yang teramat dalam, tapi demi menghindari pertengkaran dirinya rela diam dan mengalah.

"Nyonya benar-benar berhati malaikat, Tuan muda Ronald sangat beruntung punya istri sebaik dan secantik Nyonya," puji Bibi.

"Eh, sampai kapan mau mengobrol? Bibi mau kena marah lagi dari Nyonya besar karena wedang jahenya lama?" 

"Bibi hampir lupa. Hi-hi-hi."

"Buatkan yang enak wedang jahenya biar tidak kena tegur." 

"Nyonya, apa Nyonya masih ingat?" Tanya Bibi dengan tangan yang mulai sibuk untuk membuat wedang jahe.

"Ingat apa?" 

"Bulan lalu, Nyonya besar pernah minta dibuatkan wedang jahe," jawab Bibi.

"Iya, aku ingat. Kenapa?" 

"Waktu itu sebenarnya yang membuat wedang jahe Nyonya, tapi Bibi yang memberikannya pada Nyonya besar di ruang tamu."

"Lalu?" Tanya Adeline.

"Nyonya besar memuji wedang Jahe yang Bibi antarkan, katanya sangat enak. Hi-hi-hi. Nyonya besar pikir, wedang jahe itu buatan Bibi padahal Nyonya Adel yang membuatnya."

"Biarkan saja, aku yang membuatnya atau Bibi yang membuatnya sama saja," ucap Adeline.

"Tapi barusan, Nyonya besar bilang wedang jahe buatan Nyonya Adel tidak enak. He-he-he. Tidak tahu saja kalau dulu pernah memuji wedang jahe buatan Nyonya Adel setinggi langit."

Adeline tersenyum, tapi dari sorot matanya terlihat begitu banyak kesedihan. "Tidak apa-apa Bi, kita maklumi saja."

"Nyonya Adel terlalu baik, sekali-kali kalau Nyonya besar bicara keterlaluan yang menyakitkan hati, Nyonya lawan saja. Jangan mau diinjak-injak apalagi tanpa tahu kesalahan kita itu apa."

"Aku tidak mau ribut," jawab Adeline.

"Menghindari keributan memang bagus, tapi kalau terlalu diinjak juga tidak baik Nyonya. Nanti bisa jadi sakit bathin."

Adeline tersenyum kecut, apa yang dikatakan Bibi memang ada benarnya, tapi jika harus melawan mertuanya, sama saja dirinya melawan suaminya yang sangat sayang sekali pada Mamanya.

"Eh, Nyonya. Apa sudah bertemu dengan tukang kebun, Mang Jiwo?" Tanya Bibi.

"Sudah tadi di depan. Kenapa?"

"Tadi Mang Jiwo mencari Nyonya, katanya mau menanam bunga di dekat gazebo atau apa ya itu, Bibi lupa."

"Oh, itu. Tadi sudah bicara dengan Mang Jiwo. Menurutku tidak masalah mau menanam bunga melati atau bunga apapun di dekat gazebo, malah menurutku itu akan menambah indah," ucap Adeline.

"Kalau menurut kita memang begitu, akan menambah keindahan, tapi akan berbeda kalau menurut ---," Bibi mengecilkankan volume suara bicaranya. "Nyonya besar bisa marah karena seleranya berbeda. Hi-hi-hi."

"Hush! Bibi ini dari tadi gibah melulu." Adeline tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

"He-he-he." 

"Lanjutkan itu membuat wedang jahenya. Aku mau ke kamar untuk bersiap-siap pergi, sebentar lagi mau ke luar." 

"Iya Nyonya," jawab Bibi.

Adeline pergi meninggalkan Bibi, berjalan melewati beberapa ruangan yang terlihat sepi. Langkah kakinya berhenti ketika akan menaiki tangga, kedua matanya melihat lukisan yang terlihat miring di ruang keluarga. 

"Kenapa lukisannya miring?" Gumam Adeline berjalan mendekati lukisan bunga abstrak yang ukurannya cukup besar.

Adeline memperhatikan lukisan yang miring dari atas sampai bawah dengan seksama. "Apa pakunya terlepas atau patah?"

Dengan sangat hati-hati Adeline memegang bagian bingkai lukisan yang miring. "Sepertinya, pakunya memang ada yang lepas jadi sebelah sini miring. Bagaimana cara membetulkannya?"

Adeline memandangi lukisan bunga abstrak. "Ini lukisan kesayangan Mama, kalau kenapa-kenapa dengan lukisan ini, bisa hancur dunia persilatan."

Adeline kembali memegang bingkai lukisan yang terbuat dari kayu. "Sebaiknya aku suruh orang untuk membetulkan pakunya kembali."

Adeline melihat ke kiri dan kanan berharap ada orang yang terlihat, tapi tidak ada satupun yang terlihat. "Sebaiknya aku cari tukang kebun untuk membetulkan pakunya."

Baru saja Adeline beberapa langkah berjalan untuk mencari orang, terdengar suara benda jatuh sehingga secara spontan Adeline melihat ke belakang.

PRANG!

"Ya Tuhan!" Adeline melotot kaget melihat lukisan yang sudah jatuh di atas meja dengan bagian tengah-tengah kacanya pecah karena menimpa sebuah guci yang ada dibawahnya dengan kondisi yang juga pecah berantakan.

"Suara apa itu?" Terdengar suara Bibi dari arah tangga.

Tidak lama kemudian terdengar pula suara nyaring dari atas. "Suara apa itu?"

Adeline diam terpaku melihat lukisan yang kacanya sudah pecah di atas sebuah guci yang kondisinya tidak jauh berbeda terbagi menjadi beberapa bagian.  

"Ya Tuhan!" Teriak Mama dari belakang Adeline. 

Adeline langsung membalikkan tubuhnya melihat Mama dengan kedua tangan menutup bibirnya serta mata yang terbuka lebar. "Mama."

"Apa ini?" Tanya Mama mendekat. 

"Ini, ini, a aku aku tidak tahu," jawab Adeline gugup.

Mama terdiam beberapa detik, lalu tanpa bertanya apapun langsung marah melihat menantunya. "Apa yang telah kamu lakukan?"

"Aku lakukan? Apaa, a apa maksud Mama?" Tanya Adeline bingung.

"Dasar tidak berguna! Jangan pura-pura bodoh!"

"Aku tidak mengerti," jawab Adeline.

"Kamu apakan lukisan kesayanganku? Dan ini ---," Mama mendekati guci ukuran kecil yang sudah pecah. "Guci ini, guci ini guci kesayanganku."

"Aku tidak tahu Ma," jawab Adeline.

"Kamu tahu berapa harganya ini?" Tanya Mama menatap marah wajah menantunya.

"Pasti sangat mahal."

"Lebih mahal dari harga dirimu!" Ucap Mama dengan galak.

Hati Adeline bagai tersayat pisau, harga dirinya begitu rendah di mata mertuanya yang sangat dia hormati. Sementara Bibi hanya diam berdiri dengan tangan sedang memegang nampan kecil berisi gelas wedang jahe.

"Kalau kamu tidak suka dengan Mama bicara langsung, jangan kamu merusak benda-benda kesayangan Mama yang harganya selangit!"

"Apa maksud Mama? Aku tidak melakukan apapun, tadi lukisan itu terjatuh sendiri."

"Tidak mungkin lukisan ini terjatuh sendiri. Kamu pikir lukisan ini bergerak sendiri?"

"Tapi memang seperti itu. Lukisan itu jatuh sendiri ketika aku hendak mencari orang untuk membetulkannya, karena terlihat miring. Mungkin pakunya ada yang terlepas atau patah."

"Kamu sudah tahu lukisannya miring, kenapa tidak mengambilnya dan menaruhnya di bawah?" Tanya Mama ketus memandangi lukisan yang kacanya sudah pecah.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benih Lain di Kandungan Istriku
8.9
Kian dikejutkan oleh penemuan sebuah alat uji kehamilan dengan dua garis merah di bawah meja samping ranjangnya. Temuan ini memicu kecurigaan besar terhadap sang istri, Aurelie. Namun, sebuah kenyataan pahit menghantui pikirannya; Kian menyadari bahwa dirinya mandul dan mustahil bisa memberikan keturunan. Teka-teki mengenai pemilik asli benda tersebut mulai mengusik batinnya. Benarkah Aurelie sedang mengandung benih pria lain di dalam rahimnya?
Sampul Novel Dilema Hati
8.3
Leonard Mahendra, pria mapan berusia 38 tahun, terbiasa hidup sendiri hingga Evelyn hadir. Putri sahabatnya itu menumpang tinggal karena ayahnya bertugas di luar negeri. Sifat Evelyn yang ceria mengubah rutinitas Leonard menjadi lebih berwarna. Namun, rasa peduli Leonard perlahan berubah menjadi cinta terlarang. Evelyn pun terjebak dilema karena menyukai teman ayahnya. Rahasia ini menjadi ancaman besar saat ayah Evelyn kembali dan mengetahui semuanya.
Sampul Novel Dipaksa Melayani CEO-Cinta Satu Malam
9.1
Sefia adalah Wedding Organizer sukses yang nasib cintanya berakhir tragis. Tepat semalam sebelum menikah, ia memergoki Wisnu berselingkuh dengan asistennya sendiri. Hancur karena dihina, Sefia yang kalap menawarkan dirinya kepada pria asing di dalam lift. Namun, candaan itu berujung petaka saat pria setinggi 180 cm tersebut benar-benar membawanya ke ranjang. Kini Sefia terjebak dalam konsekuensi satu malam yang mengancam masa depannya tepat di hari pernikahan.
Sampul Novel Gadis Pengantar Tidur
8.5
Richard tersenyum puas setelah berhasil menjual seorang wanita demi uang. Maria, wanita malang yang menjadi korban penipuannya, kini terjebak dalam situasi pelik di kamar dua kosong satu. Ia terpaksa mengemban peran sebagai gadis pengantar tidur bagi seorang pria bernama Mark. Di balik kemewahan yang ada, Mark ternyata menderita gangguan insomnia parah. Maria kini harus menghadapi takdir baru melayani pria tersebut akibat pengkhianatan Richard.
Sampul Novel HASRAT PENUH LUKA
9.7
Dominic mengejar sosok yang menyerupai Stella di tengah guyuran hujan deras. Sambil berlutut penuh penyesalan, ia memohon ampunan atas dosa masa lalunya. Namun, luka hati Stella dari kejadian tiga tahun silam telah membeku dan tertutup kegelapan. Dengan sikap yang amat dingin, Stella menegaskan bahwa permohonan maaf Dominic tidak ada artinya. Ia menyatakan bahwa hanya kematian pria itu yang mampu menebus segala penderitaan yang telah ia alami selama ini.
Sampul Novel Mahkota Sang Dewi
8.2
Husein memandang akad nikah sebagai janji suci untuk melindungi pasangan, namun bagi Mutia, pernikahan hanyalah beban yang ingin ia sudahi secepat mungkin. Kehadiran orang lain di hati Mutia membuat komitmen ini terasa semakin mustahil. Saat takdir memaksa keduanya bersatu dalam ikatan rumah tangga tanpa dasar cinta yang sama, mampukah mereka bertahan? Kisah ini menguji kesetiaan dan pengorbanan dalam mempertahankan hubungan yang penuh keterpaksaan.